Thursday, May 1, 2014

Upasaka उपासक

[Sebuah bimbingan khusus untuk para Upāsaka atau Upāsikā setanah air, silakan klik tiap link untuk referensi lebih lanjut mengenai uraian yang disampaikan dibawah ini, agar kita memiliki pengertian yang lebih luas dan mendalam akan apa yang ingin disampaikan kepada para Upāsaka atau Upāsikā. Renungan ini Bukanlah untuk membuat anda menjadi pertapa, tapi untuk menjadikan anda umat atau pengikut Buddha yang walaupun awam, namun umat awam yang hidup jujur, bersih, tidak berat sebelah dan tanpa kepicikan hati yang mencengkram banyak orang, melalui banyak renungan yang dituliskan disini berdasarkan pengalaman umat umat yang bercerita dan mengalami, agar kita kelak janganlah sama buruknya dengan orang orang yang berperilaku culas dan kotor. Silakan baca sampai rampung, sehingga bisa kita mencerna dengan baik apa yang disampaikan.


Salam damai dan sejahtera untuk semuanya.
【सुखिनोव खेमिनो होन्तु, सब्बे सत्ता भवन्तु सुखितत्ता】
"Sukhinōva khēminō hōntu, sabbē sattā bhavantu sukhitattā."
Please CLICK HERE FOR MOBILE OR ANDROID PHONE
Untuk komputer, klik disini


Index

  1. Upasaka
  2. Apakah arti dari kata “hormat”?
  3. Berkeyakinan namun tanpa adanya mengembangkan keluhuran batin, sesungguhnya hanyalah sebuah keyakinan hampa semata
  4. Perenungan
  5. Tatkala kita sedang dalam pertikaian batin
  6. Jaga-lah batin ini, sering seringlah menengok kedalam, berintrospeksi, agar batin ini bersih dari noda
  7. Kehidupan Perumah-tangga
  8. Renungan Untuk Kepala Keluarga
  9. Kebahagiaan Yang Tidak Boleh Dirampas Oleh Napsu Diri Sendiri
  10. Anak
  11. Orang tua tidak boleh lupa untuk memberikan pendidikan yang terbaik
  12. Anak mencari pasangan hidup
  13. Wanita harus mencari pria yang mapan, dan Pria harus mencari wanita yang bijaksana
  14. Ternyata wanita yang dianggap umum sebagai pintar tidak-lah pintar!
  15. Nota buat kita didalam memandang "kaum suka sesama jenis"
  16. Kita seyogyanya waspada terhadap apa yang kita dengar
  17. Menjalankan Keagamaan
  18. Bertemu dengan seorang guru yang bijaksana adalah suatu berkah
  19. Segala formalitas dan pengulangan yang sia sia; Memahami, Memaklumi dan Memaafkan
  20. Apakah arti Bijaksana?
  21. Umat yang Ahli Kitab
  22. Renungan dalam hal melakukan kebajikan
  23. Berdoa
  24. Apakah umat Buddha dilarang berdoa kepada makluk surgawi?
  25. Didalam hal memberikan pemberian - offering [dāna]
  26. Kekuatan Kasih Sayang Dan Kebajikan Menyebar Luas
  27. Tiracchāna & Manussa
  28. Hukum Karma
  29. Nafsu
  30. Hati hati dengan perasaan
  31. Milikilah kepribadian yang teguh
  32. Jadi apakah definisi dari Sabar?
  33. Kesabaran + Akhiran

उपासक
(upāsaka)


Seorang penopang, pengiring yang berlindung kepada Buddha Dhamma, Ia yang batinnya dilandasi oleh rasa persahabatan [mettā] dan kasih sayang yang dituangkan melalui sikap luhur [sīla शील - virtuous] yang teguh didalam kebajikan dan tidak mencelakai. Dengan kebajikannya, ia menjadi contoh bagi kedamaian dan perkembangan Buddha Dhamma, seperti yang dijelaskan didalam kitab Tipitaka, seperti Uggata, Jivaka, Anathapindika, Nakulapitu, Citta, Ugga, Visakha, Ghosaka, Uttara nandamata, Raja Surgawi Sakka, dsb. yang diantaranya bermatapencaharian berdagang namun tetap ia teguh didalam keluhuran [sīla ~ शील], tidak curang dalam timbangan, jujur dan tidak menjadi congkak karena perolehan profit [kekayaan]; atau memiliki kedudukan namun tidak karena jabatan kemudian menindas yang lainnya.

Demikianlah orang orang yang bersandar hanya kepada Tiratana didalam perjalanan hidupnya yang berliku liku, yang ucapan dan sikapnya menunjukkan manusia yang berbudi luhur, yang menghindari segala kecurangan [korup] dan kedengkian baik demi keuntungan dan kepentingan pribadi, keluarga ataupun golongannya. Demikianlah mereka yang biasa kita kenal dengan sebutan "Upāsaka" atau Upāsikā" yang secara harafiah kata Upāsaka ini boleh diartikan "pengiring setia / pengikut setia Buddha Dhamma Sangha":

Jivaka the layman's question:
"Lord, to what extent is one a lay follower (upāsako)?"
"Asked how one is a "virtuous lay follower""


“Yang Mulia, sebagaimananyakah seseorang menjadi pengikut?” “Jivaka, ketika seseorang telah pergi berlindung pada Buddha [Guru Agung], Dhamma [Ajaran], dan Sangha [Siswa luhur Buddha], demikianlah ia pengikut awam.” “Yang Mulia, bagaimana pengikut awam yang berbudi luhur?” “Jivaka, pengikut awam yang pantang menghancurkan kehidupan [semua makluk], pantang mengambil apa yang tidak diberikan, tidak melakukan perbuatan asusila, menghindari kepalsuan dan penipuan, serta menjauhkan diri dari minuman [zat cair] yang menyebabkan kelalaian [melemahnya kewaspadaan]. Demikianlah seorang pengikut yang berbudi luhur [virtuous lay follower]"

Jivaka Sutta - Anguttara Nikaya

Seorang Pengiring Buddha 【Upāsaka dan Upāsikā】 dianjurkan untuk mengarahkan dirinya didalam puñña [kebajikan] serta bhāvanā, mengembangkannya dengan baik didalam batin. Melalui pembelajaran sekaligus pelatihan diri, hingga muncul pengertian dan pemahaman yang baik, mengembangkannya dipikiran, serta mengimplementasikannya dalam bentuk perbuatan. Apakah pengertian puñña itu sendiri? kata "puñña" ini merujuk kepada penjelasan Metta sutta 【मेत्तसुत्तं】:

Metta sutta 【मेत्तसुत्तं】:
1. Dānassa - dāna 【दान】
佈施、檀那= 佈恩施惠: 周濟,救濟。
對於人生遇到憂患困苦的人施恩幫助,
almsgiving,liberality,offering.He who gives alms to needy.
Berdana, sedekahan, berbagi.

2. Damassa - dama 【दमस्स】
克制:調和心身,克服邪念.【修習道德;品行】
Control one's attitude or behavior from evil, cruelty, deceitful and enmity.
Menjaga keluhuran sikap: menghindari yang jahat, keji, culas dan kebencian

3. Saññamassā 【सञ्ञमस्सा】
管制心念:調理整頓心意,別讓任何歹意和妄想控制。
Harmonizing mind from evil thinking. To control mind from evil.
Pikiran yang selaras dan jernih, bebas dari yang jahat. Begitu ada maksud buruk atau pemikiran yang tidak baik muncul, ia menjadi tidak tertarik dengannya, serta mengerti cara membebaskan pikirannya dari yang jahat.

Dan perlu direnungkan kembali salah satu pedoman bagi seorang upasaka upasika, yaitu:
untuk meninggalkan kepercayaan tahayul dan bias mengenai Kotuhala Mangalika (kepercayaan mistis mengenai tafsiran pribadi, prejudice ataupun pemikiran pribadi akan pertanda keberuntungan dan kemalangan yang datang dari fenomena alam tanpa mengerti faktanya), yang dibagi menjadi tiga:
  1. Diṭṭha-maṅgalika
    [pertanda pertanda yang terlihat, misalnya dari terjatuhnya daun dan fenomena alam seperti meteor yang berterbangan diangkasa, dsb]
  2. Suta-maṅgalika
    [Pertanda pertanda yang didengar, misalnya dari suara suara yang kita sendiri anggap aneh, ataupun kita dengar dari pembicaraan orang mengenai ilmu nujum]
  3. Mutta-maṅgalika.
    [Pertanda pertanda yang didapat melalui panca indera, yang dianggap sebagai suatu batasan terhadap pertanda keberuntungan atau kemalangan]
Kecuali bagi orang orang tertentu yang batinnya telah berkembang menuju tercapainya abhiñña, ini kasus yang berbeda, karena orang yang telah memiliki abhiñña tertentu memang mampu melihat secara jelas dan gamblang dari fenomena fenomena atau kejadian yang terjadi, bukan tafsiran miring, prejudice [perasangka buruk] atau mengira ngira yang tentunya gak jelas, kalau mengira ngira atau prejudice itu sama seperti ramalan ramalan cuaca, melihat tanda tanda tertentu dari perkiraan cuaca namun tentu saja arah angin bisa berbelok, sehingga tafsirannya tidak akurat. Namun kalau batin seseorang yang telah mencapai abhiñña tingkat lanjut, sudah pasti melihat dan memahami dengan jelas, bukan indigo kelas yang kurang sempurna yang masih meraba-raba atau menafsir.

Sudah saatnya para Upāsaka dan Upāsikā untuk mulai menguatkan batin ini akan hukum tabur tuai, mendekatkan diri pada pemahaman yang benar mengenai fenomena kehidupan ini bahwa segala apa yang ditabur demikianlah yang akan dituai, Jika memang sudah saatnya tiba seseorang harus menerima suatu situasi, apakah itu baik atau kurang baik, maka hal itu tentu akan datang. Jangan kita jatuh pada tangan dan ucapan marketing agama yang selling heaven atau benjualan surga atas nama produk agamanya, karena sesungguhnya di agamanya itu, pimpinannya sudah bilang bukan karena kita manusia awam mengenal dia dan worshiping dia, maka kita akan masuk surga: "Jangan-lah kau bersungut sungut [memanggil manggil memelas] Bapa bapa..." lantas masuk surga, lanjut: "...namun pada hari terakhir aku akan berterus terang kepada engkau sekalian, aku tidak mengenal engkau! hai pembuat kejahatan" [Kejahatan: penipu, sirik, pendengki, si hati licik, pezina, dsb].

Ingatlah bahwa dalam kehidupan ini, keberuntungan dan kemalangan semuanya matang pada moment-nya sendiri atau saat yang tepat. “Every star has a season, a moment, a reason to be”. Segala hal yang kita semai demikianlah buah yang kita tuai. dan Hukum alam tabur tuai ini tidaklah bisa dibodohi dengan suapan tangisan pengampunan, karena Ia tidaklah bisa dibodohi dan dicurangi, semua adil merata sesuai dengan yang kita perbuat, dan hukum ini tidak bisa diselewengkan dengan cara menyogok lagu puji pujian ataupun silat lidah [fitnah - berucap yang tidak benar, keegoismean, kemunafikan, keculasan dan hal yang lainnya].

Segala motiv dalam batin maupun segala aktivitas atau tindakan akan memberikan efek [akibat], apakah itu berupa karmavipaka yang halus maupun yang bisa dirasakan atau dilihat secara gamblang, jangan menjatuhkan diri dengan bersandar kepada kepercayaan yang kurang bijak atau mistis, karena akan menghambat kematangan batin kita sebagai manusia, terlebih lagi bersandar kepada orang orang tertentu yang belum matang didalam kebajikan dan kebijaksanaannya, yang masih menggunakan cara cara licik atau curang demi memperuntungkan dirinya sendiri. Bahkan kita juga tahu bahwa sebagian orang memiliki kelebihan [6th sense yang jernih dan jelas], akan tetapi masih juga banyak yang belum belajar matang didalam Dhamma [kemurnian, kesucian], sehingga kelebihan mereka disalah gunakan bukannya membawa perdamaian dan pemersatu, tapi malah membawa sebuah peperangan antara satu individu dengan yang lainnya, menjadi seorang penggunjing, penebar berita pembawa maut pertengkaran.

Orang orang yang memiliki kelebihan [bahasa umum menyebutnya sebagai: terbukanya indera ke6 atau indigo] yang dapat melihat sesuatu dimana kita yang awam tidak melihat, namun perlu untuk kita ingatkan diri kita kembali, bahwa dari apa yang mereka lihat, ternyata tak sedikit dari mereka yang cuma melihat dari “bagian dalam” kita tapi pada sekitar lapisan permukaannya saja, mereka tidak mengkaji atau melihat secara mendalam [batin kita ini terlalu komplex, ada bagian "dalam" yang nampak jelas atau kasar, ada yang menengah dan yang terdalam]. Seperti nya mereka Cuma bisa membaca pikiran pada moment tertentu saja, namun tidak bisa mengerti akar atau penyebab awal dari segala permasalahan ataupun pergejolakan yang terjadi? Mengapa atau kenapa bisa sampai terjadi hal ini? Blm ada jawaban yang pasti dari mereka, cuma meraba raba atau menerka nerka juga. Antara indigo yang satu dan yang lain akan menjawab sesuai tafsiran tafsiran masing masing, sehingga bisa membingungkan. bahkan para "dukun*" pun demikian adanya, dukun satu bilang begini dan dukun kedua bilang begitu, tingkat penglihatan atau pemahaman yang berbeda.

Note: sebenarnya pengertian "dukun" pada awalnya di jaman lampau, artinya tak lain adalah tabib. Tabib tradisional, di Indonesia sendiri adalah tabib yang mengumpulkan akar akaran dan memprosesnya untuk memberikan pertolongan pengobatan pada orang sakit. Namun seiring berjalannya waktu dan bahasa Indonesia semakin berkembang sekaligus terus mengimpor bahasa asing dan menganggapnya bahasa asing lebih indah [karena jiwa bangsa Indonesia lebih beranggapan: "rumput tetangga nampak lebih hijau"], maka kata dukun ini bergeser artinya menjadi makna yang konotasi yang negatif ataupun tidak baik.

Janganlah kita menganggap bahwa semua orang orang indigo adalah orang hebat dan luhur yang notabene benar benar bersih hatinya, mereka juga bukan orang sakti [kecuali belajar ilmu], dan tak sedikit dari mereka juga bukan ariya pugala yang pantas diagung agungkan, karena masih sama sama senang didalam memperkaya diri dan gemerlapan duniawi termasuk seks dan ketenaran, tak jarang diantara mereka adalah orang yang curang, tidak adil serta memihak, licik dan culas, dan masih senang terlibat didalam kenikmatan seksual yang mereka sebut mengatas namakan "sudah kehendak dewa, God, tuhan, dan segala istilah macem macem", padahal ia melakukannya demi pemuasan kebutuhan napsu-birahi nya sendiri, bukan paksaan dari makluk lain, mereka beranggapan apa yang dunia psikologis katakan sebagai “Sugesti” sebagai bisikan dari “sono”. Padahal tidak selalu demikian, adakalanya malah itu adalah pengukuhan dari keegoan dan napsu keinginan diri sendiri, karena kita tidak benar benar mengetahui suara apa itu? Bisikan apa itu? Jadi yah bisa benar bisa tidak, kita masih bodoh dan belum mengetahui akan hal tersebut dengan pasti,[how little we know ~ betapa sedikitnya yang kita pahami akan kehidupan ini]. Namun ada diantara mereka yang sudah berani mengklaim bahwa itulah bisikan dari Dewa atau god atau tuhan yang dipujanya. kita hanya bisa ????????? dan tersenyum.

Hanya mereka yang telah belajar melatih diri secara mendalam dan matang didalam Buddha Dhamma Sangha yang lebih bisa menyadari jalan hidup yang bersih dan luhur, sedangkan yang lainnya bisa semakin mengarah ke Jalan hidup yang egois dan licik, berat sebelah, diliputi keinginan memiliki yang kuat untuk meraup dengan keserakahannya, kebencian, kedengkian. Kalaupun ada yang mengarah kepaada yang baik, namun masih "Mengatas Namakan" suatu figur. Yah, hal itu sudah cukup baik. Mungkin karena proses kematangan batin seseorang memang tahapnya baru sampai segitu. Kita gak perlu menjudge berlebihan jika memang orang sudah bisa menjaga moralnya walaupun masih mengatas-namakan suatu figur. Kebaikan janganlah dianggap seperti anggapan para penganut ajaran mistik dan tahayul jaman sekarang yang mengklaim bahwa kalau menyembah dewa nya atau pengagungan yang berhubungan dengan dewa [mau disebut tuhan, divine, god dsb pokoknya itu] barulah kebaikan. Itu ajaran sesat. Bukan karena dewa, deus, tuhan, allah, Brahma, dan sebagaimacam jenis panggilannya sebuah kebaikan dilakukan, pun demikian juga kebejatan dilakukan. Sesungguhnya itu adalah sepenuhnya tanggung jawab dan keputusan masing masing individu. Jangan membawa bawa yang disurga sana seperti yang dianut oleh para pengikut ajaran mistik dan sesat.

Sudah saatnya Upāsaka dan Upāsikā mempelajari Dhamma demi mengasah batin ini kearah yang luhur [sīla शील] agar kelak benar benar bisa menjadi manusia yang matang, matang dalam Dhamma dan matang dalam kehidupan, yang tidak kehilangan arah didalam menjalani kehidupan. Orang yang yang kehilangan arah hidup biasanya karena kurang menelaah kehidupan, terlena didalam delusi [fantasinya], tidak pandai menimbang atau fokus-mengarahkan diri [ia kurangnya perencanaan sejak usia muda untuk persiapan masa depan]. Batinnya lemah, begitu diterpa badai kemalangan akan cepat tumbang - putus asa, kecewa, seolah segala cara sudah buntu serta merasa kehilangan segala harapan dan putus asa, begitu dinasihati ataupun dicela langsung tersinggung, kebencian dan kedengkian memimpin batinnya, karena ia tidak melatih diri dari sekarang untuk teguh didalam spiritualism [yaitu: bersabar, tabah, merasa terima kasih - bersyukur, inspirasi, ide baik dan mampu berdamai dengan kesusahannya], demikianlah orang yang kehilangan arah.

Tapi mereka yang telah teguh didalam Dhamma, saat diterpa kesusahan hidup, ia dapat segera bersedarkan diri; putus asa, ketakutan, kedengkian, kemarahan, dsb tidak sempat merenggutnya lama lama didalam batin, cukup sebentar saja. Karena pengertian dan pemahaman agung telah diajarkan oleh Buddha kepada umatnya atas dasar KasihNya, supaya manusia jangan terus terhalang oleh masalah batin seperti yang telah disebutkan diatas [putus asa, ketakutan, dsb] yang seringkali menghantui manusia dan mem-blok mental kita untuk maju kelevel berikutnya. Kondisi batin yang kokoh diajarkan dalam samattha [pengharmonisan batin] dan vipasanna [pengkajian batin] buat umat Buddha, yang tidak diajarkan ditempat lain.

Umat Buddha harus mengingat 4 kebenaran mulia pada point yang pertama, disana Buddha mengingatkan manusia bahwa kehidupan ini adalah Dukkha [sabbe sankhara Dukkha]. kata Dukkha disini JANGAN PERNAH DISAMAKAN DENGAN kata Duka nestapa dalam BAHASA INDONESIA! nanti bisa rancu artinya. Bukan-lah duka nestapa yang dimaksud pada kata "Dukkha" dalam bahasa Pali.
Mari kita memahami terlebih dahulu apa arti kata Dukkha, kata Dukkha etimologinya berasal dari penggabungan awalan kata "Du" dengan akar kata "Kha". Bangsa Arya adalah bangsa yang nomaden [pengembara / tidak menetap] pada jaman itu, mereka membawa ternak sambil melakukan perjalanan dengan kereta kuda atau sapi.

Kata Su [pada sukkha] dan Du [pada Dukkha] adalah awalan yang mengindikasikan makna "baik - bagus kualitasnya"[吉] dan "buruk - jelek kualitasnya"[忌]. sedangkan kata Kha berarti "langit, terowongan besar atau space" yang sebenarnya berarti "lubang" [seperti baju yang memiliki lubang atau robek], dan para pengembara bangsa Arya menyebut Kha ini adalah untuk merujuk kepada gandar [roda pedati] yang tengahnya bolong [untuk memasukkan bambu untuk mengangkat kereta].
Jika roda pedati tersebut tidak bagus kualitasnya atau mungkin dalam keadaan rusak mereka menyebutnya Dukkha [rodanya rusak], yang memberikan EFEK Ketidak nyamanan, pemilik kereta yang roda pedatinya tidak kokoh demikian membawa anxiety [kekhawatiran, gelisah dan waswas] didalam perjalanan mereka. Sedangkan Sukkha, berarti "Lubang poros yang baik dan kokoh", sehingga para pemilik kereta merasa nyaman dengan kereta mereka, tanpa perlu was was terjadi sesuatu dijalan.

Makna yang dimaksud didalam point pertama dari Four noble truth bahwa "kehidupan ini Dukkha" bermakna bahwa kehidupan ini tidak-lah sempurna - terdapat cacatnya [Sabbe sankhara dukkha], seperti yang disebutkan dari penjelasan kisah poros roda pedati yang tidak kokoh dan cacat kualitas dan bentuknya, menyangga kereta para ariya diatas. Tidak sempurna, seperti baju bagus kualitas, pola nya dan mahal harganya namun memiliki lubang atau robek sedikit, atau jahitannya kurang rapih. Tidak semulus dan seindah yang dikira. Seperti contohnya saat kita ingin pergi bertamasya atau hangout bareng teman, saat ingin keluar rumah tak sadar ternyata langit sudah gelap [mendung], diluar rencana dan tidak seindah yang kita telah rencanakan. Yang dimaksud didalam point pertama dari Four Noble Truth mengajarkan kita bahwa inilah kealamian kehidupan. Jangan disedihkan jangan disesali dan jangan menggerutu. Kita harus belajar menerima ketidaksempurnaan hidup ini [Life sometimes is not according to one taste], justru kita harus belajar berdamai didalam gejolak hidup. Inilah maksud dari point pertama dari Ajaran.

"Existence is Dukkha, Jangan pernah berharap untuk hidup tanpa kesulitan atau terhindar daripada Dukkha [ketidak sempurnaan hidup] ini. Justru kita harus balik kedalam batin sendiri, dan mampu berdamai dengan diri sendiri kala kesulitan muncul, rasa sakit dihati itu adalah sesuatu yang berharga dan patut dikaji "oh ternyata diperlakukan demikian sungguh menyakitkan hati ini, perilaku yang seperti ini pun bisa menyakiti yang lain, saya tidak akan melakukannya terhadap yang lain". "Do not treat others of what you don't like to be treated yourself" demikianlah intisari daripada menjalani spiritualisme. Dalam menjalani keagamaan atau spiritualitas sesungguhnya adalah shu 恕[didalam bahasa Mandarin kuno berarti bercermin, merenung untuk menempati orang lain seperti kita memperlakukan terhadap diri sendiri], dan hanya orang orang yang mengetahui apa itu rasa sakit yang benar benar faham agar lebih berbelas kasih dan menapaki kehidupan spiritual yang sesungguhnya, gunakan rasa "sakit"[dihati] itu bukan untuk membalas, namun untuk direnungkan bahwa itu menyakitkan, demikian pula yang lainnya tidak akan rela diperlakukan demikian, lain waktu saya tidak akan mau melakukan hal ini terhadap orang lain. Jangan terlena didalam kesedihan, ketakutan, dendam, kemarahan, kesusahan hati. Memang lah hidup tidak seindah yang kita khayalkan." Demikian kurang lebih intisari dari lecture Karen Armstrong di Conway Hall - London pada event "Action for happiness", 18 April 2013.

Untuk mengokohkan batin atau menyelaraskan batin menuju kedamaian serta menciptakan kesejukan batin tentu harus diawali dengan sering seringnya menengok kedalam sebelum berbicara atau melakukan sesuatu: "Apakah dengan melakukan ini akan membahayakan diri sendiri sekaligus orang lain?". Kita harus belajar untuk pandai berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan kesusahan ataupun penderitaan. Seringkali terjadinya perkara, karena kurangnya kita tabah dan memahami, misalnya didalam kantor terjadi perseteruan dingin antara teman kerja, saling menjatuhkan bersaing untuk memperoleh reputasi! Kita benci, marah dan menyalahkan dia begini begitu, tapi jangan lupa "Our enemy also feels pain". How little we know [how little we understand], seberapa jauh kita mengenal musuh kita?

Mari kita telaah kejadian berikut
"... and this was deep in Greek culture, despite their war-like—and this is the last story I'm going to tell. It comes from the Iliad in the 8th century, Homer's Iliad. Now, you'll know, of course, that the Iliad tells the story of just one small incident in long 10-year war between the Greeks and the Trojans. In this incident, Achilles, the chief warrior on the Greek side, has a quarrel with Agamemnon, his King.

In a fit of egotistic peak, he goes off and sulks in his tent, and more importantly, he withdraws all his troops from the war. This is utterly disastrous for the Greek side. And in the ensuing confusion, Achilles' beloved friend, Patroclus, is killed by Hector, one of the Trojan Princes. And Achilles goes mad with grief and guilt and sorrow and rage. He completely loses his humanity. He's usually a tender-hearted man, but even the Gods are appalled by what's going on.

He challenges Hector to a dual. And there, in front of the two armies, and in front of the Trojan royal family, Hector's family, were watching from the Walls of Troy, they fight and Achilles kills Hector, and he mutilates the body. He ties the body to the back of his war chariot and drags it round and round Patroclus's grave. And then he does a terrible thing. He refuses to give the body to the family for burial. That means in the Greek Ethos that Hector's soul will never know rest. It will wander, distressed and discomforted for all eternity.

But then one night Hector's father, old King Priam of Troy, comes into enemy territory into the Greek camp in disguise. He makes his way to Achilles' tent, and he takes off his disguise and everybody, of course, is shocked. The old, old man comes forward and falls at Achilles' feet to plead for the body of his son. He embraces Achilles' knees and he weeps. At this point, Homer calls Achilles man-slaughtering Achilles. Achilles has killed not only Hector, but many of other of Priam's sons. And Achilles looks at the old man and he thinks of his own father, and he, too, begins to weep.

And the two men weep together out to their private pain, but creating that bond between people. Priam weeps for all his sons, and Achilles weeps, Homer says, now for his father, now for Patroclus. And then the weeping stops, and Achilles then goes for Hector's body, and he carries it and lays it very gently and tenderly in the arms of the old man, afraid that this will be too much for the old man to bear. And then the two men look at each other, and each recognizes the other as Divine.

It's when we can go beyond the hatred, the enmity that locks us into so much grief and pain and violence, it's then that we become God-like. That is the end of the religious quest. Thank you."
Karen Armstrong

Terjemahan:
"... Dan ini adalah pengetahuan yang perlu ditelaah dari kebudayaan Yunani, ini adalah sebuah kisah yang akan ku bicarakan. Kisah yang berasal dari Iliad pada abad ke 8, Homer seorang penulis dari kisah Iliad. Kau akan mengerti sekarang, tentu saja Iliad mengisahkan kisah sebuah insiden kecil dalam perang selama 10 tahun antara Yunani dan Trojan [Trojan adalah kota Troy, kota dari Raja Priam]. Dalam kejadian ini, Achilles, Pemimpin panglima perang dari kubu kerajaan Yunani, bertengkar [cekcok] dengan Agamemnon, rajanya sendiri.

Dipuncak keegoistikan kedua belah pihak [mengukuhkan pendapat masing masing], Achilles pergi kedalam tenda nya dan mendongkol disana, dan terlebih lagi, ia menarik diri dan semua pasukannya dari medan perang. Ini benar benar bencana bagi pihak Yunani. Dan dalam kebingungan, sahabat baik dari Akilis: “Patroklus”, dibunuh oleh Hektor, salah satu pangeran Trojan [dari kerajaan Troy]. Akilis murka dan menyesali ia tidak berada disana untuk membantu temannya, Ia menjadi kehilangan rasa kemanusiaannya yang biasanya seorang yang memiliki hati yang halus, namun para makluk surga yang menyaksikan bahkan tidak akan menyangka perubahan yang terjadi pada Akilis.

Akilis pergi menemui Hektor dan menantang Hektor untuk duel dengannya. Didepan dua kubu pasukan perang, dan dihadapan keluarga kerajaan Trojan, keluarga dari Hektor, menyaksikan duel mereka dari perbatasan kerajaan Troy, dan Hektor kalah dan tewas dalam duel dengan Akilis. Akilis merusak tubuh Hektor dengan gerangnya [melalui pukulannya yang dasyat]. Ia mengikat tubuh Hektor dibelakang kereta perang dan menyeretnya mengelilingi makam dari sahabatnya Patroclus. Kemudian ia melakukan hal yang mengerikan, yaitu ia menolak untuk memberikan jasad Hektor kembali kepada keluarganya untuk dimakamkan. Didalam etos Yunani pada masa itu, jasad dari mendiang yang telah meninggal jika tidak dikubur oleh keluarganya, maka jiwanya tidak akan damai. Jiwanya akan bergentayangan, tertekan dan menderita untuk selama lamanya.

Akan tetapi, pada suatu malam, ayah dari Hektor, Raja Priam dari kerajaan Troy yang telah uzur, menyelinap masuk ke teritori musuh kedalam camp Yunani dengan penyamaran [menutupi dengan kain jubah menutupi kepalanya], sampai ia menemukan tenda dari Akilis, dan membuka kain jubah samarannya dan tentu saja semua orang yang menyaksikan didalam tenda Akilis kaget bukan kepalang. Kemudian raja Priam memeluk lutut Akilis dan menangis. Akilis menatap orang yang telah uzur tersebut, Ia kemudian teringat akan ayahnya sendiri, dan air mata pun mengalir dari mata Akilis.

Dua orang menangis bersama atas dasar kesedihan masing masing, namun hal ini menciptakan ikatan antara keduabelah pihak dan seluruh orang yang menyaksikan. Raja Priam bersedih atas putra putranya yang telah ditewaskan oleh Akilis [Homer, penulis kejadian ini, menceritakan bahwa Akilis tidak hanya membunuh Hektor, namun seluruh pangeran yang berhubungan dengan Hektor]. Dan Hektor menangis atas kesepeninggalan dari Patroklus yang dibunuh oleh Hektor. Tak lama setelah itu, mereka berhenti menangis, dan Akilis kemudian mengambil jasad Hektor, membawanya dan Akilis menaruhnya dengan lembut dan hati hati kedalam tangan orang tua itu [Raja Priam, ayah Hektor], khawatir bahwa jasad Hektor terlalu berat untuk dipikul oleh orang yang berusia uzur tersebut. Kedua orang ini saling menatap , dan memandang satu sama lainnya sebagai divine [kemurnian, ke-surgawi-an].

Ketika kita bisa melampaui kebencian, rasa permusuhan yang mengkungkung [memenjarakan] kita didalam kesedihan [keperihan hati], sakit hati dan kekerasan, kita menjadi seperti makluk surgawi [God-like]. Demikianlah pengakhiran dari penelusuran keagamaan…”
Karen Armstrong.

Ingat bahwa musuh kitapun merasakan "rasa sakit" yang sama dengan kita, "Do not treat others as you don't want to be treated yourself", [jangan perlakukan orang lain akan apa yang kau juga tidak harapkan orang lain perlakukan terhadap mu]. Seperti contoh diatas, saat ada perang dingin atau percekcokkan atau perkelahian antar teman kerja, kita seringkali mendongkol ataupun menggerutu [complain] berkata hal hal yang negatif tentang orang itu. Namun seharusnya kita bercermin, menelaah diri terlebih dahulu, tanya terhadap diri sendiri "seberapa jauh kita telah mengenal orang itu?". Mungkin saja orang itu memiliki tanggungan hidup yang berat, tanggungan keluarga, ditinggal suami atau istri dan hidup single parent, atau mungkin ia orang yang mengalami trauma sehingga muncul anxiety tertentu, dsb. "Seberapa jauhnya kita mengenal dan faham akan musuh kita?". Lihat-lah insiden ini, "How little we know!" Betapa terbatasnya yang kita faham akan kehidupan, namun prejudis [pemikiran yang negatif] selalu yang membimbing. Lain kali kalau ada orang yang ingin menjahati kita, renungkan kesadaran murni [awareness] ini, dan jalankan segala tugas tugas anda dengan baik dan sesuai, jangan biarkan pikiran tidak baik berdiam lama didalam batin.

Adakalanya pada saat batin ini serasa pengap, lepaskan kepengapan ataupun kelelahan batin tersebut dengan perenungan akal sehat atau kesadaran murni diatas, atau relaxasi, mencari tempat yang tenang dan damai, bisa bersandar ditempat yang nyaman, kemudian merenungkan segala tindak tanduk kita yang telah terjadi dalam keseharian, mengenal diri sendiri. mengenal lebih dalam mengenai batin ini, munculkan aspirasi baik:

“Jika, O para bhikkhu, seorang siswa yang tidak terampil dalam hal mengetahui jalan pikiran orang lain, dia harus bertekad, “Aku harus menjadi terampil dalam hal mengetahui jalan pikiranku sendiri.” Demikianlah, para bhikkhu, engkau harus melatih diri sendiri. [Jadi, disini Buddha menganjurkan umatnya untuk sering menengok kedalam, berintrospeksi diri akan setiap gelagat yang kita biasa kerjakan apakah sudah lurus? apakah sudah tidak memiliki niat mencelakakan orang lain?]



Dan bagaimana seorang siswa yang terampil dalam hal mengetahui jalan pikirannya sendiri? Sama seperti seorang wanita atau pria, yang masih muda dan menyukai perhiasan, akan melihat wajah mereka di cermin yang bersih dan cemerlang atau di mangkuk yang berisi air jernih. Jika mereka kemudian melihat debu atau kotoran, mereka akan berusaha keras untuk menyingkirkannya. Tetapi apabila tidak ada debu atau kotoran yang terlihat, mereka akan merasa senang. Dan karena keinginan mereka terpenuhi, mereka akan berpikir, “Bagus sekali! Aku bersih!”

Demikian pula, bagi seorang siswa, pemeriksaan diri sendiri sangat membantu untuk menyuburkan kualitas-kualitas yang bajik dalam batinnya:
“Apakah aku sering iri hati, atau sering tidak iri hati? Apakah aku sering mempunyai niat jahat di hatiku [pemikiran atau perencanaan batin untuk lalim, sewenang wenang ataupun mencelakai]
atau sering bebas darinya? Apakah aku sering berkubang di dalam kelambanan [lamban didalam meresponi fenomena batin yang bergejolak dan tidak menentu], atau sering bebas darinya?
Apakah emosiku sering bergejolak [terlena didalam kesedihan, putus asa, ketakutan, luka batin], atau sering bebas darinya?
Apakah aku sering berada di dalam keraguan [kita seringkali diserang oleh halangan batin berupa keraguan saat kita ingin berbuat kebajikan, belajar Dhamma, mengarahkan diri kedalam kehidupan yang baik sesuai dengan Dhamma serta merta pada saat kita memutuskan untuk menjalani kehidupan luhur] atau sering bebas darinya?
Apakah aku sering marah, atau sering bebas dari kemarahan?
Apakah pikiranku sering terkotori dengan pemikiran-pemikiran yang tidak luhur [kepicikan, kemunafikan, tipu daya ataupun keculasan, kebencian, keserakahan, haus kuasa dan hormat dsj], atau sering bebas dari kekotoran batin?
Apakah tubuhku sering gelisah, atau sering bebas dari kegelisahan?
Apakah aku sering malas, atau sering bersemangat?
Apakah aku sering tidak terkonsentrasi [pikiran tidak harmonis karena senang didalam berkhayal atau banyak keinginan yang dipenuhi oleh napsu delusi], atau sering terkonsentrasi?”

Bila dengan memeriksa dirinya seperti ini, seorang siswa menyadari bahwa dia sering iri hati, penuh niat jahat, lamban, bergejolak, ragu, marah, kotor secara mental, gelisah secara fisik, malas dan tidak terkonsentrasi, maka dia harus mengerahkan segenap semangat dan energinya, daya dan upayanya, serta memunculkan kesadaran atau kewaspadaan yang kokoh dengan pengertiannya yang jernih, untuk meninggalkan semua kualitas yang jahat dan tak-bajik itu.

Tetapi, jika pada saat memeriksa dirinya sendiri itu, seorang siswa menyadari bahwa dia lebih sering tanpa iri hati dan niat jahat, lebih sering bebas dari kemalasan dan kelambanan, bebas dari gejolak dan keraguan; lebih sering bebas dari kemarahan; dan menyadari bahwa pikirannya lebih sering tidak memiliki kekotoran dan tubuhnya bebas dari kegelisahan; bahwa dia lebih sering bersemangat dan terkonsentrasi dengan baik maka dengan mengokohkan pikirannya dengan kuat pada kualitas-kualitas bajik ini, ia seyogyanya mengerahkan pengertian yang lebih mendalam lagi untuk menghancurkan semua noda.”

Anguttara Nikaya X:193

Saat kusala citta muncul, disana tumbuh kedamaian, kesejukan batin muncul dihatinya, dan dengan meninggalkan segala keegoismean [melepaskan segala pemaksaan kehendak], kedamaian itu akan tumbuh subur dan kokoh, karena ia akan mengukuhkan dirinya didalam kejujuran - tanpa keculasan, kasih sayang serta kebajikan. Upasaka dan upasika harus membekali dirinya dengan seringkali membaca, merenungkan kisah kasus pemfitnahan Cincamanavika [seperti yang dilampirkan dibawah], Bagaimana Pangeran Paduma yang kokoh didalam kejujuran, kebajikan dan keluhuran walaupun difitnah secara keji oleh permaisuri raja, yang merupakan anggota keluarganya sendiri. Dari perenungan ini keteguhan hati akan tumbuh. dan orang orang yang teguh bukan lahir begitu saja secara tahayul tiba tiba muncul, namun semua di kultivasi [dilatih dan dikembangkan hari demi hari]. Tiada hal atau peristiwa yang terbentuk atau terjadi tiba tiba, semua karena telah tertanam dengan subur sehingga terbentuk atau terjadilah sesuatu. Kita bisa mulai memupuk keteguhan didalam kebajikan dan keluhuran mulai hari ini.

Pada saat yang bersamaan, mari para Upāsaka dan Upāsikā belajar untuk menjadi orang yang pendamai [mengalah - menghindari pertengkaran] serta bersabar, terutama tatkala Upāsaka dan Upāsikā menerima cercaan, sindiran [merendahkan melalui kata kata dan tawa menggelitiknya], atau diperlakukan tidak adil oleh orang lain, semoga bisa dengan segera berendah hati-lah serta memaafkan dan boleh belajar mengingat dan merenung dari pepatah Sunda kuno ini yang isinya mengandung kebijaksanaan yang membalikkan segala murka menjadi kebajikan didalam batin:
"bagaikan bejana yang belum terisi, biarlah hanya terisi dengan ilmu"

[Bagaikan wadah yang masih kosong, biarlah batin hanya terisi oleh ilmu pencerahan batin [kebijaksanaan], biarlah batin ini matang didalam kebijaksanaan serta pencerahan batin]. 


Didalam pepatah ini, batin [pemikiran, sanubari] diibaratkan sebagai Bejana atau wadah, ilmu maksudnya ilmu yang berisikan pencerahan batin - kebijaksanaan. Demikian tiap kali tertimpa kemalangan, kita boleh juga berlatih, mengkondisikan batin ini kearah kemurnian seperti apa yang diajarkan juga di Karaniya metta sutta, dari pada menyumpahi, akan jauh lebih baik merendah hati dan memaafkan seraya merenungkan pepatah ini.

Dengan ketekunan dan seringnya kita tidak membiasakan diri didalam rasa marah, murka, mendengki ataupun mendendam, suatu hari batin ini bersih dari kotornya kebencian dan kedengkian dengan sendirinya. Demikian para upasaka upasika, lain waktu, pada saat kemalangan datang, pada saat kita diberlakukan tidak adil dan tidak lurus, saat diusili oleh ucapan miring dan dengki orang lain, laksanakanlah kebajikan dengan penuh rasa rendah hati dengan berbagi kepada yang susah ataupun fang shen, dengan disertai rasa syukur kepada Buddha Dhamma dan Sangha akan apa itu Karuna? apa itu forgiveness?

Bagaikan pepatah [Folk Saying] dari bangsa Han di Asia Timur bilang:
"どんなに殴られてもやり返さず、どんなに罵られてもいい返さないこと。“
「Donnani nagura rete mo yarikaesazu, donnani nonoshira rete mo ī kaesanai koto.」
打不還手罵不還口「Dǎ bù huán shǒu mà bù huán kǒu」

Kata kata itu adalah pelajaran berharga buat para agamawan atau spiritualis. Inilah basis dari Dhamma. Seperti yang disabdakan oleh Buddha:
‘‘तञ्चे, आवुसो, भिक्खुं परे अनिट्ठेहि अकन्तेहि अमनापेहि समुदाचरन्ति, पाणिसम्फस्सेनपि लेड्डुसम्फस्सेनपि दण्डसम्फस्सेनपि सत्थसम्फस्सेनपि। सो एवं पजानाति ‘तथाभूतो खो अयं कायो यथाभूतस्मिं काये पाणिसम्फस्सापि कमन्ति, लेड्डुसम्फस्सापि कमन्ति, दण्डसम्फस्सापि कमन्ति, सत्थसम्फस्सापि कमन्ति। वुत्तं खो पनेतं भगवता ककचूपमोवादे ‘‘उभतोदण्डकेन चेपि, भिक्खवे, ककचेन चोरा ओचरका अङ्गमङ्गानि ओकन्तेय्युं। तत्रापि यो मनो पदूसेय्य, न मे सो तेन सासनकरो’’ति। आरद्धं खो पन मे वीरियं भविस्सति असल्लीनं, उपट्ठिता सति असम्मुट्ठा, पस्सद्धो कायो असारद्धो, समाहितं चित्तं एकग्गं। कामं दानि इमस्मिं काये पाणिसम्फस्सापि कमन्तु, लेड्डुसम्फस्सापि कमन्तु, दण्डसम्फस्सापि कमन्तु, सत्थसम्फस्सापि कमन्तु। करीयति हिदं बुद्धानं सासन’न्ति। ‘‘Tañce, āvuso, bhikkhuṃ pare aniṭṭhehi akantehi amanāpehi samudācaranti, pāṇisamphassenapi leḍḍusamphassenapi daṇḍasamphassenapi satthasamphassenapi. So evaṃ pajānāti ‘tathābhūto kho ayaṃ kāyo yathābhūtasmiṃ kāye pāṇisamphassāpi kamanti, leḍḍusamphassāpi kamanti, daṇḍasamphassāpi kamanti, satthasamphassāpi kamanti. Vuttaṃ kho panetaṃ bhagavatā kakacūpamovāde ‘‘ubhatodaṇḍakena cepi, bhikkhave, kakacena corā ocarakā aṅgamaṅgāni okanteyyuṃ. Tatrāpi yo mano padūseyya, na me so tena sāsanakaro’’ti. Āraddhaṃ kho pana me vīriyaṃ bhavissati asallīnaṃ, upaṭṭhitā sati asammuṭṭhā, passaddho kāyo asāraddho, samāhitaṃ cittaṃ ekaggaṃ. Kāmaṃ dāni imasmiṃ kāye pāṇisamphassāpi kamantu, leḍḍusamphassāpi kamantu, daṇḍasamphassāpi kamantu, satthasamphassāpi kamantu. Karīyati hidaṃ buddhānaṃ sāsana’nti.

तिपिटक - सुत्तपिटक - मज्झिमनिकाय - मूलपण्णासपाळि - ओपम्मवग्गो – महाहत्थिपदोपमसुत्तं
Tipiṭaka - suttapiṭaka - majjhimanikāya - mūlapaṇṇāsapāḷi - ōpammavaggō - mahāhatthipadōpamasuttaṁ
三藏經 – 藏經 – 中尼迦耶 – 根本五十經編 – 譬喻法品 – 大象跡喻經
大藏经 – 藏经 – 中部經 – 根本五十经集 – 譬喻法品 – 大象迹喻经

Mari sama sama kita belajar berpantang untuk membalas dendam ataupun menusuk hati orang lain dari kata kata, tawa maupun sikap kita. Biarlah kita senantiasa melatih diri untuk mengikis tabiat melampiaskan keinginan membalas dendam ataupun mendengki, sekali gagal, maklumi kegagalan tersebut, karena kita baru sebagai pemula, kemudian bangkit lagi untuk belajar memaafkan, jika gagal lagi, latih kembali sampai berhasil. Suatu hari yang kotor kotor dalam batin kita [seperti dengki, benci, murka, dendam, dan sifat sifat buruk atau agresif lainnya] akan memudar dari benak kita, kita akan hanya terbiasa didalam kedamaian - mengalah, dan pengertian yang mendalam [orang awam boleh menyebutnya pencerahan batin].

Inilah pedoman seorang Upāsaka dan Upāsikā yang merupakan juga sebuah visi dan misi hidup, yang bukan digunakan untuk mendikte atau me-lecture orang lain, tapi untuk lebih memperbaiki - mengarahkan diri sendiri serta mengkokohkan diri didalam Ajaran Kasih dari Buddha selama perjalanan hidup. Janganlah kita berbicara jauh jauh mengenai peraihan tingkat kesucian atau pencapaian semu, kalau yang diatas ini belum dari setengahnya berhasil dijalankan.

Memang benar kita tidak boleh berperasangka buruk terhadap orang lain, namun kita harus menjaga diri melalui norma, agar kita terlindungi dalam lingkungan pergaulan dan masyarakat kita.

Perasaan atau naluri, kesan kesan atau bentuk bentuk pikiran untuk meresponi sesuatu atau seseorang memang tak jarang muncul dalam batin kita, terkadang yang muncul adalah gambaran atau bentuk bentuk pemikiran yang kurang baik, kita harus mengerti bahwa semua itu tidak selalu benar, hal itu seperti seolah olah sedang menduga duga, meramal, menafsir atau mengira ngira. Namun jangan membiasakan hidup kita dengan mengungkungkan diri didalam prasangka [kesan negatif] apalagi sampai menghakimi [menjudge] orang lain sebelum mengenalnya.

Terkadang kita perlu mengabaikan hal itu, dan lebih pada “at the present” yang mengandalkan akal sehat [sagacity] serta etika dari inter-relationship yang wajar. Seiring berjalannya waktu kita akan melihat watak orang orang yang dekat dengan kita [keluarga, teman, kerabat kerja, dll]. Seseorang dapat dikatakan baru bisa menilai orang lain setelah setiap hari bermain bersama, selama kurang lebih tujuh tahun, baru bisa mengenal lebih baik siapakah orang yang bersamanya itu? [entah itu pasangan ataupun teman]. Kelebihan dan kekurangannya sudah kelihatan lebih jelas pada saat itu. Sedangkan didalam berhubungan dengan teman kerja, hendaknya harus pandai pandai melihat siapa dan bagaimana anda berkomunikasi dengan yang lainnya.

Seiring berjalannya waktu, kita akan belajar bagaimana Jalan pikir teman kerja tersebut. Orang yang tidak baik tentu kelihatan dari gelagatnya, orang licik juga tentu terlihat dari gaya pandangan ataupun ucapannya, hal ini telah umum diketahui dan bisa dialami. Penghianatan dan kekecewaan kita dapat dikemudian hari karena kita tidak dengan sungguh sungguh mempelajari [aware] siapakah orang orang disekitar kita dan bagaimana kita harus bersikap.

Tahu bagaimana dan dengan siapa kita berhubungan, demikian kita terlibat diantara peran kita dengan orang lain. Kalaupun kita mengetahui kekurangan orang lain, jangan kita memojokkan atau memusuhi orang lain, cukup sewajarnya saja, bersikap adil tidak memihak kepada teman kerja yang kita sukai atau tidak sukai, yang terutama harus menjaga agar hubungan dengan yang lainnya tidak terganggu dengan ejekan - hinaan dan hal hal yang tidak ada hubungannya dengan tugas atau pekerjaan yang disebabkan oleh kesan kesan kita terhadap seseorang.

Janganlah ucapan kita sampai membuat perasaan teman kerja terluka pada saat ngobrol ataupun bersenda gurau. Kecuali dalam satu perkara, anda harus tanpa memihak dan berungkap sesuai kenyataan. Satu hal yang penting didalam dunia kerja: akan lebih baik tidak bercerita masalah rumah atau pribadi kepada teman kerja yang walaupun telah bertemu ditempat yang sama selama bertahun tahun sebelum mengenal siapa orang itu.

Didalam berkarir, Upāsaka dan Upāsikā tentu harus berpegang teguh “jika ingin mendapatkan kebahagiaan, janganlah sampai didapat dengan cara yang curang [korup] dan menindas yang lain demi kepentingan diri sendiri, keluarga ataupun golongan” harus secara adil sesuai dengan kemampuan dan pengerahan tenaga yang telah dikerahkan didalam mengembang tanggung jawab pekerjaannya. Dan didalam kehidupan ini, dimanapun juga kita berada, saat kita melihat kekurangan orang lain*** baik itu ditempat kerja ataupun dilingkungan masyarakat, jangan pernah menghina, mentertawakan ataupun membuat mereka merasa dijauhi atau merasa terhina. Semuanya harus diperlakukan secara sama seperti layaknya orang normal pada umumnya.

[***contoh : seorang yang desosialisasi, mengalami shyness disorder [social awkwardness atau social uncomfortable anxiety], autis, peter pan syndrome [tubuh dewasa, tapi gaya seperti anak anak, seperti ada pria muda yang berusia dua puluh tahun keatas saat kegirangan lompat lompat sambil menyikukan tangan dikedua dadanya, gaya bicara kekanank kanakan], phobia, personality disorder dan lain sebagainya]
Note: Bagi yang social phobia atupun Autism pada orang dewasa, silakan membaca buku Vital Friends, karangan Tom Rath.

Kita yang diklaim 'normal' tentu saja melihat gaya mereka aneh, mulai dari cara Jalan, gaya bicara, maupun tatapan matanya, tapi jangan menjudge terlebih dahulu, karena kita tidak mengetahui dengan pasti apa yang terjadi dibalik dari semua phobia dan disorder yang mereka alami? Dan di Indonesia tak sedikit orang yang tumbuh dengan disorder atau phobia tersebut dan berada dimasyarakat atau publik. Bahkan orang orang nakal, pembangkang serta berakhir jadi melakukan kriminal sekalipun, memiliki sebab yang mengkondisikan suasana dan perkembangan batin mereka sampai sebegitunya. Seandainya para Upāsaka atau Upāsikā bertemu dilingkungan yang sama dengan orang orang yang beringas janganlah menjudge terlebih dahulu. Apalagi jika anda adalah seorang pemimpin lingkungan [rt ataupun rw], orang yang teguh didalam Dhamma dengan karakteristik yang kuat, ketua keamanan dilingkungan, pembuat kebajikan, nda perlu menjudge atau menjauhi tetangga yang demikian. Malah, adakalanya menasihati mereka akan sangat bermanfaat dan menarik mereka jadi orang yang lurus jalan hidupnya.

"Orang orang yang kekurangan" tersebut [seperti penakut sekali, malu, dsb] bisa tumbuh demikian adalah bagian dari kekurangan orang tua yang tidak peduli saat anaknya masi usia dini [salah asuhan] yang dengan jelas mengetahui atau melihat dengan kedua mata mereka bahwa anaknya memiliki kekurangan tersebut namun tidak dikonsultasikan ke ahlinya, tidak diobati, tidak mengadakan pendekatan untuk kesembuhan. Beginilah ketidaktepatan asuhan

Sesungguhnya misal para orang tua tidak tahu bagaimana seharusnya, kan tentunya bisa berkonsultasi dengan psikiater anak, dan Indonesia, khususnya Jakarta dari tahun 70 an tidak kekurangan psikiater anak. Banyak sekali orang tua yang tidak bertanggung jawab membiarkan anak anaknya tumbuh dengan kekurangannya, yang tak jarang akan menjadi korban pelecehan[diremehkan, tidak dihargai, diisolasikan dari pergaulannya] atau di-bully dimasa depannya. Anda yang hari ini membaca tulisan ini, agar menjaga anak anak dengan baik, bercakap cakap dengan guru wali kelasnya disekolah agar bisa dihandle dengan baik [bukan untuk menghindari tanggung jawab si-anak sebagai murid, itu malah jadi spoil yang membentuk karakter manja - apapun boleh dilakukan].

Bhāvanā
Bhāvanā memiliki makna
"Penyelarasan batin atau pemusatan pikiran, singkatnya berarti BATIN YANG TAK TERGOYAHKAN"
八風不動 ~ 紋風不動 Wén fēng bú dòng
[Samādhi - समाधि] Yang mana didalam samādhi, EFEKNYA adalah kita berdiam didalam kedamaian hati dan meredam Taṇhā 【तण्हा】.
Terutama kala terguncang oleh fenomena kehidupan
[sedih – senang, dihormati – dihina, Berjaya – kandas, dsb].
Namun manakala kita sedang bermeditasi,
kenangan buruk, yang memalukan, yang memilukan hati atau yang tidak diinginkan muncul
dalam batin, namun ia tidak marah ataupun gusar dan terganggu atas munculnya kenang kenangan tersebut,
sebaliknya ia bisa berdamai dengan pikiran sendiri [tanpa adanya kegusaran atau rasa terusik] berarti kita lulus didalam berdamai dengan diri sendiri. Langkah selanjutnya adalah tidak mengejar munculnya pemikiran itu.
Jika yang muncul kenangan buruk akan seseorang yang kita benci, maka ia yang teguh [stillness - samadhi] cukup menyadari [tahu, bukan berkata kata dalam batin lho, cuma menyadari] "ini pemikiran atau bayangan yang tidak baik muncul dalam pikiran" dan kita balik ke fokus kita dengan segera, atau misalnya pemikiran napsu muncul, napsu ingin memiliki, entah memiliki kehidupan yang berkelimpahan harta atau berlian, kita menyadari sejenak dan kemudian langsung balik ke fokus kita. ini berarti kita telah melewati gangguan batin didalam meditasi. Jangan pernah memaksakan pikiran atau marah terhadap munculnya kenang kenangan atau bentuk bentuk pemikiran tersebut, karena itu adalah kealamiahan, alami. Jangan dilawan atau dipaksa menghilangkannya, karena semakin dilawan atau dipaksa untuk menghilangkannya, bisa bisa "dia" semakin menjadi jadi muncul lebih kuat didalam pikiran. INI BERARTI SAMA SAJA DENGAN ANDA SEDANG MENGEJAR SI KHAYALAN ATAUPUN SI BENTUK PIKIRAN itu, dan kehilangan fokus pada moment saat ini didalam keteguhan pikiran / stillness [samadhi]. Banyak orang yang gagal didalam meditasinya dikarenakan gagal melewati masa ujian didalam menghadapi bentuk bentuk pemikiran yang muncul tersebut, yang sesungguhnya tak jarang adalah hasil karya pikirannya sendiri, yang berasosiasi dengan perasaan dan indera indera kita lainnya.

【Samādhi = Sama + dhīra】
sama secara harafiah artinya
[adj] even; equal; level; similar. [rata, sama]
[m] calmness; tranquility: “peace” → Samā
Dhi mengacu pada kata dhīra
Yang artinya kebijaksanaan

Samādhi:
state of being firmly fixed' [Stillness] [sam+ā+√hā]
is the fixing of the mind on a single object.
One-pointedness of mind [cittassekaggatā].

Dalam pengembangan batin, kita mengenal istilah meditasi, meditasi ada yang disebut fokus atau penyelarasan pikiran [Samatha, yang efeknya membawa kedamaian] yang kemudian pada latihan lanjutan akan berkembang menjadi mencerna - mengamati atau menelaah[vipassanā - vipassati = mengamati dengan jelas dan cermat], yang dalam bahasa umum untuk umat Buddha disebut "Samatha" [yang sebenarnya bukan ketenangan, ketenangan adalah efek yang akan dicapai, tapi penyelarasan batin, namun disebut meditasi ketenangan terjemahannya] dan "vipassanā" [meditasi pandangan terang, sebenarnya itu hasil akhirnya, vipassana sesungguhnya berarti menelaah atau mengkaji dengan cermat atau sǝksama]

Meditasi Vipassana [penelaahan batin] ini dibarat sendiri lumayan diminati dan juga dilaksanakan oleh umat Buddha di Indonesia. Sebelum seseorang meditasi Vipassanā, seyogyanya harus belajar mengerti secara teoritis terlebih dahulu oleh guru yang telah berpengalaman mengenai proses daripada:
1. Cetasika 【Faktor factor mental】
2. Rūpa 【yang nampak pada fisik: ekspresi yang nampak dari pada fisik beserta unsur atau elemen pembentuk fisik atau yang muncul-nampak-terlihat pada fisik】
3. Citta 【kondisi mental atau batin yang terbentuk】

Yang mana dari pembelajaran ketiga hal diatas, kita sekaligus belajar memahami apa itu proses
- Pañcadvāra vīthi 【Jejak dari pada panca indera; proses munculnya sebuah pikiran melalui panca indera】
- Manodvāra 【ambang kesadaran – pintu kesadaran [higher consciousness]】
- Cuticitta 【kesadaran ambang pelepasan】
- paṭisandhi 【kesadaran lahir】

Setelah memahami betul betul hal ini melalui pembelajaran dari guru yang telah berpengalaman dibidang ini, barulah orang dapat dengan lugas mencapai pandangan terang. Diluar daripada itu hanyalah seperti dalam kondisi tersamar seolah olah dirinya telah mencapai pandangan terang, namun sesungguhnya apa yang didapat oleh kaum awam selama ini bukan pandangan terang, Cuma ketenangan batin saja setelah melewati proses pelatihan rasa sakit dan perenungan nafas atau proses gerak fisik tersebut.

Tak sedikit yang telah lama menjalani Vipassanā namun batinnya belum benar benar mencapai apa yang para Ariya Pugala dari siswa Buddha capai, sebaliknya kita harus akui secara bersama, batin ini masih tetap culas, picik, egois 【自私自利】, bahkan sampai ada yang angkuh menganggap dirinya telah sering meditasi, namun keinginan menguasai atau berkuasa, superior, dihormati, merasa dirinya lebih hebat atau pintar dari yang lain tetap saja berkembang, kita bisa melihat kenyataan ini disekitar kita.

Mengapa? Karena mereka belum benar benar mencapai pandangan terang ataupun menembus dari Vipassanā [pengkajian batin]. Mereka yang berpandangan terang yang sesungguhnya, maka tidak ada lagi yang melakukan cara kotor didalam segala karirnya, tiada lagi kepalsuan dan penipuan [picik dan culas], ke-egoisme-an sudah ditinggalkan. Orang yang berpandangan terang tidak lagi berbuat baik demi iming iming untuk mengcover segala kebejatan yang dilakukan, supaya ketutup kejahatannya yang terus konsisten dilakukan. Orang bijaksana tidaklah mencoreng batinnya dengan ketidakluhuran, namun mengerti dengan benar makna dari kebaikan, kasih sayang dan pengorbanan, bukan sebaliknya mengukuhkan diri walau sala, apalagi demi menutupi tindakan kotornya.

Banyak yang berlatih meditasi Vipassanā [perenungan akan penelaahan atau pengkajian batin] namun belum mengerti proses batin, mungkin juga karena belum belajar pelajaran proses batin yang Buddha uraikan, sehingga pada saat meditasi Vipassanā masih menerka nerka, sehingga mereka berlatih pada bukan menuju pencerahan batin, namun hanya telah berhasil berlatih dalam “bersabar melewati kesukaran dari rasa pegal dan sakit”, ini juga salah satu praktek – latihan pertapaan pendukung kearah ketenangan batin, yang tidak mudah dilakukan tanpa seorang guru. Sesungguhnya, Dalam pelajaran Abhidhamma banyak membahas mengenai proses batin, dengan pengarahan yang baik dan benar, bisa menghantarkan orang menuju pandangan terang atau apa yang disebut sebagai efek atau pencapaian dari pelaksanaan meditasi Vipassanā ["meditasi pengkajian batin", terjemahan di Indonesia salah menterjemahkan menjadi “pandangan terang”. Sesungguhnya pandangan terang adalah HASIL ATAU EFEK daripada perenungan - pengkajian batin atau Vipassanā].

Namun dari semua itu, apabila anda ingin memulai belajar meditasi, bacalah terlebih dahulu buku "Superpower Mindfulness" yang ditulis oleh Ajahn Brahm; Sebuah panduan buku meditasi yang membuka wawasan dan persiapan yang baik sebelum meditasi.
Anda bisa dapatkan bukunya di Gramedia, atau beli online:
Buku kita
Media Chandra
Ehipassiko Foundation
Bagi anda yang telah membaca dan menjalankan apa yang didalam buku Superpower Mindfulness ini, akan sangat membantu anda mengerti banyak hal yang dibahas disini mengenai perbaikan mental atau batin atau spiritual relijius.

Untuk Vipassanā meditation
coba di klik disini:
[1] Ajahn Brahm
[2] American Vipassana Meditation attender experience 1
[3] Teaching Vipassana in prison
[4] American Vipassana Meditation attender experience2
[5] Oprah super soul sunday Thich Nhat Hanh and Dhamma brothers teach vipassana in prison [USA]


Mari kita kenali arti kata
MEDITASI secara umum,

Sebuah kata yang kita pakai sampai sekarang ini, yang diadopsi dari bahasa Inggris.
Kedalam bahasa Indonesia

Kamus online Merriam English Dictionary
Meditation:
the act or process of spending time in quiet thought
istilah Meditation dalam bahasa Inggris mulai dikenal pada abad ke 13
yang diadopsi dari bahasa Latin MEDITATIO, dari kata kerja “MEDITARI”
yang sesungguhnya berarti “To think contemplatively, to think ponder”
“berpikir dengan matang”

Keterangan Longman Advanced Dictionary
menjelaskan arti Meditasi dalam terjemahan umum
Meditation:
[1] a way of emptying your mind of thoughts and feelings,
in order to relax completely or for religious reasons.
[2] the act of thinking deeply and seriously about something
Meditative: thinking deeply and seriously about something

Didalam bahasa Mandarin sendiri,
berdasarkan uraian terjemahan dari
“Kamus besar bahasa Mandarin”
現代漢語詞典 【中國社會科學院語言研究所】

mendeskripsikan arti meditasi:

“坐禪”
Zuò chán 「Alfabet Indonesia: Cuo Can」
的意思指的是排除雜念,靜坐修行。
The meaning of "Meditation" is to sit peacefully and eliminating mind’s distractions.
Arti dari “Meditasi” dalam bahasa Chinese - Mandarin adalah [postur tubuh] duduk didalam damai dan menselaraskan [mengharmoniskan] gangguan pikiran.

Word Bank
  1. 的 = of [dari]
  2. 意思 = meaning [arti/makna]
  3. 指的 = refer to [mengindikasikan]
  4. 是 = be / am,is,are [adalah]
  5. 排除 = to banish or to exclude [membersihkan]
  6. 雜念 = distracting thoughts [pikiran yang terganggu]
  7. 靜 = calm, solitude, tranquil [damai, tenang]
  8. 坐 = to sit [duduk]
  9. 靜坐 = to sit still with a peaceful mind [duduk dengan tenang]
  10. 修 = to study and fix, to repair or to mend. [menelaah dan memperbaiki]
  11. 行 – 行為 = behavior [tindak tanduk, gerak gerik]
  12. 修行 = to correct our behavior or to fix the movement of our minds [memperbaiki sikap mental atau secara moril]

Jadi sesungguhnya kalau meditasi dalam pengertian umum adalah penyelarasan [pengharmonisasian] dari kegalauan batin, memaknai makna terdalam dari segala bentuk bentuk pikiran yang membebani batin [menelaah batin] sehingga ia terbebas dari segala kekacauan batin. Untuk bersantai atau relaxasi, sedangkan pengertian demikian didalam Buddhisme adalah salah satu jenis perenungan, dan bhavana dalam Buddhisme tujuan yang terutama adalah untuk melenyapkan keegoismean [sumber bencana, perang dan penderitaan dunia], mengikis segala kejahatan dan pandangan tahayul, melihat apa adanya fenomena alamiah dari faktor fisik dan mental ini.


Saddhā [Keyakinan, kemantapan hati]
Sedangkan saddhā yang sejati, sesunggunya muncul bukan karena seseorang pandai bicara atau bermalas malasan, namun melalui kesiapan batin, keteguhan hati, niat berusaha atau perjuangan yang tak kenal putus asa. Bukan dengan memaksakan hati ini untuk percaya yang dibuat buat, hanya melalui pengalaman pribadi [dari pelaksanaan]. Semua ini bisa kita nilai dari HASIL akhir yang didapat. Maka itu kita bisa melihat mengapa seseorang pemenang didunia ini semuanya memiliki keyakinan terhadap dirinya? Karena mereka mengasah dan berlatih, kemudian merealisasikan dengan memenangkan kedudukan tertinggi atau keluar sebagai peraih penghargaan. Karena mereka pantas dihargai, bukan karena mereka pandai berculas atau pandai menjilat atau bermanis kata, atau pandai bernyanyi lagu kemengangan "Aku menang" tapi sama sekali gak punya keteguhan hati atau lemah keteguhannya. namun semua keberhasilan atau kemenangan yang didapat hanya-lah dikarenakan perjuangan mereka yang tak kenal putus asa. Tiada satupun didunia ini sebuah penghargaan atas prestasi dari seorang pemenang sejati diperoleh dari bersungut sungut atau memohon, apalagi jatuh dari langit.

Kebahagiaan yang diperoleh melalui penyaruhan [culas], tipu muslihat dan bersilat lidah yang mengorbankan atau merampas kebahagiaan orang atau makluk lain, semua itu hanyalah kesenangan semu.

Ini berlaku juga bagi seorang agamawan, kita semua menyaksikan dan memberikan rasa berkenan [restu - anumoditva] kepada yang lain tidaklah dari hasil pandai mengalunkan lagu "kemenangan" ataupun berdoa, terlebih bersilat lidah [pandai berteori atau berargumen], namun apa yang datang dari lubuk hati dan perilaku luhur-nya, sambil menelaah problem problem yang gak jarang terjadi dimasyarakat kita untuk dijadikan renungan.

Perenungan berikut adalah sebuah refleksi didalam batin masing masing, mari bersama kita menelaah kedalam serta merenungkannya baik baik:
  1. Menghormati Orang Tua adalah yang utama perlu dilakukan oleh umat Buddha, demikian pula menyokong hidup ibu dan ayah adalah salah satu berkah tertinggi. Yang sering terjadi adalah bahwa anak muda seringkali merasa bahwa mereka lebih pintar, lebih kuat dan lebih modern, dalam beberapa hal memang demikian anak lebih pintar, tapi dalam hal lain tentu orang tua juga memiliki kebijaksanaannya sendiri berdasarkan pengalaman hidup mereka. Dalam menghormati orang tua, janganlah melihat dari siapa yang salah dan benar, seperti mereka yang juga tidak peduli apakah anaknya yang lahir wanita ataupun pria, tetap semuanya diterima dengan tangan terbuka dan kasih sayang. Bahkan umat Buddha yang sering menghormat kepada Buddha rupang tapi ada yang tidak pernah seumur hidupnya bersungkem kepada orang tuanya, seperti yang Guru Agung Buddha ajarkan.
  2. ”Rasa curiga atau berprasangka buruk [prejudice]”, “Dengki atas pencapaian kedudukan-kesuksesan atau kebahagiaan yang dialami seseorang”, “Haus kuasa dan kehormatan”, “kepicikan [menitik beratkan pada keuntungan pribadi bukan untuk kepentingan umum] dan keculasan [tidak jujur atau tidak lurus hati]” tak jarang memunculkan ketidak adilan dimasyarakat, menyebabkan ketidak harmonisan, hilangnya kedamaian yang berawal dari keegoisan diri sendiri, 自私自利 [egosentris dan pemaksaan kehendak demi keuntungan pribadi, keluarga atau golongannya]. Baik dalam persahabatan, lingkungan kantor atau bahkan didalam kasus warisan orang tua. Bahkan ada yang sampai ada saudara yang bermusuhan. Ada yang menghalalkan segala cara demi memuaskan nafsu batinnya, dan cara cara terselubung lainnya. Sungguh, kita masih perlu banyak bimbingan batin dari pada yang bijaksana, agar batin ini dapat terlepas daripada kepicikan dan keculasan, dan selalu diarahkan pada hal hal yang luhur.
  3. Terkadang kita yang telah mengenal Buddha Dhamma, tak jarang yang masih degil, menolak nasihat baik, dan sebaliknya sering memegahkan diri atau sengaja show off didalam pengetahuannya ataupun kebaikannya supaya dipuji ataupun supaya dihormati. Ini bukan kebaikan, ini supaya ia dimegahkan atau mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk mendapat pengaruh [supaya dapat dukungan saat ia melakukan kesalahan] melalui perbuatan itu [sama seperti orang orang korup yang memberi sesuatu kepada rakyat demi ....]. Tapi sayang kebajikan bukan untuk di show-off atau dipamerkan sambil ingin mengukuhkan "Aku baik lho".
  4. Kesalahan dan kekurangan selalu dimiliki oleh kita, umat Buddha dianjurkan untuk mengerti sifat ini, dan berjuang mengarahkan batin ke-arah yang luhur. Bagaimana untuk memiliki sifat yang bersabar, jujur, pengalah didalam kedamaian, pemaaf. Yang tutur katanya ramah, tidak membuat yang mendengarnya berkecil hati atau merasa malu, serta berperilaku yang memancarkan rendah hati nya.
  5. Rasa penyesalan yang mendalam dan berketerusan, kesedihan, keputus asaan serta kebergantungan adalah sifat sifat yang harus dikikis dalam batin ini. 
    Janganlah menjadi manusia yang hidup didalam kesusahan batin seperti itu. 
    Filsuf besar Konfusius berkata
    “Seorang yang tidak kokoh didalam aturan [standart norma],
    Cara belajarnya pun tidak akan teguh dan mendalam.
    Orang yang berbudi luhur lebih baik berjalan sendiri tanpa teman [seperti orang itu],
    Namun, jika terdapat kesalahan langkah dalam hidup, janganlah pernah takut untuk memperbaiki diri.”
  6. Dan Umat Buddha sudah harus seringkali merenungkan kata kata ini

    Santussako ca subharo ca
    appakicco ca sallahukavutti
    Santidriyo ca nipako ca
    appagabbho kulesu ananugiddho,

    Hati nya dipenuhi rasa berkecukupan dan terima kasih
    dengan apa yang ia terima dari pemberian orang lain, 
    hidupnya sederhana [tahu batas diri sendiri] sehingga tidak menyusahkan orang lain.
    Tidak sibuk mengerjakan banyak hal dalam hidupnya – berfokus pada pekerjaan utama, 
    perasaannya tidaklah tergoyahkan oleh keinginan ataupun niat jahat, 
    serta menjaga perilaku dengan baik. 
    Tidak lancang, Tahu malu dan sopan, baik melalui ucapan, perbuatan maupun pikiran, 
    Tidaklah menjilat kepada orang yang berpengaruh demi kepentingan apapun juga
    [Buddha]

    「巧言、令色、足恭,左丘明恥之,丘亦恥之。
    匿怨而友其人,左丘明恥之,丘亦恥之。」
    Konfusius bersabda: Kata kata yang serasa enak didengar, wajah yang menyenangkan, selalu “meng-elu elukan” [memuji demi orang lain senang terhadapnya]. Demikianlah Zuǒ qiū míng [baca: Cuo Chiu Ming] menganggap hal itu sebagai perilaku yang hina, Aku-pun menganggapnya demikian. Bersikap bersahabat padahal penuh maksud terselubung [tidak jujur dan tidak tulus - scheme], Zuǒ qiū míng [Filsuf Chinese] menganggapnya sebagai orang yang memalukan, Aku-pun menganggapnya demikian.

Apakah arti dari kata Hormat?

Kamus besar Bahasa Indonesia
mencatat penguraian kata Hormat
hor•mat
1 a menghargai (takzim, khidmat, sopan): sepatutnyalah kita -- kpd orang tua kita;
2 n perbuatan yg menandakan rasa khidmat atau takzim (spt menyembah, menunduk):
hadirin serentak berdiri memberi -- kpd tamu yg datang;

Takzim
takzim /tak•zim/ a amat hormat dan sopan: sampaikan salam -- kami kpd bapak dan ibumu;

Berkhidmat
berkhidmat /ber•khid•mat/ v
1 berbuat khidmat; bersopan-santun;
2 mengabdi kpd; setia kpd: ~ kpd tanah air adalah kewajiban setiap warga negara;

Longman advanced American dictionary
mencatat dihalaman 1228 mengenai arti kata hormat:
Respect berarti
1. “an attitude of regarding something or someone as important, so that you are careful not to harm them, be impolite to them, etc.”
Suatu sikap terhadap sesuatu atau seseorang sebagai hal yang penting, yang membuat engkau berhati hati untuk tidak melukai atau berlaku yang tidak pantas terhadap mereka, dan sejenisnya.
2. “admiration for someone, especially because of their personal qualities, knowledge, or skill.”
Sedangkan kata admire artinya “to have a very high opinion of someone because of a quality they have or because of something they have done.

BAGAIMANAKAH DHAMMA MEMANDANG KATA HORMAT?
Secara layaknya kepada umum, kata hormat mengindikasikan sebuah tindakan memberi penghargaan [support], dorongan [encourage & support] dan kelakuan yang sopan dan menjaga hubungan dengan baik terhadap orang orang yang memiliki kualitas batin yang luhur: penyabar, berpengertian bajik, yang menjaga ketatasusilaan, dan terutama kepada yang telah mencapai penaklukan diri.
Terdapat orang orang yang sudah sepantasnya dihormati berdasarkan Dhamma:
1. Menghormati Orang tua dan harmonis bersama keluarga kita
2. Para Buddha beserta siswa agung
3. Teman teman spiritual [kalyana mitta]
4. Orang orang berbudi luhur: yang tidak pendengki, yang tidak picik dan culas, yang tidak korup [curang], yang mengerjakan pekerjaan yang bersih dari darah atau menyebabkan kemalangan maupun penindasan terhadap yang lainnya, yang hidup dengan penuh tanggung jawab terhadap tugas tugasnya.

Selama ini, baik kita atau orang lain selalu saja menjunjung tinggi atau menghormati yang tidak luhur [yang culas seringkali dihormati, serta mencela [kebalikan dari menghormati] yang luhur] :
1. Mencurangi pajak negara, wahhh kamu PINTER SEKALI! SALUT! perusahaan sebegininya bisa bayar pajak kecil. [ia menyanjungi tinggi penipuan]
2. "Wah kau memang hebat bisa merayu bos sehingga kau naik pangkat, dia gak jadi dinaikkan" [menjunjung tinggi tindakan curang atau korup]
3. "Apaan tuh pake berbuat baik! gak usah, orang juga gak baik sama kita"
4. "Dia gak apa apain kamu kok! gores daging kamu juga tidak! cuma ketawain kamu karena kekurangan yang terdapat dalam sikap kamu yang aneh!" [Ia membela temannya si bodoh yang sudah melukai hati orang lain melalui tawanya]
4. "wah kau memang jagonya ngedapatkan perhatian teman sehingga sekarang kau ada kesalahan pun dibela dan diputar balikkan jadi gak bersalah, salut! kita mesti belajar ilmu sulap silat lidahmu" [menjunjung tinggi keculasan]
5. "Hebat bangat dia! sehari bisa potong 20 ekor sapi dan 100 ekor ayam." [menjunjung tinggi pembunuhan]

dan lain sebagainya yang bisa kita dengar dilingkungan umum. Ketidak luhuran selalu dipuja, dihormati dan dihargai. Kita selalu dididik oleh orang disekitar kita demikian, termasuk oleh orang tua kita yang tidak mengenal Dhamma. Namun Dhamma meluruskan apa yang salah, serta membalikkan kita kejalan yang benar agar selalu ingat dan menghormati kepada mereka yang luhur dan bersih tindak tanduknya.

Berkeyakinan namun tanpa adanya mengembangkan keluhuran batin, sesungguhnya hanyalah sebuah keyakinan hampa semata

Keluhuran seseorang tidaklah dinilai dari seberapa banyak anda membaca kitab suci, atau memohon ampun didalam doanya, atau karena telah dimandikan didalam upacara keagamaan, ataupun didalam menjawab pertanyaan daripada masalah keagamaan. Namun Kualitas, credibilitas dan integritas seseorang dinilai pada saat ia menghadapi masalah. kita ditantang sebagai awam, janganlah berbicara mengenai kesucian dulu, namun ditantang untuk bersabar, jujur [satu pemikiran satu kata], bebas dari kepicikan sekaligus bebas dari keculasan.

Orang disekitar kita tak jarang yang berkamuflase 【to cover up or conceal; to gloss over 掩飾】 dengan nada yang sedikit mengejek dan merendahkan martabat anda: “sudahlah, tidak ada yang sempurna didunia ini, melatih diri itu sia sia atau nggak ada hasil apa apa, toh akhirnya kau melakukan kesalahan lagi kan?!! Jangan sok suci deh! Kenapa? Takut?” Yang kemudian mulai sengaja [baik secara langsung ataupun dengan sindiran dan skema lainnya] yang menjebak orang orang lugu untuk berjudi 【gambling – 賭博】, penyalah gunaan obat 【drug of abuse – 吸毒】, bersenang senang di tempat pelesiran【Prostitution – 嫖妓】。

Mereka yang lengah, terutama didalam permainan kata dan ejekan, tentu sudah pasti akan balik membesarkan egonya 【pride 自豪】 dihadapan mereka, yang tentu berakhir dengan segala konsekuensinya yang harus ditanggung oleh diri sendiri, karena gengsi dikatain pengecut, bernyali kecil, dan segala ucapan miring lainnya.

Padahal, kebanyakan dari orang yang berkamuflase tersebut memiliki Rencana negatif yang terselubung 【scheme 計謀】 agar kita jadi sama bobroknya seperti dia, jika salah satu anggota geng nya gak bisa ikut berarti dia harus keluar dan aku tidak akan menemani dirinya saat berperang dengan kelompok lain, yah intinya grup mereka cuma grup yang membesarkan harga diri didalam perang, tapi sayang, harga tukang pukul tidak sebanding bahkan dengan orang orang yang berprestasi disekolah, yang selain membuat orang tuanya bahagia atau bangga, juga membuat si anak yang berprestasi tersebut bisa memiliki kesempatan mendapatkan beasiswa, yang mana tentu saja jauh mengurangi biaya pengeluaran keluarganya, dibandingkan tukang pukul, mabok mabokan [minuman keras, narkoba dan penjaja tempat pelesiran] yang sudah pasti buang uang. Dan banyak dari mereka, grup atau kelompok tersebut, setelah lewat masa 10 - 15 tahun kemudian, berakhir di penjara karena telah membiasakan hidup demikian [judi, baku hantam, dan penjaja tempat pelesiran], mau berkarir juga ga bisa, pemasukan kecil, tapi egonya aja yang besar dan terpelihara sejak terdidik didalam geng mereka diusia awal tersebut.

Perlu kita telaah berulang kali, terutama bagi yang kurang waspada dan lugu, bahwa:
orang orang yang berkamuflase atau memeloroti pride atau gengsi anda didalam "permainan kata" yang dilontarkan untuk menjebak anda, sesungguhnya mereka mengetahui atau menyadari akan siapa orang yang benar benar baik dan siapa yang sejalan dengan mereka, yaitu tidak luhur. dan orang orang yang berkamuflase melihat apa benar kita teguh didalam jalan lurus? kalau cuma karena takut atau ikut ikutan, banyak dari orang orang di grup atau geng tersebut yang cuma di bodoh bodohi, karena mereka tahu, orang yang takut dan ikut ikutan ini memang orang bodoh, tak layak dihormati, dan tak jarang dikerjain.
Atau bahkan misalnya kita ambil contoh kasus lain, saat seseorang difitnah sekalipun,
orang yang memfitnah sesungguhnya menyadari ketidakbersalahan
dari orang yang telah difitnahnya tersebut.

“suatu hari seorang murid bertanya kepada filsuf besar
"Guru, Bagaimanakah bila saya membalas kejahatan dengan kebajikan?"
"hah? lalu kebajikan dibalas dengan apa? Balaslah kejahatan dengan keadilan dan kebenaran - tanpa memihak, dan balaslah kebajikan dengan kebajikan"

"orang yang berakhlak luhur sesungguhnya akrab dengan orang lain,
hanya saja tidak berkomplot didalam sebuah satu kesatuan.
namun, orang picik walaupun hidup berkelompok,
tapi sesungguhnya mereka tidak akrab satu sama lainnya.
karena mereka hanya memikirkan keuntungan dirinya sendiri"”

Memang benar, terdapat sebagian orang disekitar kita nampaknya pemberani, sangar, yang karena memiliki bentuk tubuh dengan kekuatan fisik yang besar dan kekar, dengan wajah yang tidak menyenangkan kita boleh nampaknya disekeliling kita bahwa diantara orang orang yang seperti itu, terdapat orang orang egois yang pandai berkamuflase didalam kata kata: "yah kita yang fair saja" padahal supaya dirinya tidak terlibat didalam masalah yang sesungguhnya berawal dari provokasi-NYA [baik secara langsung atau melalui orang lain dengan menceritakan hal hal yang tidak seharusnya atau tidak berhubungan dengan dirinya], setelah kejadian meledak ia malah ingin agar orang lain yang mendapatkan getah nya dengan segala kamuflase yang dibuat oleh si culas yang nampaknya pemberani tersebut. diantara ciri cirinya adalah orang yang demikian usil, yang bukan urusannya terkadang ia suka memberikan komentar negatif, ego atau pride [gengsi] nya tinggi dan lebih kepengen dihormati atau dihargai.

Ia akan berjuang dengan KECUT nya pantang untuk mengakui kesalahannya sendiri, sebaliknya malah ingin agar orang orang melihat kalau pihak korban jadi bersalah. Ia ingin memdapatkan pembelaan dari temannya, tapi begitu temannya memiliki keslahan yang melibatkan dirinya, ia langsung dengan cepat mencari kesalahan temannya tesebut serta menitik-beratkan atau mengulang kembali hal itu didahapan orang lain, sehingga ia bebas dari kata "bersalah". Demikianlah hati yang pengecut yang dari gelagatnya bernampak pemberani. Kita tidak bisa menilai orang dari apa yang nampak diluar, tapi dari hatinya. [Don't judge the book by the cover]. [Lihatlah apa yang Raja Surgawi katakan mengenai kesabaran - dibagian bawah, bagaimana kekuatan hatinya dan pengertian sejati telah dipahami sehingga tidak tergoyahkan oleh segala kamuflase ataupun prejudice [pikiran kotor nan culas]]

Orang orang yang nampaknya gagah - kuat dan pemberani itu biasanya dihadapan teman teman kelompoknya tak jarang mengeluhkan si ini begini begitu [suka membeberkan kekurangan dan kelemahan orang lain] supaya mendapatkan simpatik agar supaya teman teman membelanya jika suatu hari terdapat kasus, dan tentu saja dia sudah membuat perhitungan dan cara berucap agar orang lain bersimpatik. Memalukan sekali, orang yang menganggap dirinya pemberani tapi berusaha membuat scheme yang tertata dengan baik untuk mendapatkan dukungan dan pembelaan dari teman temannya [walau ia tau dirinya terlibat dalam suatu kasus dan juga bersumbangsih didalam terjadinya suatu perkara, atau malah sebenarnya biangkerok terjadinya permaslaahan justru datang dari ucapan sindiran nya sendiri tapi ia berupaya keras berkamuflase dihadapan teman teman atau golongannya], agar supaya kesalahannya disulap jadi benar dan si lawan pihak yang malang dijadikan sasaran untuk dicap "Bersalah" dimata teman temannya!

Namun sayang, pengukuhan yang keluar dari ungkapan teman teman yang sesungguhnya tidak mengetahui dengan jelas kejadian sesungguhnya dan apa modus dari pengecut tersebut, sesungguhnya sama sama tidak bersih dan yang ikut ikutan cemar, serta tidak dapat dikatakan mewakili kebenaran ataupun keadilan itu sendiri. didalam hukum di Indonesia-pun, teman temannya tersebut akan ikut terjerat didalam KUHP, apalagi sampai terjadinya baku hantam. Janganlah kita ikut terlibat didalam ucapan usil orang lain, kita harus menjaga kedamaian batin, rasa persahabatan [metta], dan tanpa keterpihakkan, singkatnya saat orang lain berbicara keburukan orang lain, jangan ikut tertawa ataupun berkomentar. Umat Buddha perlu belajar banyak dan memperdalam hal ini.

Orang orang yang berbudi serta cerdas tidak akan pernah terlibat didalam masalah pertikaian orang lain, tidak pula ikut tertawa ataupun memberi sumbangsih ide, karena sesungguhnya hanya mereka yang bertikai-lah yang mengerti dengan benar siapa sesungguhnya biang kerok atau yang memulai kejadian suatu perkara dan siapa yang mulai menyindir atau memanas manasi. ya toh? buktinya banyak sekali perkelahian dimulai dengan ejekan dan sindiran. Seorang teman yang baik akan terlihat saat ia akan mengikuti yang baik atau tidak. Kalau mau menyelesaikan masalah, harus ditarik ulur awal bermulanya permasalahan itu timbul [siapa yang memulai sindiran dan usil, suka bergunjing], jangan menghakimi hanya pada moment kejadian perkelahian atau baku hantam saja, karena akan terus berlanjut dan membekas dihati.

Disini-lah kualitas, credibilitas dan integritas seseorang ditantang atau diuji!!!
Apapun pilihan yang kita pilih, mau berkamuflase, culas, menipu, memfitnah dan main hakim sendiri? semuanya ada konsekuensinya, baik dari segi hukum kenegaraan ataupun hukum alam. Dan orang orang disekitar yang dengan jeli melihat hal ini akan mengerti dengan sendirinya bagaimanakah kualitas batin seseorang itu, siapakah yang jujur, siapakah yang terbuka tangannya 【generous 大方】, siapakah manusia yang penuh dengan kebaikan [kesabaran, menghindari peperangan, dsb].

Ekaṁ dhammaṁ atītassa
musāvādissa jantuno
vitiṇṇaparalokassa
natthi pāpaṁ akāriyaṁ

Demikianlah kasus yang terjadi dimasa lampau,
mengenai kebohongan yang dilakukan oleh seseorang,
Orang orang yang telah menaklukkan batin dan
terbebas dari belenggu ikatan batin yang jauh melampaui keduniawian,
tidaklah melakukan hal hal yang tidak luhur dan jahat.

Pdf Riwayat Agung Para Buddha buku 2

[page pdf : 31 - 43]
Halaman buku 1242 – 1255

Ketika Buddha menguraikan perihal kasus pemfitnahan Cincamanavika, yang mana Penguasa Surgawi – Raja Sakka turut membantu menyelesaikan masalah pemfitnahan ini sehingga masalah jadi jelas.
[Silakan di klik, di judul pdf diatas untuk membaca kisah luar biasa indahnya kemuliaan dari kejujuran]

Maka itu, hendaknya kita para upasaka upasika teguh didalam mengarahkan diri didalam kebajikan dan kearah keluhuran. Janganlah takut akan ucapan miring orang lain, Janganlah takut untuk berintrospeksi diri serta janganlah putus asa didalam proses berupaya memperbaiki diri. Dan bagi para upasaka upasika yang sedang berupaya mengarahkan diri ke arah yang luhur hendaknya senantiasa mengingat nasihat Buddha Yang luhur tiada tara didalam perjuangan melawan kemarahan, kebencian, dan kedengkian:

टुदन्ति व्āचय जन्ā असññअत्ā
सरेहि सṅगमगतṁव कुñजरṁ
सुत्व्āन व्āक्यṃ फरुसṃ उद्īरितṁ
अधिव्āसये भिक्खु अदुṭṭह चित्तो

Tudanti vācaya janā asaññatā
sarehi saṅgamagataṁva kuñjaraṁ
sutvāna vākyaṃ pharusaṃ udīritaṁ
adhivāsaye bhikkhu aduṭṭha citto


“Para bhikkhu, seorang bhikkhu yang telah melepaskan keduniawian,
harus menjaga batin ini agar senantiasa dalam kedamaian,
bagaikan seekor gajah perang yang menahan dan meruntuhkan hujan anak panah
dari pihak lawan dalam sebuah pertempuran.

Batinnya tak tergoyahkan, Ia dengan kerendahan hati bersabar
saat diserang oleh mereka yang tidak memiliki pengendalian diri
dalam tindakan, ucapan dan pikiran; orang-orang dungu yang tidak
menjunjung tinggi kebajikan dan keluhuran,
memberikan kata-kata kasar, tuduhan dan fitnahan kepadanya.”

Dari kisah Cincamanavaka tersebut, upasaka upasika diingatkan bahwa barang siapa yang hatinya bersih, teguh didalam jalan lurus, yang batinnya bebas dari keculasan dan ketidakjujuran, bersabar dan pemaaf lagi bijaksana, bahkan para makluk surgawi pun bersedia melindungi orang orang bijak ini dari marabahaya. Ternyata banyak makluk yang menjadi saksi terhadap segala tindak tanduk kita. Dan didalam kisah Cincamanavika tersebut, Bahkan sebelum pangeran dibawa ke pinggir jurang untuk dieksekusi, ternyata dewata yang berada ditempat kejadian eksekusi tersebut telah “melihat atau mengetahui” apa yang sesungguhnya terjadi? [mereka telah membaca kejadian yang sebenarnya]. Dan Raja Naga [naga yang berkuasa] disana pun juga memahami hal ini sehingga Dewata beserta Raja Naga tersebut bersedia menolong kepada orang yang bersih dan bijaksana ini.

Persis seperti yang pepatah Chinese ungkapkan
人有善願天必佑之 【吉人天相】。
rén yǒu shàn yuàn, tiān bì yòu zhī [Jí rén tiān xiàng]
[Alfabet Indonesia: ren you shan yuen, Thien pi you chǝ. [Ci ren Thien xiang]]

Note:
天 disini berarti 梵天[Makluk surga Brahmā] ; 天神 – 天堂之神 [para dewa di surga]

Namun sayang, banyak yang telah belajar Buddha Dhamma, apa yang telah dijelaskan langsung oleh Buddha ini, pada kehidupan nyatanya GAGAL ditelaah dan diserap dalam batin kita, tidak adanya pengarahan diri sendiri kepada hal hal yang luhur [virtuous – sīla शील], bahkan tak segan segan demi kepentingan dirinya, keluarganya atau golongannya berani melakukan yang tidak luhur, mengancam, menipu, kamuflase [berkata yang tidak benar atau kepalsuan demi menutupi kekurangan atau kejahatannya sendiri], dan menguasai, bahkan tak jarang yang masih bertindak mencuri pajak, mengukuhkan kejahatannya serta memutar balikkan hukum [yang salah dibela, yang tidak bersalah malah tidak digubris atau malah disudut sudutkan karena adanya pengaruh kekuasaan dan telah menerima uang …] Mengenaskan sekali.

Mereka malah semakin menjunjung tinggi ke-aku-annya didalam benak mereka:
  1. “akulah yang harus dihormati, kalian harus menghormati aku”
  2. "aku lebih berharga dibandingkan engkau, engkau tidaklah seberapa penting, duit aja gak ada, bodoh lagi!"
  3. "aku telah melakukan kebaikan, aku lebih mulia dibandingkan engkau"
  4. “akulah yang lebih pintar dan bijaksana, kalian tidak lebih pintar atau bijak dibandingkan aku”
  5. “akulah yang harus lebih untung, kalian kalau bisa sisahnya saja”
  6. “akulah yang harus selamat, engkau harus mengalah untuk ku”
  7. "aku pandai bergaul dan punya banyak teman, kau cuma apalah? tidak pandai gaul dan gak ada yang mau menemani kamu" dan "aku" "aku" yang lainnya

Orang yang sering melakukan baksos besar besaran sekalipun, kalau masih terdapat ke-aku-an yang demikian, ia memberikan noda bagi batinnya sendiri. Misalnya atau seandainya ada uang yang didapat dari hasil yang tidak jujur dan dari hasil ketidak adilan didanakan untuk baksos, ia telah melakukan kebaikan yang tidak kecil, namun ternyata tujuannya baksos bukan karena kebaikan itu sendiri, namun untuk menutupi segala penyelewengan yang telah dilakukan, hal ini pun tidak luhur.

Semoga kita semua bisa terus berintrospeksi diri, agar kita menjadi umat yang sering berrefleksi mungkin saja kita telah salah jalan, dan segera mengarahkan diri kepada keluhuran, bukan sebaliknya.

Sesungguhnya 6 refleksi tersebut [diatas] hendaknya kerap kali kita renungkan sebagai pengikut dari Guru Agung: Buddha, guna menegur diri ini manakala terdapat kepicikan, ke-egoisme-an, tanha [keinginan besar menguasai dan memiliki], keculasan [bersifat menipu] menguasai batin.

Kalau kita seringkali berintrospeksi diri, maka batin ini mantab, maka Saddha akan tumbuh subur dengan sendirinya. Akan lebih baik kalau kita janganlah berhipotesa atau pandai berdebat kitab terlebih dahulu, banyak hal yang belum kita “lihat” dalam hidup ini. Mari kita melatih dan mengarahkan batin ini didalam keluhuran batin, yang membawa keharmonisan, kedamaian dan kebahagiaan.

Seperti apa yang Guru Agung kita ajarkan kepada Yakkha Alavaka, demikian:
१९१.“इङ्घ अञ्ञेपि पुच्छस्सु, पुथू समणब्राह्मणे।
यदि सच्चा दमा चागा, खन्त्या भिय्योध विज्जति॥”
191. “Iṅgha aññepi pucchassu, puthū samaṇabrāhmaṇe;
Yadi saccā damā cāgā, khantyā bhiyyodha vijjati”


“Silakan bertanya kepada pertapa dan para brahmana yang lain
apakah ada yang lebih hebat daripada
kejujuran, menaklukkan diri [dari kepicikan, keculasan, kedengkian dan kebencian], kedermawanan dan kesabaran"


“You can ask other Samanas and Brahmanas
if there be any better than
Truthfulness, Restraint oneself from evil, Charity and Forbearance.”

“你可去問其他隱士或婆羅門
倘若你能發現
世上還有比真理,應被調御,
施捨及忍耐更好。”


Source 【經源】:
तिपिटक (मूल) - सुत्तपिटक - खुद्दकनिकाय - सुत्तनिपात - उरगवग्गो - १०. आळवकसुत्तं
Tipiṭaka (mūla) - suttapiṭaka - khuddakanikāya - suttanipāta - uragavaggō - 10. Āḷavakasuttaṁ

Word Bank
  1. Iṅgha = come, look here, behold [lihatlah] 請查看
  2. aññepi = other [yang lain] 其他
  3. pucchassu - pucchati = ask [bertanya] 問
  4. puthū = numerous,various,several,more,many,most [banyak] 各種各樣,五花八門,種種
  5. samaṇa = recluse [pertapa] 隱士
  6. brāhmaṇe = in Buddha's era, the people of caste Brahmins who do the holy life [para pendeta Brahmin] 佛陀时代,執行梵天道【聖行者】,而且在社會上,种姓最高等的家族,稱為婆羅門。但佛陀在說這個時,菠蘿們指的梵天道的執行者。
  7. Yadi = if, suppose [seandainya] 倘若
  8. sacca - sacca vādin = truthful,speaking the truth [kebenaran, kejujuran, kenyataan, bukan ungkapan kosong]
  9. damā = taming and mastery oneself from evil [penjinakkan indera dan menaklukkan batin] 調伏, 訓服心想。
  10. khantyā = Forbearance, patience, composure, magnanimous and endurance, equanimity, sufferance [kesabaran, tak goyah - tenang batinnya dalam kondisi atau situasi apapun, orang yang sabar harus tahu bagaimana berkorban dan tak takut atau menjadi khilaf dan takabur dalam menghadapi kerugian, orang yang sabar biasa kita kenal sebagai penyabar, pengalah, pemaaf] 忍耐,耐心
  11. bhiyyodha = in a higher degree, exceed [lebih tinggi, melebihi] 突破,超過
  12. vijjati = can be found [dapat ditermukan] 能發現
  13. cāgā =
    liberality,generosity,munificence (n.) 慷慨,善心
    generous,munificent (adj.) 大方

    sīlasampanno saddho purisapuggalo
    sabbe maccharino loke cāgena atirocati
    “he who is virtuous & religious
    excels from all stingy people with generosity"
    A.III,34.

Didalam kalangan masyarakat kita, terdapat awam menganggap dirinya spiritual atau relijius atau sering meditasi atau ketempat ibadah, namun dengan anggapan pribadi-nya [ke-egoisme-annya] itu malah tak jarang menyebabkan pertengkaran, ucapan yang berat sebelah atau keterpihakan, yang melukai hati orang yang mendengarnya. Ada lagi kasus dimana orang yang kaya dan berpengaruh harus didahulukan atau diutamakan dan lebih diperkenankan pendapatnya; atau: Orang yang menganggap dirinya relijius atau pun spiritual, didalam keluarga malah terlibat didalam peperangan besar karena perebutan harta warisan; atau didalam diskusi, dengan sengitnya mengukuhkan dengan bersikap kasar bahwa pandangannya yang benar, yang lain harus mengikutinya, yang tak segan segan main baku hantam.

Orang orang yang batin atau mentalnya terganggu tersebut biasanya tidaklah damai batinnya, ia senang terlibat didalam pertikaian dan seringkali tidak bisa menerima kenyataan akan perbedaan pendapat dalam suatu diskusi umum, yang tentu saja didalam dunia komunikasi, sebuah perdebatan maupun diskusi memiliki kode etik untuk tidak boleh berpihak baik pada satu hal atau hanya berpaku pada satu konklusi, namun didalam berkomunikasi pada akhirnya harus mengakui perbedaan pendapat, tapi harus mencakup pengertian luas secara merata atau untuk semua hal. Dari hal itu kita bisa belajar untuk menghargai perbedaan, belajar etika berkomunikasi tanpa perlu jadi ikut ikutan pandangan doktrin salah. Toh hanya komunikasi [omdo atau omong omong doang], setelah pembicaraan selesai, pada akhirnya semuanya kembali pada tingkah laku atau segala tindak tanduk kita masing masing didalam keseharian, yang menunjukkan kualitas atau jadi diri tiap tiap kita.

Janganlah karena masalah diskusi, menginginkan agar keinginan kita dibesarkan; sifat diktator dan penjajah dilambungkan dalam batin, sama saja seperti saat kita berpuasa, masa juga suruh orang lain ikut ikutan puasa supaya kita kuat puasanya? Orang yang benar benar kuat dan bersih puasanya tentu saja walau didepannya disuguhkan makanan, batinnya tak tergoyahkan dan tak tertarik sedikitpun dengan makanan itu, kalau misalnya memang udah dasarnya pengen makan, cuma karena gengsi sehingga harus ingkar atau menipu diri sendiri mendingan gak usah puasa sama sekali. Janganlah membesar besarkan diri sendiri jika memang ternyata kita tidak lapang.

kualitas spiritual atau keagamaan seperti kesabaran, berdamai dengan diri sendiri, menghormati orang tua, berucap kata kata yang jujur, rendah hati, menghindari kata kata kasar dan kotor; menyindir atau mentertawakan kemalangan atau kekurangan orang lain saja bahkan mereka sipandai bicara yang mengklaim diri mereka sebagai orang religious, agamawan, orang spiritual TIDAK MAMPU LAKUKAN!

Malah tak jarang mereka melalui tawanya telah membuat orang yang tertimpa kemalangan atau memiliki kekurangan baitn dimasyarakat kita [seperti: social anxiety - gak bisa bergaul, personal disorder, dsb] semakin tersiksa dan terpuruk batinnya. Janganlah menganggap kita adalah orang yang baik, relijius atau spiritual, apalagi sampai mengajari ajaran Buddha atau mengaku sebagai umat Buddha.

Namun jika kita adalah umat Buddha, maka hal yang harus dipertanyakan kepada diri sendiri adalah apakah kita sudah menjalankan prinsip keagamaan didalam menghancurkan kejahatan batin diri sendiri seperti kamuflase, tipu daya, keculasan dan kepicikan? serta TIDAK MENGGANGGU yang lain didalam proses penyembuhan gangguan atau kekurangan mental yang banyak menyerang masyarakat dunia pada masa akhir akhir ini, gara gara sikap egoisme atau diktator [keinginan yang terlampau melambung serta keegoismean] didalam tiap insan insani.

Di sini, seorang siswa penuh amarah dan dendam; agresif dan mendominasi, dengki dan loba; penuh tipu muslihat atau suka berbohong [saat ditujukan kepada kebenaran akan kejahatan yang telah dilakukan pada saat penghakiman]; dia memiliki keinginan-keinginan yang tidak luhur serta pemikiran yang tidak baik atau salah dan dia melekat pada pandangannya yang ia sendiri belum realisasikan secara penuh, mengukuhinya dengan sangat dan sulit melepaskan pandangan-pandangan [tidak jelas] tersebut. Siswa yang seperti itu tidak memiliki rasa hormat terhadap Sang Guru, Dhamma dan Sangha.”

Banyak hal yang kita jarang sekali kita telaah dalam hidup ini.
“Memenangkan sebuah perdebatan tiadalah gunanya jika malah membuat pemikiran kita kotor, egois, picik dan berpihak, serta hidup tidak jujur. Itu bukan tujuan beragama. Namun berkaca melihat diri sendiri cacat mental yang ada, jika punya kemaluan selayaknya segera memperbaiki diri.”
Demikianpula didalam berbisnis, yang tidak segan segan menjalankan cara yang kotor atau tidak jujur, dengan segala akal kecurangannya demi kepentingan diri sendiri, keluarganya atau golongannya.
Kita perlu mengakui bahwa hal ini karena tak jarang dari kita lebih terbiasa terdidik mulai dari keluarga sampai dimasyarakat pada umumnya dengan didikan keegoismean, untuk memperoleh keuntungan bahkan tak segan segan sampai merugikan pihak yang lain. [yang inti pesan didikannya adalah "yang penting kau tidak rugi, yang lain biarin aja rugi dan mengalami derita"].

Demikian pula didalam dunia kerja, kita jarang sekali merenung:
Apakah Jabatan, nama baik atau pengaruh? Itu sesungguhnya cuma menanggung tanggung jawab yang lebih besar, karena memang ia berkualitas dan tangkas didalam menangani masalah dibidangnya tersebut. Namun akan sangat berbahaya sekali orang yang cerdas namun egois. Tidaklah pantas bagi seorang pimpinan yang pandai namun kecongkakan, kekejian dan noda keegoisan semakin merajalela didalam batin, pemimpin yang seperti ini akan tak segan segan untuk mengorbankan kepentingan umum demi kepentingan dirinya sendiri ataupun keluarga dan golongannya.

Janganlah kita sampai membiarkan batin ini tercemar dan tenggelam didalam kelicikan, keculasan [maksud terselubung], cara cara yang tidak jujur, khayalan khayalan atau kehendak yang tidak luhur, apalagi semakin senang dan bangga didalam cara cara kotor, dengan dalihnya bahwa: ”ORANG LAIN PUN MELAKUKAN HAL YANG SAMA”.

Seseorang yang batinnya kotor dan berat sebelah tidak cocok untuk menjadi pemimpin, baik dipemerintahan, perkantoran ataupun dilembaga pendidikan, dsb, walau telah bersumpah sekalipun kata katanya tidak bisa dipegang. Karena mereka bisa sewenang wenang, berat sebelah dan lalim.

Demikianpula dengan Saddha, orang yang ucapannya yang suka didalam bergunjing, tidak sopan
Saddha yang muncul pada batin orang yang demikian pun hanyalah keyakinan semu, yang dipaksakan, sebuah pencocokan yang dipaksakan didalam pikiran. Mengapa? Karena dari pikiran, ucapan dan tindakan yang muncul atau dilakukan daripadanya bukanlah cerminan orang orang memiliki saddha didalam Dhamma.

“Orang orang demikian akan menjadi orang orang yang seperti kita lihat disekitar kita, yang mengaku beragama Buddha, dengan perangainya yang agresif dan kasar, yang tidak segan segan menyerang atau menghantam pihak lain yang tidak menuruti kehendak atau pandangannya.”

Mari kita sama sama merenungkan hal ini,
“Apakah benar bahwa orang orang yang memiliki Saddha adalah orang orang yang sakit jiwanya seperti ini?”

Kualitas batin seseorang yang berjiwa kotor, meski ia memiliki pendidikan yang tinggi atau pengetahuan yang luas sekalipun, maka ia akan menjadikan pengetahuan dan ilmu yang didapat untuk dijadikan sebagai media atau sarana untuk memenuhi tujuan terpendam dalam tanha, kesenangan - memuaskan keinginan atau niatnya dengan cara yang tidak luhur.

Bagi Upāsaka atau Upāsikā ada baiknya kalau kita untuk seringkali menengok kedalam batin melakukan perenungan, menelaah diri sendiri, mengarahkan diri kearah yang baik.


“The most beautiful people we have known are those who have known defeat, known suffering, known struggle, known loss, and have found their way out of the depths. These persons have an appreciation, a sensitivity, and an understanding of life that fills them with compassion, gentleness, and a deep loving concern. Beautiful people do not just happen.”
― Elisabeth Kübler-Ross

Orang yang paling baik yang pernah kita kenal adalah
mereka yang telah mengerti apa itu kekalahan, apa itu kesengsaraan,
apa itu perjuangan, apa itu kehilangan, dan yang telah menemukan
jalan keluar dari pada keterpurukan.
orang orang ini adalah orang orang yang hidupnya penuh dengan rasa berpuas hati,
lembah lembut, dan penuh perhatian serta cinta kasih.
orang baik lahir dari pada pengertian yang mendalam [bukan terjadi tiba tiba].
― Elisabeth Kübler-Ross
[seorang penulis - psikiater yang menulis buku
Death and Dying [tentang kematian dan maut]

"Bagaimana mungkin orang bisa benar benar memiliki welas kasih jika tanpa pernah mengalami kesusahan dan duka nestapa itu sendiri?
bagaimana mungkin ia bisa dengan tulus berbuat baik tanpa pernah
mengerti makna pengorbanan?
Dari pengalaman muncul kasih sayang yang berasal dari pengertian langsung,
dari kasih sayang muncul rasa pengorbanan yang tanpa pamrih,
dari pengorbanan yang tulus itu lahirlah manusia manusia noble, manusia luhur,
yang benar benar baik dan bersih didalam kebaikannya, yang menapaki jalan Dhamma.

dan orang orang yang membesarkan egoismenya 自私自利 [Pokoknya Aku yang diutamakan, Yang penting Aku mendapatkan keuntungan], akan selalu jauh dari Dhamma dan kebahagiaan. disini umat Buddha harus membuktikannya sendiri, umat Buddha atau upasaka upasika harus menguji kualitas hatinya masing masing didalam menapaki jalan Dhamma untuk menjadi manusia yang pemaaf, penyabar, rendah hati, mengalah - menghindari perseteruan apalagi pergunjingan, sekaligus bijaksana.
Tiadalah yang benar benar menjadi siswa Buddha yang menghindari pemaafan, kesabaran, rendah hati, mengalah dan jalan kebijaksanaan. karena diluar dari pada perbaikan diri ini adalah bukan benar benar manusia yang bersembah sujud kepada Buddha - Dhamma - Ariya Sangha. orang orang itu cuma pandai bersandiwara alias pandai upacara atau seperti kaset yang diputar berulang ulang tanpa pernah bisa memahami makna Dhamma itu sendiri.

Note:
自私自利 = egoisme yang mengukuhkan aku lah yang harus diutamakan, aku lah yang terbaik, akulah yang hebat, akulah orang paling baik hatinya, akulah penguasa / pimpinan, akulah yang terbeken [popular] jadi kalian harusnya yang menghormati aku, akulah lebih hebat dibandingkan engkau maka engkau harus bungkam dan mendengarkan aku saja, Aku yang harus lebih untung dibandingkan kamu jadi kalau kamu lebih banyak profit aku balas nanti, lihat saja. dari sini muncul lah segala racun pikiran dan berakar kuat. sifat sifat diktator dan pendikte, akan tega bersikap lalim, berat sebelah, dan sewenang wenang [seenaknya gue aje lah didalam memperlakukan orang lain, itu orang gak penting, gak kaya, gak ada pengaruh juga dimasyarakat],demikianlah keegoismean, sampe sampe ada yang berkata demikian setelah menjolini temannya "biarin saja aku ini orang baik, sering melakukan baksos menolong orang susah, aku telah banyak berbuat baik! jadi aku pasti akan tertolong nantinya, karena banyak yang dukung aku: orang orang berpengaruh, para dewa atau orang orang sakti yang saya hormati akan melindungi saya walaupun saya menjolini orang yang tidak berguna ini" Namun sayangnya walaupun ia berstatement bahwa ia orang baik, orang picik yah tetaplah picik, kriminal yah tetaplah kriminal, koruptor tetaplah kotor, kejahatan apapun tidak akan pernah membuat orang jadi bersih batinnya, kelak ia akan mengerti betapa kotor batinnya, dan ia akan meratapi kejahatannya. Mari kita para upasaka upasika meninggalkan 自私自利 [egoisme] ini. Namun umat Buddha jangan menyamai Disiplin dengan Egoisme. Saat kita berada disebuah instansi, organisasi ataupun perusahaan, masing masing didalam mencapai tujuan yang sama sudah pasti memiliki suatu sistem, tata cara atau aturan. Dan orang orang yang bekerja disana sudah sepakat pada saat akan menandatangani surat perjanjian kerja dijelaskan bahwa tempat dimana mereka bekerja memiliki sistem, aturan ataupun tata cara kerja tiap tiap bagian. janganlah karena kelalaian kita sendiri kemudian sampai mengeluhi yang pimpinan sebagai orang yang egois. Memang orang yang tidak Cakap [nggak pandai] banyak mengeluhnya.

Yang rendah dan menjijikkan dari semua itu adalah propaganda agama.


seringkali jika ketemu agama tertentu, saat berkunjung anda tiba tiba disuguhi dengan buku dongeng karangan orang orang yang berhalusinasi yang bermimpi buruk berkeliling neraka, karena terobsesi dan berambisi keras dalam berkepentingan mempropagandakan agama sehingga terbawa mimpi, yang kemudian dibuatkan buku buku yang berisikan halusinasi yang bercerita mengenai perjalanan keliling neraka yang didampingi oleh Guru besar pimpinan agamanya, yang didalam cerita halusinasinya tersebut ia menuliskan bahwa temannya disana masuk keneraka karena gak percaya sama junjungannya, dan diceritakan bahwa junjungannya berfirman bahwa karena engkau tidak percaya kepada ku maka kau dilempar ke neraka. dan kisah kisah halusinasi lainnya yang dikarang oleh orang lunatik [orang yang jiwanya terganggu] ini.

Seperti yang terjadi pada salah seorang teman kami yang Tuan rumah pemilik kontrakan [hostage] saat mengetahui bahwa ia Buddhis, kemudian pada saat next appointment untuk melihat lihat rumah, ia disuruh baca buku cerita versi agama dari negri timur dekat, sebuah karya halusinasi perjalanan keliling neraka; hostage kemudia berkata kepada teman kami:
"aku kasian sama kamu karena belum mengakui guru junjunganku sebagai tuhan jadi gak bisa diselamatkan nantinya, saya juga telah mengatakan kepada pemeluk agama lain selain Buddhis, agar menyembah junjungan agama saya agar masuk ke surga nanti".

Kerabat kami ini orang yang intelektual dan belajar psikologis, jadi begitu mendengar pembicaraan orang yang propaganda agama ini langsung teringat ada banyak orang orang yang teridentifikasikan sebagai gangguan jiwa karena obsesi mereka yang besar dan menahun, untuk memaksakan prinsip agama dan ideologinya yang sesat dan tahayul kepada orang lain. Ia tidak bisa menerima bahwa di negara kita ini, diberikan kebebasan memeluk agama apapun tanpa harus propaganda.

Demikian para penulis dari pengikut agama itu, yang batinnya terganggu [delusi] yang menuliskan cerita “halusinasi mimpi” nya, berdasarkan obsesinya yang kuat dalam kehidupan keseharian-nya untuk merekrut orang lain ke agamanya, yang menyebabkan ia bermimpi sampai terbawa bawa halusinasi obsesi sesat keseharian-nya tersebut, dan didalam mimpinya yang gelap itu ada yang berbicara dan ia klaim "itu yang gelap gelap" sebagai Junjungan agama mereka.

Setelah bangun tidur ia menuliskan kisah mimpi delusinya tersebut kedalam buku yang disusun dengan rapih agar terlihat indah dan terstruktur sehingga menjadi laris buku tersebut, sekaligus demi untuk memperkaya diri serta menjatuhkan mental orang orang ber-IQ dan ber-mental kebawah, sekaligus tahayul yang mudah termakan tipudaya - provokasi - maupun bujukan sesat oleh kisah yang ditulis oleh baik itu pengarang ataupun para umat mereka yang sudah terkena halusinasi ini:
"seorang korban akibat obsesi kuat dalam mempropagandakan agama".
Sungguh kasihan sekali orang yang mentalnya mengalami gangguan ini.

Mungkin salah satunya anda yang pernah disuguhi dengan buku kisah halusinasi model begitu oleh penganut agama mereka, dan tentu saja umat lainpun sampai ketakutan setelah diceritakan dengan begitu serius-nya oleh penganut agama itu, [dengan wajah yang seolah olah damai dan tenang namun sayang kata katanya yang keluar adalah kata kata sesat], hingga akhirnya sukses menjadi penganut agama sesat itu karena ditakut takuti dengan buku halusinasi perjalanan keneraka yang dibimbing oleh makluk gak jelas wajahnya siapa namun langsung diklaim oleh si pengarang lunatik [sakit jiwa] tersebut sebagai pimpinan junjungan agamanya.

Dan tentu saja, keautentikan dari kisah HALUSINASI dari pengarang ini dianggap oleh kaum mereka sebagai "KARUNIA", namun sesungguhnya tidak bisa dipertanggung jawabkan, mengapa? karena ia sendiri tidak tahu menahu secara kongkrit apa yang sedang terjadi. Wong dikatakan oleh kitab mereka bahwa setan pun bisa menyaruh, dan banyak yang akan memakai nama-Nya sebagai kedok untuk modus [tipu daya] tertentu.

Sama seperti orang ngimpi karena terobsesi kena nomer buntut, sampe kebawa ngimpi, kemudian nomer itu dipasangkan ditogel atau biasa pasang nomer buntut, taunya gak KENA!!!! amblaslah rezeki kau.

HALUSINASI didalam dunia psikologis dibagi menjadi beberapa jenis:
1. Halusinasi dalam Mimpi,
2. Halusinasi dalam khayalan,
3. Pseudohalusinasi,
4. dll.

Penyebab Halusinasi
1. Terobsesi keras dalam jangka berlebih dan diluar limit batinnya terhadap suatu pemikiran yang mana batinnya tidak bisa menerima kenyataan bahwa tidak semua hal didunia ini bisa mengikuti kehendak hatinya atau prinsipnya. [salah satu gangguan jiwa]
2. Sakit dengan panas tinggi sehingga mengganggu keseimbangan tubuh.
3. Gangguan jiwa Skizofrenia
4. Pengkonsumsian narkoba atau narkotika tertentu seperti : ganja, morphin, kokain, dan ltd
5. Mengkonsumsi alkohol berkadar di atas 35% : seperti vodka, gin di atas batas kewajaran dalam jangka panjang
6. dll.

Itulah alasannya mengapa diagama Buddha tidak pernah dimintai kesaksian dimimbar agama,
mengapa? karena ucapan manusia yang penuh napsu keinginan atau sedang menggebu gebu tidak bisa dipegang, penuh trik, berat sebelah, bisa mengandung tipu daya dan modus. Walaupun ia bersaksi ditempat ibadah mereka sekalipun, tetap saja telah dibumbu-bumbui [ditambah tambahi] berat sebelah dan tentu saja mengandung dusta dan bisa saja fitnah. Agama Buddha menghindari segala kesaksian sesat seperti mereka, apalagi menganut para praktisi kedukunisasian yang mistis dan tahayul yang dimulia muliakan dan diklaim oleh mereka sebagai mukzizat ataupun karunia dewa pujaan mereka [Terserah mau nyebutnya God - Dewa - Tuhan atau apapun juga, intinya ya itu dia figur-nya].


“Perenungan”
【Meditation without reflection 【introspection】 is like
TAKING MEDICINE without getting a diagnosis】

Memusatkan pikiran/menyatukan pikiran tanpa pernah mengaca pada segala tindak tanduk diri sendiri
adalah bagaikan seseorang yang memakan obat tanpa didiagnosa terlebih dahulu.

Mari bersama sama, kita menelaah diri, introspeksi melalui renungan dari apa yang disabdakan oleh Guru Agung, Bhagava:

"Tidak hanya karena semata mata berdiam diri
seseorang dapat disebut sebagai orang suci (muni),
apabila ia masih belum mengerti hakikat Dhamma.

Akan tetapi, orang bijaksana pandai didalam memilah
apa yang baik, serta memisahkan diri dari apa yang jahat [yang berasal dari egoisme],
bagaikan orang yang memegang sepasang piring neraca.
Sesungguhnya orang bijaksana tersebut patut disebut orang yang bersih."

"...seyogyanya bersungguh sungguh didalam kejujuran,
mudah dinashehati dan patuh dlm menjalankan nasehat baik,
ramah, nada bicara yang tidak tinggi serta
tidak angkuh didalam ucapannya."
Mettā sutta

"Apabila seorang bhikkhu hidup dengan pikiran yang penuh dengan rasa persahabatan [metta],
dan memiliki keyakinan terhadap ajaran Sang Buddha,
maka ia akan sampai pada keadaan damai (nibbana),
yang merupakan berhentinya hal-hal yang berkondisi (sankhara)."

“Oh para bhikkhu, kalian tidaklah seharusnya,
didalam keangkuhan batin ataupun kesombongan batin
[merasa aku-lah yang lebih pintar dan bijak dari kamu],
memberikan sangsi [menghakimi] atau mengucilkan seseorang….”
Anguttara nikaya

"Walaupun hanya memperoleh sedikit, tetapi apabila seseorang bhikkhu tidak mencela apa yang telah diperolehnya,
maka para dewa pun akan memuji orang seperti itu, yang memiliki kehidupan bersih serta tidak malas.
Apabila seseorang tidak lagi melekat pada konsepsi “aku” atau “milikku”,
baik yang berkenaan dengan batin maupun jasmani, dan tidak bersedih terhadap apa yang tidak dimilikinya,
maka orang seperti itu layak disebut bhikkhu."
Dhammapada 法句經

Seperti yang tak jarang kita lihat disekitar kita, ada banyak orang yang berjuang dalam hidupnya, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga, sampai bekerja mendorong gerobak sampah yang ukuran gerobaknya lebih besar 2 atau 3 kali lipat dari tubuhnya, atau mendorong gerobak makanan yang besar berjalan keliling atau gerobak yang berisikan kayu, besi dsb sebagai tukang. Dan tak jarang orang yang naik mobil, atau motor, yang tidak perlu bersusah payah demikian namun dari belakang klakson sekencang kencangnya atau marah marah atau mencibir dengan mengeluarkan umpatan, langsung menyerobot dengan gerangnya, dsb yang mereka rasa kehadiran mereka mengganggu. [memilukan sekali melihat pemandangan ini, kemanakah hati nurani para pengendara mobil dan sepeda motor itu? 他們的良心跑到哪裡去了?]

Mengapa tidak muncul rasa welas kasih terhadap orang yang susah demikian? mengapa tidak adanya rasa iba melihat pemandangan ini? terkadang kita lihat tidak hanya orang muda namun orang yang sudah tua pun masih mau ngedorong gerobak sampah, dsb bahkan berjalan melalui jalan tanjankan sekalipun. Apakah kita siap membantu orang yang kesulitan demikian saat mereka tidak kuat untuk naik ketanjakan? atau seperi yang Romo Wowor cerita pada saat beberapa tahun yang lalu, bahwa ia [pada saat usia muda, kuat dan sehat] turun dari kendaraannya dan membantu mendorong kendaraan yang mogok dijalan? serta menyebrangkan nenek yang takut menyebrang? Rasanya ini pr untuk kita semua para Upāsaka atau Upāsikā. Semoga saja akusala kamma tidak keluar dari hati para Upāsaka atau Upāsikā dan sebaliknya muncul rasa persahabatan [mettā] dan kasih sayang serta kebijaksanaan didalam melihat situasi dan kondisi.

Atau kita ambil contoh mengenai asuransi kesehatan negara, misalnya BPJS, kita seharusnya bayar tiap bulan walaupun tidak sakit, namun ada orang orang yang bercibir dan berkata, "Ngapain gw bayar ini tiap bulan, sayang banget, sakit juga kaga!". Orang egois dan picik ini cuma mikirin dirinya sendiri, bayar juga gak seberapa perbulan, ngeluhnya serasa dirugikan! Toh kan dari yang bayar itu uangnya dipergunakan untuk orang lain yang dirawat dirumah sakit, dan pada saat gilirannya kita dirawat dirumah sakitpun sama, itu adalah dari akumulasi uang yang terkumpul dari pembayaran bulanan kartu asuransi. Misalnya biaya rumah sakit dan operasi jantung atau pemasangan ring kedalam jantung yang harus dibayar kurang lebih 100 juta, toh karena sudah ada BPJS jadi nda perlu bayar segitu, anda cuma bayar sebulan 60.000 saja merasa dirugikan, piye toh pemikiran iki wong picik dan egois, hufh aya aya wae! Nda ada ruginya toh anda bayar juga? anda bayar pun juga agar orang lain yang sedang sakit selamat, bisa dirawat dirumah sakit. Umat Buddha seharusnya sudah membuang jauh jauh sifat sifat egois dan picik seperti ini. Ojo niru tabiat rendahan wong picik dan egois.

Disaat kita terbentur dengan masalah yang memelikkan hati,terkadang kita sering emosi yang tak kepalang, seolah olah tidak ada jalan lain atau buntu, alias mumet, memiliki sifat yang tidak baik, suka marah marah, egois dan sebagainya. ini karena orang lupa bercermin kedalam, kita seringkali lupa untuk mengkaji ulang sikap kita sendiri, jarang sekali merenungkan bagaimanakah tindak tanduk kita sendiri selama ini. Mari kita semua mulai hari ini setiap hari berrefleksi akan perbuatan kita masing masing dan coba disimak perenungan berikut:

“Peperangan juga bisa terjadi dalam jangka waktu panjang karena pihak ketiga yang tidak arif”
"Seorang manusia terlahir dengan kapak di mulutnya.
Dia yang memfitnah berarti sedang
menghancurkan hidupnya sendiri dengan kapak tersebut."

Seperti yang kita lihat dilingkungan kita, baik itu ditempat kerja, sekolah, ataupun dilingkungan keluarga. awal permulaan terjadinya baku hantam pada umumnya terjadi karena ucapan yang tidak luhur, ejekan menjatuhkan, sindiran pedas. dan dari kejadian kejadian yang terjadi kita ambil contoh perumpamaan berikut:

Si A sedang berbincang bincang dan saling meledek denga si B, mereka tertawa ria dan si B nya pun bisa menerima hal itu, namun tiba tiba ada orang lain [c] yang menghujat si A dengan berkata "kau ini jahat menjuluki dia ...". yang akhirnya si A marah dengan si C. Padahal si A dan si B dalam rasa persahabatan. Setelah terjadi pertikaian malah si B memberitahu si A kok malah terjadi keributan antara kau dan C? dalam hal ini harus ada si D yang arif didalam menengahkan tanpa memihak.

si D harus membeberkan apa yang sesungguhnya terjadi, si D harus mencari tahu siapa yang pertama menyerang yang lain dengan cara menyindir atau usil atau bisa menyinggung orang lain.
si D harus menginvestigasi apakah A dan B terjadi peperangan selama ini?
apakah A dan B senang bercanda selama ini ataupun bersenda gurau?
dan apakah C ada hak membuat suasana hubungan antara si A dan B jadi memburuk dengan sindirannya?
Jadi siapa provokator yang menyebabkan terjadinya perpecahan antara A dan C? apakah B?
Ini yang orang seringkali tidak sanggup menilai dengan baik dalam suatu perkara, biasanya karena nepotisme dan keegoismean menguasai, karena D baik terhadap si C itu dan dalam hatinya berkata "menurutku C itu orang yang baik, jadi yah gak apa lah kalau C berbuat demikian."

Maka ketidak besaran jiwa sipenengah [D] tidak bisa menyelesaikan masalah malah makin memperpuruk keadaan karena keterpihakan. Dan perlu diingat, bahwa didalam pertikaian, jika kedua belah pihak telah saling menyerang, berarti mereka berdua salah. dan penyebab permasalahan biasanya karena sindiran atau ucapan ucapan miring atau usil yang membuat orang lain terluka dan diperlakukan tidak adil.

Jika saja anda terlibat didalam pertikaian orang, harus dilihat seseorang dari siapa yang memulai provokator itu, selain itu pihak D juga harus menasihati A agar janganlah terbawa oleh emosi dan diharapkan semoga bisa membuka hati untuk memaklumi dan memaafkan si C.

“यो लोभगुणे अनुयुत्तो, सो वचसा परिभासति अञ्ञे।
असद्धो कदरियो अवदञ्ञू, मच्छरि पेसुणियं अनुयुत्तो॥”
“Yo lobhaguṇe anuyutto, so vacasā paribhāsati aññe;
Asaddho kadariyo avadaññū, macchari pesuṇiyaṃ anuyutto.”

Orang yang wataknya cenderung penuh napsu
[egois: banyak inginnya, ingin didahulukan, ingin diperhatikan atau diutamakan.]
akan [senang] menghina orang lain melalui kata-katanya.
Dia tidak memiliki keyakinan didalam Dhamma;
batinya yang kurang lapang dan picik,
penuh kedengkian, suka berbicarakan keburukan orang lain dibelakang
dia tamak, kikir, dan suka memfitnah.

Tipiṭaka (Mūla) -Suttapiṭaka - Khuddakanikāya - Suttanipāta - 3. Mahāvaggo - 10. Kokālikasuttaṃ
तिपिटक (मूल) - सुत्तपिटक - खुद्दकनिकाय - सुत्तनिपात - ३. महावग्गो - १०. कोकालिकसुत्तं



  1. lobha = 'greed',is one of the 3 unwholesome roots (mūla,q.v.)
    and a synonym of rāga (q.v.) and taṇhā (q.v.) which indicates selfish - self regarding.
    in English the word "Greedy" is synonym with egoistical, self-centred, insatiable. which Longman A.A.D. describe: a strong desire for more money, power, possessions, etc. than you need [wanting more / gluttonous].
    [napsu keinginan yang kuat untuk meminta lebih dan lebih yang tidak berapa memperdulikan yang lain didalam usahanya yang mencoba untuk memuaskan keinginannya sendiri, serakah - rakus, mengidamidamkan, menginginkan lebih - kehausan]
  2. taṇhā = (lit.'thirst'):'craving',is the chief root of dukkha.
    [mendambakan atau kehausan, keinginan yang menggebu gebu - napsu keinginan]
  3. "Dukkha"
    the term dukkha is not limited to painful experience,
    but also refers to the unsatisfactory nature and
    the general insecurity of all conditioned phenomena which,
    on account of their impermanence, are all liable to suffering,
    and this includes also pleasurable experience.

    Hence 'unsatisfactoriness' or 'liability to suffering'
    would be more adequate renderings,if not for stylistic reasons.
    Hence the first truth does not deny the existence of pleasurable experience.
    [Ketidak-puasan; yang tidak terpuaskan, berulang ulang]

"before you point fingers make sure your hands are clean"
- bob marley
Explicaiton:
before you start pointing out other people are bad or doing bad things, make sure you are not doing bad stuff yourself. No one wants a dirty finger in their face.
If you want to judge, judge yourself first and be a better person.
Basically it means don't be a hypocrite.

“Sebelum kau menunjukkan jemarimu kearah orang lain,
pastikan kalau tanganmu bersih tanpa noda.”
- Bob Marley
sebelum menghakimi orang lain jahat ataupun telah melakukan hal hal buruk,
pastikan bahwa dirimu tidak melakukan hal hal jahat dan nista.
tiada orang yang ingin dicoreng wajahnya.
Jika kamu ingin menghakimi, bercerminlah terlebih dahulu terhadap dirimu dan jadilah orang yang lebih baik. Janganlah jadi orang MUNAFIK [lidah biawak - HIPOKRIT].


"Berhati hatilah saat mendengar ucapan orang lain"

"巧言令色,鮮矣仁“
"Kata kata manis yang bukan berasal dari ketulusan
dirangkai dengan indah untuk menjilat demi tercapai kepentingannya
serta sikap yang berpura pura didalam
menutupi kelicikan dan niat piciknya yang terselubung,
seolah olah nampak seperti "orang baik",
sesungguhnya manusia nista itu sedikit sekali memiliki tabiat yang baik"

Tatkala seseorang membicarakan keburukan orang lain,
janganlah kita sampai tertipu atau diberdayai oleh nya untuk
supaya ikut ikutan membenci, menjauhi ataupun menjadi musuh bagi orang lain.

Janganlah terlibat didalam pertikaian pribadi-nya dengan orang tertentu.
karena orang yang pandai membicarakan kejelekan orang,
sudah pasti ia dengan sengaja menutupi keburukannya sendiri
agar terlihat manis dihadapan anda.


“jika ada orang yang bilang kalau
seseorang itu yang baik baik saja, berarti ia bohong.
jika ada orang yang bilang kalau
seseorang itu yang tidak baiknya saja, berarti ia juga bohong.
karena tiada orang yang selalu baik [tidak ada salahnya]
dan juga selalu jahat [tidak ada baiknya].”
- Bhante Kamsai.


Orang bijaksana tidak tertarik didalam perbincangan mengenai
provokasi untuk menjelek jeleki orang lain atau agar kita ikut ikutan benci orang lain [black campaign], pertikaian [perselisihan], pergunjingan [mengumpat ataupun memfitnah] dan bahwa orang orang yang sampai black campaign biasanya adalah orang orang yang penuh dengan kedengkian karena kesuksesan orang lain, ataupun terjadi karena adanya prejudice [pemikiran negative yang muncul dari pemikirannya sendiri, karena tidak senang orang lain sukses dan bahagia dari hasil kerja usaha atau jerih payah seseorang], ini semacam penyakit jiwa atau mental yang terganggu karena tidak tercapai cita citanya, sungguh menyedihkan sesungguhnya orang demikian, didalam kehidupan ini tidak tercapai cita citanya, namun ia juga mengumpulkan segala kesusahan dimasa depan dari pemikiran yang tidak luhurnya sendiri, yaitu kedengkian, dosa [kebenciran] dan keserakahan.

Note:
Pertikaian = perselisihan
Pergunjingan = beragam macam umpatan - hinaan maupun fitnah [berkata semaunya tanpa bukti dengan maksud ingin menjeleki ataupun menghancurkan nama baik orang yang biasanya karena kedengkian]

Sebenarnya sejarah sudah mencatat segala kecacatan mental dan batin manusia, karena demi napsu atau keinginan yang menggebu gebu didalam hal "untuk menghancurkan", menyakiti, menguasai, berbuat sebebas bebasnya diatas penderitaan yang lain walaupun ia bersalah atau minimal merupakan penyebab asal muasal dari pada pertikaian ataupun kesengsaraan orang, sudah banyak terjadi dan masih juga masyarakat kita tidak belajar dari sejarah.

Pada periode Revolusi Prancis atau Bangsa Borjuis [Bourgeoisie] adalah salah satu contoh yang nyata dari peristiwa ini, segala ketidakadilan merajalela, yang sesungguhnya bukan penyebab pertikaian menjadi korban tersingkirkan, dan di Indonesia pun ada peristiwa yang sewenang wenang juga terjadi seperti contoh ada orang yang sudah menduduki tanah tanpa surat ijin pun masih marah marah [mengumpat atau tidak senang] begitu digusur, sama seperti ada orang yang numpang tinggal dirumah anda tanpa ijin, begitu mau diusir si penumpang balik memarahi anda dan minta ganti rugi. Ada juga orang kaya yang tidak senang, mengancam dengan memanggil tentara atau pihak lainnya yang memiliki otoritas di negara ini, tanpa peduli apakah ia benar atau salah, pokoknya yang lain harus minggir.

Maka itu di Prancis muncullah kata kata semboyan
Liberté, égalité et fraternité
[baca: Libehte, Egalite eh Fratehnite]
Spn: Libertad, igualdad, fraternidad
Eng: Liberty, Equality and Fraternity

Yang artinya
1. Bebas [Liberté - Liberty]
[dari jajahan kaum ningrat dan raja yang lalim dan korup]
bukan bebas sebebas bebasnya atau bebas sewenang wenangnya,
namun bebas dari kekuasaan monarki yang absolut
ataupun dari kekuasaan yang merajalela dari pada kaum berduit.
2. Kesetaraan [égalité - Equality]
kesetaraan hak sebagai warga dimata hukum
jadi nepotisme atau karena 'aku kenal kamu si pejabat' trus aku bebas dari jeratan hukum.
“Api akan tetap terasa panas apabila disentuh oleh tubuh,
apakah anda sengaja ataupun tidak sengaja menyentuhnya,
sifat api tidak akan berubah, ia tetap akan membakar.”
3. Rasa persaudaraan secara menyeluruh [fraternité - Fraternity]
Jangan kita sampai terperangkap didalam kata golongan, kelompok tertentu, kemudian menjadi oposisi bagi pihak yang lainnya. Namun fraternity adalah memperlakukan yang lainnya dengan rasa persaudaraan [act towards one another in a spirit of brotherhood] tidak ada yang perlu direndahkan, dikarenakan status sosialnya.

"Ia mengerti kesalahan yang telah dilakukan dengan apa adanya, kemudian ia tidak mengulangi kesalahan tersebut. Ketika ada orang lain yang datang mengakui kesalahannya, ia memaafkan kesalahan orang tersebut."
Penjelasan orang orang yang dipuji oleh Tatagatha sebagai orang bijaksana.
Anguttara Nikāya ekanipata

“Para bhikkhu, jika seseorang menemukan kesalahan orang lain kemudian memberitahukan hal-hal yang benar, maka itu bukanlah perbuatan jahat, dan tidak dapat disalahkan. Tetapi, jika seseorang selalu mencari kesalahan orang lain dan membicarakan hal-hal buruk tentang orang lain hanya karena dengki dan iri hati, ia tidak akan mencapai konsentrasi dan pencerapan mental (jhana). Ia tidak akan bisa memahami Dhamma dan kekotoran batinnya (asava) akan bertambah.

Barang siapa yang selalu memperhatikan
dan mencari-cari kesalahan orang lain,
berarti ia semakin mengotori batinnya
[ia menjadi manusia yang semakin cemar batinnya]
dan ia semakin jauh dari kesucian.”
kisah ujjhānasaññi Thera
Dhammapada 253

“Tatkala kita sedang dalam pertikaian batin”
[penuh dengan dendam, niat menyakiti, terhina, putus asa, dsb]

Rasa dendam, benci, marah dan niat menyakiti muncul menguasai saat seseorang melihat, menyentuh, melalui aroma, dari objek yang mana memiliki suatu peristiwa khusus dalam hidup kita membuat bisikan atau gambaran dalam batin memunculkan kembali apa yang telah terlewatkan tersebut. Tanpa diperintahkan ia muncul, demikianpula tanpa diminta ia menghilang.

Ada orang yang sengaja melawan pikiran, semakin pikiran tersebut ditekan atau secara paksa dihilangkan, semakin menjadi jadilah ia. Peperangan dalam batin terjadi. Penolakan dan ketakutan bisa muncul dari situ.

Kita lupa bahwa pikiran ini memang melakukan aktivitas dengan begitu cepatnya sehingga diluar kendali. Ini alami, jangan dilawan, maklumi kalau pikiran pikiran bisa muncul membisiki atau membentuk gambaran dalam batin.

Kalau kita sudah bisa memahami, memaklumkan kalau memang demikian pikiran ini adanya, kemudian yang harusnya dilakukan adalah memaafkan. Jika ada kenangan pahit atau kesalahan yang pernah terjadi dimasa yang telah berlalu, kita harus terbuka apa adanya akan kesalahan atau kejadian kenangan pahit yang terjadi dimasa lalu tersebut, maklumi, kemudian merenungkan didalam batin
“yah, ini kesalahan yang telah terjadi, adalah sesuatu yang baik sekali bahwa kenangan ini muncul, karena dengan ini saya diingatkan agar jangan melakukan kesalahan yang sama dimasa mendatang. Jika saya gagal lagi, saya akan bangkit dan berjuang agar supaya jangan terjadi kembali”

Jika ada orang yang pernah melukai kita, mari kita merenungkan dan buatlah addhitana:
“Sekarang kenangan buruk ini muncul kembali didalam pikiran, yah ini dia orang yang pernah melukai saya [ia telah menghina saya atau memukul saya atau membuat malu saya atau menipu saya atau berprasangka buruk atau mendengki terhadap saya]
kenali dengan baik kesalahan apa yang telah diperbuat kemudian lanjutkan kata kata berikut ini:.

Setiap ingatan yang muncul kembali memiliki makna dan pesan yang ingin disampaikan kepada kita, Kenangan ini muncul, sesungguhnya untuk mengingatkan saya bahwa dengan melukai orang lain [menghina atau memukul atau membuat malu atau tipu daya] merupakan perbuatan yang tidak luhur dan menyakitkan, maka biarlah setiap kali kenangan demikian muncul dalam batin ini, menjadi sebuah teguran dan pengingat buat saya untuk tidak pernah menyakiti yang lain, mengarahkan batin ini ke-arah yang luhur.

Agar tangan dan kaki ini jangan lagi digunakan untuk melukai ataupun mencurangi yang bukan milik dan hak kita, agar ucapan ini janganlah sampai menusuk hati, bernada tinggi, mengancam ataupun culas [penuh tipu daya] terhadap orang lain, agar pikiran ini janganlah dengki terhadap keberhasilan orang, akan tetapi seniantiasa membiarkan batin didalam damai dan tidak mudah tersinggung terhadap tindak tanduk ataupun ucapan miring orang lain, biarlah segala kenangan pahit yang muncul dalam fikiran ini dijadikan sebagai pengingat bagi saya agar tidak jahat terhadap orang lain, agar selalu mengingatkan saya untuk jadi manusia yang rendah hati dan pemaaf.

Yang lalu telah berlalu, saya memaafkan segala kesalahan kamu, sama seperti saya juga yang punya banyak kesalahan dan kekurangan, saya juga pernah melakukan kesalahan kepada orang lain baik dengan sengaja ataupun tidak sengaja. saya hari ini dengan tulus meminta maaf juga atas kesalahan saya kepada yang lain.” [renungkan dan buatlah addhitana demikian]

Maka setiap kali kenangan buruk akan seseorang yang tidak kita sukai muncul dalam batin, biarlah ini sebagai pengingat buat saya kalau saya diajarkan untuk menjadi manusia yang lebih berlapang dada, untuk belajar memaafkan kesalahan orang, untuk jadi manusia yang lebih bersabar dan mengalah. Karena aku tahu diprasangkai buruk, dilukai, dipukul, dihina, dicerca itu menyakitkan, maka mulai hari ini aku akan sering sering merenung agar kelak jangan sampai melukai hati orang lain, menjaga ucapan untuk tidak membicarakan keburukan orang lain, menghina, atau berkata kata kasar, serta mengalah didalam kedamaian. Aku memaafkan orang yang pernah berlaku salah terhadapku.

Janganlah kita memaksakan diri untuk menghilangkan apa yang sudah alami akan muncul dalam pikiran tersebut, jangan melawan, tidak ada yang perlu dilawan! Tapi bagaimana caranya pikiran anda menanggapi cara kerja pikiranlah yang penting. Hanya cukup dipahami, arahkan diri didalam Dhamma. Cukup diri sendiri yang tahu didalam perenungan ini. Semakin anda mengenal batin [pikiran, perasaan, dsb] anda semakin pandai mengatasi pertentangan batin yang selama ini terjadi.

Janganlah kita menjadi orang yang pandai menghakimi, banyak mengeluh
membicarakan keburukan dan kekurangan orang lain,
Cukupkan pembicaraan, menoleh kedalam, merenung dengan bijaksana akan setiap masalah yang ada, khususnya dalam hubungan antar sesama, dan kita harus memegang prinsip untuk:
MELAKUKAN APA YANG SUDAH SEPANTASNYA DIKERJAKAN, DAN INSIST [JANGAN TAKUT]! SELAMA APA YANG DIKERJAKAN TIDAK MEMBUAT KEJAHATAN: TIDAK ADANYA UNSUR PERAMPASAN HAK MILIK ORANG LAIN, PENIPUAN & PEMAKSAAN KEHENDAK -PENDIKTEAN - MENJAJAH, MEMPERBUDAK ORANG LAIN, ATAUPUN MENGANCAM ATAU MENYERANG YANG LAIN, LALIM SEKALIGUS TIDAK SEWENANG WENANG TERHADAP YANG LAIN, KERJAKAN HAL ITU. Selama orang menjalankan Dhamma, yang menjalankan keluhuran serta menghindari tipu daya ataupun unsur penipuan, menghindari kejahatan, Ia berada dalam naungan lindungan Dhamma, termasuk hukum negara.

Didalam kebersamaan kita harus menghargai keragaman, perbedaan pendapat, dan variasi gaya atau tingkah laku orang. Yang penting kita belajar hidup harmonis, bisa memaklumi apa yang terjadi ditengah tengah perbedaan dan kesenjangan yang ada. Karena terkadang, apa yang nampak atau terlihat oleh mata, tidaklah selalu demikian maknanya. Manusia perlu banyak belajar memahami apakah makna atau tujuan dibalik sebuah kejadian.

“Every star has a season, a moment, a reason to be”
Jangan kita terburu buru menghakimi atau gampang menyalahi, menyudutkan atau menunjuk nunjuki yang lain. Bahkan sebagian pencuri sendiri bukan berarti mereka selalu senang melakukannya, ada yang dalam hatinya menangis.

Namun bukan berarti dengan begini para criminal bebas dari jeratan hukum. Tidak, semua tindakan pasti dan akan selalu memiliki konsekuensi atau akibat yang harus ditanggung oleh si pelaku. Demikian pula dengan segala penghakiman, dengan entengnya menyalahi, menyudutkan yang kita lakukan terhadap seseorang, memiliki konsekuensi sendiri.

Janganlah membiarkan pikiran kita terlibat atau bersekutu didalam napsu keinginan
“Orang yang wataknya cenderung penuh napsu
[egois: banyak inginnya demi keuntungan pribadi, serta curang; ingin didahulukan atau diutamakan.]
akan [senang] menghina orang lain melalui kata-katanya.
Dia tidak memiliki keyakinan didalam Dhamma;
batinya yang kurang lapang dan picik,
penuh kedengkian, suka berbicarakan keburukan orang lain dibelakang
dia tamak, kikir, dan suka memfitnah. ”
『Kokālika Sutta』

Mari kita para upasaka upasika, belajar lebih dalam lagi mengenai Dhamma, yang mengarahkan kita pada prikemanusiaan . serta meninggalkan segala kesusahan batin yang selama ini kita pegang secara kukuh: kesedihan, kecewa, putus asa, kedengkian, dan luka batin. perasaan perasaan yang tidak berguna ini sudah selayaknya diabaikan dalam hati ku, karena aku berlindung didalam Dhamma [pemaafan, kasih sayang, kesabaran dan kebijaksanaan]

Sesungguhnya segala gengsi, harga diri, kesombongan atau pride, merasa direndahkan atau merasa diperlakukan tidak adil, pemicunya adalah rasa ingin berkuasa, menguasai, aku pantas dipandang atau dihormati, aku lah yang terbaik, pemenang, dan aku aku yang lain. Yang mana selama ini batin kita telah terjebak dan dipermainkan didalam pandangan atau pemikiran “aku“, yang membawa bencana peperangan, permusuhan dan hal hal yang tidak diharapkan lainnya.

"Biarlah bangkit kekuatan kebijaksanaan dalam batin kita, biarlah pikiran ini bisa memahami apa yang tidak luhur dan tercela sebagai yang tidak luhur dan tercela, biarlah batin ini hanya tertarik kepada kebaikan dan keluhuran.
Aku akan belajar untuk menjadi manusia yang bersabar, mengalah, pemaaf, dan belajar mengenai kebaikan agar jangan lagi terlibat didalam hal hal yang tidak diagungkan oleh para Ariya Pugala: keegoisan, kepicikan dan keculasan [tipu muslihat] . Biarlah bangkit semangat kebaikan dalam batin ini."

Semoga dari timbunan karma baik kita,
semoga bangkit kekuatan kebijaksanaan
dan semangat yang mengarahkan batin pada keluhuran.

"sabbe satta averā hontu, avyāpajjha hontu bhavantu sukkhita'ta"
"Sabba vera soka sattu vinnasantu"

Note:
1. Picik = pandangan yang sempit, pemikiran dangkal yang hanya tau bagaimana memuaskan diri tanpa memikirkan efek dari segala tindak tanduknya terhadap yang lain [manusia, lingkungan, dsb] cuma mengandalkan insting hewaninya yang ingin agar keinginannya terpuaskan. kepicikan ini sering diidentikkan dengan malevolent scheme atau make plans, especially in a devious way or with intent to do something illegal or wrong. [akal busuk - tabiat jahat yang penuh kedengkian, tidak senang orang lain dihormati, mencoba menghalangi hak bicara orang lain tanpa sadar bahwa tiap orang pun berhak untuk mengeluarkan suaranya namun harus dengan bukti yang kongkrit bukanlah berbicara dengan tanpa bukti, itu fitnah].
2. Culas = licik atau curang, penuh trik penipuan, ia tidak segan segan sewenang wenang melakukan sesuatu dengan jalan yang tidak jujur atau kotor demi mencapai keinginannya atau demi keluarganya atau golongannya.
3. Sabba = semua
4. Vera = rasa benci, penampikan, tidak suka, memandang rendah dan keengganan.
5. Soka = duka nestapa [rasa sedih, ratap tangis, putus asa dan perasaan negatif yang tidak berguna yang kadangkala datang menghampiri]
5. Sattu [sansekerta: satru]: permusuhan, perseteruan yang disertai rasa dendam.
6. Vinassantu = lenyap, hilang, musnah. [binasa]


Terdapat 6 prinsip kualitas batin yang luhur, yang harus dimiliki seseorang:
仁 Kasih sayang [merciful and benevolent]. [tidak melihat yang tidak baik, tidak mendengar yang tidak pantas, tidak berpikir yang tidak luhur; jujur dan tenang hatinya, yang tangannya terbuka untuk membantu orang orang yang tertimpa bencana dan meringankan beban kehidupan keseharian]
義 tanpa kepemihakkan, adil merata atas dasar moral kebajikan, bukan karena pemikiran yang tidak terpuji atau mementingkan kepentingan diri sendiri atau golongan [alias pencitraan atau cari muka].
禮 sikap – tindak tanduk yang terpuji, tau sopan santun, tau berucap yang tidak menyebabkan perpecahan dan pertikaian, menghindari pergunjingan atau membicarakan orang lain.
信 kejujuran merupakan Jalan Dhamma yang dipujikan oleh para Buddha, menjaga kejujuran dari tindak tanduk kita merupakan satu hal penting yang mesti kita jalankan dan biasakan hidup didalam kejujuran, yang merupakan prinsip ke4 yang harus kita bina dan mengerti setelah yang 3 sebelumnya. Jujur, baik sebagai pebisnis, pedagang, pekerja atau apapun juga, harus jujur dan tidak curang, BERTANGGUNG JAWAB penuh didalam mengerjakan tugasnya sampai rampung tepat pada saatnya, baik itu didalam perhitungan dagang maupun didalam hal bersaksi dipengadilan, harus jujur tanpa memihak.
忠孝 Setelah memiliki prnsip diatas, maka kita harus juga menghindari sikap penghianatan, sebaliknya mengembangkan kesetiaan yang tulus, seperti rasa bakti terhadap orang tua, bakti kepada negara, tidak menjilat superior [atasan dan yang berkuasa] demi memperoleh suatu keuntungan atau dukungan bagi dirinya sendiri.
Terutama dari keluarga, berbakti kepada orang tua adalah pelajaran utama didalam hidup kita untuk belajar mengenai sebuah kesetiaan yang membawa rasa hormat terhadap mereka. Terhadap pekerjaan yang bersih dan juga terhadap para sahabat yang luhur. Hal ini mengajarkan kita dimasyarakat untuk bagaimana bersikap hormat dan tulus apa adanya kepada atasan, sopan dan rendah hati terhadap yang lain, hidup jujur dan adil dimasyarakat. ada pepatah yang mengatakan bahwa "jika anda sering ataupun suka bertengkar atau beradu debat keributan diantara kakak beradik atau kurang ajar sama orang tua, maka dilingkungan masyarakatpun anda banyak membuat permusuhan atau tidak disukai" entah apakah ini benar atau tidak namun kita bisa menelaahnya sendiri nanti dikehidupan sekitar kita melalui pengalaman.

Jika ini semua dibina didalam hidup, walau orang lain merendahkan kita, namun tetap anda tidak serendah dari apa yang si pendengki tersebut katakan. Kita cukup berucap didalam damai akan apa yang sesungguhnya, selanjutnya Biarlah orang yang menilai. Namun jika kita yang memang karena kesalahan kita, karena kita sendiri yang tidak berakhlak baik, picik, dan sering mengundang emosi yang lain, maka kita harus merenungkan baik baik agar mulai sekarang untuk berubah.

"Orang yang bijaksana sesungguhnya tidak membanggakan seseorang karena kata katanya,
juga tidak menolak kata kata yang berharga dari seseorang hanya karena kepribadiannya"

suatu hari seorang murid bertanya kepada filsuf besar
"Guru, Bagaimanakah bila saya membalas kejahatan dengan kebajikan?"
"hah? lalu kebajikan dibalas dengan apa? Balaslah kejahatan dengan keadilan dan kebenaran - tanpa memihak, dan balaslah kebajikan dengan kebajikan"

"orang yang berakhlak luhur sesungguhnya akrab dengan orang lain,
hanya saja tidak berkomplot didalam sebuah satu kesatuan.
namun, orang picik walaupun hidup berkelompok,
tapi sesungguhnya mereka tidak akrab satu sama lainnya.
karena mereka hanya memikirkan keuntungan diri sendiri"

Jaga-lah batin ini, sering seringlah menengok kedalam, berintrospeksi, agar batin ini bersih dari noda


...Ia menahan diri dari menipu dengan timbangan, mata uang maupun ukuran-ukuran. Ia menahan diri dari perbuatan menyogok, menipu dan penggelapan. Ia menahan diri dari perbuatan melukai, membunuh, memperbudak, merampok, menodong dan menganiaya. Demikianlah keluhurannya.
Sutta pitaka – Digha Nikaya – Samannaphala sutta

Demikianlah Ambattha, keluhuran yang dimilikinya…Menjauhi keculasan, menahan diri dari dusta; ia berbicara benar, tidak menyimpang dari kebenaran, jujur dan dapat dipercaya, serta tidak mengingkari kata-katanya sendiri selama hidupnya.

Menjauhi ucapan yang memfitnah, menahan diri dari memfitnah; apa yang ia dengar di sini tidak akan diceritakannya di tempat lain karena akan menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sini. Apa yang ia dengar di tempat lain tidak akan diceritakannya di sini yang akan menyebabkan pertentangan dengan orang-orang di sana. Ia hidup menyatukan mereka yang terpecah-belah, menganjurkan persahabatan di antara mereka, pemersatu, mencintai persatuan, mendambakan persatuan; persatuan merupakan tujuan pembicaraannya…

Menjauhi ucapan kasar dan ketidak santunan, menahan diri dari penggunaan kata-kata kasar; ia hanya mengucapkan kata-kata yang tidak tercela, menyenangkan, menarik, berkenan di hati, berbudi pekerti dalam bahasanya, enak didengar dan disenangi orang…

Menjauhi pembicaraan sia-sia, menahan diri dari percakapan yang tidak bermanfaat; ia berbicara pada saat yang tepat, sesuai dengan kenyataan, berguna, tentang Dhamma dan Vinaya. Pada saat yang tepat, ia mengucapkan kata-kata yang berharga untuk didengar, penuh dengan gambaran yang tepat, memberikan uraian yang jelas dan tidak berbelit-belit. Inilah, Ambattha, kualitas keluhuran yang dimiliki oleh para sramana.
Sutta pitaka – Digha nikaya – Ambhatta sutta


Kehidupan Perumah-tangga
Tentu saja seorang Upāsaka atau Upāsikā
harus mencari nafkah secara bersih, rajin bekerja dan pandai menabung,
yang bebas dari pertentangan hukum negara, termasuk berjudi.

Buddha bersabda:
“Anak muda, Bangun pagi, menolak kemalasan,
Tidak tergoyahkan oleh kemalangan,
Berperilaku tidak tercela, selalu waspada,
Ia akan mendapatkan keuntungan.”
【Dīgha Nikāya » Pāṭika Vagga】

Dhamma menjelaskan bahwa kepala keluarga harus dengan baik menjaga kehidupan rumah tangganya, menjaga diri baik baik agar jangan sampai mengalami kehancuran. Dijelaskan bahwa terdapat 4 hal yang menyebabkan runtuhnya sebuah rumah tangga, yang seyogyanya dihindari oleh kepala rumah tangga [ayah dan ibu] guna memperoleh kebahagiaan bagi semua:
Catu Apāyamukha:
1. itthidhutta: suka menggoda pasangan lain.
2. surādhutta: pemabuk dan pengguna obat obatan terlarang.
3. akkhadhutta: berjudi, terlebih lagi tenggelam didalam judi [atau ketagihan].
4. pāpamitta: bergaul dengan yang tidak baik dan yang memboroskan
[penjahat dan pembuat onar yang mana menyebabkan anda melanggar semua sīla「शील」dan termasuk yang nomor 1 sampai 3 diatas.
Pembuat onar: penggunjing, suka manas manasi, memprovokasi terjadinya peperangan, pandai mengumbar kekurangan orang lain atau suka menghakimi orang lain [tukang gosip] adalah orang yang berbahaya. Kita harus pandai melihat dan menghindari orang orang atau teman yang seperti ini.]

[Aṅguttaranikāya IV. 283]

Sayang sekali, selama ini, tak sedikit orang yang telah berhasil mengumpulkan bekal hidup dengan susah payah, dengan semangat kerja keras, berpenghasilan, namun karena membiarkan dirinya sendiri terlena didalam bersenang senang atau judi, membuat hidupnya berbalik menghajar, dengan terjerumus kedalam hutang yang tak berkesudahan.

Setelah ia bagaikan batu besar yang tenggelam kedalam lautan hutang, Pada akhirnya hanya penyesalan-lah yang ia peroleh.
Pada saat hal itu terjadi, tak sedikit yang juga menyalahkan, mengutuk makluk makluk lain atau pun orang lain atas kelalaian dirinya sendiri, yang membiarkan TERLENA didalam judi termasuk obat obatan terlarang.

Saduran dan intisari yang diambil dari kitab tipitaka berikut ini bagus untuk kita ketahui dan renungkan:

"Orang orang yang terbuai didalam bersenang senang atau terlena didalam pemuasan beragam keinginannya, ia yang miskin atau kekurangan, yang terbelit hutang, akan menderita karena hutangnya itu. Kemudian, karena berhutang, berjanji untuk membayar bunga, pembayaran bunga ini juga merupakan kesengsaraan yang disebabkan oleh pemuasan beragam keinginannya, terlena didalam bersenang senang. Kemudian, Jika ia tidak dapat membayar bunga yang sudah jatuh tempo yang lalu ditekan oleh para penagih hutang, ini juga merupakan penderitaan yang disebabkan oleh pemuasan beragam keinginannya, terlena didalam bersenang senang. dalam hidupnya mendapati tekanan yang tak berkesudahan dari para penagih, karena ia belum melunasi segala hutang hutangnya, Hidup nya dipenuhi dengan pengusikan yang demikian yang juga merupakan rasa derita yang disebabkan oleh pemuasan beragam keinginannya, terlena didalam bersenang senang. Setelah hidupnya terusik oleh akibat perbuatannya sendiri yang terus didatangi oleh penagih, karena tak mampu membayar ia akan dibawa ke penjara, hal ini juga merupakan penderitaan di dunia dalam hidupnya, yang disebabkan oleh keinginannya yang kuat didalam pemuasan beragam keinginan, terlena didalam bersenang senang."
[Anguttara Nikaya, Chakka nipāta]

“O putra kepala keluarga, terdapat enam bahaya akibat gemar berjudi : bila menang, ia memperoleh rasa ketidak senangan [dari pihak yang kalah]; bila kalah, ia sendiri meratapi harta kekayaannya yang telah hilang; kerugian harta benda secara nyata; di pengadilan kata-katanya tidak dianggap atau diakui; ia dipandang rendah oleh sahabat-sahabat dan pejabat-pejabat pemerintah [yang lurus]; ia tidak disukai oleh keluarga yang mencari atau mengambil menantu, karena mereka akan berkata bahwa seorang penjudi tidak dapat memelihara seorang istri. Inilah, O putra kepala keluarga, enam bahaya akibat gemar berjudi.”
[Digha Nikaya, Pāthika Vagga, 8.Siṅgāla Sutta]

Kita seringkali tidak sadar, mengapa perjudian itu seperti menjual, mempertaruhkan atau melelang hidup dalam sekejap! coba kita pikirkan, didalam perjudian, segala prejudice [perasaan negatif seperti rasa curiga], dengki atau iri, benci atau tidak suka, dan yang terutama "bergembira diatas penderitaan yang lain" akan muncul dihati kita, dan yang sering terjadi adalah kekalahan [lose] didalam perjudian. yang menjadi korban bukan hanya diri anda, namun keluarga juga turut sedih dan merasakan efek daripadanya. Anda menang, orang lain ada yang sedih, iri [irsia] dan terdapat keingingan yang kuat ingin mengalahkan anda [dosa].

Tak sedikit kejadian di Jakarta sendiri, yang karena berjudi, dia bilang awalnya "Ga ada masalah lah! kan ini iseng iseng aja kok", yang pada akhirnya, toko penjualan export-baju nya bangkrut, ada yang sampai rumahnya dijual, dan karena tidak sanggup bayar, akhirnya si boss penagih minta macem macem terhadap keluarga anda [ini dijaman dahulu kasino masi resmi di Indo sudah sering mendengar kabar ini], dan karena gak sanggup bayar akhirnya bunuh diri, sampai ada yang membakar keluarga nya hidup hidup, yang kesian anak anaknya.

Ia jadi tega seperti itu karena dibutakan oleh permainan yang sekedar "iseng iseng" saja pada awalnya, akhirnya menjadi iseng yang membawa maut! Judi, jajan sex, penggemar liquor, pecinta obat obatan terlarang, adalah contoh jenis perbuatan yang sama isengnya sampai membawa maut, bukan hanya diri anda sendiri, namun orang orang yang berhubungan dekat dan langsung dengan anda juga bisa ikut terbawa maut, yang berarti seibarat sejajar dengan sebuah kriminalitas. pria [khususnya] dan wanita yang seperti ini kurang pantas untuk menjadi kepala keluarga, karena dapat membawa "aib, beban hutang, dicari cari debt collector atau nista" buat keluarganya sendiri

Padahal, dibandingkan dengan berjudi, tak banyak yang berpikir untuk lebih baik dengan kedua tangannya sendiri memberikan makanan, kebutuhan sehari hari serta mengasuh kedua orang tuanya dengan baik, membuat perencanaan masa depan yang baik serta bersih, juga memberikan pelayanan buat masyarakat atau dengan memberi makanan atau kebutuhan sehari hari kepada orang yang tertimpa kemalangan [bencana] atau fakir, atau bahkan kepada hewan sekalipun. Kebajikan kebajikan ini jauh lebih mulia dan agung! dibandingkan berjudi, obat obatan terlarang, perbuatan nista ditempat pelesiran, yang kata mereka adalah "Yah! cuma iseng iseng aja", namun tak berharga sedikitpun.

Dan para pria, seringkali merasa akulah kepala rumah tangga yang keluar bekerja, istrilah yang seharusnya dirumah ngasuh anak. dengan demikian lepas tangan terhadap urusan anak, "...padahal yang buat kan rame rame yah? berduaan" [kira kira begitu inti dari apa yang Romo Wowor pernah singgung mengenai urusan rumah tangga], lebih lanjut beliau mengatakan: "jarangnya orang tua berkomunikasi, makan malam bareng, ini juga merupakan sesuatu yang disayangkan sekali..." [toh pada akhirnya jika anak melangkah dijalan yang salah, kan merupakan salah satu bagian tanggung jawab dari tugas orang tua yang lepas tangan, gak mau tau ah yang penting saya telah kasih duit buat kebutuhan nya makan dan sekolah dan tablet, semua ini dikarenakan ketidakpedulian mereka juga yang merupakan tanggung jawab mereka yang tidak mau tau atau mengerti kondisi dan situasi anak. dan tak jarang ada orang tua yang membungkam anak dengan hentakan atau bentakan sehingga membuat anak merasa tertekan, depresi dan ditutup kebebasannya berbagi pemikiran, perasaan dan pengalamannya kepada orang tua.]


komunikasi itu penting dibangun sejak anak di usia awal. Sikap anda, para orang tua, merupakan panutan dan sebagai role model atau contoh nyata yang merupakan pelajaran pertama yang didapat oleh anak dalam hidup ini:
  1. Anda egois,
  2. Anda menghalalkan segala tindakan anak
  3. Anda memanjakan anak
  4. anda membuat keributan dirumah tangga,
  5. anda mau menang sendiri,
  6. anda berjudi,
  7. anda selingkuh,
  8. anda teler didepan anak,
  9. anda berkata kasar dan berucap ucapan tak pantas atau tak layak diungkapkan didepan anak.
  10. Anda tidak memberikan ilmu keahlian untuk survive dimasyarakat dan untuk masa depannya
  11. Anda tidak memberikan bimbingan kebajikan [Dhamma] yang penuh kasih sayang dan kebijaksanaan ini


Demikianlah kemungkinan anak anda juga akan meniru semua gaya anda mulai dari cara bicara sampai rasa ke-ego-an nya, mungkin semua keturunan anda memiliki moralitas yang sama dengan itu, dan yang juga merupakan hal penting bagi orang tua adalah bahwa orang tua harus pandai mengenali sifat anak dan membimbing anak, juga mengenali BAKAT yang dimiliki anak dan bagaimana anda membimbing mereka. ini juga merupakan salah satu tugas orang tua yang harus dibina, JIKA ANDA MENGINGINKAN yang terbaik untuk anak anda, anda sendirilah yang harus bentuk sejak anak anak berusia awal. hal ini bukan berarti anda harus berlaku dengan dibuat buat atau kaku, namun dengan plan yang baik, demi kebahagiaan rumah tangga sekarang dan dimasa mendatang, dengan mengerti bagaimana seharusnya bersikap lurus, dan apa manfaatnya buat masa depan seluruh keluarga, maka batin ini secara alami telah siap untuk menjadi matang seiring dengan berjalan nya waktu.

Kisah renungan 1
Sebagai renungan buat anda dari kisah nyata yang terjadi dijakarta pada dekade dekade yang lalu [tahun 70 - 80 an]:
Seorang dokter [maaf kami tidak menyebutkan namanya] tinggal di kota jakarta sekitarnya, ia seorang dokter yang hatinya mulia, penuh kasih sayang. seringkali ia tidak memasangkan tarif untuk pasien pasiennya yang tidak hidup didalam kemewahan.

Dari pernikahannya, ia memiliki 3 orang anak. namun saat anak anaknya berada diusia kecil, [anak pertamanya masih belajar di kelas sd], si dokter - sang ayah meninggal dunia karena suatu penyakit.

Saat si dokter masih hidup,
sang istri terkadang mengeluh,
"kok ngelihat dokter dokter lain pada kaya, kamu kok biasa biasa saja?"

si dokter seperti biasa tidak menanggapi kata kata istrinya dengan marah, namun dengan kesabaran saja menjelaskan bahwa pasien pasien tertentu bukanlah hidup mewah dan serba pas pasan. Hati dokter ini tidak goyah dengan keluhan istrinya yang tak jarang kesal, ia tetap membantu pasien dengan tulus, sesuai dengan sumpah kedokterannya saat mengenakan jubah putihnya, memberikan pelayanan kepada pasien.

Selain menjadi seorang dokter yang baik, ia juga seorang papa yang penyayang terhadap anaknya. Namun sayang umurnya tidak panjang. Saat sang dokter meninggal, si istri kebingungan juga, bukan tidak ada banyak bekal materi yang diwariskan, sang istri was was juga karena anak banyak dan dia seorang diri.

Tapi si ibu tidak kehilangan akal, ia hidup sendiri tidak menikah lagi setelah kematian suaminya - si dokter. Ia mendidik anaknya dengan baik. Ia mulai ajari anaknya untuk membereskan tempat tidur masing masing, membantu kerjaan rumah tangga termasuk berjualan!

Begitu anak anaknya malas belajar ia menegur, yah namanya anak anak pemikirannya hanya ingin main dan tak peduli tanggung jawab sekolahnya, namun si ibu berpikir jauh kedepan, sang ibu sangat perhatian dengan segala proses belajar dan kedisiplinan anaknya!

Anaknya yang tadinya bandel dan membangkang saat disuruh belajar, akhirnya mengerti dan menurut akan nasihat ibunya, ia menjadikan mereka anak anak yang berprestasi sampai lulus sma, bahkan sampai saat mereka kuliah anaknya mendapatkan beasiswa.

Mengapa anaknya sampai menurut?
pada saat si ibu menghukum, walau hatinya sedih, namun ia harus melakukan itu. karena saat kecil anak anak suka ngebangkang atau ngelawan orang tua saat dinasehati belajar, namun pada saat ibu menghukum terkadang ia harus menangis didalam batin karena menahan sedih, namun ia menjelaskan kepada anak anaknya mengapa mereka dihukum, akhirnya anak anaknya si ibu mengerti.

Mereka paham mengapa mereka mendapatkan hukuman, dan orang tua sendiri tidak menghukum secara semena mena atau sesuka hati, tapi ada makna filosofis yang dalam didalam hukumannya.

Akhirnya pada saat berkarir, semua anak anaknya adalah anak yang sukses dengan kedisiplinan dan integritas yang baik sekali. karena dididik disiplin sejak kecil oleh ibunya, dan diberikan pengertian mengapa harus disiplin? akhirnya mereka sendiri yang memetik buah perjuangan dari disiplin yang dibimbing oleh ibunya.

Semua senang, anak anak gembira dengan segala kesuksesan dan kehidupan luar biasa yang dialami mereka sekarang ini. dan kegembiraan atau ungkapan selamat seorang ibu adalah sebuah ungkapan yang paling tulus dibandingkan yang lainnya, bahkan teman teman baik atau istri atau suami anda sendiri.

Kisah renungan 2
"Anagarini Santini pernah bercerita kisah umatnya, sama sama ibu - single parent, namun memiliki putri yang cacat"

Suatu hari si umat - ibu single parent ini berbagi pengalaman dengan Anagarini, ia bercerita saya tahu anak saya memiliki kekurangan fisik, berjalan tidak senyaman layaknya anak pada umumnya. namun saya tidak memperlakukan dia seperti seorang anak cacat.

Apa maksudnya?
Saya tetap mengajarkan dia untuk mandiri, membersihkan kamarnya sendiri, menyapu rumah, membantu saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, layaknya anak normal. Anda tahu Anagarini, saat tetangga atau orang yang mengunjungi rumah atau mengetahui kondisi keluarga kami, membicarakan saya "duh, kamu kok tega yah anak sudah begitu masih juga diperlakukan seperti itu?"

Hati saya pilu sekali, namun saya dengan senyum menjawab mereka:
"Selama saya masih hidup, saya masih sanggup untuk melindungi dia. Namun biar bagaimanapun juga, suatu hari sayalah yang harus "pergi" terlebih dahulu, jadi mulai sekarang saya harus mempersiapkan segalanya sebelum hari itu tiba. agar dia nanti dapat melindungi dirinya sendiri"
Saya harus tegar, Anagarini, terkadang jika saya sedih melihat kondisi anak saya, saya masuk ke kamar, saya menangis didalam kamar sampai kepiluan hati ini meredup, kemudian saya usapkan airmata saya, kemudian saya baru keluar kamar. saya ingin anak saya tidak melihat saya sedih, sehingga ia bisa kuat juga.

Saat bercerita mengenai kisah umat ini, anagarini Santini juga berpesan saat itu
"Jika ada anak yang tidak berbakti [setelah dewasa], sesungguhnya merupakan bagian dari salah asuhan orang tua. Kisah umat ini sunggup memberikan inspirasi bagi siapapun itu anda yang menjadi orang tua."

Maka itu didalam pendidikan kuno ribuan tahun dahulu kala di Tiongkok 【中國】, Kong hu cu 【孔夫子】 mengajarkan:
"jika seorang anak atau siswa melakukan kesalahan,orang tua atau guru harus memberikan hukuman kepada mereka. sebagai pelajaran buat sang anak agar mau belajar apa yang pantas dikerjakan apa yang pantas dihindari"
Namun, [kata Y.M. Kong hu cu 孔夫子], sebelum memberikan hukuman, orang tua harus bertanya kepada anak
"Perbuatan salah apa yang telah kau perbuat?" biarkan ia berpikir atau menelaah diri yang kemudian mengungkapkan, agar anak anak dididik untuk mulai berpikir secara sensible, setelah memberitahukan kesalahannya, orang tua harus menjelaskan "Nak, hukuman ini adalah sebagai peringatan buat kamu, agar kelak jangan lagi berbuat salah, agar kelak jangan lagi berbuat sesuatu yang membawa aib bagi keluarga!" kemudian mengambil rotan dan menghukum di telapak tangannya, sampai cukup terasa. Tindakan baku hantam, dan kesemena menaan ternyata tidak diajarkan baik oleh filsuf besar manapun didunia ataupun oleh Buddha sendiri.

Lihatlah didikan orang orang Tiongkok yang mengikuti ajaran filsuf yang mulia ini [聖賢教導 - 老祖宗],
anak anak mereka dsiplin belajar dan giat bekerja, malu berbuat yang jahat yang membawa nista bagi keluarga, malu dan pantang berhutang materi kepada siapapun, apalagi kurang ajar sama orang tua ataupun terhadap istri, demikian pula istri terhadap suami, demikianlah anak anak dan keturunannya juga demikian. keluarga di Tiongkok pada masa sekarang yang masih menjalankan ajaran ini sayangnya cuma kecil prosentasinya.

Karena pesan sesungguhnya yang harus orang tua pahami secara mendalam dari ajaran Chinese culture [中國傳統文化] ini adalah bahwa anak durhaka / pembangkang 【大逆不道】, pembawa nista bagi keluarga, itu dikarenakan mereka tidak dibekali didikan yang kuat sejak usia awal dari orang tuanya, sebagai sesuatu pelajaran pertama dari anak anak dimasa awal usia.

coba para orang tua renungkan dan telaah ajaran filsuf ini, bercerminlah terhadap anak yang anda asuh.
君子不重則不威,學則不固。
主忠信,無友不如己者,過則勿憚改。

"Jika seorang anak dari keluarga baik baik memiliki karakter sembrono - tidak disiplin
[dengan nasihat bijak dan mendidik kearah moralitas luhur]
Maka cara pembelajarannya pun akan dangkal, tidak teguh dan tidak mendalam.
Orang yang berbudi luhur [以良好德性為主的原則],
akan lebih baik berjalan sendiri walau tanpa ada teman [seperti siswa tak disiplin tersebut],
Namun juga, orang yang bijaksana janganlah pernah takut
untuk memperbaiki kesalahan yang ada pada diri sendiri."

walaupun memang benar tidak keseluruhannya merupakan kesalahan orang tua jika ada anak yang berjalan dijalan yang salah, karena terlalu bebasnya pergaulan dimasa sekarang ini, bahkan kriminal pun sudah jauh lebih canggih dibandingkan 100 tahun yang lalu, namun orang tua tidak boleh lepas tangan begitu saja atau lupa akan tanggung jawab yang harus dibawa didalam membesarkan anak, mengarahkan prinsip apa yang telah anda bentuk buat anak anda?, refleksi, introspeksi bagaimana anda orang tua bersikap, berkomunikasi dan bagaimana juga anda menaruh anak anda dilingkungan yang bagaimana? dan bagaimana anda membuat anak anda menaruh rasa percaya atau keyakinan yang mendalam terhadap anda? Karena tak sedikit orang tua yang tahu gelagat anaknya salah namun dibiarkan saja atau ada yang menanggapinya dengan senyuman bangga anaknya salah. Dan tak jarang orang tua yang berbicara "ah tempat dimana aja sama saja. yang bener mah tetep aja bener." ada benarnya juga ungkapan itu, tapi orang tua yang berucap begini harus menyadari tidak semua pemikiran atau hati anak anak seindah apa yang kita bayangkan, sama seperti kebanyakan orang tua berpikir "oh anak saya baik, sikapnya juga baik" tapi yang lebih mengetahui adalah orang diluar sana, guru disekolah misalnya, mereka yang benar benar melihat langsung bagaimana sikap seorang anak itu disekolah. Pada saat dirumah akan berbeda. Orang tua seharusnya menyadari kenyataan ini dan harus tanggap akan apa yang harus dibuat? apakah itu baik atau tidak, orang tua punya standart nya masing masing, dan hasilnya anda sendiri yang akan lihat setelah anak anak tumbuh dewasa nanti.

KARENA SEGALA KELALAIAN ataupun ketanggapan ANDA, 
ke-tidak-bertanggungjawaban atau rasa peduli anda
merupakan kehancuran atau sebaliknya = kesuksesan bagi anak atau keturunan keturunan anda sendiri.

Janganlah orang tua cuma bisanya berharap dan berharap terus terusan tanpa membuat fondasi yang kekar pada anak, akan apa yang anda harapkan atau ingin bangun. Harapan ini hanyalah semu, harapan sia sia, pepesan kosong belaka saja.

"banyak orang yang mendongak ke langit dan berharap kepada bintang,
namun apakah yang bisa dibuat oleh bintang diatas langit sana,
jika kau sendiri tidak memberikan perubahan atau perbaikan diri?"

蔡志忠 cài zhì zhōng [baca: Cʰai cʰǝ cung]
- penulis buku ilustratif mengenai filsuf dan agama dari Asia Timur. kata kata ini dikutip dari buku saduran Dharmapada terjemahan komentarinya menanggapi segala ramalan astrologi dan nujum]

[huruf "ǝ" pada kata Cʰai cʰǝ cung ini
dalam alfabet Indonesia terbaca e pada "emas" atau "enam~6", bukan e pada "edisi" atau "eka"]

Jadi semua itu diawali dari prilaku dan gaya mendidik dari orang tua si anak itu sendiri.

“Renungan Untuk Kepala Keluarga”

“यो वारुणी अद्धनो अकिञ्चनो, पिपासो पिवं पपागतो।
Yo vāruṇī addhano akiñcano, Pipāso pivaṃ papāgato;
उदकमिव इणं विगाहति, अकुलं काहिति खिप्पमत्तनो॥
Udakamiva iṇaṃ vigāhati, Akulaṃ kāhiti khippamattano.”

"Mudah terlena didalam kemabukan, [yang dapat menyebabkan] terjatuh dalam kekurangan [miskin].
Haus sewaktu minum, tetamu kedai minuman.
Bagaikan batu ia tenggelam [ke dalam hutang-hutang].
Cepat sekali ia membawa nista pada keluarganya.”
[dan sanak-keluarganya akan meninggalkannya]

“न दिवा सोप्पसीलेन, रत्तिमुट्ठानदेस्सिना।
Na divā soppasīlena, rattimuṭṭhānadessinā
निच्चं मत्तेन सोण्डेन, सक्का आवसितुं घरं॥
Niccaṃ mattena soṇḍena, sakkā āvasituṃ gharaṃ”

Ia yang menghabiskan hari-hari dengan tidur disiang hari,
memandang malam sebagai waktu untuk bangun 【terjaga】.
Menyukai kemabukan dan intim dengan yang ada ditempat pelesiran,
[Orang ini] Tidak pantas menjadi kepala keluarga.

“अतिसीतं अतिउण्हं, अतिसायमिदं अहु।
इति विस्सट्ठकम्मन्ते, अत्था अच्चेन्ति माणवे॥
Atisītaṃ atiuṇhaṃ, atisāyamidaṃ ahu;
Iti vissaṭṭhakammante, atthā accenti māṇave.”

"terlalu dingin, terlalu panas, sudah terlambat [too late]" [begitulah keluhnya]
Demikianlah pekerjaan tidak dijalankan,
kesejahteraan [pemasukan] telah terlewati,
semua ini akan dilalui dengan ratapan [penyesalan] dikemudian hari. Oh anak muda"

Source:
तिपिटक - सुत्तपिटक - दीघनिकाय - पाथिकवग्ग - ८. सिङ्गालसुत्तं
Tipiṭaka - Suttapiṭaka - Dīghanikāya - Pāthikavagga - 8. Siṅgālasuttaṃ


Note:
Iti = thus [demikianlah] 如此
vissaṭṭha = thrown, dismissed, missed [dibuang, ditinggalkan, ditolak] 丟掉,不要, 被拒絕
kammante - kammanta = work, job ; business.[pekerjan] 工作
atthā = welfare, gain [pendapatan, kesejahteraan] 財富,收入
accenti = hours pass away, time goes by and be heedful therefore
[seiring berjalannya waktu ia membawa penyesalan] 時間過後感受到後悔。
māṇave = Young man [anak muda] 少年


Memang benar kita diajarkan untuk tidak terikat dan serakah,
namun, Buddha juga mengajarkan kepada manusia untuk bersemangat
didalam berkarya dalam hidup, bersumbangsih [memiliki kontribusi]
didalam berkarya atau bekerja
untuk pekerjaan yang bersih didalam bermata-pencaharian.

“Kebahagiaan Yang Tidak Boleh Dirampas Oleh Napsu Diri Sendiri”
karena terdapat 4 kebahagiaan yang seharusnya kerap kali direnungkan oleh sebuah perumah tangga dalam hidup ini, Khususnya kepada kepala rumah tangga, karena hal ini seharusnya bisa diperoleh jika menghindari ke4 hal diatas:
CATU GIHI SUKKHA
1. kebahagiaan karena memperoleh hasil dari berusaha [perjuangan, banting tulang] dan menabung, melalui kerajinan dan bermata pencahariaan yang benar [Asti sukha]
2. kebahagiaan karena memiliki harta dan sanggup mempergunakannya untuk kebutuhan hidup dan membina keluarga. [Bhoga Sukha]
3. kebahagiaan karena terbebas dari hutang. [anaṇa sukha]
[karena menghindari perjudian, menghindari tempat minuman dan pergaulan yang memboroskan. Orang yang sekali berjudi akan terkenang didalam batinnya sehingga menyebabkan terulang kembali, sex bebas-judi-minum minuman bisa menyebabkan ketagihan yang tidak baik secara kesehatan maupun kehidupan keluarga]
4. kebahagiaan karena tidak terdapatnya kesalahan [pidana hukum]. [anavajja sukha]
[karena menghindari pebuatan yang bertentangan dengan hukum negara]

“Anak muda, Bergaullah dengan teman-teman yang baik hati berbudi luhur,
dan jagalah mereka. Sambutlah kedatangan mereka, janganlah menjadi tuan rumah yang kikir,
[yang diperuntukkan] Bagi seorang penuntun, guru yang bijaksana, dan para sahabat,
kau akan mendapatkan kebahagiaan.”
【DN 31 PTS: D iii 179】

“Anak”
Anak anak yang mungkin tidak dipersiapkan menjadi manusia matang yang bisa bersosialisasi dan sukses dalam karir, baik itu karir sebagai pelajar maupun pekerja, yang mungkin bahasa umumnya mental yang tidak dibentuk untuk bisa bersosialisasi dan komunikasi [ini terjadi kepada segelintir orang] seyogyanya belajar untuk memaklumi dan memiliki pemikiran yang terbuka, jangan biarkan itikad yang tidak baik mengotori anda.

Janganlah anak anak menjudge orang tua untuk sesuatu kekurangan yang mereka tidak berikan atau bekali ke anda, sebaliknya, kita sebagai anak harus berpikir, bahwa orang tua kita juga memiliki kekurangan, ketidaktahuan, mereka sendiri tidak dibekali untuk menjadikan anda sukses secara fisik dan mental ataupun spiritual, justru kita belajar berrefleksi dari sini dan mulailah mencari info, bertanya kepada berbagai lapisan masyarakat sebagai studi banding, beserta mulai mengunjungi orang bijaksana, berdiskusi dengan mereka. kemudian kembali kedalam pengalaman anda sendiri, merenungkan dan buatlah tekad, untuk apa yang terbaik untuk hidup anda dan keluarga yang akan anda bangun kelak.

"oh ternyata yang begitu kurang baik, oh yang begini kurang baik,
kalau begitu, nanti jika saya memiliki keluarga, aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama seperti yang dilakukan mereka. aku akan memenuhi apa yang mungkin dahulu saya tidak dibekali, dan saya akan belajar dan berpikir secara bijak agar supaya masa depan anak saya lebih baik, dengan pengetahuan keahlian / kemahiran bidang tertentu, ilmu pengetahuan[sekolah yang baik] dan pelajaran kasih sayang + kebijaksanaan [dhamma].

Aku memaafkan kekurangan kedua orang tuaku, karena mungkin saja secara tidak disengaja hal itu dilakukan oleh mereka, namun tetap mereka mengasuhku saat aku belum bisa berjalan, merawatku saat ku sakit dengan kasih sayangnya, membersihkan kotoranku tanpa ada rasa jijik sekalipun, malah sebaliknya dibalas dengan senyuman hangat mereka. Kekurangan yang ada mungkin karena ketidaktahuan atau karena tidak disengaja, yang mungkin saja kelak saya juga bisa ceroboh atau gegabah bisa melakukan hal yang sama. aku sayang papa mama. aku akan mencoba mengerti kehidupan bukan dari menghakimi, namun melalui pengertian dan kasih sayang.


Biarlah orang menghina saya karena gaya saya yang pendiam, kaku [dengan pandangan mata yang aneh atau seperti orang kikuk dsj], tidak pandai bicara ataupun bergaul, tidak sukses, gagal, miskin dan dengan segala kekurangan saya. Walaupun aku hidup miskin, kaku didalam bergaul dan komunikasi, gagal dsb itu, namun saya akan hidup dengan penuh perasaan syukur [berterima kasih akan apa yang saya terima], tak mengenal lelah didalam berkarya serta hidup bersih, bersih dari kepalsuan dan kebohongan, bersih dari mencuri atau menghendaki milik orang lain apakah itu jabatan ataupun harta, dan bersih dari merampas kebahagiaan yang lain.

Aku akan hidup dengan berjuang untuk belajar mengertikan luka hati ini dan mengarahkan diri kepada hidup yang jujur, tidak culas [tidak bersifat licik dan penipu]
, namun seorang pekerja keras, yang menjauhi kemalasan dan pemanjaan batin melalui khayalan khayalan semu, menggantikannya dengan membekali diri dalam keahlian dan pengetahuan. serta siap membantu fakir dan yang susah, namun yang terutama memaafkan segala kesalahan orang tua, menyayanginya, serta membuat mereka bangga punya akan seperti diriku"

“Orang tua tidak boleh lupa untuk memberikan pendidikan yang terbaik”
Dunia pendidikan sejak jaman dahulu kala sampai sekarang ini selalu menjadi urutan yang terbaik untuk menunjang pencaharian nafkah kehidupan seseorang. Diabad ke 21 ini terutama di Indonesia, pentingnya bagi seseorang yang minimal sarjana s1 dengan beragam bidang pendidikan [major] seperti Teknik Informatika, Design interior, Mass communication, broadcasting, Public relation, teknik mekanik [engineering], perhotelan, bisnis atau Managemen, dsb.

Orang tua dituntut untuk mengetahui tiap fungsi dan manfaat dari beberapa jurusan yang ada di universitas, minimal secara garis besarnya apa dan nanti kerjanya apa? sehingga tatkala nanti anak setelah lulus SMA orang tua sudah saatnya menanyakan keinginan anak dalam belajar ditingkat lanjut, dan jika anak tidak mengerti orang tua harus memberikan penjelasan yang bijak, agar anak tidak salah ambil langkah, namun jika anda sebagai orang tua ingin agar anak mengarah ke jurusan tertentu, tentu anda harus menanamkan pola pikir anak kejalan yang sesuai keinginan sejak mereka duduk dilevel smp, bukan dengan meminta mereka, tapi orang tua yang melakukan pendekatan dengan jalan misalnya memberikan kursus pelajaran tertentu, dsb. Namun tetap orang tua harus ingat bahwa pada akhirnya, keputusan bukan ditangan anda. Bisakah kita sebagai orang tua memaksakan anak agar masuk jurusan tertentu? anda harus balik bertanya kepada diri sendiri, apakah alasannya anda sampai ingin anak ingin masuk jurusan tertentu?

Sebagai gambaran atau contoh nyata dari pengalaman berikut, misalnya seorang sahabat dari kami, ia kuliah ambil teknik mekanik, namun bekerja di perusahaan telekomunikasi dijakarta, dengan gaji standart, ia bekerja 5 tahun kurang lebih diperusahaan telekomunikasi tersebut, namun setelah selesai bekerja di tahun ke 5 ia apply job ke arab saudi, dan diterima, gajinya diterima diatas 40 juta rupiah sebulan dengan bekerja hanya memantau didepan monitor dan melakukan perbaikan sedikit saja.

ada juga seorang sahabat yang kuliah perhotelan yang tentu studinya terdapat Food Product, Pastry dan Kitchen Art; yang kemudian, setelah lulus ia bekerja sebagai koki atau tukang masak di sebuah hotel di Indonesia selama 4 tahun, yang kemudian ia mendaftar ke hotel di PRC [Republik Rakyat Tiongkok], dan bekerja disana selama 2 tahun, sekarang ia diterima di hotel mewah di Kuwait dengan gaji 10.000 $US.

demikian pula dengan rekan kami dari jurusan Design Interior, teknik informatika, bisnis dan public relation. setelah lulus kuliah mereka melamar ke Singapore dengan gaji awal SGD $2300, sedangkan yang public relation setelah lulus kuliah kerja di hotel dengan gaji $2500 SGD pada awalnya. Setelah bekerja 4 tahun mengumpulkan uang, salah satu rekan kami jurusan bisnis yang bekerja di Singapore kemudian mengambil pendidikan lanjutan [s2] di Australia selama dua tahun dan sekarang bekerja di Australi, dengan gaji yang diterima [take home pay] sebesar 4300$AUD [setelah dipotong pajak, jika dihitung rupiah sekitar 44 juta kurang lebih dan disana hidup sudah bisa nabung dan bisa kredit rumah]. ini orang bukan orang yang spender juga [spender = boros] namun memiliki karakter yang disiplin, rajin bekerja, tidak menyukai keributan, pandai ber partnership sehingga ia diterima dilingkungan kerja dan merasa nyaman.

Dan kami yakin dari teman teman sekalianpun ada pengalamannya sendiri setelah lulus kuliah, maka itu orang tua harus jeli melihat peluang peluang, tidak hanya dari jurusan yang disebutkan didalam contoh pengalaman dari rekan rekan kami, tapi juga ada jurusan lainnya yang memiliki keunikannya sendiri. Minimal, orang tua harus mengkondisikan IQ [inteligent = kemampuan berpikir dan mengingat] dan EQ [Emotional = memahami penanganan masalah psikologis anak] agar menjadi anak yang mantab secara pikiran [otak] dan segi emosinya.
Dari segi IQ, lesan kumon sangat di anjurkan.
dari segi EQ, biasakan anak untuk bisa memilih, misalnya anda lagi belanja disupermarket, jika anak ingin sesuatu diantara banyak namun ada hal tertentu yang harus dipilih, ini salah satu contoh. namun pelatihan mental yang bertanggung jawab bisa diasah melalui pelatihan material arts seperti THAI CI, WUSHU dan wing chun yang membentuk karakter anak jadi kuat gak melambai lambai alias gak menentu.

Dan didalam mendidik anak, jangan pernah anda malu untuk mengakui kesalahan anda dan minta maaf, perlihatkan kalau anda adalah orang tua yang berjiwa besar, kemudian jelaskan mengapa anda melakukan kesalahan itu. sehingga nanti anak anda pun akan ikut mencontoh menjadi seorang anak yang berjiwa besar pula, serta mudah untuk diluruskan oleh orang tua. Jika perlu hukuman diberlakukan anda harus memberitahukan alasannya terlebih dahulu mengapa anak sampai dihukum? janganlah membentak ataupun memukul sampai tak karuan apalagi karena kekonyolan orang tua yang stress dengan pekerjaan diluar yang tidak ada hubungannya dengan anak, kemudian melampiaskannya ke mereka.

Ada orang tua yang setelah kebiasaan melakukan kesalahan, namun begitu ditegur sama anaknya pa mengapanya papaa waktu itu membentak sampai keras? dia diem kemudian mencari cari alasan lainnya. Manusia dipuja bukan karena labelnya siapa, namun karena apa yang telah diperbuat.

Orang tua kecut seperti itu memang tidak dihormati oleh anak anaknya, namun ia masih tak terima dan mulai menceritakan ke yang lain, ke teman temannya atau ke saudaranya bahwa anak laki-lakinya memiliki sifat yang kurang baik. Padahal, sang anak cuma ingin membahas baik baik, dan si orang tua lelaki nya itu tidak sadar bahwa dengan didikannya selama ini yang berkali kali melaksanakan sifat OTORITER nya yang diungkapkan dengan membungkam anaknya melalui bentakan suara kerasnya membuat anaknya takut dan meninggalkan mental disorder [shyness disorder] sehingga sulit bergaul dimasyarakat, pandangan matanya aneh, penakut sama orang, terdapat mental block [rasanya ingin melawan terhadap bully-an orang lain, namun seolah olah dalam batin ada sebuah penahanan yang gak beralasan, dan ini banyak menghidap kepada segelintir anak hingga tumbuh dewasa dengan mental yang lain daripada anak laki lainnya]. Keji yah orang tua yang seperti itu, setelah tidak mau mengakui dan mencari cari kesalahan anaknya, ia terus mengatakan kalau anaknya memiliki sifat yang tidak baik, ia tidak sadar ia turut bersumbangsih dengan didikan pukulan dan bentakannya saat masih kecil yang terbenam didalam memori paling dalam anak telah melukai mental anaknya sendiri.

Maka itu ada pepatah dikatakan
"Bahwa sesungguhya yang lebih jahat adalah kebodohan.
sebab orang dungu [moha] tidak mampu menyadari kesalahannya
dan ia akan terus mengulang kesalahannya.
Namun kalau orang yang amoha, akan segera dan sewaspada mungkin
menghindari kesalahannya.
Akibatnya [karmaphala] nya akan diterima dengan berat oleh si bodoh
dibandingkan amoha."

“Anak mencari pasangan hidup”


Demikianpula didalam mencari pasangan hidup, jangan karena mengutamakan paras, atau karena memiliki power [kekuasaan], atau karena uang, kemudian anda mengejar orang orang tersebut, karena tidak selalu menjadi jaminan kebahagiaan keluarga dimasa mendatang. Namun hendaknya mendapatkan pasangan yang hidupnya lurus entah itu ia berasal dari keluarga sejahtera atau cuma biasa biasa saja, yang penting lihat gaya hidupnya.

Bagaimana mengetahuinya? menjadi temannya terlebih dahulu, minimal 18 bulan menjadi temannya, anda bisa melihat dari pergaulannya. Seandainya pasangan anda tidak banyak bergaulpun, minimal anda melihat karakternya [seiring berjalannya waktu]: Bagaimana gaya bicara dan pemikirannya? apakah suka berjudi? apakah suka pergi ke tempat hiburan malam? Janganlah menambah beban hidup anda kelak bersatu dengan orang orang yang berani bertaruh didalam perjudian, karena pada awalnya cuma beralasan "iseng iseng", bertaruh hartanya, namun jika hartanya telah tiada apa yang akan ditaruhkannya lagi? mending hidup mandiri namun tidak terkontaminasi dengan jalan hidup yang salah. Tetapi wanita memang dari awal harus pintar. kalau si pria licik, maka anda harus mengimbanginya dengan kecerdikan. memang biasanya pria licik pandai menutupi boroknya alias keculasannya sendiri. Dimasa masa anda ingin mengenal pasangan, bukan hanya pada saat pergi berduaan jalan jalan saja. Anda bisa naik kendaraan motor? pakailah baju yang tidak biasanya dengan helm tertutup, pinjam motor teman hal ini bisa dilakukan untuk mengecek calon pria yang akan masuk dalam hidup anda, kemana ia pergi? lihat saja dari jauh gak perlu tampil muka didepannya. Karena tak sedikit wanita yang dibodohi karena terlalu lugu dan apapun gak bisa, tau tau ia tiba ditempat maksiat, tau tau pergi ketempat tempat model casino, atau jangan jangan pilihan anda adalah gay? minimal jika anda memergoki atau mengetahui hal itu dimasa awal, anda bisa menelaah dan selanjutnya keputusan bisa diambil dengan baik. Jika naik motor gak bisa, internetan gak canggih, yah ayo deh penuhi diri dengan ilmu dan pengetahuan.

Mungkin anak anak muda berpikir bahwa menikah dengan orang kaya sudah pasti hidupnya senang. sebagian yah, namun tak sedikit juga yang tidak. Mengapa? seandainya suami atau istri anda tidak bermasalah, namun terkadang orang tuanya melihat anda dari kalangan yang ngga berada, mulailah mertua tidak suka, baik itu kepada menantu atau kepada besan-nya. ungkapan yang ketus dan tidak enak didengar tidak jarang didengar. Atau ada kasus lain, mertua welcome menantu, pasangan anda nampaknya pun baik baik saja, tapi setelah sepuluh tahun atau lima belas tahun menikah anda baru tahu kalau anda diduakan, atau mungkin ditigakan, atau ternyata suami atau istri anda suka berjajan, berjajan bisa dalam artian dengan lawan jenis ataupun dengan sesama jenis [lesbian ataupun gay]. Ini kasus yang juga gak jarang terjadi dimasyarakat kita, namun perlu diingat, tidak semua seperti ini. Maka itu sebelum menikah, anda harus pandai pandai mengertikan sifat dan karakter pasangan anda. Semoga saja pernikahan sekali saja dilaksanakan dalam hidup ini.

Dan anak laki laki tidak sepantasnya menyalahkan wanita kalau anda tidak terpilih karena tidak berasal dari keluarga sejahtera, anda juga tidak perlu menyalahkan orang tua anda yang bukan berasal dari keluarga sejahtera [telaah kembali - dulu waktu anda sekolah, apakah anda adalah seorang yang disiplin belajar dan berprestasi? atau SEBALIKNYA lebih memilih bermain atau memanjakan diri dengan bermain game disaat anda harus berjuang didalam MENGEMBAN TANGGUNG JAWAB untuk sebuah prestasi?
Bill Gates berkata: 'If you are born poor its not your mistake, But if you die poor its your mistake"
"jika anda lahir tidak sejahtera itu bukanlah kesalahan anda, tapi jika anda berakhir tidak sejahtera ini barulah kesalahan anda".

coba tengok teman teman anda yang rajin belajar, disiplin - bertanggung jawab, yang biasanya lebih memilih untuk mengisi waktunya untuk berkarya dan memperbanyak ilmu dan keahlian dibandingkan untuk bermalas malasan, bermanjakan diri dengan lebih berforkus [lebih mengedepankan] bermain, jalan jalan ke mall atau foya foya - keglamoran dan segala kesenangan kesenangan yang menghamburkan uang dan merusak kesehatan lahir maupun batin. Sehingga, dari memperbanyak ilmu/keahlian dan pengetahuan ketimbang bersenang senang, membuat dirinya pandai berkarya [penuh inovatif dan membuat langkah hidup yang matang untuk masa depan], coba anda lihat bagaimana kehidupan mereka sekarang?

Jangan katakan  "ah mereka kan dari keluarga kaya", yah biar kata, semisalnya kalau ia dari keluarga kaya sekalipun tapi kalau gak berprestasi dan tidak bisa berkarya tetap saja bisnis orang tua nya bisa goyang, gak bisa mengambil keputusan yang bijak, dipermainkan pegawai atau sebaliknya sewenang wenang terhadap pegawai handalnya, akhirnya bisa mengarah kehancuran juga dari pada apa yang telah dibangun orang tuanya selama bertahun tahun.

Jangan katakan atau berpikir bahwa
hidup anda sudah ditakdirkan demikian harus jadi miskin!
Tapi renungkanlah kembali apakah anda adalah bagian dari orang orang yang tidak mau menelaah dan mengabaikan setiap kesalahan dan kekurangan yang terjadi? Yang tidak mau belajar dari pengalaman orang orang? sehingga tak jarang anda mendapati diri sendiri stagnant , tidak berkembang atau buntu saat menghadapi masalah.

Orang yang kalah [loser] adalah orang yang mudah menyerah serta patah semangat sebelum melangkah atau pada saat berjuang. Teringat sebuah lagu Taiwanese yang berjudul 堅持 【”Ken Ci”: berjuang tak kenal putus asa】 yang dalamnya dia bercerita mengenai kekuatan semangat berjuang adalah kunci kesuksesan, dalam lagu itu dia tulis demikian, sebagai renungan buat kita semua:
"有人出世著好命,咱是用命底打拼,抹驚失敗慢慢向前行,運命毋是天註定,只要用心來打拼,一定唱出の名"
【Terjemahan: Memang ada orang yang dilahirkan dalam kelimpahan, namun kami dengan seluruh hidup kami berjuang, tak mengenal putus asa [tak takut gagal], merintis selangkah demi selangkah melangkah kedepan, Jalan hidup [nasib orang] bukanlah digariskan oleh Sang Dewata, namun, selama kita dengan kesungguhan [sepenuh hati] berjuang, pasti kelak nama kita akan dikenang [sukses]。】

Lagu ini rasanya cocok untuk melukiskan perjalanan sukses dari orang orang yang awalnya susah tapi mau berjuang hingga sukses, seperti Kenneth Langone, salah satu orang sukses di Amrik yang ayahnya adalah seorang tukang ledeng dan ibunya adalah seorang pelayan dikafetaria.

Orang yang sering berintrospeksi akan lebih berhasil dibandingkan yang tidak peduli, baik dalam kehidupan spiritual ataupun sebagai perumah tangga. Kita janganlah berangan angan untuk menjadi sukses apabila tidak pernah mengkondisikan diri [sering berintrospeksi] untuk menjadi seperti orang orang sukses, karena hal itu hanyalah sebuah khayalan belaka.

Maka itu bagi orang awam yang ingin sukses, harus ditanam jiwa sukses dengan mengarahkan diri kepada cara hidup orang sukses sejak usia remaja:
jiwa orang sukses yang harus dipegang dan dikembangkan sejak usia awal: menganggap sebuah pekerjaan berdagang adalah sebagai kebutuhan [seperti ibaratnya makan sebagai kebutuhan, harus muncul rasa "Keutamaan atau penting" terhadap usaha atau bisnis berdagang], rendah hati, orang yang tahu berucap disegala kalangan masyarakat [tahu menempatkan diri - supel], pandai mengambil keputusan, ucapan yang dapat dipegang [tidak kabur atau pandai berdalih yang bikin orang lain sǝbǝl ^_^ dan menepati janji], tidak mudah tersinggung, sekaligus tahu caranya memperlakukan orang lain agar tidak tersinggung[renungan diatas: Tatkala kita sedang dalam pertikaian batin & Jaga-lah batin ini], memiliki hobi beragam macam bidang olah raga, serta mengikuti perkembangan berita terkini[memiliki pengetahuan yang luas].

"Renungan buat anak remaja"

一個成熟的男人, 學著用心去經營自己,體現自己的思想與涵養上。
Yí gè chéng shóu de nán rén, xüé zhe yòng xīn qǜ jīng yíng zì jǐ,
tǐ xiàn zì jǐ de sī xiǎng yǚ hán yǎng shàng.

Seorang pria yang matang adalah ia yang dengan bersungguh sungguh belajar akan pengolahan atau pengarahan diri didalam keahlian atau kemahiran [memnuhi diri dengan keahlian dan pengetahuan yang luas], seorang pria yang mencerminkan ide pemikiran yang brilliant dan kedisiplinan.

踏入社會時,在與別人交往的過程中,能自信地談吐。
Tà rù shè huì shí, zài yǚ bié rén jiāo wǎng de guò chéng zhōng,
néng zì xìn de tán tǔ。

Saat berada di masyarakat, ketika bergaul dengan yang lain,
ia mampu berbicara dengan penuh percaya diri

他一直不斷地去修養本身的能力和技巧. 這就是一個真正有前途的男人。
tā yì zhí bú duàn de qǜ xiū yǎng běn shēn de néng lì hàn jì qiǎo.
zhè jiù shì yí gè zhēn zhèng chéng gōng de nán rén.

Ia tidak lelahnya mengembangkan potensi dan keahlian yang dimilikinya.
Inilah pria yang sungguh sungguh memiliki prospek masa depan yang baik.


Belajar keahlian [seni hitung yang utama yang sering kita dengar istilah seni berdagang atau berbisnis, dll], Berkarya [inovatif – membuat menarik atau pembaharuan untuk penyederhanaan didalam berdagang], bereksperimen [berpikir untuk mencari cara yang terbaik didalam melaksanakan tugas], serta tahu sasaran pasar atau market yang tepat [kepada siapa anda harus menjual]. Ini pengetahuan dasar yang harus dimiliki.

Dari semua ini, komunikasi bisa berkembang dengan baik. Seiring berjalannya waktu dan terus melakukan penelaahan diri dan menghindari foya foya atau keglamoran dan segala “dunia gemerlapan”, orang ini bisa menjadi orang yang sukses dan hidup berkelimpahan. Dan dari orang orang yang awalnya tidak memiliki apa apa sampai benar benar sukses dan lebih mengerti dari dasar adalah seorang salesman atau salesgirl [pemasar], terdapat juga didalam lapangan kerja yang lainnya.

Namun jangan lupa bahwa apa yang telah kita tanam, demikianlah yang kita petik.
Adakalanya, Orang orang sukses berkata kepada kita:
orang sukses, terkadang pendidikan sekolahnya tidak perlu terlalu baik nilainya, cukup jujur dan bertanggung jawab, pandai komunikasi, kreatif dan gigih pantang menyerah dalam bekarir, namun ‘keberuntungan’ lebih utama. Ada orang orang yang pintar atau pendidikannya tinggi dengan nilai selangit, namun karena tidak bertemu dengan orang yang tepat [貴人 gui ren, yah mungkin dari bosnya atau pelanggannya] ia juga gak bisa sukses, pangkat yah segitu gitu aja [naik juga gak berapa beda misalnya], pemasukan yah kurang lebih segitu juga. Namun tetap saja kualitas diri seperti komunikasi yang baik, memiliki pendidikan dan keahlian, jujur dan bertanggung jawab harus ada ditangan! Karena kalaupun sudah ketemu dengan orang yang tepat, namun kalau kamu tidak bisa apa apa atau takut, ya sudah, keberuntungan hilang atau lewat begitu saja

Kami teringat romo Wowor juga pernah bercerita mengenai keberuntungan dalam hidup orang, “…ada orang yang sudah rajin bekerja, namun tetap saja pemasukannya segitu gitu saja…” yah inilah cara kerja karma, yang halus, datang pada kondisi yang anda tidak waspada akan bisa jadi begitu, misalnya kondisi fisik yang lemah, termasuk kualitas batin yang negatif [pemarah atau tidak bisa berkomunikasi, ingatan yang lemah; terlalu terbawa napsu keinginan, orang bilang"terlalu napsu!" atau terlalu ambisius kelewat batas] serta kondisi mental yang lemah [contoh: tumbang didalam kemalangan], dan lain sebagainya, yang mana tentu saja semua karma pembentuk ini dicetuskan pada saat anda terbentuk didunia ini, bukan karena salah orang tua, bukan pula karena sengaja didoa doa kan trus jadi begitu. Namun memang anda telah membentuk, mengarahkan batin anda seperti itu semenjak anda sebelum lahir disini. Kesadaran terus membawa kebiasaan lalu, baik itu yang negatif maupun yang positif, baik trauma ataupun kemantapan mental, semua itu terekam didalam memori arus kesadaran yang berkelanjutan mengalir begitu saja serta bergejolak ini [tidak kekal; bergerak, tidak tetap atau berubah ubah]. Dan pengaruh karma ini besar sekali.

Karma itu jangan diartikan sebagai berkat yang jatuh dari langit atau hukuman, karena Karma artinya segala tindak tanduk yang membentuk segala watak, kepribadian atau karakter masing masing individu, dan efeknya anda sendiri yang akan terima kelak. Dari watak, karakter atau kepribadian terbentuklah suasana kehidupan anda, termasuk bentuk fisik. Segala tindak tanduk atau perilaku anda terhadap orang lain atau makluk lain, akan berbalik suatu hari. Jika anda pernah menyakiti orang lain, sekarang memang mungkin ia belum bisa balas, tapi nanti bila saatnya tiba, entah dalam kehidupan ini [yang secara sadar anda kenal orang itu] ataupun dalam kehidupan berikutnya [secara tidak sadar dan tidak tahu menahu] anda akan bertemu kembali dengan dia yang kebetulan memori kesadarannya sedang menunggu penantian saat yang tepat untuk membalas, pada saat kondisi anda lemah kondisi mental ataupun fisik persis seperti saat anda melukai dia sekarang. Namun jika saja, orang tersebut memaafkan, bahkan sebaliknya mendoakan keselamatan anda, maka nanti bencana yang datang, alam yang akan bereaksi, semua derita kita bersumber dari satu spot, yaitu tindak tanduk kita sendiri yang digerrakan oleh pikiran atau kehendak kita sendiri, ini dia biang keroknya, yang digerakkan oleh keinginan atau kehendak, apakah itu yang positif ataupun negatif.

Ini berlaku juga kepada orang yang suka gerombolan atau perorangan main baku hantam kepada yang lemah. Dengan cara apa dan bagaimana anda memperlakukan orang lain, demikianlah kita akan bertemu dengan siapa dikemudian hari. Orang yang berbelas kasihan, membuat orang yang dalam kemalangan tersenyum dan damai, akan selalu dilindungi oleh Dhamma, dan oleh yang kuat. Namun orang yang sering melukai atau memukul, para pendengki dan usil, kelak jarang yang mau mendekati dia, apalagi higher being [Gods] dialam surga yang penglihatannya lebih jauh jarang menjamah orang tersebut.

Kejadian kejadian seperti misalnya fisik yang sakit [gangguan cerebellum, maag yang dasyat, jantung yang tidak sehat], masalah gangguan psikis [phobia, shyness disorder, desosialisasi, autis ringan sehingga anda terbiasa terpojok dilingkungan masyarakat] karena bentakan, pukulan atau trauma batin yang dialami saat usia awal, dan lain sebagainya yang mengkondisikan kesuksesan anda terhalang, semua itu sesungguhnya pencetusnya adalah diri kita sendiri sejak masa lalu yang dibina terus sampai sekarang.

Namun segala kemalangan, kekurangan yang kita miliki, bukan berarti tidak bisa berubah, kualitas batin seseorang: "keteguhan, tanggung jawab dan keuletannya" menentukan memberikan nilai perubahan! Namun karena karma buruknya [sifat negatifnya yang menyebabkan ia dahulu kala seringkali menyakiti hati orang lain, memukul baku hatan, merendahkan ataupun tawa sindirannya terhadap banyak orang, ternyata mereka sekarang orang orang yang sukses pada kelahiran ini, bahkan pada saat bertemu pun batinnya sudah reluktan atau memiliki keengganan mengenal kita.] sehingga kita tidak bisa menemukan 貴人 [orang yang menjembatani kesuksesan atau memberikan keselamatan buat kita].

Batin kita ditantang kuat, secara pikiran – berkarya, maupun secara mental didalam menghadapi ini. Apakah disaat yang susah ini anda tetap bisa bersabar dan terus fokus dan berupaya yang lurus atau bersih dari apa yang anda kerjakan? Dari sinilah kualitas diri anda teruji! Apakah anda orang yang pasrah terhadap kemalangan atau tetap berjalan dijalan yang sebagaimana mestinya? Apakah anda gampang putus asa dan sedih atau malah semakin semangat atau gigih berupaya dan berusaha untuk jeli [awas/tajam] didalam melihat peluang? Semua itu balik ketangan masing masing individu. Orang yang cerdas akan dengan segera menelaah diri sendiri, menghancurkan segala keangkuhan, gengsi, pride, menggantikannya dengan kesadaran rendah hati, low profile dalam hidupnya, seiring dengan berjalanya waktu, ia terus mengasah mental, batin serta keahliannya. Semua ini memberikan hasil atau perubahan yang tidak sedikit menuju kesuksesan.

Buddha bersabda:
“Anak muda, Bangun pagi, menolak kemalasan,
Tidak tergoyahkan oleh kemalangan,
Berperilaku tidak tercela, selalu waspada
[eling = memiliki perhitungan yang matang],
Ia akan memperoleh keberuntungan.”
【Dīgha Nikāya » Pāṭika Vagga】

Setiap orang yang berkarakteristik cemerlang-lah yang membuat orang kagum, namun hal itu ternyata bukan dibangun dalam sehari tepat saat anda lihat dihari itu, semua telah dibina sudah dari waktu yang lama sekali, dan semakin hari semakin baik lagi. ini perkembangan perjalanan spiritual makluk hidup. karena karakteristik atau kepribadian seseorang itu dibentuk dari rasa sukha citta terhadap disiplin dan kesungguhan seseorang terhadap yang dilakukan [tidak setengah setengah]. jika sebaliknya yah demikianlah adanya karakteristik anda.

Setiap kondisi yang tidak menyenangkan yang mungkin dialami tak sedikit dari kita, seperti: serasa ditekan agar tidak maju [tidak ketemu peluang, setelah berusaha keras; atau tidak terpikir dan tidak sanggup untuk memahami hal hal yang berprospek ataupun kesempatan berlalu tanpa sesadaran kita - lewat didepan mata begitu saja], atau merasa ‘kok gaji saya Cuma segini aja yah? Sudah berusaha sekuat mungkin berkarya atau bekerja keras sampai kekuatan fisik menurun [sakit sakitan], tapi tetap saja income cuma sampai titik tertentu saja? Seolah olah pemasukan tidak bisa lebih dari itu, padahal sudah mengkaji ulang kinerja dan cara saya menjalankan tugas sebagaimana mestinya’, seolah olah dari tiap tiap kita memiliki takaran masing masing.”

Tapi kita harus ingat, bahwa banyak orang menghadapi kelelahan dan hilang semangat hidup karena menganggap bahwa kesuksesan diukur dari uang atau materi semata.
Seharusnya orang dijaman modern ini, dimana ilmu dan pengetahuan sudah bisa dengan mudah sekali didapat, harusnya lebih memahami bahwa kesuksesan bukan lah diukur dari materi namun didalam membudi dayakan keahlian yang dimiliki didalam menyelesaikan tugas atau peran anda dilapangan. Jangan terbawa perasaan untuk materi terlalu berlebihan

"有人出世著好命,阮是用命底打拼,抹驚失敗慢慢向前行,運命毋是天註定,
只要用心來打拼,一定唱出阮の名"
dalam mandarin 【中文含義】: 有人被誕生在富有之家裡,但我們是用全心全意的去拼命達到目的,因為命運並不是天註定的,只要用心去打拼,一定會成功。“

Memang terdapat orang orang yang dilahirkan didalam keluarga kaya, tapi kami adalah orang yang mau berjuang dengan segenap jiwa, karena [kami yakin] jalan hidup seseorang bukanlah digariskan oleh yang diatas, selama kita berjuang sepenuh hati, pasti nama kita akan terkumandangkan [sukses].

Wanita harus mencari pria yang mapan, dan Pria harus mencari wanita yang bijaksana.
Cobalah para pria telaah kembali yang terjadi dalam kehidupan ini, perjuangan apa yang telah dibuat selama ini? Mengapa wanita memilih pria yang mapan dibanding yang cuma suka memuaskan diri didalam kesenangan kesenangan [berjudi, pemabuk, pengguna NaPZA atau NarKoBA, dugem, penggunjing, penipu, korup pajak, terlibat sita tanah, baku hantam - tawuran, dsb] yang malas untuk belajar ataupun malas mencari nafkah. Mereka para wanita tidak memilih anda yang tidak mapan dan juga tidak sejahtera bukanlah karena para wanita matre, memang ada yang matre alias prempuan males yang cuma bisa menghambur hamburkan uang suami dan gak mau membenahi rumah tangga, tapi secara umumnya memang tuntutan kondisi kehidupan juga. Kalau perempuan matre akan kelihatan dikala bisnis suami berjalan tidak baik atau bangkrut, dan semakin dikasih kenyamanan semakin ia kehausan dan akhirnya berkeliaran diluar mencari kesenangan lebih untuk memuaskan dahaga napsu keinginannya.

Para lelaki harus ingat bahwa untuk membangun keluarga tidak-lah cukup dengan berkata aku sayang kamu, aku cinta kamu. Tapi keluarga yang sehat adalah ayah yang berkarya ataupun berkarir dan sanggup membiayai kebutuhan keluarga secara mental maupun materi, dan istri yang bijaksana bukanlah berarti ORANG YANG PANDAI MENUNTUT, atau pandai MENCERAMAHI suami, namun ia akan turut serta bersama suaminya memberi kontribusi didalam membangun keluarga yang berkecukupan [bisa bekerja, bisa berdagang makanan atau kue, bisa dengan jadi pengajar] selain tidak melupakan tugas utama didalam memperhatikan perkembangan psikologis dan kematangan batin dari anak anaknya. Bukan sebaliknya, MEMBANDING BANDINGKAN GAJI SUAMI ANDA SENDIRI DENGAN GAJI SUAMI WANITA LAIN YANG MEMANG INCOME PERBULANNYA JAUH LEBIH BANYAK DIBANDINGKAN SUAMI ANDA. Yang penting pekerjaan sudah ada, pemasukan pun pasti ada perbulannya, dan yang terpenting adalah suami fisik sehat sehat. Tatkala anda menuntut, membandingkan, mendikte, MENJAJAH suami anda yang tak berdaya, berarti anda turut ambil andil seandainya suami anda suatu hari karena sudah diluar daya tahan fisik dan mental manusia, akhirnya ia sakit dan meninggal, ataupun bisa jadi bunuh diri, dan atau apabila ada wanita lain yang memberikan perhatian serta kasih sayang yang tidak didapat dari anda, andalah salah satu andil terbesar didalam terjadinya bencana itu. [sakit sakitan, meninggal, mendapatkan wanita lain]. Hal ini banyak terjadi pada segelintir pria yang tak berdaya, istri yang memang menafkai, berwiraswasta, namun karena merasa menafkai, kemudian si istri menjadi bossy, merasa dirinya sudah bijak dengan pendikteannya, berusaha menjajah suami yang penghasilannya jauh lebih kecil [hanya 8 juta perbulan], sedangkan ia dalam sebulan tak kurang dari 50 juta. seperti kejadian yang terjadi pada salah satu kenalan kami, sang suami mengalami tekanan batin yang berkepanjangan, sehingga akhirnya ia harus meninggal dunia pada usia yang tergolong masih muda, sekitar 33 tahun. ayah ibunya dan saudara saudaranya masih lengkap, cuma ia yang meninggal. Ia tidak merokok, rajin ketempat ibadahnya, sama seperti istrinya [mereka bukan Buddhis]. ternyata memang kondisi mental sangat mempengaruhi fisik. Banyak orang orang chinese yang pada sekarang ini usianya 80 tahun, 90 tahun, hidupnya damai dan fisiknya segar bugar, walaupun merokok dan minum minuman arak putih [arak tradisional]. Jangan sampai anda bersumbangsih atau berkontribusi didalam proses menjandakan diri. Dari kebanyakan kasus, yah karena sang Istri yang egois, menganggap suami bak mesin pencetak duit atau bank. Namun jika sebaliknya sang suami, seringkali emiosional sambil main tangan atau kaki, mukul anda atau anak anak, sang istri harus berkonsultasi kepada keluarga dan teman baik, karena sesungguhnya pria yang seperti itu baru layak ditinggali jika setelah dimaafkan masih juga mengulang hal yang sama, atau misalnya sang suami terlibat didalam pergaulan akan perjudian [yang nantinya akan melibatkan hukum negara tentunya], penggunaan ataupun penjualan narkoba atau obat obatan terlarang, perdagangan ilegal, mabuk mabukkan dan menjadi tamu setia tempat pelesiran, Kalau demikian adanya suami anda, maka memang sudah perlu dipertimbangkan dan dibicarakan kepada keluarga kedua belah pihak, keputusan apa yang harusnya diambil.

Janganlah lupa bahwa para pemimpin dunia yang kuat dan sukses karena adanya komunikasi yang baik dengan sang keksasih dibelakang layar dengan dukungannya yang luar biasa, bukan ocehan, pembandingan, tuntutan atau pendikte-an luar biasa, namun diskusi tenang, nada bicara yang lembut, yang membangun - memberi solusi terbaik buat masalah keluarga, dan tentu saja si pria adalah orang yang tidak egois dan picik, jadi bisa sama sama membangun. Dan anak anak yang sukses rata rata karena peran asuh ibu yang membimbing anaknya dan memberi support dan kekuatan [pegangan] yang positif untuk anak anaknya sedangkan anak anak diusia awal biasanya akan meniru gaya dan sifat ayahnya yang merupakan pembentukan atau fondasi dari karakter si anak tersebut. [seperti 11 contoh gelagat orang tua yang ditulis diatas].

Orang yang memiliki kemantapan batin berbeda dengan yang lemah, yang lemah akan terbawa kepada hal hal yang menjurus kepada pemuasan kesenangan semata, tapi orang yang mantab sebaliknya lebih rela mengorbankan waktu senang senangnya demi memenuhi dirinya didalam pengetahuan, keahlian dan semangat atau konsisten didalam menjalankan hal itu. Didalam mencari pasangan tentu bukan lah untuk diajarkan agar wanita memilih hanya yang mapan secara income ataupun yang kaya-raya, tapi juga yang mental spiritualnya matang [nilai kebajikan bukan hanya tertuang dari ucapan saja, tapi implikasinya].

Terkadang memilih pasangan yang sederhana walaupun gajinya pas pasan namun masih bisa menabung, bisa menghormati orang tua kita, dan terutama menghormati wanita serta menyayanginya, hidup lebih indah dibandingkan menikah dengan orang yang berasal dari keluarga sejahtera namun orang tuanya memandang ibu ayah anda sebelah mata, termasuk tidak senang terhadap anda, yang lama kelamaan bisa terjadi ketidaklanggengan jika pasangan tidak kuat dan terbawa oleh bisikan orang tua-nya yang tidak senang dengan anda. maka itu diatas tertulis jangan terbawa oleh hawa napsu anda didalam paras yang indah. Namun matang didalam plan maupun dalam hal spiritual. kalau tidak hal itu akan menjadi sebuah tekanan tersendiri setelah masuk kedalam kehidupan berumah tangga. Jika memang kesulitan menemukan pasangan yang se-agama, yah tidaklah perlu untuk se-agama asalkan yang terutama menghormati orang tua kita, memiliki kualitas batin atau spiritualitas yang seimbang [seimbang kedermawanannya, seimbang moralitasnya, seimbang kebijaksanaannya didalam menangani masalah masalah keluarga yang kelak dihadapi kedua insan ini, terutama didalam menghadapi kesenjangan dan penselarasan kehidupan dari kedua belah pihak], yang bisa menghargai kesepakatan dan menghargai keyakinan anda, serta memiliki visi dan misi [plan membangun keluarga yang baik] yang konsisten dan kuat kualitas determinationnya. hal ini sudah cukup.

Daripada bertemu dengan orang yang seagama tapi tidak sesuai, terlibat didalam penghidupan yang kotor: penjudi, yang berani mempertaruhkan uang ataupun hidupnya hanya untuk sebuah permainan [gambling, mabuk mabukkan, obat obatan terlarang, atau pelacuran], kasar perangainya, baku hantam, ucapan usil. Namun, akan lebih baik jika menikah dengan yang sepandangan agama, agar kelak tidak menghadapi problem kesenjangan dan problematik budaya dan upacara yang nantinya akan membuat percekcokkan jika ada salah satu pihak yang tidak setuju dengan memulai sebuah pertikaian melalui sindiran sindiran ataupun persuasi ketidaksetujuan.

Anak laki laki yang cerdas telah memikirkan dan menelaah baik baik hal ini sedari meranjak ke tingkat SMA, Having fun tentu merupakan gemerlap masa muda yang boleh boleh saja dinimkati, tapi seorang lelaki muda yang mapan, yang berkarakter kuat akan memiliki perencanaan masa depan yang matang, yang dilakukan dengan konsisten - dikembangan dari hari ke hari, serta diperjuangkan, ia bahkan rela mengorbankan kesenangannya didalam berprestasi dalam tanggung jawab yang diembannya di sekolah. Bagaimana dengan anda?

Hal lain yang harus dimengerti adalah, mana mungkin ada orang tua yang setuju anak wanita nya membangun keluarga dengan seorang jobless - pengangguran atau tidak pandai menabung? gak ada keahlian [karena males belajar pada masa sekolahnya, demen banget didalam memanjakan diri dalam MEMUASKAN NAPSU KEINGINANNYA didalam bersenang senang, bermain main, sehingga banyak yang berkata ia jadi tumpul terhadap kehidupan berkarir]. atau misalnya balik berrefleksi: seandainya putri kita menikah dengan seorang yang gaji pas pasan plus tidak pandai menabung, gak mau belajar memenuhi dirinya dengan keahlian dan pengetahuan [sehingga orang mau bantu dia supaya sukses pun sulit], pandai memboros atau belanja elektronik sampe gajipun habis demi memuaskan napsu atau hasrat kesenangan lagi seperti kala ia sekolah dulu yang gak henti hentinya cuma memuaskan diri didalam bersenang senang. Apa anda rela putri kesayangan anda menikah dengan lelaki yang seperti ini?
Anda pun akan berpikir yang sama dengan para orang tua jaman sekarang pada umumnya, jika memiliki anak perempuan berharap dapat menikah dengan pasangan pria yang mapan.

Dan bagi wanita yang mencari pasangan, harus memperhatikan GAYA HIDUP PASANGAN ANDA APAKAH LURUS DAN HARUS CARI LELAKI YANG MAPAN, jangan-lah anda menjadi bodoh berharap dari paras atau terlena didalam bualan kata kata manis dan manja dari pria, apalagi sampai berani mengancam [janganlah kejar, walau suka sama paras dan yang lainnya], karena paras atau fisik [material] semata tidak menjadi jaminan kebahagiaan. cuma memuaskan napfu yang membawa maut dan sia sialah kehadiran anda.

Maka itu bagi wanita, perlu waktu yang panjang mengenal pasangan sebelum beranjak kejenjang pernikahan, jangan terburu buru. Dan jadikan diri anda PANTAS DIHORMATI dengan santun kata yang lembut dan beralasan, perangai yang damai tidak tergesa gesa ataupun emosional, tindak tanduk anda yang bijak dan cerdas didalam menyelesaikan masalah, menselaraskan pikiran anda didalam keluhuran dan kesetiaan [Dhamma] dan pencurahan perhatian anda yang tinggi terhadap keluarga. Selain menelaah dari pengalaman pahit maupun kesuksesan yang pernah kita alami, banyaklah buka buku untuk memperoleh pengetahuan dan keahlian sehingga tidak bergantung dan mandiri, minimal tidak terlalu membebani suami.

[buku buku seperti “Women know everything, by Karen Weekes”, “Motherhood Realized: An Inspiring Anthology for the Hardest Job You'll Ever Love, by Power of Moms”, “My Mother Was Nuts, by Penny Marshall”, “Lies, Deceit, Adultery, and My Husband's Boyfriend: A Wife's Tale, by Anne Maree Spencer”, “Discover Your Genius: How to Think Like History's Ten Most Revolutionary Minds, by Michael J. Gelb”, “Unsinkable: A Memoir, by Debbie Reynolds”, “Merv Griffin: A Life in the Closet, by Darwin Porter” , “Family 360: A Proven Approach to Getting Your Family to Talk, Solve Problems, and Improve Relationships, by Perry Christensen and Ben Porter”, “My Husband Is Gay: A Woman's Guide to Surviving the Crisis by Carol Grever”, “The Outermost House: A Year of Life On The Great Beach of Cape Cod, by Henry Beston”, “Livestock's Long Shadow: Environmental Issues and Options, by Henning Steinfeld, Pierre Gerber, Tom Wassenaar, Vincent Castel, Mauricio Rosales, Cees de Haan.”, “Me – a memoir by Ricky Martin”, “How to Solve Your People Problems: Dealing With Your Difficult Relationships, by Dr. Alan Godwin”, “Solving Tough Problems: An Open Way of Talking, Listening, and Creating New Realities, by Adam Kahane and Peter M Senge”, “growing stronger, by Thalia” dan buku buku bermutu lainnya yang ditulis berdasarkan research dan pengalaman pribadi, TERUTAMA seperti buku yang ditulis oleh Eckhart tolle, yang berjudul "The Power of Now". Tulisan tulisan dalam buku buku tersebut memberikan kita pengertian yang lebih dari apa yang kita alami sehingga pikiran bisa lebih terbuka dan tidak sempit atau cetek, tidak seperti orang buta yang menggambarkan gajah itu seperti apa?]

Hanya para pria bodoh yang masih juga meninggalkan wanita seperti ini. Meditasi adalah perlindungan yang tak tergoyahkan bagi wanita wanita seperti ini, agar tidak terombang ambing oleh perasaan dan pemikiran negativ, malah sebaliknya, meditasi membuatnya menjadi manusia yang lebih matang baik secara lahiriah maupun batin.

Mengapa dikatakan tidak baik untuk bergaul dengan orang kikir? kitab suci menjelaskan hal itu.
Jika kita menerima makanan ataupun hadiah pemberian dari orang kikir, kita akan menyesalinya, karena didalam pemberiannya bukan didasari oleh ketulusan didalam memberi, ia telah MEMPERHITUNGKAN TIMBAL BALIK dari kita untuk setiap pemberian yang diterima dari nya.

Sebuah keluarga yang benar benar sukses, adalah pasangan yang membangun keluarga dari nol, yang mau bersama sama berjuang - bekerja keras, yang mau menata kehidupan keluarga, memiliki perencanaan, komunikasi yang baik antar sesama, sampai akhirnya berhasil. inilah keluarga yang sukses, yang mungkin walaupun harta cukup ala kadarnya, mungkin cuma memiliki satu atau dua anak, rumah yang sederhana, namun merupakan keluarga kecil yang penuh kebahagiaan.

Ternyata wanita yang dianggap umum sebagai pintar tidak-lah pintar!
Pernyataan sejenis ini terkadang terlihat pada uraian surat kabar ataupun di media-sosial, yang menjelaskan mengapa wanita pintar sulit mendapatkan pasangan hidup. Tapi apakah benar itu adalah orang orang pintar? ternyata bukan pintar dalam segala hal. Ia hanya pintar didalam hal hal rutin yang memang merupakan tugas yang diembannya. Ia terlalu enjoy dengan kerjaan yang ia senangi tersebut dengan plus keuntungan atau pemasukan yang memuaskan baginya bahwa ia sampai lupa hal lain yang juga penting dalam hidupnya karena terlalu excited [kesenangan] akan pekerjaannya tersebut sehingga ia saat itu merasa hidupnya sudah bahagia dan berkelimpahan, mau apa bisa kebeli, mau kemanapun bisa diatur. Apalagi yang dibutuhkan dalam hidup? akhirnya pada saatnya usia telah lewat, ia baru sadar kalau ia masih sendiri, dan mulai merasa kesepian, sampai akhirnya pasrah dan menyerahkan diri.

Seperti yang dikutip dari harian Merdeka online, psikolog Tika mengatakan:
“Dia [wanita] paling memperhatikan pekerjaan, jadi hidupnya tidak seimbang. Ini mesti diingetin. Memang wanita [karir] yang terlalu sukses itu banyak orang yang tidak diperhatikan dan lebih pentingin kantor”.

Wanita yang dianggap pintar ini ternyata kurang cerdas terhadap hidupnya. Hingga saat ia telah lewat masa belia-nya dan terus melambung tinggi tanpa pernah melihat usia nya, yang membawa penderitaan juga pada akhirnya. Kesepian! Kebingungan terhadap hidupnya yang tidak memiliki pasangan! Tak jarang timbul rasa iri! Fantasi seksual yang menjurus kepada permainan perangsangan tubuh sendiri! atau mungkin saja ia akan menjadi “terserah” sama siapa saja boleh!

Sebenarnya perlu diingat oleh kita semua bahwa pernikahan bukan untuk mengukuhkan ide ataupun pemikiran salah satu pihak sebagai yang absolut dan harus dituruti. Seperti yang disebut disini juga, pria menikah dengan wanita, bukan untuk di-dikte salah satu pihak, namun keseimbangan rasa percaya yang utama dan peduli [kasih sayang], sedangkan untuk urusan seksual ternyata hanyalah diurutan kesekian, sedangkan wanita yang dianggap pintar tersebut terkadang bisa jadi malah sedang menempatkan urusan seksualitas pada 5 urutan besar. Sesungguhnya tidak tepat jika dikatakan “wanita pintar” sulit mendapatkan jodoh, janganlah mengukuhkan apa yang tidak pintar sebagai pintar, jelas jelas orang itu cacat pemikiran alias TIDAK MAMPU menelaah hidupnya, ia kurang cerdas, karena tidak tahu kapan atau pada saat apa ia harus mengambil keputusan sehingga melewati waktu yang tepat. Sesungguhnya ia wanita dungu. Banyak dari yang kami kenal, rekan kami, wanita wanita yang benar benar cerdas atau sukses dan juga memiliki keluarga yang bahagia dan harmonis. Wanita wanita yang tidak kunjung dapet jodoh pun merupakan salah satu bagian daripada kebodohan atau keegoan, yang sesungguhnya gak perlu dibangga banggakan, apalagi dikatakan sebagai “pintar”, dan yang lebih lebay lagi ia berdalih “Tuhan belum kasih jodoh”. walah! Tuhan dibawa bawa dijadikan kambing hitam sebagai dalang yang tidak memberikannya jodoh.

Sesungguhnya, wanita ataupun pria memiliki hal yang sama jika ia tidak mendapatkan jodoh:

  1. Karena ia “ingin mengubah” pasangannya agar sesuai keinginannya, “aku ingin ia adalah orang yang seperti ini” dsb. Yah tidak semua orang bisa sama persis seperti keinginan kita. Biar bagaimanapun pasangan terlihat manis toh pada akhirnya ia tetaplah membawa tabiat awalnya, ikan tetaplah bebau amis, kalau disikat pakai rinso ia mati.
  2. Krisis kepercayaan. Memang cemburu terkadang merupakan sebuah ungkapan rasa cinta, namun tidaklah tepat jika sedikti sedikit cemburu. Buatlah kesepakatan bersama, dengan siapa anda berpergian, pihak yang lain harus tahu, dan ia harus terbuka.
  3. Banyaknya prejudice. Dari pada ber-prejudice “jangan jangan dia….” [memanfaatkan diri atau kepintaran, pengen duit, dsb] mendingan anda telusuri langsung seperti yang disebut disini juga, kalau memang gak percaya dari pada memikir yang bukan bukan, langsung saja mengadakan observasi agar segala keraguan hilang dan prejudice tidak menguasai kepala anda.
  4. Terlalu berlebihan [exagerate / lebay]. Pernah bertemu dengan orang yang gaya ngomongnya, gaya jalannya, atau mimik wajahnya kalau lagi berkomunikasi seolah olah ingin menunjukkan kalau ia orang penting, orang hebat, orang pintar, orang yang cool, dsb? Bahan pembicaraan terlalu membosankan, terlalu tua [isinya terlalu formal dan kaku], tidak bisa bersenda gurau, dsj.
  5. Terlalu menutup diri terhadap pasangan yang jelas jelas diantara kedua belah pihak saling suka dan percaya. Tatkala pasangan sudah dengan jujur berkata, jika kita sayang sama ia, janganlah kita mensia-siakannya, kita harus berterus terang, terbuka apa adanya dan jujur.

Banyak dari kita yang tidak sadar.
Kita seringkali dicekokin oleh film film romantis dari barat, yang pasangannya mati matian bela belain mengorbankan waktu demi sang kekasih, mengikuti kemauan sang kekasih, menjadi pahlawan yang melindungi sang kekasih dari bahaya, dsb. Akhirnya mereka setahun atau dua tahun bercerai! Mengapa? karena sang kekasih terlalu berharap, terlalu bermimpi. Perkawinan yang demikian megahnya, dengan pasangan yang begitu “fall in love” dengan sang suami yang sejak menjalin hubungan sebagai kekasih [pacar] terlihat sangat setia dan sangat untuk pacarnya, namun berakhir dengan perceraian. Tak sedikit terjadi hal ini, di negri yang memproduksi film film romantis dengan aktor dan aktris yang wajahnya enak dipandang tersebut, anda diajak untuk dibiasakan untuk melihat pemandangan model begitu, namun pada KENYATAANNYA disekitar anda tidak seindah di film tersebut! Bahkan di negri produksi film tersebutpun tidak semua pasangan disana setampan dan secantik difilm tersebut. Namun tentu saja pun ada yang memang memiliki pernikahan yang indah, itu pun di America mereka takut akan terjadinya perceraian ini sehingga mereka menjaga dan membina hubungan mereka agar langgeng dalam pernikahan mereka dengan tidak mendikte salah satu yang lainnya, dan menghargai masing masing pihak itu diutamakan. Memang ada ekspektasi namun cukup dalam hal kepercayaan antar kedua belah pihak dan cita cita kukuh didalam membangun keluarga. Bukan dengan seringkali berkata: “kamu harusnya begini” “kamu harusnya begitu” seperti bossy. Warga Indonesia harus stop mencontoh film. Be Real aja!

Nota buat kita didalam memandang
"kaum suka sesama jenis"
"Perlu kita ingat bahwa kehadiran orang orang yang berorientasi homoseksual janganlah dianggap sebagai sesuatu yang taboo. Kelahiran mereka bukanlah atas permintaan mereka sendiri dan juga bukan pula karena sengaja didoa doakan sampai menjadi begitu. Gender orientation yang khalayak ramai pada umumnya rasakan juga bukan karena sengaja mau jadi demikian, tapi itu berkembang secara alami [Dhamma], sesuai dengan hukum alam [niyama dan karma]"

Didunia ini tidak ada satupun yang disebut dengan istilah "kecelakaan" [atau terjadi secara kebetulan] dalam hidup ini, semuanya memiliki fenomena sendiri sesuai dengan keterkaitan atau hubungan elemennya masing masing. Manusia memiliki ragam jenis karakter ataupun personalitas, pemikiran, keinginan sampai cita cita yang berbeda.

Janganlah kita umat Buddha merasa sudah bijaksana atau sok pintar kemudian ikut bersama sama khalayak ramai untuk mengisolasikan mereka, apalagi membenci atau mengutuk. Jika anda melakukannya, suatu hari semua pengalaman mereka yang dicerca oleh anda, bisa saja berbalik menghantam anda sendiri, dilahirkan pada kondisi yang sedemikian rupa persis seperti posisi ysng sama dengan mereka pada kehidupan nya ini yang anda cerca, benci [dosa], sindir, olok olok [condemn] dan isolasikan.

Janganlah kita memaksakan kehendak kita agar mereka berubah seperti yang kita inginkan, nanti kalau dibalik bisakah kita menjadi seperti keinginan mereka? anda mau diperlakukan seperti itu? Janganlah keinginan kita menguasai atau menjajah orang lain. Anda mau dipaksa untuk berubah dari kealamian anda?

Dalam dunia psikologi sendiri sudah menyatakan bahwa kaum homoseksual [dari pria dan wanita yang suka sesama jenis] bukanlah karena sebuah kelainan ataupun penyakit, namun sudah merupakan sebuah kealamian yang berkembang dalam hidup seperti juga hal nya yang terjadi pada kaum hetero.

Cuma dari ajaran mitos dan tahayul dari penyembah dewa yang bersumber di negara negara Timur Dekat [Near East] saja-lah yang mengklaim mereka adalah makluk makluk bersalah atau berdosa, [sebuah ajaran yang dipercaya oleh kaum mereka bahwa dewanya atau Tuan-nya sendirilah yang menurunkan kitab itu], sehingga para pemimpin agamanya melakukan black campaign ditempat ibadah mereka yang akhirnya membuat kebencian diantara manusia. [Entahlah ajaran kasih sayang nya telah pergi kemana? Sungguh menyesatkan banyak pemikiran orang]

Note: dewa [God] mereka dipanggil "tuan", yang bahasa Inggrisnya disebut lord. Kata tuan atau lord sesungguhnya adalah sebuah ungkapan untuk memanggil kaum ningrat di Inggris, namun untuk memanggil dewa mistis kahayangan mereka, mereka juga memuliakannya dengan sebutan tuan raja [entah itu mau dihuruf besarkan atau tidak yah artinya sama saja. karena pada saat anda berucap tetaplah satu yaitu lord. kan gak disengaja monyong monyongin pada saat manggil Lord [L huruf kapital] kan? yah jadi itu bisa bisa an mereka saja untuk mengistimewakan sesosok dewa mistis mereka melalui permainan huruf, yang mereka juga gak tau asal usulnya dari mana dewa itu].

Dibahasa Spanyol sendiri, makluk tahayul yang dipuja puja ini disebut señor [terbaca senyor] yang artinya Mister atau tuan. di Indonesia dipeleseti menjadi “tuhan” tapi sebenarnya kata tuhan ini artinya tak lain adalah “om, bapa, tuan” untuk sebutan raja [gusti]. Yang tak lain, cuma saja kata “Tuan” dipeleseti saja kosakatanya menjadi tuhan untuk menghormat kepada makluk mistis khayangan mereka, yaitu dewata.

Diklaim bahwa dewa yang maha kuasa tersebut pengasih dan penyayang namun dengan keras hati membisiki pengikutnya untuk melakukan pembunuhan karena rasa dengki dan kebencian - murka nya melihat orang lain menyembah dewa lain, yaitu Dewa mesir. [tercatat dikitab mereka demikianlah gambaran kisahnya]

[dengan cara membisiki umatnya untuk melakukan pelemparan batu sampai mati terhadap orang orang yang dianggapnya bersalah itu karena menyembah dewa mesir, dsb] dan kekejian lainnya terhadap yang tidak memujanya atau lepas dari jajahanNya.

Selama anda sebagai umat Buddha jangan pernah menjudge atau menghakimi orang lain karena kelahiran maupun, kecuali anda telah menjadi pengikut ajaran ajaran mitos dan tahayul yang sesat tersebut.

Bangsa Eropa termasuk India pada jaman dahulu kala telah melihat bahwa kaum homoseksual [wanita suka wanita, pria suka pria] ini telah ada, dan Buddha tidak pernah mengutuk mereka sebagai "makluk berdosa!" yang harus diasingkan dan diolok olok, dikesampingkan ataupun direjam! bagaimana mungkin Beliau yang maha pengasih dan penyayang bagi semua, tega mengutuk para homoseksual seperti yang dilakukan didalam buku buku ajaran sesat mitos figur dewa atau tuan yang tahayul itu.

Namun, saran yang sangat diperuntukkan bagi para homoseksual [wanita suka wanita dan pria suka pria] janganlah berbohong! Jangan MUNAFIK seperti yang telah diliput di berita berita [ada para aktivis antigay yang menghujat dan sebagainya, terhadap kaum wanita dan pria yang suka sesama jenis, dengan istilah yang biasa kita kenal dengan sebutan "aktivis anti gay", namun akhirnya ketahuan bahwa si para aktivis ternyata juga orang orang homoseksual! Menggelikan bukan?),
Pepatah orang tionghwa bilang:
"Penyakit datang daripada apa yang masuk kemulut, tapi bencana datang daripada apa yang keluar dari mulut"
mungkin kita bisa menelaah hal ini, apa benar Pepatah ini bisa diaplikasikan dalam kehidupan kita dan didalam menaggapi kemunafikkan para kaum homo.
Kami disini ingin menyampaikan bagi para wanita suka wanita; pria suka pria, bahwa yang terutama harus anda pahami didalam batin anda adalah anda harus terima kenyataan bahwa anda homoseksual, kondisi ini alami bukan dibuat buat atau juga bukan karena didoa doakan trus anda jadi begini, jangan anda memiliki pemikiran tahayul dan mistis! Dan janganlah pula anda mengira bahwa dengan menjudge orang lain kemudian homoseksualitas anda hilang.

Itu bagaikan mimpi disiang bolong, hal itu tidak akan pernah terjadi! malah sebaliknya mungkin akan memperdalam rasa homoseksualitas, kesombongan dan kepalsuan dalam diri anda! dan anda akan hidup didalam rasa bersalah yang tidak berkesudahan! Hiduplah apa adanya, janganlah termakan oleh black campaign yang sudah ada dimasyarakat dan mendarah daging, karena ulah ajaran mistis dan tahayul penyembah dewa negri Timur Dekat penyebar kebencian dan kedengkian tersebut. yang penting jaga sikap dan tindak tanduk anda, memang benar bahwa manusia ini adalah makluk yang melakukan seksualitas, namun pengumbaran itu tidak dibenarkan! apakah anda homoseksual ataupun heterosexual, kedua duanya sama bejatnya!

Dan bagi homoseksual: jangan pernah sekali kali mempermalukan diri anda dengan sengaja menggoda wanita atau pria yang tidak memiliki hasrat alami terhadap sesama jenis seperti anda. Nanti kau sendiri yang akan kena getahnya akibat kebejatan mu ini! Jika memang demikian anda yang memulai atau sengaja memancing.

Jangan salahkan orang lain jika memang anda dijauhi, dimusuhi atau diisolasikan dari masyarakat! Karena itu semua berasal dari dalang atau tingkah laku anda sendiri yang salah! jika memang demikian anda sendiri yang memulai mengganggu orang lain dengan sengaja menggodanya dengan niat birahi terhadap yang tidak akan pernah tertarik apalagi menghormati dengan anda yang “memiliki ketertarikan seksual terhadap sesama jenis”! Maka itu saat berjalan ditempat umum, jangan bawa bawa birahi, banyak hal hal positive dan baik yang bisa dilakukan, seperti kreativitas, olah raga dan lain lain, belajarla berlatih mengendalikan diri.

Dan bagi yang hetero, Jangan juga yang hetero meneriaki homoseksual penyebar penyakit. Walah! yang hetero justru banyak meyebarkan penyakit juga, malah bawa ke ISTRI DAN ANAK! ini kan namanya Perampok Teriaki Maling. Yang penting jadilah masyarakat yang berguna untuk tanah air, janganlah menjadi manusia yang picik dan culas, berpikir batinnya lebih bersih dibandingkan yang lain! apalagi berbahagia diatas penderitaan orang lain. Hidup saja sesuai dengan tatasusila, didalam kejujuran dan tangan yang terbuka untuk membantu didalam kebajikan. Ini berlaku buat semua kalangan manusia, jadi janganlah takut terhadap ucapan usil orang yang berhati kelam dan picik, selama anda hidup dengan lurus akal [upright], jalankan.

Dan pria homo seyogyanya memakai baju pria dan bersikap [behavior 行為] selayaknya pria yang berjiwa besar dan matang serta ucapan yang tidak menyakitkan, menghujat atau suka gossip. Bagi wanita homoseksual juga demikian adanya, seyogyanya menggunakan baju wanita bersikap selayaknya seorang wanita terpelajar dan belajar untuk menjadi lembut perangainya serta menghindari kepicikan atau keculasan.

Jika pada akhirnya anda memutuskan untuk menikah juga dengan lawan jenis, Harus bertanya kepada diri sendiri terlebih dahulu, apakah saya siap berkomitmen untuk hanya setia dan jujur kepada pasangan saya didalam membangun keluarga?, dengan pengharapan "jujur kepada pasangan anda", ceritakan pada pasangan bahwa anda adalah seorang homoseksual kepadanya dan jelaskan mengapa pada akhirnya memutuskan untuk memilih menikah. Buddha Dhamma tidak menyalahkan orang yang dengan kelahiran sifat Homoseksual pada kelahirannya ini, namun segala tindak tanduk-lah yang merupakan tolak ukur. Maksudnya tindak tanduk? yah apakah anda seorang yang picik? keji? culas? jahat? penipu? atau sebaliknya?.

Jika memang tidak siap, akan lebih baik anda menjalani hidup atau membangun keluarga dengan pasangan pilihan anda. Hidup ini pilihan toh? siapa yang berhak mengatur hidup anda? jika memang menikah dipaksa atau bukan atas kehendak anda, maka tekanan batin, penyesalan, kecewa, keengganan [tidak cinta], dan yang lain lainnya termasuk PENGHIANATAN diakhirnya akan terjadi. Toh orang gak harus menikah juga kalau memang belum menemukan pasangan yang sesuai. Disini para orang tua harus bijaksana dan mengerti bahwa homoseksualitas bukanlah sesuatu yang perlu dihujat!

Siapakah didunia ini yang mengklaim bahwa kaum homoseksual [lesbi dan gay] itu berdosa? ini hanya diklaim oleh umat kepercayaan mitos dan tahayul, penyembah dewa dari timur dekat [Near East] saja-lah yang mengatakan bahwa mereka berdosa! ada juga klaim mereka para “penyembah dewa Timur Dekat” dinegri adidaya [Amrik] yang mengatakan mereka ini pembawa penyakit! Walah walah, ia gak baca koran rupanya, bahwa terdapat banyak pasangan hetero menikah, si suami bawa pulang penyakit untuk dihadiahkan kepada sang istri karena sering tidur dengan wanita wanita bayaran yang telah tidur dengan banyak pria. Ada juga kasus kenalan kami, yang dari karena "rasa persahabatan" atau kesejawatan mereka, para pengguna narkoba, yang mengkonsumsi narkoba dengan menggunakan satu suntikan, akhirnya membawa HIV dan menghadiahi istri yang sedang hamil dirumah dengan penyakit, yang dalam beberapa bulan kemudian sang istri dan bayi dalam kandungannya harus "jalan" meninggalkan dunia ini, sementara si suami, pembawa HIV lebih bertahan.

Betapa dilema nya hal ini, dan orang orang tahayul penyembah “dewa adikuasa mitos dari negri timur dekat” tersebut lupa bahwa penyakit bukan datang karena orientasi seksual tapi karena kebejatan hati manusianya itu sendiri, hilangnya akhlak dan keluhuran dalam diri dan menggantikannya dengan "pemuasan napsu indera" [termasuk pengumbaran hasrat seksual disini, tak peduli sasarannya siapa, apakah ia homoseksual ataupun heteroseksual, dua duanya sama bejatnya]. Menyangkut hal ini, kami teringat kejadian yang terjadi beberapa waktu yang lalu di Jakarta International school dengan false accuse terhadap guru tertentu yang mana berita ini telah tersebar kemana mana bahwa ada guru yang menjolimi siswa sd nya. yang mana ada seorang presenter di televise yang membawakan suatu acara di stasiun tv, berbicara seolah olah image guru ini tidak baik, lho itu kan MANUSIA NYA YANG GAK BERAKHLAK! kok malah menyalahi profesi guru?, lagipula, ketika di check medical di Singapur, ternyata tidak ditemukan tanda tanda pelecehan seksual, berlawanan dari info yang diberitakan oleh pihak berwajib.

Salah satu hal penting yang semua umat Buddha perlu telusuri didalam pernikahan adalah permasalahan didalam janji pernikahan hanyalah satu: kesetiaan, diluar daripada kesetiaan itulah kebejatan si manusia tersebut! Apakah ia berserong kepada wanita atau pria lain, apakah hetero ataupun homoseksual itu semua adalah sederajat bejatnya! termasuk kaum homoseksual yang mencoba coba untuk ataupun para heteroseksual yang mencoba menggoda dengan gaya seksualitas atau melakukan pelecehan terhadap yang lain! barulah ini jelas PANTAS dihindari!

DAN PERLU DIINGAT! Pada kejadian penghianatan maupun pelecehan terhadap pasangan hidup, salah satu penyebabnya adalah karena anda menyerahkan diri pada "Senda gurau sambil COLEK COLEK". TOPIK PEMBICARAAN SANGAT PENTING kepada anda yang telah berpasangan, jangan sampai berbicara antar lawan jenis pada hal hal yang menjurus pada seksualitas, apalagi sampai dengar CURHAT MASALAH PRIBADI [tentang perasaan terhadap pasangan dirumah, dsb.], hindari hal tersebut.

Katakan pada teman anda yang curhat itu "urusan rumah, hanya anda dan pasangan yang benar benar mengerti. Anda harus seringkali introspeksi diri sebelum menjudge atau pun menuntut. Harus lebih terbuka dengan pasangan dan komunikasi yang baik.", karena Topik pembicaraan tersebut sangat sensitif, janganlah terlibat didalam urusan rumah tangga yang lain, berbahaya. Berhati hati lah, kecuali pembicaraannya hanya pada taraf permukaan [tidak detail sampai ke perasaan, misalnya kita happy, jalan jalan ke tempat ini tempat itu], diskusi Dhamma, diskusi seminar, penjelasan prosedur kerja, dsb. itu masih dibatas wajar.

Dan jangan juga sampe anda yang pria membiarkan tangannya dipegang [berpegangan / gandeng tangan], apalagi disandari oleh wanita lain, atau bagi pria kebiasaan saat bercanda suka memegang bagian fisik wanita lain, para wanita harus sudah alert dan jaga kehormatan anda, jangan sepertinya anda gampang sekali disentuh oleh orang lain.

Tubuh ini sensitif, bahkan telingapun juga sensitif, saat wanita digoda goda pria dengan ungkapan yang tidak senonoh [tidak sopan dan tidak wajar membicarakan fisik misalnya, wah sekarang kamu seksi banget, atau kamu sekarang setelah tumbuh remaja cantik, bibirnya.....], ada wanita yang senang akan hal itu, ia sudah harus sadar pada saat itu, dan meneguhkan perasaan untuk tidak tertarik dengan angin berbau jigong yang keluar dari pria gombal tersebut.

Kita orang Asia yang menganggap kebiasaan orang Amrik yang suka berpeluk pelukan dan kissing dianggap normal, tetap saja yang namanya kondisi Nama dan Rupa dari manusia sama, yaitu sensitif. Maka itu banyak dari mereka, diantara teman yang karena curhat masalah keluarganya sampai nangis dan peluk pelukan, tak jarang yang malah berakhir dengan jatuh cinta pada teman curhatannya itu, rumah tangga berantakan, demikian aja circlenya, mereka sudah terbiasa dengan kontek fisik, kita harus menelaah bahwa tidak semua gaya barat itu baik. Demikianpula dengan kasus Homoseksual, kejadiannya melalui bercanda bercanda yang intinya mengarah kepada hal yang secara birahi.

Secara kelahiran, semua manusia sama, kita tidak boleh berat sebelah didalam memandang kelahiran. Akan tetapi bagi orang yang suka menghujat keberadaan homoseksual [karena kelahiran - sifat kealamiahan mereka], karena telah masuk-nya ideologi negatif kedalam pemikirannya atas dasar ajaran golongan tahayul penyembah figur mistis dewa negri persia oleh bangsa didaratan "near east", dengan ajaran sesatnya yang telah menyebar keseluruh dunia. Ajaran mereka itulah yang membesar besarkan hingga menjadi stereotype yang mendarah daging dimasyarakat dunia karena black-campaign mereka berdasarkan mitos kitab yang dipercayai, dan melakukan provokasi ditempat tempat ibadah mereka. Ajaran yang mengutuk homoseksual bukan-lah dari kitab ini, itu dari kitab luar, ajaran luar. Dan orang ini adalah salah satu orang yang menyerukan hal itu dan teman temans sejawatnya yang berangkat ke Afrika serta mencuci otak warga Afrika, sehingga mereka orang orang homoseksualitas akan dibunuh atau dihukum walau mereka tidak melakukan kriminal sama sekali.

Janganlah kita ikut ikutan berpandangan seperti ajaran ajaran mitos - tahayul mereka, itu picik dan berat sebelah, karena kita belajar punabhava dan kamma-phala, jika umat Buddha yang belajar Dhamma masih juga menghujat, mengolok olok [condemn] dan mengisolasi mereka, tentu saja nanti bisa saja akan berbalik kedalam hidup anda dihujat dengan cara serupa, sama seperti apa yang sekarang mereka lakukan.

SIAPAKAH DIDUNIA INI YANG BERHAK MENGHAKIMI SESAMANYA KARENA KELAHIRAN?! jadi janganlah bersimpang sebelah atau menutup sebelah mata anda untuk melihat kemuliaan seseorang ternyata hanya dilihat dari hatinya, ucapannya, beserta tindak tanduknya. Banyak orang yang orang bervegetarian, suka sembayang, rajin ketempat ibadah, nyanyi nyanyi lagu rohani sampe kelihatannya khusyuk sekali! namun mereka mereka ini bukan menjadi patokan sebagai orang yang bersih, jujur dan tidak berat sebelah! yang bejat yah tetaplah tidak baik, orang culas tetaplah licik.

Tak peduli apakah mereka heterosexual ataupun homosexual, apakah wanita ataupun pria, apakah tua atau muda, semuanya sederajat. Dan kita harus akui bahwa tak sedikit dari orang yang bisa kita lihat disekitar kita yang nampaknya relijius, ahli kitab, suka baca baca buku keagamaan, rajin berdoa, ATAU PUN ORANG ORANG YANG RAJIN MELAKUKAN BAKTI SOSIAL SEKALIPUN, dsb ternyata adalah orang orang yang picik pemikirannya, berpihak, hanya mementingkan golongan, keluarga atau dirinya sendiri 【自私自利】, ucapan yang tidak bisa dipegang [tukang tipu], melakukan kesalahan tidak berani mengakui kesalahannya malah sebaliknya berlagak dengan nada mengancam, dan adalah orang pelanggar peraturan negara [seperti tidak bayar pajak, terjadi persengketaan, dan kasus kecurangan yang lainnya].

Janganlah kita sebagai awam ikut ikutan pandangan ajaran lain seperti yang para pendeta mereka black campaign-kan [padahal kemungkinan “guru”nya juga nggak menikah juga seperti para bhikkhu atau sebaliknya punya banyak istri?],


“Kita seyogyanya waskita
terhadap apa yang kita dengar”
Hal ini kita harus akui bahwa ada penceramah yang juga berdasarkan keterbatasan ide atau buah pemikirannya, yang mungkin mengarah ke berberat sebelah, yang mengajarkan dan sering seringkali mereka sendiri wejangkan baik divihara ataupuan ditempat lainnya: “sabbe satta bhavantu sukkhitata” tapi tak lain cuma sebuah slogan semata tanpa pernah menelaah dikehidupan sesungguhnya disekitar kita.

Janganlah kita membiarkan diri kita begitu saja menerima secara gamblang tanpa direnungkan dan dicerna dengan baik kemudian turut berpandangan picik, memaksakan kehendak kita serta berat sebelah dengan mengisolasikan, merendahkan martabat orang lain atau menindas hak dan kebebasan seseorang. Jika anda menemukan seorang penceramah atau romo yang mengklaim bahwa kaum Homoseksual [wanita suka wanita atau pria suka pria] adalah makluk yang harus diisolasikan, terkutuk atau sebuah kesalahan atau dosa didalam agama Buddha, maka keabsahan klaimnya perlu dipertanyakan dan ditinjau kembali oleh orang yang ahli-nya dan tidak memihak.

Before a large audience in Singapore in June, the outspoken Theravadin Buddhist monk cited the Buddha’s call for compassion toward all sentient beings as a starting point for a Buddhist position on the LGBTIQ community. He said he was very proud to be able to perform a gay marriage in Norway. He continued:

“There is nothing in the suttas, in the teachings of the Buddha, which discriminates against anybody no matter what race, religion, or sexual orientation. I do ask all Buddhists to please show compassion and respect for everybody.”

“If you discriminate and suppress a person’s natural sexuality, it causes terrible, terrible harm. It is one of the reasons why, in civilized countries, modern countries in the West, they recognize that it is harming the whole community. And morality does not fall apart when we don’t have discrimination.”


“Tidak pernah ada didalam Sutta, didalam Ajaran Buddha, yang menkelas kelaskan [deskriminasi] orang lain apakah ras, agama ataupun orientasi seksualitas. Saya mohon semua umat Buddha untuk menunjukkan kasih sayang dan respek terhadap semua orang”

“Jika kau mendeskriminasi dan menindas kealamian seksualitas seseorang, hal itu akan sangat membahayakan. Inilah salah satu alasan mengapa, di negara negara beradab, Negara modern di barat, mereka mengakui bahwa hal itu dapat mencelakakan seluruh komunitas. Dan [sesungguhnya] keluhuran batin [moralitas] tidak akan merosot ketika kita tidak memiliki peng-kelas-an [deskriminasi] terhadap yang lain.”

Memang benar, selama kami membaca kitab Tipitaka Pali Mula, tidak pernah ditemukan ungkapan dari Buddha sendiri bahwa kaum homoseksual adalah kaum yang terkutuk atau berdosa. Malah yang kami dapat direaliti nya bahwa tak sedikit bhikkhu yang melepas jubahnya setelah berkongkalikong dengan bhikkhuni kemudian karena gak tahan segera langsung menikah, ini kami tidak mengada ngada, JADI JANGANLAH LAGI ADA PENCERAMAH YANG BLACK CAMPAIGN DAN MERACUNI PIKIRAN UMAT DENGAN UNGKAPAN YANG TIDAK SESUAI DENGAN DHAMMA. [ADHAMMA].

Mungkin ada baiknya mereka tidak perlu berkomentar yang adhamma.

Ini umat juga harus berbijaksana menanggapi ungkapan penceramah atau romo yang tidak sesuai dengan Dhamma seperti ini [HAL INI TERJADI JUGA DI TEMPAT IBADAH LAIN], karena ia berat sebelah dan telah dipengaruhi oleh stereotupe masyarakat, dan kita harus kritis, tidak semua ungakapan mereka itu Dhamma. kadang pun bisa jadi black campaign seperti yang terjadi di agama tetangga. ketidak adilan merajalela, kepicikan, keterpihakan, culas, nista dan segala keburukan moral bersatu didalam kubu itu. Tapi Dhamma ini halus dan harus didasari dengan kasih sayang dan kebijaksanaan menerimanya, bukan keterpihakan atau berat sebelah. Jadi janganlah setelah umat keluar dari vihara, kemudian muncul pikiran yang tidak baik terhadap orang manapun.

Maaf kami disini menyinggung penceramah atau pandita bukan untuk membuat anda ragu, atau karena kami mengada ngada, tapi agar supaya anda lebih eling tidak menerima begitu saja apa yang diucapkan oleh orang lain. Karena ada tidak sedikit kasus kasus lainnya yang terjadi, dan ada yang menganggap aku ini romo lho, kamu harus ikuti aku, tapi yang terlontar dari yang disampaikannya tidak benar benar sejalan dengan Dhamma, namun cuma mengikuti egonya saja.

Pernyataan para penceramah yang seolah olah menyalahkan atau menyudutkan homoseksual sesungguhnya adalah karena ia terpengaruh oleh desakan stereotype masyarakat, yang telah termakan isu black campaign oleh mitos dan tahayul dari ajaran lain yang telah menyebar memasyarakat akan pengisolasian kaum homoseksual. Tapi kami cuma menganggap ungkapan para romo yang tidak sesuai dengan Dhamma tersebut sebagai penegasan pribadi bukan mewakili Dhamma.

Lantas apakah kita umat Buddha perlu ikut ikutan black campaign yang sudah dilakukan ditempat tempat ibadah pemercaya ajaran mitos dan tahayul penyembah dewa tersebut? yang mana sekarang telah banyak menyebabkan kekacauan ataupun pembunuhan di negara benua Afrika [Uganda, Somalia, Nigeria, dll, yang mana di Uganda, tempat yang mana rakyatnya adalah umat umat beragama yang taat - relijius, dan para homoseksual harus dihukum lebih berat dibandingkan para pemerkosa para gadis perawan, Koruptor dan perampok, dengan diberikan hukuman mati] karena telah termakan black campaign dari klaim kitab mereka bahwa kaum homosexual [wanita suka wanita dan pria suka pria] adalah kaum yang harus dibinasakan berdasarkan firman dewa atau tuhan mereka.

Bahkan sampai terdapat kaum pria dari kalangan mereka yang mempercayai kitab mitos dan tahayul penyembah dewa atau tuhan itu kemudian menzolimi wanita homo dengan cara memperkosanya, mereka beranggapan bahwa wanita homo itu akan menyukainya! Tapi sayang, wanita itu semakin menderita, trauma dan semakin geli terhadap pria. Apa anda ingin ikut ikutan menzolimi wanita homo dengan memperkosanya yang membuat hidupnya semakin menderita dan terpojok?

Di Uganda, karena rakyat sana hampir semuanya telah termakan oleh black campaign dari para misionaris dari Amerika di tempat tempat ibadah disana, sehingga rakyat menjadi sangat membenci dan sewenang wenang memukuli atau membunuh pria atau wanita homoseksual. seperti yang di-dokumentasi-kan oleh BBC, seorang wanita belia belasan tahun yang lugu diperkosa dengan sengaja oleh temannya karena tahu wanita ini adalah homoseksual, yang mana setelah dilaporkan ke polisi, si pemerkosa dengan entengnya mengatakan kalau si wanita [korban] ini adalah homoseksual, dan pemerkosa ini bersaksi bahwa ia sedang berusaha membunuh seorang homoseksual [kesewenang wenangan dan pembunuhan terhadap homoseksual dinyatakan Sah dalam undang undang mereka], sehingga si pemerkosa dinyatakan bebas tak bersalah, sedangkan si wanita homoseksual tidak mendapatkan perlindungan apa apa dengan bayi kandungannya dari hasil perkosaan, dengan tambahan tertular HIV dari si pemerkosa yang bebas berkeliaran tersebut.

Kami selaku umat Buddha yang hetero tidak ingin menghujat mereka. Malah sebaliknya menaruh rasa belas kasih [Karuna] dan bebas dari kebencian [Mettā]. Namun sungguh sangat disayangkan bahwa pada kenyataannya ada juga penceramah Dhamma yang menyalahkan tindakan seksual mereka? menggelikan bukan? tidaklah pernah saya baca Buddha mengomentari urusan ranjang umatnya.

Kasus Dalai Lama yang sempat mengkritik kaum homoseksual Amerika bahwa tindakan seksualitas homoseksual itu kesalahan [misconduct, seperti yang dikutib di koran atas pernyataannya], Yah jelas kalau seorang "siswa yang tidak berumah tangga atau bhikshu - bhikshuni" hal itu dilarang, karena mereka menjalankan kehidupan tidak berumah tangga bukan untuk memuaskan napsu seksual jadi segala tindakan seksualitas tidak dibenarkan dan itu dicatat didalam vinaya. Tapi jika dilontarkan kepada umat awam, tunggu dulu, itu harus dicheck kembali apa yang Buddha jelaskan di Uposatha Sutta, Buddha tidak menyinggung kaum homoseksual. Mungkin Dalai lama kemudian mengecek kembali kitab tripitaka sanskrit, memang benar Buddha tidak ada membicarakan hal itu, karena kehidupan seksualitas itu urusan ranjang sepasang manusia awam, baik anda yang hetero ataupun homo, Buddha tidak pernah mengomentari hal ini, yang ada hanya di kitab mitos dan tahayul ajaran penyembah dewa atau tuhan dari cakupan negara negara Timur Dekat, yang merajalela di banyak tempat yang menyalahkan kasus ini, karena menurut ajaran mitos penyembah dewa dari negri Timur dekat ini dikatakan bahwa anda diciptakan didunai ini yang salah satu tujuannya harus menikah berkembang biak, tapi ANEH JUGA YAH DIA JUGA CIPTAIN YANG HOMOSEKSUAL! Menggelikan bukan ajaran sesat ini? Dia yang bilang bahwa manusia ciptaannya harus berkembang biak, tapi dia juga ciptain kaum homoseksual, udah gitu kaum homo seksual ciptaannya ini Dia perintahkan kepada manusia manusia harus diisolasikan dan diperlakukan keji dan sebagainya. Beginilah mereka para umat yang sudah tersesatkan dibawah black campaign ajaran mitos dan tahayul ini sehingga menguras otak baik orang, menjadi sehitam seperti apa yang di ajarkan. Bahkan sampai mempengaruhi stereotype dari kalangan komunitas tertentu di Amerika sana.

Setelah mengetahui nama baik Dalai Lama mulai guncang, karena ternyata dia juga pernah termakan oleh pencucian otak black campaign ajaran mitos tersebut, kemudian tiba tiba statementnya BERUBAH setelah didemo. menggelikan bukan? berucap bukan berdasarkan Dhamma tapi karena terpengaruh ajaran luar. Ada ada aja, yah jelaslah motif dia bukanlah murni Dhamma, tapi ke-aku-annya itu yang berbicara.

Mari disimak
As he prepares to meet today with gay Buddhist leaders, the Dalai Lama has clarified his position on the morality of homosexuality for Buddhists and non-Buddhists.
"We have to make a distinction between believers and unbelievers," the exiled Tibetan leader said at a press conference yesterday in San Francisco. "From a Buddhist point of view, men-to-men and women-to-women is generally considered sexual misconduct.”Don Lattin, Chronicle Religion Writer, Published 4:00 am, Wednesday, June 11, 1997

Source: http://tiny.cc/kel3nx

The Dalai Lama is sometimes criticized for modifying his message to be as palatable as possible to his audience, sometimes changing viewpoints according to the situation. He is also sometimes reproached for taking one side of an issue at one time and changing it later on, usually in response to criticism. This tendency has led opposing sides of an issue to believe that the Dalai Lama supports their cause, e.g. homosexuality, abortion, the Iraq war, Kashmiri independence, nuclear weapons, etc.
Adapted from Wikipedia, 2006, 2009
Source: http://tiny.cc/gjl3nx

Then later, on 07 March 2014 He, the leader of Buddhist monk, who abide Dharma agreed to what he said about what he categorized as sexual misconduct […"From a Buddhist point of view, men-to-men and women-to-women is generally considered sexual misconduct.”…], He says:

“If two people... really feel that way ... and both sides fully agree, then okay,"
By AFP, 10:05AM GMT 07 Mar 2014
Source: http://tiny.cc/rol3nx

Atau seperti yang terjadi dan masih diulang ulang oleh salah seorang romo yang cukup terkenal di jakarta, di vihara dengan ceramahnya yang mengatakan tindakan homoseksualitas [wanita suka wanita atau pria suka pria] dengan klaimnya bahwa tindakan homoseksualitas akan mengakibatkan anda menjadi hermafrodit [berkelamin ganda] yah mungkin saja hal ini bisa terjadi, namun beliau mengungkapkannya seolah olah hal itu adalah satu satunya jalan atau akibat bagi orang orang yang melakukan homoseksualitas. Namun romo lupa memberitahukan bahwa segala penyelewengan seksual, yang tak lain adalah menjadi pelanggan setia tempat tempat pelesiran, seingkuh atau punya "wil" atau memiliki pasangan seksual diluar istri atau suaminya, pun dari segala tindakan "miring atau serong" seperti itu bisa menghantarkan sipelaku ke alam yang tidak baik dan termasuk kepada yang diklaim romo tersebut, terlahir sebagai hermafrodit, atau tetap normal namun memiliki daya seksualitas yang diluar normal pada umumnya.

Kita adakalanya perlu juga menyadari bahwa kegiatan sexual hanya merupakan bagian kecil dalam kehidupan manusia, khususnya setelah usia dewasa, bahkan bagi pasangan yang telah menikah, tak jarang bagi mereka para suami istri bahwa kehidupan sexual cuma JADI SEBUAH RUTINITAS semata, cuma ingin membahagiakan lawan pihak yang telah berjanji susah senang bersama, itu saja toh dalam pernikahan.

Namun yang menjadi masalah dalam kehidupan, tak peduli apakah hetero ataupun homoseksual, jika ia adalah pengumbar napsu, merayu pasangan orang lain, mengganggu kenyamanan dan kebebasan orang lain, atau yang paling kurang ajar adalah
para homoseksual yang berusaha menggoda - merayu kaum hetero supaya ikut ikutan
terlibat dalam kegiatan homo-seksualitas mereka

[bercinta, bercumbu dsb].
Ini yang HARUS KITA SADARI dan hindarkan mereka. Karena orang orang jenis begitu memang pantas dihindari atau dijauhkan! ”

Jikalau misalnya pria atau wanita yang akhirnya terlibat dalam kegiatan homoseksualitas yah berarti mungkin saja mereka pada dasarnya adalah homoseksual, atau memang seperti yang Prof. Sigmund F dan Marjorie Garber katakan memang benar bahwa manusia adalah memiliki karakter biseksual atau bisa menikmati seksualitas dari hetero maupun homois? Entahlah ini masih perlu diteliti lebih lanjut, belum hasil penelitian akhir karena begitu komplex [rumit] permasalahan psikologis makluk hidup.

Satu hal yang perlu diingat, bahwa pemberitaan salah [Adhamma], kurang tepat atau mungkin sejenis black campaign yang terjadi ditempat tempat ibadah ini justru hanya merupakan satu cara bagi segelintir orang yang mengunggulkan pemikiran pribadi-nya belaka [mengukuhkan ke-ego-an dirinya] atau mungkin memang pengalaman pribadi-nya kah sampai berani mengklaim hal tersebut bahwa tindakan homoseksual sudah pasti akan berakibat menjadi hermafrodit? yang mana jelas jelas dikitab Buddha tidak menyebutkan hal tersebut.

Kita tahu bahwa keterikatan atau keterpikatan batin yang membelenggu pikiran didalam napsu birahi memang tidak tepat, dan berdasarkan analisa dari salah satu negara di asia timur telah mencoba membahas hal homoseksual [lesbi dan gay] yang dari diskusi para suhu maupun beberapa pakar psikolog [melalui regresi] mengatakan kebanyakan dari pasangan kaum gay [suami - suami] atau lesbian [istri - istri] adalah mereka yang batinnya memiliki keterikatan keinginan [cetana] dari kelahiran lampaunya sebagai wanita, dan ada juga karena belenggu birahi si pria yang bercinta dengan wanita yang mana ia terikat didalam napsunya sendiri. atau karena ada janji kasih sayang yang mendalam untuk berpasangan kembali dikelahiran mendatang namun sayang mereka dilahirkan dengan fisik yang berkelamin sejenis dengan pasangannya itu, yang pada akhirnya bertemu kembali dengan pasangannya dikelahiran mendatang dengan masih membawa rasa kasih sayangnya dari kelahiran lampau [terdapat dua pilihan, ia menjadi teman baik atau menikah sebagai pasangan homoseksual], jika terlahir dalam satu keluarga maka mereka menjadi saudara yang akrab. Namun sayang, TIDAK SEMUA ORANG BISA MEMILIH ATAU TAHU KONDISI KEBERADAANYA DIMASA MENDATANG.

Mengapa? karena proses kelahiran dan kematian tidaklah semudah yang ia ungkapkan atau klaim, seolah olah klaimnya adalah satu satunya yang benar atau sudah pasti akan terjadi. Saat seorang awam yang tanpa dibekali pengetahuan akan pengertian kerja batin ditakut takuti, dipaksa untuk melawan kealamiannya, ia akan muncul reluctant [dosa] didalam batinnya, ia berarti MENEKAN BATIN-nya secara paksa, yang pada akhirnya mungkin bisa meledak juga. Kepaksaan, pengekangan pandangan ataupun kekerasan mental ini bisa saja membawa maut buat hidupnya, yang membuat seseorang jadi memiliki tindak tanduk yang tidak wajar atau terselubung dalam kepalsuan, kemunafikan, yang akhirnya merembet kepada ketidak luhuran yang lain. Keterbukaan hati, menerima apa adanya dan nasihat bijak [memberikan pengertian] adalah satu satunya jalan yang terbaik.

Justru pada kenyataannya yang bisa dan sering kita jumpai adalah bahwa para PRIA yang suka bercabul ria dengan wanita wanita lain selain istri, tunangan atau pacarnya, atau WANITA yang berhasrat birahi tidur dengan pria pria selain dari pada suami, tunangan ataupun pacarnya, bisa mendatangkan bencana dalam hidupnya, atau mungkin dikelahiran mendatang ketika terlahir walaupun menjadi lawan jenis namun masih membawa hasrat birani yang kuat yang merupakan napsu birahi kelanjutan dari pada kelahiran sebelumnya tersebut.

Ada juga seorang wanita yang karena dendam [dipermainkan oleh pria, dikhianati pada kelahiran lampaunya] kemudian bersumpah serapah dalam hatinya, "biarlah semua pria yang bertemu denganku akan bertekuk lutut jatuh cinta kepadaku." tau tau dia dikelahiran mendatang jadi pria juga, dan banyaklah kasus kasus lainnya, yang intinya adalah karena suatu perlakuan ke-sewenang wenangan diri [pengukuhan terhadap napsu keinginan dan napsu birahi].

Dan seperti yang kita bisa lihat dimasyarakat kita sampai sekarang ini, yang mana pada kenyataanya ada diantara teman teman kita yang yah setiap minggu kevihara, tapi sehari sebelumnya bertidur ria dahulu dihotel dengan wanita bookingannya atau pakai inex, mabuk mabukkan, yang sungguh merusak moral dan akhlak, ini jarang disinggung oleh beliau. Hal yang penting ini justru tidak dibahas pada saat pembicaraan homoseksual tersebut, tidak pernah disinggung akan ketidakluhuran ini.

Dibeberapa kasus yang tak jarang pula, banyak para pria yang dipermainkan oleh wanita, mungkin karena parasnya atau karena ia miskin sehingga dinomor duakan, pasangannya memilih wanita lain. batinnya terpukul dan batinnya menjadi terpuruk, ia tak nyaman atau memiliki trauma tertentu saat bersama wanita, seperti hampa dan sekaligus membawa suatu perasaan aneh seperti saat orang merasakan ketakutan ketika tersesat didalam hutan belantara ditinggal sendiri tanpa arah. Orang yang membawa perasaan seperti ini bisa berlanjut kekelahiran mendatang dan kehidupan seksualnya bisa mengarah kepada apa yang kita sebut sebagai homoseksual, karena ia merasa nyaman dengan sesama jenis dan akan sangat tidak nyaman bersama wanita, semacam sebuah traumatic experience yang terpendam sampai dalam di benak ini, namun ia bingung perasaan itu dari mana munculnya, setelah di check ternyata bekas luka batin dari kelahiran lampau yang harus dia tanggung.

Namun sayang sekali, tak sedikit didalam buku buku penelitian regresi, pada suatu kejadian yang pahit yang terjadi dimasa lampau sipasien, tidak dilanjutkan terapi regresinya sampai ke akar kisahnya, misalnya saja kita ambil contoh kisah diatas sebagai perumpamaan saja: mengapa pria itu bisa dihianati oleh kekasihnya, ketika pasien mengikuti proses regresi saat mengingat ia dikhianati di beberapa kelahiran lampau nya itu, batinnya sekarang telah lebih stabil dan tenang, sehingga sesi terapi untuk kasus itu disetop begitu saja tanpa mengetahui mengapa saat kelahiran lampau itu ia bisa mengalami penghianatan, mengapa sampai saat itu bisa dikhianati tidak dilanjutkan proses terapi regresinya?
jadi seringkali kita dapati dibuku buku regresi yang beredar dimasyarakat tidak sampai benar benar ke akar permasalahan, sehingga terkadang kita para pembaca ditinggalkan dalam kebingungan [tidak mengerti asal mula atau akar penyebabnya] atau ketidak pastian, sedangkan kalau Buddha sedang memecahkan masalah, ia akan mengobati sampai keakarnya sehingga mengerti awal mula kejadian yang berulang bisa stop dengan disertai pemahaman kebijaksanaan yang lebih dalam lagi.

Jika saja pada buku buku terapi regresi menelusuri setiap kejadian lebih lanjut, pasti akan terlihat awalmulanya [pada kelahiran kelahiran lampaunya] ternyata dari nafsu keinginan serta merta kebodohan batin yang mencengkram orang itu sendiri yang menjadi biang kerok dari akar permasalahan, yang membiarkan dirinya mengikuti napsu birahi menyakiti hati pasangannya dengan berserong yang akhirnya ia sendiri dikelahiran kelahiran berikutnya pas ketemu dengan mantan kekasih yang dikhianati tersebut, ia menerima simalakama, dikhianati juga yang berakhir dengan trauma batin yang terbawa sampai kekelahiran sekarang, yang menyebabkan ia menjadi homoseksual. Orang orang yang bijaksana mengerti fenomena atau kejadian batin manusia secara bijaksana dan penuh welas kasih. karena terdapat korban korban pelecehan batin seperti penghianatan yang bisa berbekas di hati sebagian manusia manusia didunia ini. Maka itu kita jangan lah pernah sebagai umat Buddha mengisolasikan orang, apalagi menghina atau menajiskan manusia karena kelahirannya, namun sesungguhnya yang membuat manusia menjadi najis adalah ucapan kotor dan tidak adil; pemikiran egoisme, licik penuh tipu daya dan pendengki; serta tindakan dan perilaku yang serakah dan garang.

"Orang seringkali berteriak: "Hey Kau maling!" ternyata yang berteriak adalah seorang rampok"
"Orang seringkali meneriaki: "Hey Kau penipu!" ternyata yang berteriak adalah tukang tilep"
"Orang seringkali meneriaki: "Tuh orang pemerkosa!" ternyata yang berteriak suka meniduri pasangan orang lain"
"Orang seringkali meneriaki: "Hey udah jadi bencong jangan melakukan "dosa" lagi!" ternyata yang berteriak adalah tukang tipu, munafik, menilep pajak negara, mendukung atau membantu keluarganya yang mempermainkan hukum dengan sistem suap, makan rakus"

Persis seperti yang pepatah orang Tionghwa utarakan 【閩南-諺語】:
"龜笑鱉無尾"
Baca: ku chio pi bo bue!
Penyu mentertawakan kura kura tidak berekor.

yang dalam pepatah bahasa inggris sebutkan
"The pot calling the kettle black"

yang mana pepatah barat lainnya menuliskan
"Do not judge others because they sin differently than you"
Janganlah kau menghakimi orang lain
hanya karena orang lain
melakukan kesalahan yang berbeda,
namun kau sendiri banyak juga berbuat salah

Perlu diingat bagi seorang Buddhist, didalam memandang kaum suka sesama jenis, kita harus memegang prinsip pengertian yang demikian:
Selama manusia [baik wanita atau pria, hetero ataupun homo] jika mengumbar napsu birahi dengan tidur bersama dengan orang lain selain daripada pasangannya, itu semua sederajat bejatnya! atau yang sengaja menggoda yang lain, baik kaum hetero ataupun homo, sama salahnya. Tiada pembenaran didalam Dhamma bagi yang mengumbar nafsu keinginan, apalagi nafsu birahi. Kita harus netral dan arif sesuai Dhamma didalam memandang atau menghadapi kejadian kejadian dalam hidup kita. Selama saya dan dia bersama dimasyarakat masing masing memiliki etika berkomunikasi yang baik dan tahu norma kesantunan serta bersifat adil 【有正義 memiliki keadilan dan luhur】 maka dengan siapapun orang itu atau dia, boleh saja bermasyarakat.

Kita juga jangan menjadi benci atau muncul pemikiran yang tidak luhur dalam batin kita terhadap mereka. saring dan ambil selalu yang membuat pikiran kita terarah menuju pemikiran luhur dan baik.

Karena dari pembicaraan yang tidak luhur dan berat sebelah, tak sedikit membuat kehidupan kaum homoseksual lebih terpuruk dan terisolasi lagi! Bukan menyelesaikan masalah [solve psychological problems], tapi malah membuat parah permasalahan, banyak yang makin terpuruk jiwanya karena pernyataan pernyataan sesat para penceramah ditempat ibadah yang provokasi umatnya, para homoseksual dibuat semakin terpojok dan tersiksa karena para penceramah.

Menyedihkan hal ini. Sampai sampai ada yang mengatakan harus menghindari keinginan alamiahnya? dia TIDAK MENGERTI APA ITU ARTINYA KEINGINAN DENGAN KEALAMIAN SEKSUALITAS SESEORANG, kita ambil perumpamaan balik, seorang heterosexual disuruh rubah jadi homosexual, misalanya seorang wanita hetero disuruh "berhubungan" dengan wanita homoseksual! hal ini jelas sebuah pemaksaan atau pelecehan batin, karena sifat alaminya berbeda! Penceramah bodoh atau tidak bijaksana seperti itu mesti perlu lebih banyak lagi belajar dan meneliti mengenai kemanusiaan dan psikologis manusia atau makluk hidup. Maka itu orang yang pernah hidup dan mengerti pelajaran mengenai kemanusiaan dinegara beradab dan maju tidak akan berpikir dangkal [picik] seperti itu. Kecuali mereka yang telah tersesat oleh ajaran mistis penyembah dewa atau tuhan dari negri Timur dekat.

Seperti yang terjadi di Afrika sana. warga mereka termakan black campaign oleh pendeta amerika dan akhirnya pembunuhan warga secara semena mena terjadi terhadap kaum homo [yang sama sekali tidak melakukan kriminal terorisme, pencurian, pemerkosaan, PENYELUNDUPAN NARKOBA seperti yang umum terjadi di negara negara afrika ke negara lain, dan kriminal lainnya]. Warga menyerang, memukuli, menimpuki batu [seperti yang ditulis dikitab mitos penyembah dewa dari ajaran atau paham negri Timur Dekat mereka] kepada kaum homo di negara Afrika tersebut. Sebuah pemandangan yang mengenaskan karena termakan ajaran mitos yang sesat yang di black campaignkan oleh para pendeta penganut ajaran sesat, para penyembah dewa dari negri timur dekat. Dan janganlah umat Buddha pernah lupa, ajaran ajran seperti demikianlah yang menyulut peperangan yang tak berkesudahan sampai sekarang dengan keyakinannya pada ajaran mitos yang berkepihakkan serta berat sebelah itu.

Sesungguhnya aktivitas seks cuma bagian kecil dalam hidup manusia yang biasanya HANYA akan menjadi sekedar rutinitas didalam memenuhi tanggung jawab didalam pernikahan, dan kita tidak ada urusan dengan "urusan ranjang" orang lain. Segala sifat sifat picik dan culas, merendahkan martabat orang lain, penindasan dan ketidakadilan tidak akan pernah mendapatkan pembenaran didalam Dhamma dan pelajaran punabhava-kammaphala. Malah sebaliknya orang yang belajar Dhamma seyogyanya akan membuat anda memiliki pengertian yang lebih dalam, sehingga muncul welas kasih dan kebijaksanaan. JADI UNTUK KASUS HOMOSEXUAL KITA HARUS BERSIKAP NETRAL dan tidak berpihak.

Seseorang yang walaupun hetero, namun angkuh perangainya, suka membangga banggakan kelebihannya [sok pamer, baik secara halus ataupun secara terang terangan], merasa lebih hebat, gemar berjudi, pengunjung setia tempat pelesiran, kikir, kasar perangai atau ucapannya, tidak hormat kepada orang tuanya sendiri, yang egois, yang walaupun sering ke tempat ibadah, namun pikirannya egois, culas atau licik. Orang orang ini tidak berharga untuk menjadi teman apalagi menjadi bagian dari hidup kita.

"Terdapat beberapa pasangan yang kurang beruntung, namun kita boleh saja mengambil makna dari kisah ini"

Mungkin kisah pengalaman ini bisa kita ambil hikmahnya sebagai sebuah kenyataan dalam masyarakat kita pun masih ada bebarapa pasangan yang kurang beruntung hidupnya namun mereka hidup didalam kesetiaan yang tidak luntur sampai akhir hayat salah satu pasangannya. [kita perumpamakan nama sang istri adalah liana; suami bernama Andri]

Seperti yang kita tahu bahwa disekitar 40 tahun yang lalu atau ditahun 1960 an sebenarnya banyak dari masyarakat kita yang tidak bisa melanjutkan sekolah sampai lulus sma, terdapat beragam masalahnya masing masing. salah satunya adalah tokoh yang akan kita bicarakan disini, ia sd pun tidak lulus, jadi tidak memiliki banyak keahlian, namun orang yang mau bekerja. Dan pada jaman itu pula, banyak dari rakyat kita yang masih kurang mengerti apa itu penyakit penyakit seperti lupus, diabetes, kanker, dan penyakit penyakit lainnya. Masyarakat kita buta pengetahuan mengenai hal tersebut sama sekali, apalagi yang hidup didaerah pedesaan atau dusun. mereka tidak tahu apa itu diabetes? mereka tidak mengerti mengapa bisa muncul hipertensi? dan hal lain sebagainya, mungkin dijaman ini pun beberapa orang masih belum mengerti apa itu diabetes? apa itu lupus?

setelah meranjak usia dewasa ia menikah dengan seorang wanita dari keluarga baik baik, seorang wanita yang sederhana dan setia terhadap suami. mereka hidup dengan sederhana, rumah apa adanya, walaupun suami bekerja yang tidak menentu [freelencer] namun sang istri juga ga banyak nuntut dan mereka hidup bahagia walau tidak memiliki harta, bahkan adakalanya makanpun tidak semudah kita dijaman sekarang ini, apalagi jika misalnya untuk belanja ke supermarket atau berobat kedokter.

Dari pernikahan mereka, lahirlah seorang anak, mereka hidup bahagia walau sederhana. suatu hari sang istri sakit diabetes, ini mungkin karena kurangnya gerak [kurang olah raga] dan mungkin juga terdapat sejarah penyakit diabetes dalam keturunan sang istri sehingga akhirnya ia terkena diabetes. Tadinya sang istri memang bertubuh gemuk, namun lambat laun penyakit sang istri semakin parah, membuat tubuhnya semakin kurus dan seperti mengecil keliatannya dibandingkan sebelumnya.

Sang suami pun tidak memiliki tabungan mengingat mereka bukan tinggal dikota besar seperti jakarta, namun di daerah lain yangmana lapangan kerja sangat minim saat itu, sehingga jika ada kerjaan, gaji cukup untuk makan saja selama beberapa waktu. Sang istri mengerti kondisi suami se-apa adanya, ia tahu kemampuan suaminya sedemikian, walaupun ia menderita sakit, namun ia tidak menuntut suaminya agar harus sering membawanya kedokter. Sang suami tatkala mendapatkan penghasilan lebih, dengan segera langsung membawa sang istri kedokter. suami sangat perhatian terhadap istri dan anaknya, walaupun ia adalah seorang yang tidak berpendidikan tinggi seperti kita dijaman sekarang yang tak sedikit telah memiliki ijasah s1, banyak pengetahuan dan keahlian untuk mendapatkan penghasilan yang layak, namun si suami ini berusaha penuh untuk bekerja. Tetapi sayang didaerah pedalaman, pekerjaan itu musiman atau cuma sesekali saja. sampai pernah sekali terjadi, saat mereka tidak ada uang untuk makan, sang suami terpaksa mengambil uang warung demi makan.

Pada saat ini, sang istri setelah sakit bertahun tahun, tubuh sang istri telah menjadi lebih melemah,
Sang suami dengan membawa perasaan sedih akhirnya pergi minta bantuan sama temannya, memelas minta pertolongan - bantuan dana untuk berobat karena sang istri semakin tidak baik fisiknya. Akhirnya temannya setuju untuk membantu support dana. Ia dengan gembira pulang kerumah dengan membawa uang yang cukup untuk berobat ke dokter, sang suami dengan hati hati dan rasa kasih sayangnya ia menggendong tubuh istrinya yang telah mengecil tersebut, dari desa naik kereta menuju ke kota, untuk berobat.

Sesampainya di rumah sakit, dokter cuma memberikan obat. mereka pulang kembali kedesa.
si suami seperti biasa mengurus sang istri dan anak dengan penuh kasih sayang, demikian pula sang istri tidak menuntut serta mengertikan keadaan sang suami. suatu hari teman sang suami bersedia untuk memberikan pinjaman karena saat itu mereka sekeluarga kekurangan. dipagi itu sang suami bilang kepada istri
"hari ini saya ingin pergi kekota, saya akan bisa dapet uang, nanti kita bisa ke dokter"
sang istri juga bahagia mendengar hal itu. dalam kondisinya yang saat itu tergeletak diranjang.
sang istri mengijinkan sang suami berangkat. setelah mendapatkan restu dari sang istri, sang suami segera rapih rapih dan berangkat menuju ke kota.

Ia ke tempat temannya dan temannya memberikan pinjaman uang yang cukup untuk berobat, dan ia pulang kembali kedesa, namun setelah sampai dirumah, terdapat kerumunan yang berkerumunan di rumahnya. Ia gelisah sekali melihat pemandangan ini, hatinya berdebar, ada apa ini? ia segera masuk kerumah, ternyata istrinya telah meninggal. Is terpukul sekali, ia memeluki istrinya sambil merintih sedih memanggil manggil istrinya untuk bangun. "Lia, bangun lia! Bangun! jangan tinggalkan saya"
Peristiwa ini membuatnya terpukul atas kepergian sang istri tercinta.

Didalam doanya setelah kepergian istrinya tersebut, ia berlutut dan dengan sedih nya ia berdoa
"Lia, kalau saya dalam hidup ada salah sama kamu, mohon ampunin saya Lia,
kalau saya tidak bisa membahagiakanmu, mohon ampunin saya"
kesedihannya ini berlangsung selama setahun setelah kepergian sang istri.
Sang ibu mertua memahami kondisi pemasukan menantu lelaki, ia suatu hari bercakap cakap
agar mengijinkan sang anak agar diasuh olehnya, didaerah ibu mertuanya dikota lain,
saudara kandung dari liana bisa saling bantu untuk membiayai sekolah dan hidup sang anak.
akhirnya sang menantu [Andri] mengiyakan permintaan ibu mertua.

Melalui kisah nyata dari pengalaman pribadi kenalan dari kerabat kami ini,
kita melihat bahwa sesungguhnya kebahagiaan tidak bisa dibeli oleh uang,
dan ternyata rasa sayang tidak luntur walau tidak memiliki kelebihan sama sekali.
tatkala kita berkelimpahan materi berlebih, kita bisa lupa diri,
dan bahkan bisa terjerumus didalam kejalan yang tidak baik.

Dijaman sekarang ini karena banyak permintaan atau keinginan yang muncul dalam diri kita,
maka materi menjadi utama diatas segalanya.
Ilmu pengetahuan dan keahlian adalah sarana yang membantu kita didalam menjalani kehidupan ini.
Namun kebijaksanaan, yang berisikan ketulusan dan mengerti apa makna dari sebuah pengorbanan,
membuat hati manusia sejuk dan bahagia.

sementara dijaman sekarang masih juga ada
tatkala telah berusia 50 tahunan
suami yang istrinya telah berpenyakitan sampai lumpuh atau stroke,
mengirimkan istrinya kepanti jompo.
Sungguh mengenaskan.

Semoga dari Share pengalaman ini bisa menjadikan kita sebagai refleksi
agar menjadi orang yang lebih baik lagi,
agar menjadi manusia yang sanggup meninggalkan segala kepicikan, keculasan, keangkuhan dan keegoismeannya.
dan agar memahami bahwa indahnya pengorbanan dan kasih sayang yang tulus,
melebih kebahagiaan kepemilikan materi apapun yang ada didunia ini.

“Menjalankan Keagamaan”
Menjalankan keagamaan bukan hanya sekedar membacakan paritta. Recite sutta memang baik namun implementasi kasih sayang dahulu lah yang lebih penting, janganlah bagi yang suka meditasi, cia chai [吃素 - vege] dan baca paritta, namun setelah selesai upacara, terhadap keluarga kurang concern, diluaran ngeggarong, suka gossip dan penggunjing, suka menghakimi orang lain, memandang sebelah mata terhadap orang atau kalangan tertentu, menjilat kepada kelompok yang kuat, picik, dsb. Ini pemandangan yang sering kita lihat dimasyarakat umum.

Ingat bahwa keselamatan lahir mati bukanlah datang dari persembahyangan pun bukan dari patung, maka itu tidak berharganya keindahan sebuah patung atau bentuk dan paras berbanding dengan kemuliaan hati dan sebuah pelayanan [rendah hati, rasa persahabatan, kasih sayang, kejujuran dan ketulusan],

Buddha bersabda:
“Wahai para bhikkhu, apa pun dasar* dari suatu perbuatan baik yang dilakukan, yang berbuah di kelahiran mendatang [memberikan buah yang positif dan diinginkan], tiada satupun yang dapat menyamai seperenambelas bagiannya pun dari penyebaran pikiran yang penuh rasa persahabatan [metta= friendliness**]. Penyebaran pikiran yang penuh dengan rasa persahabatan ini melampaui semuanya itu, dan bersinar terang, mencerahkan serta gemilang.

“Sama seperti cemerlangnya semua bintang tidak dapat menyamai satu perenam belas bagian pun dari sinar rembulan, karena cahaya rembulan melampaui bintang-bintang itu dan bersinar, terang serta gemilang; ...”
[Suttapitaka - Khuddakanikāya - Itivuttaka]

* Kitab menjelaskan arti kata dasar dari perbuatan baik: dana, sila, samadhi.
** Rhys Davids & Stede (1921-25), Monier Williamsentry for "Maitrī,", Kamalashila (1996), Ñanamoli Thera
[Kurang tepat untuk mengartikan metta dengan menggunakan kata love, namun kata Metta lebih kearah amiable, friendliness, hospitable].

Beberapa orang paras yang nampak indah namun hatinya terkadang tidak seindah pembungkus luarnya. Kita sebagai umat awam, cobalah dimulai dari bukan hanya mengerti secara harafiah dan teori saja namun implementasi dari kesederhanaan, kejujuran dan ketulusan [tidak dibuat buat, namun apa adanya], rendah hati dan kasih sayang itu sendiri. umat Buddha seyogyanya memahami kasih sayang melalui pengungkapan rasa welas kasih / kasih sayang [saṅgahavatthūni] serta pengorbanan. Bekerja dengan jujur, janganlah mengurangi hak hak orang lain, termasuk boss anda sendiri. Apapun kesempatan yang ada didalam melakukan penyelewengan ataupun yang setidakbagaimana mestinya sesuai dengan harga atau uang yang seharusnya digunakan, janganlah menilep atau mengambil yang tidak sesuai dengan bukti atau kenyataannya. Karena mengambil sesuatu yang bukan hak kita, itu sama saja dengan mencuri [mengambil barang yang bukan miliknya]. Dari ini, kita akan melihat kualitas keteguhan batin orang sampai dimana? Apakah ia memang pada dasarnya seorang yang korup? atau menyalah gunakan posisinya didalam kecurangan? Sampai mana ia bisa bertahan dengan ejekan teman temannya yang korup? Atau karena memang ia tulus dan bijaksana? orang yang parasnya Indah dipandang, dengan ditambah kualitas batin yang ramah, sabar, bijaksana dan jujur, yang tidak suka mengurang ngurangi hak orang lain ataupun mencuri hak orang lain, berarti orang itu indah luar dalam. Orang orang akan suka bergaul serta menghormatinya, bukan karena parasnya, namun karena keluhuran batin nya.

“कतमञ्च , भिक्खवे, सङ्गाहबलं?
चत्तारिमानि, भिक्खवे, सङ्गहवत्थूनि –
दानं, पेय्यवज्जं, अत्थचरिया, समानत्तता।”

“Katamañca , bhikkhave, saṅgāhabalaṃ?
Cattārimāni, bhikkhave, saṅgahavatthūni –
dānaṃ, peyyavajjaṃ, atthacariyā, samānattatā.”


Dan apakah, para bhikkhu, kekuatan kebaikan hati?
terdapat empat hal dari pada mengekspresikan welas kasih:
dengan pemberian, berbagi [ dānaṃ ]
dengan ucapan yang enak didengar, tulus apa adanya dan bersahabat [ peyyavajjaṃ ]
dengan perbuatan yang bermanfaat, yang sesuai dan positif bagi yang lain [ atthacariyā ]
dengan menjunjung kesetaraan, gotong royong, tepa seliro, turut berpartisipasi didalam kegiatan positif [ samānattatā ]

Berpuasa merupakan salah satu hal yang cukup penting bagi seorang agamawan. Karena didalam berpuasa kita bisa belajar banyak hal dan mendapatkan manfaat baik secara fisik maupun mental spiritual, Buddha menganjurkan kepada para bhikkhu agar makan sekali sehari, Beliau berkata karena hal ini baik buat kesehatan fisik, dan juga mendukung ke sang jalan.
[menurut apa yang kitab Tipitaka catat, Guru Agung beserta para bhikkhu hanyalah makan pada jam 7 pagi saja, dan Bhagava beserta sangha selalu hanya menggunakan kedua kakinya berjalan dari satu kota ke kota lainnya, tidak pernah mengendarai kuda atau kendaraan sendiri, atau memakai tasbih apapun ditubuhnya, beliau tidak menggunakan hal hal selain kebutuhan utama, maka itu orang yang telah meninggalkan rumah tangga menuju ke kehidupan suci tidak lagi berurusan dengan materi-harta, apalagi mengurus harta.]

Seseorang yang berlatih menapaki kehidupan keagamaan, selalu pantang terhadap kepalsuan dan culas, ia belajar untuk menjadi manusia yang lebih rendah hati dan penyabar, ramah - siap membantu bagi yang tertimpa bencana dan kemalangan, pikiran yang diliputi rasa persahabatan yang murni [Mettā], meninggalkan segala kepalsuan, ingkar dan dusta. Seperti apa yang Buddha katakan kepada makluk ganas Yakkha Alavaka:
"...Tanyakanlah kepada para pertapa dan brahmana yang lain, apakah ada yang lebih hebat dari pada kejujuran, pengendalian diri, kedermawanan dan kesabaran"

Penyelarasan pikiran itu penting, pelaksanaan Vipassanā【विपश्यना】 sangat memberikan manfaat yang baik buat perkembangan batin kita, memberikan kejernihan pikiran. hal ini membawa kemajuan mental dan fisik, banyak hal menarik yang dipelajari saat berlatih meditasi ini, mulai dari kesabaran, pengendalian diri, dsb, hanya pelaksana yang dapat mencapai atau merasakannya.

Setelah para Upāsaka atau Upāsikā mengarahkan batinnya ke arah yang baik, menyelaraskan pikirannya, mereka adalah orang yang siap menjaga [melindungi] serta mengasuh dengan baik kedua orang tua nya, [1] Kemudian menjunjung guru pembimbing yang tepat, bukan ia yang sekedar guru, namun yang membawanya kepada Pengertian terhadap keluhuran dalam hidup. dan menjadikannya orang yang lebih berpengertian, pemaaf, membimbingnya menjadi orang yang berlapang dada didalam menghadapi berbagai macam kepelikan masalah maupun beragam jenis manusia dengan segala kekurangannya.

Yang membuat kita menjadi orang yang berbudi luhur, menjadi umat yang memiliki kebajikan [pengertian - akhlak luhur], menjadi orang yang berpuas hati atau merasa cukup[bahasa umum: bersyukur dengan apa yang diterima], ia yang pantang untuk memegahkan diri [terhadap kelebihan dan kebajikannya] yang kemudian menyelaraskan pikiran yang sesuai dengan Dhamma:

Mari kita renungkan dan menelaah apa yang Bhagava katakan sebagai berikut:
“para bhikkhu, Tetapi mengapa dikatakan: ‘Dhamma ini adalah untuk orang yang sedikit keinginannya, bukan untuk yang banyak keinginannya?’ Di sini, para bhikkhu, meskipun seorang bhikkhu memiliki hanya sedikit keinginan, dia tidak ingin diketahui sebagai orang yang sedikit keinginannya. Meskipun berpuas hati, namun ia tidak ingin diketahui sebagai orang yang merasa puas hati. Meskipun hidup menyendiri, dia tidak ingin diketahui sebagai orang yang hidup menyendiri. Meskipun bersemangat, dia tidak ingin diketahui sebagai orang yang bersemangat. Meskipun waspada, dia tidak ingin diketahui sebagai orang yang waspada. Meskipun pikirannya terkonsentrasi, dia tidak ingin diketahui sebagai orang yang pikirannya terkonsentrasi. Meskipun bijaksana, dia tidak ingin diketahui sebagai orang yang bijaksana. Meskipun berbahagia dan bersukacita di dalam Yang Bukan Duniawi, dia tidak ingin diketahui sebagai orang yang berbahagia dan bersukacita di dalam Yang Bukan Duniawi. Ketika dikatakan, ‘Dhamma ini adalah untuk orang yang sedikit keinginannya, bukan untuk yang banyak keinginannya,’ demikianlah karena alasan ini maka hal tersebut diungkapkan.”

“Bertemu dengan seorang guru yang bijaksana adalah suatu berkah”
Kualitas batin seorang “Ācariya”atau "Guru" tidak hanya dilihat dari penampilan atau pakaian yang dikenenakannya, anda harus mengenali seorang pembimbing spiritual sejati [Sanskrit: ācārya; Thai: Ajahn] tidak hanya dari lama nya ia menjadi guru, atau karena memiliki kekuatan gaib dan mampu memamerkan atau menunjukkan kelebihannya itu sehingga membuat anda kagum.

Orang orang yang, "baik secara langsung ataupun tidak langsung", berkali kali menunjukkan atau mengisyaratkan, untuk menonjolkan diri, seolah olah mengekspresikan "kamu tahu siapakah AKU?", "tahukah kau kehebatan dan kemampuan KU?", "Coba lihatlah kelebihan yang KU miliki?", "Aku punya kekuatan batin jauh diluar yang kau miliki!" yang membimbing atau mendidik dengan cara memojokkan si murid dengan sindiran yang mengandung kata kata yang menghina, ataupun secara langsung membeberkan segala kekurangan dan kesalahan dihadapan murid murid sejawatnya sehingga membuat yang berkekurangan tersebut semakin tersudutkan atau merasa berkecil hati dan semakin lari dari penyelesaian masalah.

Guru guru yang seperti itu ibarat sedang berjudi, ia berpikir "ya wes kalau gak suka dengan ucapan sindiran saya yah pergi saja"; orang orang tinggi hati yang menganggap dirinya sebagai guru yang telah mengerti hukum karma namun tak jarang menghina orang lain dengan kata katanya seperti “dokter b_go” dsb. Padahal Buddha mengajarkan kita untuk tidak berbuat demikian.

Ada juga jenis manusia yang lain, ia yang hasratnya membara didalam pengisyaratannya jika berdiskusi mengenai materi atau uang, culas, ingkar dengan sumpah kespiritualan-nya; ada juga yang jadi guru spiritualis namun ucapannya masih suka menghakimi-mengejek dan membeberkan keburukan orang lain dihadapan umat umat yang lain dibelakang, yang suka menyulut sakit hati seseorang, yang didalam Gompa [དགོན་པ། - tempat ibadah mereka] memakai jubah tapi pada saat kepasar pake kaos yang umat awam pakai, dsb.

Inilah guru guru yang ingin memperoleh nama baik dan keuntungan [materi, kekayaan, pengikut] dari orang orang awam yang berpengaruh dikalangan masyarakat tertentu. Sesungguhnya belum tentu benar benar bijaksana walaupun ia memiliki kekuatan gaib, malah tak jarang yang bisa membuat orang dibuat sedih olehnya yang membeberkan keburukan umat dibelakang dihadapan teman teman sejawat. Guru seperti itu tak jarang ingkar dengan janji yang pernah dibuatnya dahulu ketika menjadi seorang spiritualis.
[silakan baca kembali renungan diatas: "para bhikkhu, Tetapi mengapa dikatakan: ‘Dhamma ini adalah untuk orang yang sedikit keinginannya, bukan untuk yang..."] guru guru seperti itu bukan mengurai apa yang kusut, namun semakin mengeruhkan hati siswa yang membutuhkan batuan pertolongan dan bimbingan. bukan menolong malah membuat umat semakin terperosok batinnya, hilang rasa hormat kepadanya. Mengapa? Kita harus memaklumi dengan masih adanya keterbatasan yang dimilikinya sehingga ia pun tidak mengetahui bagaimana membimbing dengan benar atau bahkan bisa berkesalahan kepada umat.

Kita sebagai umat harus lebih berlapang dada, kita mengalah dengan orang orang tersebut, mundur dan terus yakin bahwa kita suatu hari akan menemukan guru guru yang benar benar bisa membimbing. Tak perlu lah kita untuk marah kepada orang itu, kita harus pahami bahwa memang masih banyak sesungguhnya orang yang mencoba menjadi guru tapi sesungguhnya belum pantes menjadi guru.

Kita harus berhati hati didalam memilih guru yang tepat, pertama harus mengertikan sisi psikologis diri sendiri, kemudian temukan guru yang cocok untuk membimbing kita, karena tidak semua guru relijius atau spiritualis bisa menjadi guru pembimbing kita, sama seperti tidak semua orang dilingkungan kerja kita bisa menyukai kita.


Dan seharusnya bagi orang yang memang belum siap untuk menjadi guru spiritualis atau tidak memiliki kualitas sebagai seorang pembimbing spiritual relijius, janganlah dipaksakan untuk menjadi pembimbing jika memang belum saatnya, karena kualitas seseorang tidak bisa dipaksakan untuk menjadi apa yang bukan dirinya.

kualitas batin seseorang berkembang seiring dengan kekuatan tekad anda dan niat bersih, bukan dari seberapa pandainya bicara, penghafalan kitab atau pameran kekuatan gaib yang dimilikinya.

Ini sebuah introspeksi buat kita semua juga, bukan untuk berpikir negatif, tapi untuk kita telaah masing masing didalam diri kita, agar ajaran Dhamma yang suci ini dibawakan pula oleh orang yang pantas dan bersih, seorang yang jujur tanpa keculasan, yang penyabar, yang siap menolong dan tangannya terbuka bagi yang tertimpa kemalangan, duka nestapa atau bencana, yang ucapannya bukan menyudutkan atau mengecilkan hati seorang siswa yang membutuhkan pertolongan namun memberikan nasihat yang memberikan inspirasi perkembangan batin bagi seorang siswa yang memerlukan pertolongan.

Karena dari segala kehormatan atau kemuliaan dari seorang guru bukanlah datang dari paras, pakaian atau kekuatan ghaibnya yang bisa mencerahkan kemumetan batin umat, namun dari apa yang diucapkan dan diperbuatnya.

Buddha pernah menyindir para pertapa palsu yang menyaruh menjadi guru spiritualis dengan bersabda:
"Wahai orang bodoh, apa gunanya engkau menjalin rambutmu
serta mengenakan pakaian kulit menjangan?
Engkau hanya membersihkan bagian luarmu,
tetapi hatimu masih penuh dengan kekotoran."
Jalan Dhamma, bab 26 ayat 394.

Kita sudah seharusnya tidak dibodohi ataupun memberhalakan orang bak mengidolakan penyanyi atau artis kesayangan kita, hal itu tidak bijak alias berat sebelah
[kita akan menjadi tidak jelas dan bela mati matian walau dia berlaku salah atau ada ucapannya yang menyakitkan orang lain sekalipun, nanti jadi seperti politisi yang nepotisme dah sistemnya].

karena kalau kita tidak pandai [bijaksana] atau dengan kata lain: "kalau kita sendiri bodoh atau blind faith, maka kita tidak bisa berpikir secara rasional dan menempatkan segala sesuatu sebagaimana mestinya".

Maka kelak, cepat atau lambat, jangan salahkan yang lain jika kita sendiri yang akan menemukan kekecewaan dan keputusasaan yang dasyat, bahkan tak sedikit yang menjadi muak melihat segala hal hal yang berhubungan dengan hal ini, atau malah menjadi sama kualitas bodohnya dengan orang yang menganggap dirinya sebagai “Guru” tersebut.

Mengapa demikian?
karena kebodohan kita sendiri yang mengagung agungkan apa yang sebenarnya tidak luhur, meninggikan apa yang rendah. Bukan untuk berpikir negatif, namun kita harus waspada terhadap segala keputusan atau pilihan yang kita ambil.

Maka itu Buddha pada saat itu MENEGASKAN sekali lagi kepada brahmana Vaccha yang merasa aneh dan salah mengerti, mengira kalau Buddha mengajarkan kepada orang awam bahwa para bhikkhulah yang paling layak menerima dana. Demikianlah apa yang diungkapkan oleh Beliau kepada Vaccha:

"hanya kepada bhikkhu yang luhur [ariya] lah sebuah dāna [persembahan - sedekah / almsgiving] layak dan pantas diberikan" [bukan yang sebaliknya] [Silakan baca penjelasan lengkapnya di Vacchagotta Sutta वच्छगोत्तसुत्तं ]

karena pada waktu itu awam yang tidak mengerti Dhamma salah kaprah, menganggap bahwa SEMUA bhikkhu telah meninggalkan kehidupan berrumah tangga dan berasumsi bahwa PASTI-lah mereka semuanya tanpa kecuali bersemangat dalam kehidupan suci, kalau begitu mereka lah suci, jadi hanya kepada bhikkhu saja kita menawarkan persembahan makanan dsb.

Namun seperti yang kita telah ketahui pada kenyataannya didalam Tipitaka-pun dijelaskan bahwa sebagian kelompok bhikkhu tertentu, kilesanya masih banyak, sehingga sulit bagi mereka untuk menembus pengertian Dhamma, karena ia degil [bodoh karena keras kepala], batinnya masih penuh dengan penolakan terhadap nasihat baik, membangkang dari Ajaran baik, terbuai didalam rasa kantuk, memiliki banyak keraguan dan diluar Dhamma, karena masih diliputi oleh kilesa kilesa. Dan Devadatta pun adalah orang yang memiliki kekuatan sakti atau gaib namun ia juga tidak terpuji.

Walaupun memang benar ada guru guru tertentu yang
demikian tidak pantas, AKAN TETAPI janganlah kita juga lupa, bahwa bahkan dijaman sekarang ini, terdapat para bhikkhu yang memang bijaksana dan telah mencapai tahap pencerahan batin tertentu atau belajar menapaki jalan kesucian itu sendiri, yang hatinya bersih dan tulus menjalankan keagamaan dan didalam mengemban tugasnya sebagai guru yang batinnya bersih, tergugah melihat bencana atau kemalangan yang menimpa orang lain serta bertindak untuk melakukan sesuatu untuk membantu mereka, yang ucapannya dijaga agar tidak menyakiti yang lain.

Mereka itu yang dipuji oleh Bhagava, bukan karena keturunannya apa? atau karena bahasa yang digunakannya apa? Atau karena kekuatan gaibnya sehebat apa? dll,

Niat [isi hati], ucapan dan tindakannya lah yang menentukan apakah ia seorang siswa Buddha yang sesungguhnya.

Namun diharapkan agar kita juga tidak usah menjudge mereka, karena hanya yang sekaum mereka atau yang lebih bijaksana dari mereka yang mengetahui bagaimana seseorang itu. Kebanyakan dari kita belum mencapai apa apa, masih umat biasa, jadi jangan menjudge orang lain dengan menunjuk si a atau si b demikian demikian, mending berintrospeksi diri jauh lebih baik.

Dijaman Sang Buddha, kala itu, Buddha tidak mengagungkan para bhikkhu secara keseluruhan, namun hanya menjunjung mereka yang telah belajar dengan giat [1], mengerti [2], mengimplementasikannya[3] serta mencapai hasil[4], bukan sebaliknya.

"Kebenaran, Dhamma, Penaklukkan batin yang kotor, kehidupan suci,
pencapaian Brahma yang berdasarkan jalan tengah:
Berilah hormat, O Brahmana, kepada mereka yang lurus;
Aku menyebut orang itu adalah seseorang yang terdorong oleh Dhamma."
Samyutta Nikaya 7.9, Sundarika Sutta.

“Wahai para bhikkhu, siapa pun bhikkhu yang penuh tipu muslihat
[culas / licik /melakukan ketidakjujuran atau kebohongan yang tersamar],
mengumbar dan memegahkan dirinya, bicara besar tanpa implementasi,
angkuh, dan batinnya terbuai [oleh napsu keinginannya],
mereka ini bukanlah pengikutku.
Mereka ini telah menyimpang dari Sang Jalan,
serta tidak akan memperoleh pertumbuhan, kemajuan atau hasil akhir.”
Kuha Sutta

Beliau beserta para Buddha secara keseluruhan
tidak pernah menjunjung tinggi siswa
yang batinnya terbuai dan takluk oleh napsu keinginan.

Orang yang wataknya cenderung penuh napsu
[egois: banyak inginnya, ingin didahulukan atau diutamakan.]
akan [senang] menghina orang lain melalui kata-katanya.
Dia tidak memiliki keyakinan didalam Dhamma;
batinya yang kurang lapang dan picik,
penuh kedengkian, suka berbicarakan keburukan orang lain dibelakang
dia tamak, kikir, dan suka memfitnah.

Note:
pesuṇiyaṃ - pesuṇeyya - pesuñña =
backbiting = malicious talk about someone who is not present in order to damage other reputation. [like to gossip or not nice talking about other people's behaviour or private life]
kata kata dengki tentang seseorang saat ia tidak berada disini untuk menghancurkan reputasinya. [suka sekali bergosip atau pembicaraan yang tidak baik mengenai kelakuan orang lain ataupun kehidupan pribadi]

Dan didalam dunia pertapaan, khususnya secara Buddhis, tidaklah diijinkan menginginkan emas dan perak sebagai pertukaran mata uang, [yang sekarang disebut duit atau uang], Beliau berkata [didalam kitab Rūpiyā dipaṭiggahaṇavinicchayakathā]:
भिक्खवे, ‘केनचि परियायेन जातरूपरजतं सादितब्बं परियेसितब्ब’न्ति वदामी’’ति
Bhikkhave, ‘kenaci pariyāyena jātarūparajataṃ sāditabbaṃ pariyesitabba’nti vadāmī’’ti

"Bhikkhu, dengan cara apapun juga, saya tidak menyatakan bahwa 'Emas & perak dapat diijinkan
[untuk kepuasan dari keinginan duniawi atau
untuk dinikmati layaknya awam menggunakan uang
demi kemakmuran diri sendiri, keluarga atau kerabat],
dapat diminta/didapat [dari persembahan umat]'"


Tipitaka Source 【經源】:
टीका - विनयपिटक (टीका) - विनयसङ्गह-अट्ठकथा - रूपियादिपटिग्गहणविनिच्छयकथा
Tīkā - Vinayapiṭaka (ṭīkā) - Vinayasaṅgaha-aṭṭhakathā - Rūpiyādipaṭiggahaṇavinicchayakathā


Note [word bank]
  1. Rūpiyā = silver coin; money, rupiya [uang perak, uang] 銀錢; 銀幣 【古代說法,指的是金錢】
  2. di - dvi = pair [measure word for coin] - [se- = satuan kata untuk uang] 【量詞: 雙】
  3. paṭiggahaṇa = to take, to accept ; acceptance [penerimaan, menerima, mengambil] 【接收; 拿取】
  4. vinicchaya = thought or discrimination [we sometimes use "judge" to describe this meaning]
    bentuk bentuk pemikiran / keinginan 【想象;想法;心想】
  5. kathā = speech, saying; story [kata kata, sabda; kisah] 【宣說;訴說;故事】
  6. jātarūpa = gold
  7. rajataṃ = silver [perak]
  8. jātarūparajataṃ =
    mata uang yang digunakan pada jaman dahulu, yang dikatakan uang ini adalah kemewahan seorang bangsawan atau raja,
    sekarang cukup disebut uang, bukan emas atau perak.
  9. sāditabbaṃ = accept and enjoy; aggreed [diterima dan dinikmati, dijinkan]
  10. pariyesita = seek / got [didapat atau diminta]

Para pemimpin Sangha di dunia telah mengatur dan memiliki kebijakan mengenai hal ini, para bhikkhupun diperbolehkan memegang uang jika ia berpergian sendiri keluar kota dengan batasan tertentu [dibawah satu juta rupiah] demi pembiayaan diri sendiri untuk biaya selama perjalanan [biaya kendaraan], pembabaran wejangan Dhamma. Namun biasanya bhikkhu malah tidak memegang uang sama sekali walau harus berpergian keluar kota, karena ini tugas para upasaka upasika setanah air yang mengatur, sehingga mereka tidak lagi memperdulikan masalah uang. Demikian yang terjadi di Indonesia dan dalam komunitas bhikkhu di barat. Tugas seorang bhikkhu memang menjalankan kehidupan bersih guna mencapai penerangan batin, namun juga sekaligus mereka dianjurkan oleh Guru untuk selalu berbuat baik.

Suatu hari, Sang Buddha menganjurkan para bhikkhu untuk "melakukan kebajikan":
“Wahai para bhikkhu, janganlah takut melakukan perbuatan baik. [karena] perbuatan baik adalah sebuah ungkapan rasa bahagia, hal yang pantas dikerjakan dan diharapkan, berharga, serta menyenangkan."
तिपिटक - सुत्तपिटक - खुद्दकनिकाय - इतिवुत्तक - एककनिपातो - २. मेत्तसुत्तं [२२]
Tipiṭaka - Suttapiṭaka - Khuddakanikāya - Itivuttaka – Ekakanipāto - 2. Mettasuttaṃ [22]


“Apapun yang kita tanam
Demikianlah yang kita tuai.”
Dari ketidak tulusan, ketidak sungguhan, membuahkan hasil kelalaian dan bisa saja melukai yang lain. Kehidupan suci seyogyanya dijalankan sebagaimana mestinya bagi para Acharya.

Semoga para guru spiritual memiliki hati yang bersih
“orang yang rendah hati, bersabar, pemaaf,
kata katanya halus dan enak didengar,
yang bijaksana, serta maju dalam Dhamma,
yang dengan kasih sayangnya bersedia
membantu - membimbing umat yang memerlukan
bimbingan dan pertolongan,
agar beban batin yang membebani dapat dilepaskan
serta menguraikan apa yang kusut
melalui kebijaksanaan dan kasih sayangnya.”

Dan marilah kita para umat agar selalu dan selalu menengok kedalam terlebih dahulu sebelum berucap ataupun bertindak, menelaah serta merenung sudah sampai manakah keluhuran batin ini?
Semoga tercipta kedamaian, keharmonisan diantara sesamanya,
semoga hancurlah segala perselisihan, kebencian dan kedengkian.
Sadhu sadhu sadhu.

"Meskipun seseorang menggumamkan banyak mantra,
dia bukanlah seorang "kaum muliawan" hanya karena kelahiran,
jika batinnya penuh keculasan dan tidak bersih,
yang melakukan segala kecurangan apapun
demi menopang kepentingan hidupnya sendiri"
["Kaum muliawan" = brahmana]
Samyutta Nikaya, Brahmanasamyutta, suddhika.

jika kita masih belum dapat menemukan guru yang bijak, yang bisa dijadikan teladan dan pembimbing, sebaiknya terus belajar dan berjalan sendiri, peganglah Dhamma itu sendiri

Jangan berpegang kepada tradisi, ritual, budaya atau praktek kebiasaan [puja hormat atau meninggikan apa yang rendah; upacara sekedar formalitas tanpa penghayatan mendalam] sesungguhnya jauh dari Dhamma, apalagi harus berpegang / menyandarkan keyakinan kepada guru yang tidak layak.

Seorang yang masuk kejalan Dhamma tidaklah terpaku terhadap segala bentuk upacara, ritual, atau upacara untuk formalitas semata, [agar supaya dilihat relijius contohnya], seperti apa yang diterangkan oleh Buddha sebagai berikut:
“सोतापन्नस्स सक्कायदिट्ठिया विचिकिच्छाय सीलब्बतपरामासा दिट्ठानुसया विचिकिच्छानुसया तदेकट्ठेहि च किलेसेहि चित्तं विवित्तं होति”
"sotāpannassa sakkāyadiṭṭhiyā vicikicchāya sīlabbataparāmāsā diṭṭhānusayā vicikicchānusayā tadekaṭṭhehi ca kilesehi cittaṃ vivittaṃ hoti"

"Seorang pemasuk arus kesucian [sotāpanna] telah bebas dari pandangan salah mengenai adanya diri yang terpisah [Pandangan mengenai kesatuan utuh dari suatu entity], tiada lagi keraguan mengenai keluhuran Buddha beserta Ajarannya yang agung nan mulia, terbebas dari pandangan salah mengenai ritual ataupun upacara, formalitas yang tak bermakna sama sekali. Segala pandangan tidak tepat yang terselubung ini, keraguan, ritual ritual dan kebiasaan adat telah ditinggalkan sepenuhnya [olehnya]"

Note:
Sīlabbata - patibbata:
tunduk didalam ritual semata, tanpa adanya penghayatan, introspeksi atau penelaahan diri.
cuma sampai di patuh terhadap upacara keagamaan,
taat didalam kegiatan adat kebiasaan.
【Bata - Vata = religious duty, rites, custom practice - upacara;ritual;kebiasaan adat istiadat】

含義 [makna]: menjalankan upacara keagamaan, ritual, menjalankan adat dan kebiasaan semata tanpa pernah merenung makna terhadap kehidupan sehingga seringkali saat melakukan ritual cuma sekedar ritual atau kepuasan emosi semata]

Parāmāsa:
'adherence to formality',
attachment to the tradition without knowing the meaning,
'misapprehension - misconception',
according to Vis.M.XXII is a term for wrong views;
in that sense it occurs in Dhs.1174 ff.- See sīlabbata-parāmāsa.
【melakukan sesuatu yang menjadi kebiasaan atau patuh saja terhadap tradisi, suatu tindakan yang tidak bermakna sama sekali】


"Segala formalitas dan pengulangan yang sia sia;
Memahami, Memaklumi dan Memaafkan"

Pelafalan ulang akan wejangan memang dianjurkan oleh Buddha agar supaya siswa siswi dapat mengingat dalam batin. Kata sutta sesungguhnya berarti sabda, wejangan, dialog, percakapan, ceramah atau kotbah. Para bhikkhu dijaman itu mengulang sabda yang disampaikan oleh Raja Sangha, yaitu Buddha sendiri, sehingga para siswa siswi dapat langsung mencerna atau mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari hari. Penghormatan adalah salah satu ungkapan [expresi] kekaguman atau rasa kagum dan tunduk, namun harus diimbangi dengan perilaku yang lurus pula.

Namun kita - umat Buddha, dalam kehidupan sekarang ini tak jarang yang hanya cuma bisa membaca/melafal akan tetapi tanpa memaknai atau mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari hari kita, jadi seperti seolah olah sedang memutar ulang tape kaset, hambar! Terlalu banyak upacara atau ritual.

Ini boleh dikatakan atau disebut formalitas atau upacara yang sia sia, yang tidak mewakili Dhamma, seperti yang Buddha pernah bicarakan hal ini pada saat Beliau dirawat oleh Jivaka - tabib yang merawat luka Beliau. Kisah singkatnya adalah ketika Jivaka selesai memberi obat dan membalut luka, ia pergi kekota lain, dan terlambat pulang [pada jaman itu, pintu kota akan ditutup pada jam tertentu, bahkan Raja sendiri jika lewat dari jam tersebut tidak bisa memasuki kota], Jivaka yang telah melewati waktu tidak bisa memasuki kota dan merawat Buddha. Buddha memberitahukan bahwa Devadatta memiliki niat jahat terhadap Beliau, para bhikkhu yang belum mencapai penerangan batin panik, mereka cemas sekali. [Tahu apa yang mereka lakukan saat itu?] ... kemudian mereka keluar mengelilingi vihara dan melafalkan sutta [KALAU SEKARANG DISEBUT MEMBACA PARITTA]. Buddha memerintahkan mereka untuk balik ketempat masing masing.

Dalam kesempatan lain sabda berikut akan siapakah yang benar benar luhur? memang perlu mendapatkan perhatian kita

[Sang Bhagavā:] “Meskipun seseorang melantunkan banyak mantra,
Seseorang tidak menjadi kaum brahmana [kaum muliawan] melalui kelahiran
Jika seseorang [busuk batinnya] dan tercemar, Menyokong dirinya dengan cara-cara curang.
Apakah khattiya, brāhmaṇa, vessa, sudda, Caṇḍāla atau pengemis,
Jika seseorang bersemangat dan teguh, Kokoh dalam daya-upaya,
Ia mencapai kesucian tertinggi: Ketahuilah, O, Brahmana, demikianlah adanya.”

Benar para siswa siswi Buddha yang telah meninggalkan kehidupan berumah tangga menuju kehidupan suci dan selibat tidak diperkenankan lagi untuk menjalani hidup seperti umat yang masih berkaitan dengan pengurusan harta materi atau uang, berjualan, selain itu segala tindakan seperti meramalkan masa depan melalui garis tangan …..dsb telah ditinggalkan oleh mereka, seperti yang diwejangkan oleh Buddha dan dicatat pada kitab samanaphala sutta. Dan banyak dari mereka yang benar benar dengan kesungguhan dan ketulusan menjalankan hidup pertapaan yang bersih dari noda batin.

Namun jika memang para umat menjumpai kekurangan atau kesalahan yang terjadi pada seorang bhikkhu, janganlah anda mencibir atau mengeluh menyebarkan akusala vacikamma kesegala penjuru atau sebaliknya setuju dengan tindak tanduk mereka. Respond yang berlebihan tidaklah merubah apa apa.

Segala resentment [rasa tidak senang, tidak puas, tidak terima] sesungguhnya hanyalah sebuah kebodohan kita sendiri yang pada akhirnya malah mengotori batin, berlanjut kepada kemunculan napsu keinginan seperti keinginan menguasai atau mengatur apa yang semestinya tidak layak dipikirkan.

Jika memang ingin memberikan masukan, maka sudah selayaknya umat tentu saja bisa berbincang kepada orang yang bersangkutan dengan cara yang baik baik, layaknya seorang murid yang baik, berbicara kepada gurunya. Nda perlu mengikuti rasa benci atau kesal. Lagi pula ada pemimpin yang bisa mengatur mereka, bukan kita.

Kita para umat bisa saja mengetahui kekurangan yang lain, namun saat melihat kekurangan orang lain langsunglah bercermin kedalam diri, seperti yang Filsuf besar dijaman lampau - Y.M. Konfusius katakan:
"Saat melihat orang lain,
yang tindak tanduknya luhur [mulia hatinya],
kita harus segera belajar keluhuran dari orang tersebut agar memiliki tindak tanduk yang mulia seperti orang tersebut.

Saat kita melihat orang lain,
yang tindak tanduknya kotor
[penuh tipu muslihat, pendengki, culas dan licik],
segeralah bercermin kedalam diri sendiri,
apakah saya sama kotornya dengan dia?

[selalu eling terhadap diri sendiri adalah hal yang utama, janganlah mengutamakan diri dalam “menunjukkan jemari ke yang lain”].

Janganlah kita memunculkan pemikiran buruk merujuk terhadap seseorang, yang kita lihat terkadang cuma dari satu sisi saja, belum secara keseluruhan. Yah, berbijaksana saja lah, karena terkadang, apa yang kita lihat tidaklah sepenuhnya kebenaran.
[sometimes, what we see is not always the truth]

“Mulai sekarang, mari kita tanamkan sifat memaklumi atau memahami [pemaaf], kerendahan hati [termasuk mengalah demi kedamaian dan keharmonisan, tidak bergunjing], halus budi bahasa, menengok kedalam sebelum mengeluarkan kata, serta kebertanggung jawaban dalam tugas.”

Dan janganlah kita umat Buddha, yang pada saat tertiban bencana langsung luntur moralnya, sedih dan meratap berkepanjangan, kemudian mulai menyalahi makluk makluk yang dipuja atau dihormatinya atau yang dianggap keramat atau tuhan! walah walah! ini yang manusia paling dungu, menyalahkan yang lain atas KELALAIAN DIRI SENDIRI atau saat mendapatkan perlakuan tidak adil dan kemalangan. Mari bersama kita belajar untuk memahami hal ini, janganlah lagi menyalah-nyalahi yang lain, mari kita coba untuk menjadi orang yang pemaaf dan pengertian.

“Para bhikkhu, jika seseorang menemukan kesalahan orang lain kemudian memberitahukan hal-hal yang benar, maka itu bukanlah perbuatan jahat, dan tidak dapat disalahkan. Tetapi, jika seseorang selalu mencari kesalahan orang lain dan membicarakan hal-hal buruk tentang orang lain hanya karena dengki atau iri hati, ia tidak akan mencapai konsentrasi dan pencerapan mental (jhana). Ia tidak akan bisa memahami Dhamma dan kekotoran batinnya (asava) akan bertambah."

Didalam renungan berikut, Guru Agung menguraikan orang orang luhur yang dihormati oleh para bijaksana. Ada baiknya juga jika kita turut merenungkan hal berikut:

...Pada saat itu tiba-tiba dua pohon Sala kembar itu berbunga walaupun bukan pada musimnya untuk berbunga. Bunga-bunga itu jatuh bertaburan di atas tubuh Sang Tathagata, sebagai tanda penghormatan kepada beliau. Juga bunga surgawi serta serbuk cendana bertaburan dari angkasa ke tubuh Sang Bhagava. Bunga-bunga yang semerbak itu bertaburan di atas tubuh Sang Bhagava sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Suara nyanyian surgawi serta suara musik surgawi dengan lagu sangat merdu terdengar di angkasa, juga sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata.

Kemudian Sang Bhagava berkata kepada Ananda: “Ananda, pohon Sala kembar ini berbunga semerbak, meskipun sekarang bukan musimnya berbunga. Bunga-bunga jatuh berhamburan di atas tubuh Sang Tathagata sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Bunga surgawi serta serbuk cendana surgawi bertaburan dari angkasa ke tubuh Sang Bhagava sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Suara nyanyian surgawi serta suara musik surgawi dengan lagu sangat merdu terdengar di angkasa, juga sebagai penghormatan kepada Sang Tathagata. Meskipun tidak mendapat penghormatan demikian, Sang Tathagata tetap dihormati, dimuliakan, dihargai, dipuja oleh semua orang dari semua tingkatan.

Tetapi, siapa saja, apakah dia seorang bhikkhu, bhikkhuni, Upāsaka atau Upāsikā yang yakin didalam Dhamma, hidup sesuai dengan Dhamma, berkelakuan baik sesuai dengan Dhamma, oleh mereka itu Sang Tathagata dihormati, dimuliakan, dihargai dan dipuja.

Seandainya terdapat seseorang yang telah mendapatkan gelar kedokteran, dengan jubah putihnya bekerja dirumah sakit yang ternama sekalipun, namun jika hatinya tidak lurus, ingkar dengan janji kedokterannya, “matanya hijau” melihat uang sehingga menghalalkan segala cara, bahkan mengorbankan orang lain demi keuntungannya sendiri atau golongannya, walau gelarnya setinggi langit sekalipun, tetap saja benak orang ini tidak seputih jubahnya, kelam bagaikan langit tanpa bulan, bintang dan sang surya.

Hanya orang orang bodoh dan yang kaku terhadap segala kebiasaan [atau segala stereotype] yang masih menganggap orang yang menjadi dokter seperti ini sebagai orang yang mulia.

Maka kita sebagai umat janganlah tergesa gesa menilai orang lain, namun haruslah bijaksana. Biarlah Dhamma bisa dilestarikan dengan baik oleh umat umat yang luhur lagi bijaksana.

"Yang Agung dan Luhur" [Bhagava] bersabda:
“Tidak bergaul dengan orang bodoh
Bergaul dengan mereka yang bijaksana
Menghormati mereka yang patut dihormati
Itulah Berkah Utama”

"Apakah arti Bijaksana?"
Ini dia kata kata yang sering dengar, namun kurang atau bahkan tak jarang yang jadi bingung saat ditanya arti bijaksana itu apa? Tak jarang kita mendapat jawaban "bisa ngebedain mana yang baik dan mana yang benar?" Namun jika kita balik bertanya, "Yang baik bagaimana? yang benar menurut siapkah hal itu dikatakan benar?" nanti kita sendiri yang bingung untuk menjawabnya. Kalau begitu, mari kita bahas disini mulai dari secara harafiah maupun terjemahannya didalam Dhamma.

Didalam bahasa umum, kata bijaksana berarti:

Kamus besar bahasa Indonesia:
bijaksana /bi•jak•sa•na/ a
1 selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya); arif; tajam pikiran;
2 pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dsb) apabila menghadapi kesulitan dsb: dng -- ia menjawab pertanyaan yg bersifat menjerat;

Oxford English Dictionary
Wise = Having or showing experience, knowledge, and good judgement:
Yang dikamus Oxford juga menuliskan sinonim dari kata wise adalah
Sensible or prudent; Aware of, especially so as to know how to act.
[berhati hati didalam mengambil keputusan; dengan menggunakan akal sehat didalam tindak tanduknya]

Longman Advanced American Dictionary
Someone who is wise makes good decisions, gives good advice especially because they have a lot of experience in life. [page 1657]

Jadi dalam bahasa umum, kata bijaksana itu bisa disamakan dengan smart [cakap-terampil] dalam bahasa Inggris, ia yang pandai atau cerdas didalam bersikap, berucap atau singkat kata pintar didalam mengambil keputusan yang berdasarkan pengalaman pribadi masing masing.

Kata “bijak” sendiri memiliki arti yang sama dengan “bijaksana”:
bijak /bi•jak/ a
1 selalu menggunakan akal budinya; pandai; mahir: bukan beta -- berperi; engkau memang --;
2 Mk pandai bercakap-cakap; petah lidah;


Sedangkan kata KEBIJAKSANAAN atau wisdom artinya:
Kamus besar bahasa Indonesia:
kebijaksanaan /ke•bi•jak•sa•na•an/ n
1 kepandaian menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya): berkat - beliau, terlepaslah kita dr bahaya besar;
2 kecakapan bertindak apabila menghadapi kesulitan dsb: perkara ini terserah kpd - orang tua si anak

Oxford English Dictionary
Wisdom: The quality of having experience, knowledge, and good judgement; the quality of being wise.
[mutu seseorang berdasarkan pengalaman, pengetahuan dan pengambilan keputusan; kualitas seorang yang bijaksana]

Longman Advanced American Dictionary
Wisdom: good judgement and the ability to make wise decisions.
[keputusan yang baik dan kemampuan untuk membuat keputusan secara pandai atau bijaksana]

Jadi makna kata kebijaksanaan didalam pengertian umum adalah seseorang yang cerdas atau pandai didalam membuat keputusan. Dan kata kata ini cocok sekali untuk digunakan bagi kelompok tertentu atau instansi tertentu didalam berbagai situasi yang beragam jenisnya.

Namun apakah didalam agama Buddha dijelaskan demikian seperti pengertian dari pada apa yang tertulis diatas? Tidak sepenuhnya benar. Misalnya ada seorang sekelompok penjahat, ia memiliki rencana jahat yang tidak boleh sampai diketahui oleh orang lain, sehingga didalam pelaksanaan kejahatannya ia berhasil. Inipun disebut bijaksana. [sebuah keputusan yang baik, yang diambil berdasarkan pengalaman masing masing] atau misalnya anda adalah seorang manajer di perusahaan Cargill yang terpercaya di Amerika [Cargill Value Added Meats Foodservice] yang mana kerjaan anda misalnya untuk memutuskan berapa banyak hari ini sapi yang harus dijagal? setiap hitungan anda itu akan dianggap bijak, jika dapat mengenai sasaran atau target yang dibuat oleh perusahaan anda.
Hal ini bijaksana didalam penjelasan umum.

Namun, makna Kata bijaksana ini harus diterjemahkan kembali didalam agama Buddha yang mana harus dijuruskan kedalam makna kondisi yang universal, TIDAK MEMIHAK, dan tidak boleh berat sebelah [adil - merata]. Karena “bijaksana” berarti tidaklah berat sebelah [bijaksana tidaklah menguntungkan bagi diri kita atau kelompok kita atau golongan kita dengan cara menindas – mencelakai pihak lainnya], kata bijaksana didalam Dhamma mengarah kepada hancurnya tembok atau pengahalang batin yang hanya mementingkan kepentingan diri sendiri atau kelompok atau golongan tertentu. Maka itu dikatakan para Ariya sempurna kebijaksanaannya serta budi luhur [vijjacarana sampanno; Avijja artinya ketidaktahuan, sedangkan vijja artinya yang melihat; bijaksana.].

Coba renungkan apa yang Buddha sabdakan berikut ini mengenai Bijaksana:

Orang bajik membuang kemelekatan terhadap sesuatu,
orang suci tidak membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan nafsu keinginan.
Dalam menghadapi kebahagiaan atau kemalangan,
orang bijaksana tidak menjadi gembira maupun kecewa.

Bagaikan batu karang yang tak tergoncangkan oleh badai,
demikian pula para bijaksana tidak akan terpengaruh oleh celaan maupun pujian.

“Ia Tidak mendambakan putra atau kekayaan [harta], kekuasaan serta pengaruh,
baik untuk kepentingannya sendiri ataupun demi yang lainnya;
ia tidak melakukan cara apapun yang tidak luhur atau menindas yang lain
demi kesuksesan atau menggapai kesejahteraan bagi dirinya sendiri.
Orang yang demikian itu Ku sebut sebagai seorang yang berbudi luhur, mulia serta bijaksana.”

[Note: kepentingan yang lainnya adalah kepentingan keluarga nya, kepentingan kelompok atau golongannya, dll yang adalah bukan kepentingan buat dirinya]

Pembuat saluran air mengalirkan air,
tukang panah meluruskan anak panah,
tukang kayu melengkungkan kayu,
orang bijaksana mengendalikan tindak tanduknya.

Ia yang mengenal Dhamma akan hidup berbahagia dengan pikiran yang tenang.
Orang bijaksana selalu bergembira dalam ajaran [kasih sayang dan kebaikan: Dhamma] yang dibabarkan oleh para Ariya.

“Apabila seseorang mengarungi segala penjuru dunia untuk mencari [suatu makluk] yang lebih mencintai yang lainnya lebih dari pada hidupnya sendiri, semua itu hanyalah kesiasiaan saja. [karena] Semuanya menyayangi dirinya sendiri lebih dari apapun. Maka dari itu, bagi yang mencintai hidupnya [dirinya], janganlah [ia] mencelakai yang lain [yang mana sesungguhnya juga mencintai kehidupan mereka]."

"Umat yang Ahli Kitab"
Seperti belajar di sekolah, setiap pembelajaran keagamaan memiliki tahapan, kurang lebih secara umum dikategorikan sebagai berikut:
1. Mempelajari dogma ataupun doktrin, sejarah atau kisah keagamaan. Jadi bagi masyarakat Buddhis, umat diajarkan untuk belajar buku buku keagamaan yang HARUS dibimbing oleh orang yang sudah betul betul bukan hanya menjalankan, tapi memang telah berhasil menggapai suatu kualitas moral luhur tertentu [seperti orang yang sabar, yang tabah, yang bijaksana - cerdas mental, yang tulus dsj]. Kalau masih belajar sama orang yang pendengki - picik [Issa], serakah [lobha], penuh kegarangan - penggunjing [dosa], yah sama saja ibaratnya anak sd kelas 1 diajari oleh anak sd kelas 1 juga, bedanya yang ngajar lebih suka baca buku, yang diajari belum baca bukunya.
2. Mempelajari tata cara keagamaan, ritual, pelatihan pengendalian diri, moral, kebajikan dan kebiasaan [boleh dibilang ‘belajar budaya keagamaan’]. Ditahap kedua ini, bagi masyarakat Buddhis, adalah praktek keagamaan. Ingat di dalam Buddhisme, intisari Dhamma bukanlah terletak pada praktek ritual, namun walau bukan inti, memang perjalanan pembelajaran atau tahap pembelajaran harus mendalami dahulu hal ini. Pada tahap kedua ini, umat Buddha belajar melatih diri didalam Keluhuran Batin [sīla शील] diawali dengan Pancasila dalam keseharian, 8 sīla「शील」sampai 10 sīla「शील」pada periode tertentu, dengan sebelumnya memahami makna dibalik pelaksanaan sīla「शील」seperti apa yang dijelaskan di Anguttara Nikaya. Belajar meditasi melalui guru yang terlatih, belajar bersabar, tabah, tulus didalam membantu, ramah dan pandai menyelesaikan masalah agar terjadi kedamaian dengan semua, bagaimana caranya berdamai dengan diri sendiri. Belajar keagamaan sampai khusyuk dan mencicipi kedamaian batin. Mengarahkan diri pada pelaksanaan lebih dalam pada pelatihan praktek budaya keagamaan.
3. Mendalami hakekat [intisari] keagamaan, yang berarti setelah melewati 2 tahap diatas, inilah saatnya dimana kita telah meninggalkan keterkungkungan batin kita dari pada dogma ataupun doktrin buku atau kitab, namun pada pengkajiaan, penelaahan, pengeksplorasian lebih mendalam terhadap Ajaran, bukan teoritis, namun pada perealisasian. “Apakah dari yang telah kita pelajari dan laksanakan selama ini telah mengarahkan kita pada pencapaian pemahaman mendalam?” kalau didalam Dhamma disebutkan: “…telah mencicipi nirvana.”
Ibaratnya sebagai contoh berikut: orang yang ingin menguasai bagaimana caranya berenang bukan dengan belajar dari buku atau bersekolah tanpa pernah langsung terjun kedalam kolam. Namun orang yang ingin bisa berenang harus terjun masuk kedalam kolam, belajar mengenal air, dan belajar mengapung dan mulai menggerakkan tangan dan kaki dengan mengimbangi sifat air, sampai ia mampu dan memahami bagaimana cara untuk berenang.
Ditahap ke3 inilah yang terpenting, doktrin menjadi bagian dalam pengarahan batin, dikaji untuk mencapai tujuan. Jangan seperti orang kebingungan yang gak tau arah beragama itu seperti apa? Kalau ada orang yang mengklaim dirinya telah sampai pada tahap ke3 ini namun masih mengkafirkan atau menghina atau mengisolasikan orang lain hanya atas dasar agamanya, rasnya atau kaumnya, maka orang itu harus mengaca agar janganlah suka bicara lebai [exaggerate - 說大話].
4. Pemahaman Matang. Kata paham bukan berarti harafiah “mengerti” saja, namun lebih kearah “dalam”, pada tahap ini kitab dan buku keagamaan sudah tidak ada dalam batin kita. Setelah mendalami [pada tahap ke3] Yang ada hanyalah kualitas keluhuran [sīla शील] dalam hidupnya. Orang yang berdamai terhadap hidupnya, telah menaggalkan kebengisan, kerakusan [haus harta, haus hormat atau nama baik, pengaruh, dsj], kegentaran, ketakutan atau kebingungan. Orang orang ini malu untuk berbuat licik, curang dan jahat. Ciri cirinya bisa kita kaji dalam diri kita:
a. Pada saat kita dicela ataupun dihina, apakah kemarahan atau kebencian yang muncul dalam batin?
b. Pada saat kita difitnah, apakah ketakutan atau kegusaran yang muncul dalam batin?
c. Pada saat kita rugi atau tidak beruntung, dan mengetahui perolehan [hadiah, materi, gaji, dsb] orang lain lebih baik kualitas atau kuantitasnya dari kita, apakah muncul kedengkian atau rasa ingin memiliki [kerakusan batin]?
d. Pada saat kita turun jabatan, gagal, tidak memperoleh kedudukan, mengetahui orang lain memperoleh kedudukan tinggi, kejayaan, diidolakan atau dipuji, dan memperoleh kesuksesan, apakah rasa tidak suka, benci, sakit hati [resentment] muncul?

Kalau kita yang belajar agama namun masih sering atau mudah marah dan gusar, dengki dan suka korup atau curang. Berarti kita sudah mengerti bahwa level kita hanya masih di level bawah saja, walaupun kita sembahyang sebanyak banyaknya, atau meditasi sebanyak banyaknya, namun sampai melakukan zina, jangan meninggikan diri sendiri dengan mengklaim dalam batin kalau kita telah mencapai tahap lanjut dalam pembelajaran Dhamma. Karena sesungguhnya kalau masih licik, tidak adil, guncang atau murka didalam perlakuan tidak adil, berkecil hati, malu untuk mengungkapkan kebenaran yang mendamaikan batin orang, memihak, maka sesungguhnya belum mencicipi hakikat daripada keagamaan [Dhamma], yaitu pencapaian Jhana ataupun penembusan Dhamma. Ini bahkan pertapa pertapa Jawa yang bahkan tidak mengenal agama Buddha secara mendalam, namun telah menjalankan Dhamma dengan baik [Pañña, sīla dan samadhi], tanpa adanya label agama. Ini bukti sejarah yang banyak umat Buddha sekarang harus bercermin, mengkaji ulang batin setelah menjadi umat Buddha.

Jadi kitab itu tidak suci, kitab itu buku, jangan kita memberhalakan kitab tanpa pernah mengecapi tujuan dari pada apa yang uraikan didalam kitab. Guru Agung [Buddha] berkata “…bagaikan sendok yang tidak pernah mengetahui kenikmatan daripada rasa makanan yang ditampungnya”, pada kesempatan lain Buddha juga berkata: “bagaikan gembala yang menghitung ternak milik gembala lain”, ini adalah gelar bagi orang orang yang cuma pandai kitab atau pandai menghafal buku, namun perilakunya, ucapan dan hatinya tidak sesuai dengan Dhamma: kasar, dengki, benci, gusar, prejudis [berprasangka yang bukan bukan dan negatif].

Walaupun seorang yang pandai didalam mengingat bagian bagian kitab tipitaka sekalipun, namun jika pikirannya diliputi oleh kepalsuan, penuh siasat buruk, merasa dirinya lebih berharga atau lebih tinggi, walaupun tidak melalui kata kata, namun bertindak tanduk seraya mengukuhkan pengunggulan dirinya sendiri, penuh kemurkaan serta kedengkian; orang orang tersebut tak jarang adalah orang yang degil saat dinasihati mengenai kebajikan, kejujuran, kesabaran dan kasih sayang.
Walaupun orang orang demikian pandai berbicara sekalipun, namun orang itu belumlah berjalan didalam Dhamma:

“...ada orang yang cenderung marah dan sombong, dengan pemikirannya yang senantiasa memegahkan serta meninggikan diri sendiri yang muncul dari waktu ke waktu di dalam dirinya. Dan dia belum mencerna dan menelaah dengan baik banyak pelajaran mengenai Dhamma [yang halus dan luhur]; dia tidak memiliki pemahaman yang tajam, dan belum mencapai pembebasan jeratan bentuk bentuk pemikiran. Bersamaan dengan kehancuran tubuhnya, setelah kematian, Batinnya pasti akan mengalami kemunduran, bukanlah maju; dia akan merosot dan tidak melangkah lebih tinggi."
Anguttara Nikaya

Baca juga
Vivada Mula sutta
Sang Buddha menanggapi orang yang suka berselisih atau suka BERGUNJING:
"... yang seperti itu tidak memiliki rasa hormat terhadap Sang Guru, Dhamma dan Sangha, dan dia tidak benar benar menjalankan nasihat dan ajaran praktek melatih diri yang diajarkan oleh Tathāgata. Bhikkhu seperti itu akan menciptakan perselisihan di dalam Sangha, yang akan menjadi kerugian, ketidakbahagiaan dan kehilangan bagi orang banyak, untuk menciptakan kerugian dan penderitaan para dewa dan manusia..."


Pesan Konfusius demikian:
子曰:「質勝文則野,文勝質則史。文質彬彬,然後君子。」
Seseorang jika karakter [wataknya] melebihi ilmu pengetahuan yang didapat, maka ia menjadi orang dusun yang kasar. Bila pendidikan melebihi sifat alami [karakter], ia akan menjadi seseorang yang suka pamer kehebatan [memegahkan diri melalui pengetahuannya]. Hanya yang mengolah dengan baik pendidikan yang diterima serta menyelaraskan dengan karakter / watak [sifat alami] nya, barulah dikatakan ia sebagai orang yang berakhlak mulia dengan pengetahuan yang berbobot.

孔子說:「一個人如果他的品質勝過文採就會粗野,
文採勝過品質就會浮華。
衹有文採和品質配合恰當,才是君子。」
君子 = 才德傑出的人 =
person who has both talent and virtue; the noble and knowledgeable.
[orang mulia dan berpengetahuan luas]
makna dari kata 衹有文採和品質配合恰當 = dari ilmu pengetahuan yang didapat, ia dapat mengerti, menyesuaikan diri serta sekaligus mengimplementasikannya dengan baik dan benar kedalam kehidupan sehari hari dan di masyarakat.

Renungan dalam hal melakukan kebajikan

“人能弘道,非道弘人”
Orang bisa mengembangkan kemuliaan melalui kebajikan, namun tidak didalam kebajikan untuk memegahkan diri sendiri.
[orang bisa menyebarkan kebajikan nan mulia, tapi sayangnya kebajikan bukanlah untuk memegahkan diri [bukan untuk menambah ego atau menghebat hebati diri sendiri, apalagi untuk menyombongkan kebajikannya atau demi keuntungan pribadi ataupun golongannya, kalau menambah ego atau untuk keuntungan diri sendiri, itu belum dikatakan baik, baca Nasihat Buddha berikut ini Klik disini ...]


"Lakukanlah kebajikan dengan penuh keyakinan dan ketulusan"
mengapa suatu kebajikan dianjurkan, didorong atau disemangati dalam setiap agama? Lord Buddha mengajarkan manusia untuk mengembangkan keluhuran dalam hati, belajar melepas dan mengembangkan kasih sayang.
Karena dari melakukan kebajikan kita tahu apa arti dari pengorbanan,
dari melakukan kebajikan kita tahu apa arti dari belas kasihan,
Welas asih atau belas kasih bukanlah berdasarkan emotion atau perasaan~mood.
Tapi belas kasih berasal dari pemahaman dari pengalaman.
orang orang yang benar benar welas asih dan baik
sesungguhnya hanyalah orang orang yang telah mencicipi
apa itu disakiti dan diperlakukan tidak adil,
namun rasa sakit hatinya tidak membuatnya terbenam didalam kesedihan dan kemurkaan,
namun sebaliknya ia berpikir "demikianlah bahwa dihina, dibentak, diumpat sesungguhnya bisa menyakiti hati orang, maka kelak biarlah tiap kali ingatan peristiwa buruk dihina atau dibentak atau disakiti ini muncul adalah sebagai pembimbing spiritual batin ini, agar supaya saya jangan melakukan hal serupa terhadap orang lain."


Janganlah pernah nodai kebajikan - kemuliaan hati karena ada embel embel napsu keinginan atau untuk dianggap baik, TERLEBIH LAGI DEMI MENUTUPI BOROK [PERBUATAN KORUP YANG TELAH DILAKUKANNYA].

Didalam melakukan kebajikan sesungguhnya yang baik tidak-lah perlu untuk diumbar umbarkan atau sengaja memberikan isyarat atau mempertontonkan kalau kita sedang berbuat baik. Demikian pula dengan mengungkap Sabbe satta bhavantu sukkhitata, nda perlu lah diucapkan keras keras, cukup hamba sahaya saja yang tahu [diniatkan dalam hati, fokus dan dilatih terus].

Terdapat satu rasa kebahagiaan yang akan dirasakan, yang tidak bisa dibeli dengan uang atau seluruh kekayaan anda, yaitu membuat orang yang tertimpa kemalangan dan bencana atau hidup bersusah payah menjadi tersenyum tulus dan bahagia didalam uluran tangan anda.

Semua keangkuhan, kecongkakan, keserakahan dan dendam, tak seberapa berharga sekalipun dibanding dengan sebuah kerelaan hati anda didalam pemaafan. Karena pada akhirnya kebajikanlah, serta kasih sayang yang adalah pelajaran paling berharga didalam hidup ini. Sebab Kebajikan adalah sebuah ungkapan rasa bahagia, yang layak dikerjakan, dan indah di awal hingga akhirnya.

Janganlah kita melakukan kebajikan karena berambisi memperoleh surga atau segala pahala yang ada, itu tak berharga, karena cuma pencitraan serta tidak tulus benar benar menaruh hati anda pada membantu yang lain, malah ada sebagian orang yang beranggapan bahwa memberikan sokongan agar supaya kau dibangga banggakan, di elu-elu kan oleh orang lain, supaya merasa ditinggikan. tapi sayang martabat seseorang yang hebat atau mulia bukan melakukan sesuatu karena ingin mendapatkan pamor – pembelaan dan supaya nanti dapat menutupi kejahatan kita, namun karena orang yang rendah hati, ia yang tidak ingin diketahui kalau ia lah yang berbuat kebajikan [seperti apa yang Buddha jelaskan mengenai delapan pemikiran orang besar nan mulia - Anguttara nikaya, Atthaka, VII-25; 160], bukan sebaliknya si pengumbar kebajikan, yang suka mempertontonkan kebajikannya, inilah salah satu pr yang harus kita selesaikan sebagai upasaka upasika.

Phala yang dijabarkan oleh Buddha, akan kita peroleh secara sempurna, manakala kita sudah mengerti arti dari kasih sayang, ketulusan [cinta kasih, pengorbanan, belas kasih, melepas ego - kerelaan dan keiklasan, dan pemahaman mendalam itu sendiri].

Suatu kali Buddha pernah menerangkan bahwa orang yang mengerti kebajikan, jujur dan penyabar, yang meninggalkan kesombongan dan hatinya lapang, tidak akan dibebani oleh kabut hitam didalam batin.
Namun jika niat kita didalam kebajikan karena terobsesi akan balasannya, berarti kebajikan kita sudah ternodai. Orang yang berbuat kebajikan seharusnya merenung mengapa ia melakukan kebajikan? apakah ada motif egois didalam kebajikannya? Janganlah mengotori batin sendiri dengan kepicikan dan kelicikan kita.

Nilai kebajikan kita diukur melalui niat kita apakah karena mengerti akan kasih sayang atau hanya mengejar iming iming menutupi kejahatan agar mendapatkan pembelaan saat diadili, surga atau pahala lainnya?
atau karena napsu keinginan yang besar kita untuk menjadi .... atau karena napsu keinginan untuk memperoleh rezeki? atau MEMANG karena hatinya benar benar tergugah melihat penderitaan yang lain, dan dengan kasih sayang siap membantu meringankan kesususahan hidup makluk makluk didunia ini?
Kita mesti banyak banyak bercermin dan menelaah ulang batin kita, niatan kita seperti apa? Yang mana ternyata ada juga orang orang culas dan licik, yang secara diam diam melakukan kebajikan DEMI MEMEGAHKAN DIRI ANDA SENDIRI?!!!

Orang yang suka melakukan kebajikan namun dengan kesombongan atau keangkuhannya ia memegahkan dirinya dengan membeberkan kebajikannya, sesungguhnya jauh dari kesucian, batinnya masih cemar.[Ingatlah nasihat Buddha dalam kitab Ekanipata - Itivuttaka]

Hendaknya umat Buddha mengingat sabda Buddha berikut ini:
“para bhikkhu, Tetapi mengapa dikatakan: ‘Dhamma ini adalah untuk orang yang sedikit keinginannya, bukan untuk yang banyak keinginannya?’ Di sini, para bhikkhu, meskipun seorang bhikkhu memiliki hanya sedikit keinginan, dia tidak ingin diketahui sebagai orang yang sedikit keinginannya. Meskipun berpuas hati, namun ia tidak ingin diketahui sebagai orang yang merasa puas hati. Meskipun hidup menyendiri, dia tidak ingin diketahui sebagai orang yang hidup menyendiri. Meskipun bersemangat, dia tidak ingin diketahui sebagai orang yang bersemangat. Meskipun waspada, dia tidak ingin diketahui sebagai orang yang waspada. Meskipun pikirannya terkonsentrasi, dia tidak ingin diketahui sebagai orang yang pikirannya terkonsentrasi. Meskipun bijaksana, dia tidak ingin diketahui sebagai orang yang bijaksana. Meskipun berbahagia dan bersukacita di dalam Yang Bukan Duniawi, dia tidak ingin diketahui sebagai orang yang berbahagia dan bersukacita di dalam Yang Bukan Duniawi. Ketika dikatakan, ‘Dhamma ini adalah untuk orang yang sedikit keinginannya, bukan untuk yang banyak keinginannya,’ demikianlah karena alasan ini maka hal tersebut diungkapkan.”

Setiap tindak tanduk kita memiliki nilainya, misalnya terdapat seorang karyawan disuatu perusahaan, memiliki karakter males, bekerja asal jadi, yang penting kerjaan selesai, ketka sebuah projek atau urusan telah selesai dikerjakan, tak jarang terdapat cela didalam pekerjaannya. Misalnya andalah boss nya, bagaimana pandangan anda tentang orang ini? atau misalnya ada seorang guru yang mengajar disekolah, ia menjalankan tugasnya yah yang penting nilai anak anak biar dapet bagus, soalnya di gampang in aja ah, gak perlu terlalu mengasah, yang penting nanti hasilnya memuaskan. Siswa yang pandai atau cerdas akan mengerti kelakuan guru nya ini apakah ia concern terhadap perkembangan anak atau tidak? jika siswa bercerita mengenai kualitas seorang guru sekolah kepada orang tuanya, misalnya anda adalah orang tua nya, apakah anda menganggap guru yang demikian berkualitas dan menjalankan fungsinya sebagai guru dengan baik?

demikian pula dengan kebajikan yang anda lakukan, "ah bodo ah! gak peduli apakah kasih sayang ato gak, yang penting udah dikasih sumbangan, nanti saya selamat, jadi kaya dikelahiran mendatang, masuk ke surga!" Yah belum jadi apa apa tuh kebajikannya, udah itung itung dulu upahnya. bukankah lucu terkadang umat Buddha ini? ibaratnya, bak pegawai spg anda yang baru kerja sehari udah ngitungin nanti dapet thr brapa duit yah? nanti gaji yang anda [si boss] berikan cukup gak buat beli istana?

dari contoh yang diatas kita bisa lihat, si karyawan perusahaan diatas juga sama menyelesaikan tugasnya dan menyerahkan ke atasannya, dan juga si guru sekolah itu, juga telah menyelesaikan tugasnya, membuat nilai anak muridnya jadi bagus bagus semua. Tapi apakah hakekat sesungguhnya dari fungsinya masing masing itu? Mari kita merenungkan perbandingan ini, agar kelak didalam melaksanakan kebajikan dan pelayanan, bukan karena iming iming masuk surga, keselamatan, atau karena karena karena ..... yang semuanya demi KEUNTUNGAN PRIBADI. namun harus mengerti makna mengulurkan tangan anda.


“見賢思齊焉,見不賢而內自省也”
Saat bertemu dengan orang yang baik dan bersih tindak tanduknya,
kita dengan sungguh sungguh belajar untuk bertindak mulia seperti dia.
saat bertemu dengan orang yang tidak baik dan kotor tindak tanduknya,
Segera-lah menelaah apakah saya juga sama kotor-nya seperti dia?

"Berdoa"
Banyak orang berdoa "semoga aku dilindungi, selamat sejahtera dimanapun berada, sehat sehat, banyak rejeki"
tapi tindakannya tidak seperti yang ia minta, ia sendiri minta dilindungi tapi malah mengganggu ataupun menakut nakuti orang lain, merusak, mencelakai atau melukai yang lain. setiap makluk yang bernafas ataupun yang memiliki perasaan semuanya tidak rela disakiti, tidak ingin dianiaya, namun orang orang yang sering berdoa demikian tak jarang demi memuaskan napsu lidah pun akhirnya menyebabkan terjadinya ketidakselamatan atau menyebabkan celaka atau darah mengalir, atau minimal menyebabkan yang lainnya takut dan merasa tidak aman, bertindak semena mena, mengancam atau menggunakan trik didalam keculasannya atau kepicikannya menipu atau mengancam. baik itu terhadap sesama manusia ataupun hewan yang juga memiliki perasaan dan tidak ingin disakiti.

Di tempat ibadah, seringkali kita diajarkan untuk berucap
“sabbē sattā bhavantu sukhitattā”
【 सब्बे सत्ता भवन्तु सुखितत्ता 】

Namun apa yang sudah kita lakukan? tak jarang kita melihat orang pada umumnya sekarang in:
- Menerobos lampu merah dijalan saat kendaraan dijalur lain sudah akan lampu hijau?
- Melakukan kesalahan namun malah balik memarahi, mengancam?
- Berteriak kencang marah marah kepada orang dijalan yang karena tak sengaja motornya menyenggol mobil kita?
- Mengklaksoni terus menerus kepada orang pendorong gerobak yang bersusah payah mendorong?
- Muka cembetut dan benci kepada orang tertentu? Kurangnya tolerasi dan kesabaran?
- Begitu ketemu dengan orang yang tidak ia sukai karena ia berucap yang benar, namun takut pemasukannya berkurang karena menyinggung orang yang menyokongnya dengan duit, mulailah ia dengan piciknya merencanakan scheme [tipu daya] memfitnah, mencemooh dan mengusirnya. Yang intinya bahwa orang yang berduit selalu ditinggikan dibela dan diutamakan sedangkan orang yang walaupun berucap benar namun harus disalahkan dan diusir karena tidak berduit.
dll

Inilah dilemanya kita yang telah terjebak didalam segala upacara upacara dilakukan yang cuma "sekedar formaitas" tanpa penghayatan melalui lubuk hati kita, padahal tiap minggu kita baca paritta [Sukhinōva khēminō hōntu, sabbē sattā bhavantu sukhitattā, yang arti terjemahan sebenarnyanya adalah "bergembira dan damai - sentosalah dihati para makluk, berbahagialah semua makluk yang dilahirkan / berbahagialah semua makluk hidup.], tapi sebagian orang masih berlawanan dengan kata kata itu, malah menerobos lampu merah yang membuat orang lain kaget atau merasa tidak aman, yang bisa menyebabkan kecelakaan dan yang lainnya. Terkadang serasa aneh juga, kata kata "berbahagialah semua makluk hidup" [sabbē sattā bhavantu sukhitattā] itu cuma seolah jadi sebuah selogan atau seperti saat mau ulangan bahasa Inggris dahulu kala waktu sekolah, kita menghafal buku pelajaran, namun saat menggunakannya dalam conversation tetap saja berantakan atau gak ngerti cara menggunakan apa yang dipelajari itu dengan tepat, walaupun saat ujian bisa saja dapat nilai bagus. Gak paham saat menggunakan rumus rumus tenses dan kata kata yang telah kita kuasai betul, asal tancap saja.

Demikian pula, kata kata suci yang cuma dilafal akan jadi hambar atau mati tanpa penghayatan makna yang terkandung. sebenarnya kata kata itu memberikan pengertian kepada diri kita agar mengharapkan semuanya selamat atau merasa aman [khemino] dan bahagia [sukkhi], kita diajarkan untuk berharap yang lainnya selamat sentosa [safe and well].

Tak jarang misalnya ada kejadian orang yang kena bencana, atau kecopetan, atau kerampokkan, namun yang diucapkan oleh kita adalah berbahagialah semua makluk hidup 【sabbē sattā bhavantu sukhitattā】? ini gak relevan. Seharusnya saat kita benar benar melihat sendiri suatu peristiwa bencana atau kemalangan yang menimpa seseorang, kita dalam hati harus tanggap, dan seyogyanya berpikir:
"Biarlah orang yang tertimpa bencana selamat sentosa, biarlah bantuan segera didapatkan, biarlah orang yang tertimpa bencana senantiasa sehat sehat dan panjang umur"

Pentingnya buat umat Buddha untuk menyadari bahwa tidak disetiap kesempatan kita diajarkan oleh Buddha untuk mengungkapkan
"Sabbe satta bhavantu sukkhitata"

Bahkan Buddha seringkali berdiam diri
Tak berucap "Sabbe satta bhavantu sukkhitata"

pada kondisi tertentu, apalagi pada saat terjadinya perang atau kekacauan [riot],
karena tidak pantas mengungkapkan hal tersebut dalam kondisi yang tidak sesuai.

Dalam Kisah Ayuvaddhanakumara menjadi salah satu contohnya, seorang anak yang tidak berusia panjang, Buddha tidak mengungkapkan kata kata kasih sayang [bless], sementara yang lain didoakan.

Atau misalnya saat dalam kondisi perang, Buddha tidak pernah berucap sepatahpun mengenai "sabbe satta bhavantu sukkhitata"
seperti contoh kasus Sang Buddha yang mengetahui langsung Pangeran Virudhaka yang akan menyerang suku Sakya, Beliau tidak berucap "berbahagialah semua makluk hidup" 【sabbē sattā bhavantu sukhitattā】. Mengapa? Karena tidak pantas untuk berungkap demikian pada moment seperti itu.

Tapi sayang banyak umat yang dengan tidak bijak atau disertai kebodohannya karena melafal tanpa benar benar menghayati arti rasa persahabatan atau apa yang biasa disebut mettā, banyak umat yang kaku atau mati seperti kaset recorder yang cuma mengulang ngulang yang tidak bisa memahami makna dari pengulangan tersebut karena kata kata itu cuma dihafal mati dibenaknya, tanpa menelaah lebih lanjut makna dari kata kata luhur tersebut, ia begitu kaku dalam tatanan bahasa dan hambar dalam ungkapan sehingga hati ini jarang sekali tersentuh atau memahami makna yang terkandung didalam kata kata tersebut. seperti burung beo yang meniru ucapan atau kata kata manusia namun ia tidak pernah memahami maknanya.

pada saat dijalan, kita berkendaraan dengan tidak ceroboh atau berhati hati, adakalanya berdoa
"biarlah semuanya selamat sejahtera, aman sentosa, sehat sehat dan panjang umur."

Pada saat mendoakan orang sakit:
"biarlah ia yang sedang sakit ini senantiasa selamat sentosa, dapat segera pulih seperti sediakala, dan bisa berkumpul kembali bersama keluarga dan berbahagia"

Pada saat melakukan kebajikan bersama - baksos
"Biarlah semuanya berbahagia, sehat sehat, panjang umur dan biarlah segala cita cita yang baik dan luhur dari kita semua tercapai"  dan pada berbagai kesempatan lainnya dengan beragam jenis penyebaran metta

Inilah esensi berdoa yang diajarkan dalam agama Buddha kepada kita. Rasa persahabatan murni [mettā] yang Buddha katakan: "Penyebaran pikiran yang penuh dengan rasa persahabatan ini melampaui semua kebajikan itu, ia bersinar terang, mencerahkan serta gemilang". Penyebaran pikiran yang penuh dengan rasa persahabatan yang murni [makusdnya: bukan untuk mendapatkan imbalan atau karena iming iming surga atau rezeki, namun murni mengerti arti dari kata mettā itu sendiri]. Janganlah anda kaku didalam tatanan bahasa yang sesungguhnya menjadi hambar dihati anda jika cuma mengatakan "berbahagialah semua makluk hidup 【sabbē sattā bhavantu sukhitattā】" pada kondisi tertentu tidak cocok diucapkan, karena untuk hal ini kita diajarkan untuk mengembangkan metta atau pemikiran yang penuh dengan rasa persahabatan.

Maka itu tak sedikit kita membaca di tipitaka, pada banyak kali kesempatan setelah menerima dana makanan, Buddha tidak hanya mengucapkan anumodana*, namun juga memberkati mereka "hiduplah panjang usia [hiduplah seratus tahun]" [bukan seperti terjemahan Tipitaka bahasa Indonesia yang menuliskan "semoga" ***], atau "Bertambahlah kerupawanan" atau "Hiduplah dengan sehat" dsb. dan BUDDHA TIDAK PERNAH BERUCAP semoga anda berbahagia KEPADA ORANG YANG TERTIMPA BENCANA. Duh, kata kata yang tidak cocok atau "tidak sesuai pada waktunya" untuk mengucapkan itu, dan terkadang kita malah melakukannya saat melihat orang tertimpa bencana malah kita berdoa "berbahagialah semua makluk hidup" 【sabbē sattā bhavantu sukhitattā】? Misalnya kita melihat di tv, ada bencana yang menimpa suatu desa, rasanya tak layak kita sebagai umat yang memiliki Guru yang Bijaksana [Buddha] untuk berucap "berbahagialah semua makluk hidup" 【sabbē sattā bhavantu sukhitattā】 pada saat itu, karena apa mungkin anda bisa sempat sempatnya kegirangan bahagia saat tertimpa bencana atau kemalangan? mengapa tidak diganti dengan ungkapan "Biarlah mereka segera mendapatkan bantuan, selamat sentosa, sehat sehat, panjang umur".

Note:
***tidak ada kata semoga, tapi ucapan seorang Buddha sudah tiada keraguan atau ketidakpastian, begitu Buddha bilang usia panjang maka orang yang diberkati berusia panjang. Namun terjemahan kitab dalam bahasa Indonesia masih saja tertulis Semoga, semoga itu masih moga mogahan, masih ragu atau tidak tahu, masih setengah hati karena si pengucap itu gak tahu menahu, atau ragu. sedangkan Buddha sudah menepis segala keraguan dan ketidaktahuan! maka jika dituliskan dikitab Tipitaka Indonesia bahwa Buddha berkata "Semoga anda panjang umur" berarti umat Buddha Indonesia yang menterjemahkan kata kata itu masih ragu kalau Buddha sudah terbebas dari segala kegaru raguan dan ketidaktahuan! kata kata Buddha itu pasti terjadi! dan tidak terselubung didalam kelamnya ketidaktahuan.

*Anumodana [tatanan bahasanya bukan terima kasih terjemahannya karena makna budaya nya beda, bahasa Chinese mungkin bisa lebih mengartikan ini karena saat berucap kepada raja dengan berucap kepada sesama pejabat dijaman dahulu kala memiliki budaya tatanan bahasa yang berbeda, namun arti dari kata anuodana sesungguhnya "[persembahan ini] sesuai dengan harapan" [atau bahasa umumnya 'berkenan dihati'] sebagai restu didalam penerimaan, karena pada kata "anumoditva" pun berarti [rasa turut berkenan; merestui, lihat dibawah]

puññam tam anumoditva
mahiddhika = agung, perkasa = berkuasa sebenarnya kata mahiddhika adalah makluk yang memiliki kuasa atau berkuasa, maka itu dalam bahasa Indonesia dikatakan perkasa .
puñña = kebaikan
tam = engkau
anumoditva = turut berkenan [terdapat unsur kehendak untuk menerima - rejoice /merestui]
jadi pada kalimat di paritta Ettavata berarti


Para makluk diangkasa dan dibumi,
para makluk surgawi dan naga yang berkuasa
[Semoga] Engkau turut berkenan dalam kebajikan ini ...


naga
adalah sebutan untuk makluk surgawi di alam cattumaharajika yang berkuasa untuk menjaga pintu surga.
untuk terjemahan mahiddhika = perkasa atau berkuasa.
sebenarnya kata mahiddhika didalam rujukan bahasa sanskrit dan pali adalah makluk yang berkuasa sertamerta memiliki kuasa, maka itu dalam bahasa Indonesia dikatakan perkasa. Coba kita telusuri kata perkasa itu sendiri:
perkasa /per•ka•sa/ a 1 kuat dan tangguh serta berani; gagah berani: Hang Tuah terkenal sbg seorang hulubalang Melayu yg --; 2 kuat dan berkuasa; hebat; keras; dng --;
jadi kata "deva naga mahiddhika" adalah para makluk surgawi dan naga yang berkuasa dialam surga.

Orang yang sering berdoa, tapi tindak tanduknya tidak sesuai dengan doa kasih sayang yang diajarkan oleh Buddha, sama saja seperti orang yang mengatakan "sayang" pada anda, namun ia tidak peduli sama sekali dengan kemalangan yang menimpa anda atau malah selalu mencari kesalahan anda sehingga ia bisa lari [ada alasan untuk menghindar] supaya gak jadi menolong anda. Atau sama seperti kita sering dengar ucapan yang orang keluarkan saat melihat seseorang tertimpa kemalangan,"ihhh, kesian yah!" tapi tidak membantu sedikitpun, atau malah kabur saat dimintai pertolongan, walaupun terkadang kita dengan jelas mengerti bahwa orang tersebut perlu pertolongan kita.

Maka itu [seperti yang telah diceritakan diatas] romo Wowor sendiri pada saat dijalan ketika masih muda dan kuat, ia tak segan segan bantu orang yang mobilnya mogok, setelah melihat kondisinya, ia yakin bahwa orang itu perlu bantuan sehingga romo gak segan segan bantu dorong. Sebenarnya inilah doa atau ibadah keagamaan yang sesungguhnya, sebuah esensi doa dalam agama Buddha, bukan cuma sampai dipikiran saja, atau bergumam gumam tak berarah [membaca selogan atau hafalan tak bermakna dihati, karena tanpa penghayatan] akan tetapi ajaran kasih sayang [Dhamma] itu harus diimplementasikan dalam bentuk perbuatan nyata, selain daripada mengarahkan pikiran kearah yang penuh persahabatan [mettā friendliness].

Didalam Dhamma, Buddha menganjurkan agar kita mengembangkan kasih sayang, merasa cukup dan berpuas hati dengan apa yang diterima, namun juga seorang yang gigih dan tak mengenal lelah didalam mengerjakan pekerjaan yang bersih, bukan sebaliknya mendoakan orang "god tolong hukum dia, karena dia telah menyakiti aku, orang yang beragama dan yakin kepada engkau!"; "Oh makluk surgawi semoga dia dihukum!"; "oh makluk surgawi, semoga engkau mencelakai dia"; "Oh makluk surgawi, semoga saya diberikan harta"; "oh makluk surgawi! jadikanlah aku orang yang kaya raya, berpangkat tinggi karena aku adalah anakmu"; "oh makluk surgawi, berkatilah aku, hancurkanlah karir dia! buatlah dia dipecat!".

weleh weleh, nda ada Buddha mengajarkan doa doa seperti itu. mungkin kalau dewata* nya dengar orang berdoa gitu yah paling paling mereka ketawa saja, "Sejak kapan aku punya anak yang sirik seperti engkau? mang e ada urusan apa Aku dengan orang itu, sampai sampai mau mencelakai dia". Orang ini akan dicela disana! mengapa? wong mau lahir disurga saja harus meninggalkan kebencian dan dendam, serta tangannya terbuka untuk membantu serta menolong orang yang tertimpa bencana dan kemalangan! iki makluk surgawi disuruh ngenyelakai manusia, piye toh pemikiran orang ini? lol ^_^ . Orang yang seringkali mengukuhkan atau membenarkan kepicikannya sendiri, pendengki, culas dan ingkar, semakin dia berdoa berdasarkan sifat buruknya itu, semakin menjadi jadi-lah ia terjerumus didalam perilaku yang tidak mulia dalam hidupnya. Doa doa ego harusnya sudah lepas atau copot dari batin kita umat Buddha.

Apakah umat Buddha dilarang berdoa kepada makluk surgawi?
Tentu saja tidak, sama seperti saat kita mengalami kecelakaan atau kemalangan kitapun meminta bantuan kepada sesiapapun yang kita ketemui, dan kita saat itu tidak bertanya tanya ia makluk apa bukan? kita juga tidak akan bertanya apakah sipenolong agama apa bukan? demikian pula saat kita dalam kemalangan tentu tidak dilarang berdoa. toh mereka yang lahir disurga bukanlah dari makluk yang berasal dari sumber kebejatan, namun sebaliknya didalam kebaikan-lah, mereka terlahir dialam surga. Adakalanya mereka mendengar doa doa orang, maka itu ada romo penceramah divihara kan pernah bilang, "yah pas ada dewa yang mendengarkan alunan paritta yang kita lantunkan, kemudian makluk tersebut turut bersukha-citta [anumoditva - rejoice] dan memerikan berkat [baca: pertolongan atau perlindungan]"

Dan ini pun dikitab Tipitaka tercatat, pada saat itu anak raja difitnah oleh permaisuri tiri nya dengan tuduhan yang macam macam, namun pangeran adalah seorang yang taat pada keluhuran hati [teguh didalam kebajikan, suka menolong orang lain], namun jika raja telah memutuskan, maka ucapannya itu adalah hukum, maka pangeran dijatuhi hukuman mati dengan dilempar dijurang, walaupun pangeran sudah menjelaskan peristiwa yang sesungguhnya dengan jujur, namun raja karena termakan oleh hasutan permaisuri tetap melaksanakan hukuman itu, rakyat sedih saat pangeran dibawa ketempat hukuman, namun tepat saat pangeran dibawa, ada makluk surgawi yang melihat dan mengerti peristiwa atau kejadian sebenarnya melalui kekuatan surgawinya, Ia tergugah hatinya melihat kemuliaan hati pangeran yang suka menolong orang dan kali ini pangeran sedang dalam kesulitan besar, manusia punya hukum yang terkadang bisa diputar balik, namun dewata ini melihat peristiwa jauh diluar kuasa manusia seperti kita, Sang deva [baca: dewa] membuat tekad dalam batinnya bahwa Ia tidak akan membiarkan Pangeran mati walaupun dilempar kejurang sekalipun. Tepat saat pangeran dilempar, orang orang melihat dia telah terjatuh, namun dengan kekuatan adi daya nya sang devata tersebut, pangeran selamat.

Umat umat Buddha terlalu sombong dan tidak terlalu tepat untuk mengatakan bahwa semua itu hanya karena diriku, yang ternyata Buddha mengatakan tiada aku disitu, semua memiliki hubungan atau keterkaitan antar sesama pada level tertentu, persis seperti yang dipelajari oleh ilmu psikologis bahwa kita terkait antar satu dengan yang lainnya. Bahkan untuk mencapai penerangan sempurnapun pada umumnya perlu adanya bantuan diluar dari kita [adaya objek] dan adanya niat atau cetana yang kuat didalam batin untuk mencapai tujuan [muncullah respond], selalu ada keterkaitan dengan yang lain, yang memang dilandasi dari tujuan pikiran kita sendiri atau yang disebut cetana ataupun adhitana.

Namun perlu di-garis bawah-kan bahwa didalam pencapaian, hasil akhir [lulus atau tidaknya seseorang] adalah sebuah refleksi daripada semangat perjuangan diri sendiri. Bukan karena yang lainnya.

Persis seperti saat seorang anak belajar naik sepeda ataupun belajar berenang, ia meminta temannya yang sudah bisa mengendarai sepeda agar membuatnya bisa naik sepeda, temannya yang baik hati mengajarinya dengan senang hati, dan anak tersebut juga dengan semangat belajar, pada saat belajar, temannya memegangi sepeda tersebut sambil berjalan agar temannya memahami inilah keseimbangan naik sepeda, ketika jatuh temannya membantunya bangun, sampai akhirnya ia bisa.

Disini kita bisa menelaah, pada saat ia bisa bersepeda, itu karena ketekunannya belajar. Namun jangan lupa, temannya itu adalah figur yang membantunya hingga si anak tersebut bisa mengendarai sepeda tersebut [membantunya mengajar dan membantunya saat ia susah].

Kualitas batin dan keluhuran kita yang telah dipupuk sejak sebelum kita lahir disini-lah yang mengarahkan kita pada pertemuan dengan hal hal yang baik, termasuk kepada orang orang yang baik yang membantu kita, mengarahkan kita, membimbing kita ke-arah kesuksesan dan pencapaian kebahagiaan hidup [貴人 orang luhur yang membantu; orang hokkien menyebutnya kwi Din], termasuk dilindungi oleh makluk surgawi pun karena adanya jalinan hubungan yang baik dengan mereka karena keluhuran - kebaikan kita, seperti seorang sahabat yang selalu menjaga kita saat kita diterpa kemalangan dan bencana. [segala janji kuat, sumpah serapah, Adhiṭṭhāna, dsb; yang positif atau negatif, semua itulah yang mengarahkan kita pada pertemuan dengan orang orang yang bagaimana pada kehidupan ini? jika luhur maka anda akan bertemu kembali dengan para "guru" dan "kalyana mitra / sahabat mulia yang luhur", jika sebaliknya adalah pertemuan dengan sahabat maut, pembawa bencana buat hidup, Buddha menasihatkan agar kita selalu damai dan eling, agar selalu menumbuhkan kesadaran yang baik dan luhur didalam menghadapi segala fenomena fenomena akibat karma lampau, agar tetap kokoh didalam kebaikan, dan didalam kebajika-lah kita diajarkan untuk mengobati kekalutan hidup kita sekarang?

Bagaimana kah didalam kebajikan kita mengobati kekalutan? yang pertama perlu dilakukan adalah mengerti batin kita didalam damai, pertama harus dari dalam, orang orang yang belum berdamai dengan diri sendiri walaupun suka berbuat kebajikan diluar tetap saja keadaan "rumah"nya bobrok. Maka itu, pertama harus mengerti jalan batin diri sendiri, memahami, kemudian berdamai dengan diri sendiri, relax, mengadakan pendekatan dan mengarahkan diri kejalan yang baik [kebajikan - virtuous].

Kita diajarkan demikian, untuk menyemai [menananm] benih karma baik langsung dalam kehidupan ini juga dan untuk masa depan [baik dalam kehidupan ini maupun dikelahiran mendatang] pandai bergaul dengan orang baik dan bijaksana, berlatih diri menjalankan Dhamma, semua itu untuk mengurai kekalutan jalinan karma buruk yang muncul atau berbuah pada kehidupan ini.

"Sebab barang siapa yang menyemai dari pada kebengisannya, kejahatannya, keakuannya, keserakatan hatinya, Ia akan menuai kehancuran dan maut. Akan tetapi yang menyemai dari pada kesabaran dan kasih sayang, kerendahan hati, pengorbanan, kejujuran, mengalah dan pemaaf, maka ia akan menuai kebahagiaan. Maka janganlah jemu jemu menabur kebaikan, sebab apabila sudah tiba waktunya, maka kau akan dikuatkan."

[karma lampau artinya: segala aktivitas yang didasari tekad yang kuat ataupun kebiasaan yang telah tertanam atau terrekam kuat didalam batin, yang dilakukan sejak dimasa lampau, apakah berupa kebajikan, kasih sayang, janji janji, watak baik dan positif atau sebaliknya kejahatan, sumpah serapah, merasa berhutang dan terpaksa, pendengki, tukang pukul, penggunjing, dsb, yang membentuk segala karakter, watak atau disposisi, termasuk bentuk fisik dan tentu saja mental kita sekarang [pada kelahiran ini], sesuai dengan beginner minds [Adhiṭṭhāna & cetana] yang telah dibuat - terkumpul - terbentuk [dikultivasi] dari yang dahulu dahulu tersebut, yang menyebabkan hidup kita sekarang ini terarah disuatu lingkungan, bertemu ataupun bergaul dengan teman teman yang bagaimana? dengan pekerjaan yang seperti apa? dengan level kesuksesan yang seperti apa? dengan tingkat kesulitan dan perjuangan batin yang bagaimana baru kita bisa sukses dan bahagia? semua itu sebagaian besar adalah karena sifat - kebiasaan - karakter kita yang telah terkultivasi dari pengalaman pengalaman hidup sejak dahulu kala. Kita bukanlah tiba tiba diciptakan oleh makluk adikodrati, terlahir jadi manusia pembangkang, pemurka, pemarah, pendengki, perusuh, dan sebagainya. Janganlah kita mengkambing hitamkan Dewa - God - tuhan - dios, - deux - allah, apapun sebutannya, janganlah salahkan yang lain. Janganlah kita yang berjalan didalam Dhamma jadi manusia yang pandai menunjukkan jari dengan ucapan ucapan yang menyalahkan yang lain atas kekurangan kita sendiri. Hindari pikiran kotor ini.

Semua fenomena batin kita, sudah pasti bukanlah karena secara tiba tiba atau disulap [baca:diciptakan] muncul begitu saja. Tiada yang ilmu tahayul sulap sulapan [ciptaan] seperti itu kecuali para pujangga atau penulis dongeng yang tahayul dengan daya khayal-nya yang tinggi mengarang kisah kisah sulap - cipta yang ditulis menjadi kitab. Janganlah kita sampai menyesali atau menggerutu atau menyalahkan dewata [atau yang disebut God dalam bahasa Inggris] atas kemalangan ataupun kebahagiaan kita, hindari sifat sifat tahayul dalam batin.
[mereka - orang orang native berbahasa Inggris, saking sangat menyembah dewa mereka, sampai saat menuliskan kata dewa dalam bahasa mereka "god", huruf "g" nya dibesarkan menjadi "G", untuk sebagai tanda hormat yang besar mereka kepada dewa. padahal sama saja itu artinya dewa - makluk surgawi, yang masih memiliki kedengkian, murka dsb].

Dari kejadian ini kita mengambil nilai filosofis bahwa dalam hidup entah itu terhadap manusia, atau terhadap makluk lain, kita selalu terkait, ada yang positive dan ada juga yang negative. dari kisah diatas ada dua hal yang kita harus telaah:
1. Sipenolong yang senang hati dan tulus membantu tidaklah perlu mengungkit kebaikannya, rasanya tidak perlu, kurang pantes kalau ada udang dibalik batu,. Malah Ia seyogyanya jadi lebih rendah hati karena saat itulah momen yang tepat untuk mengarahkan batinnya untuk selalu rendah hati dan kearah keluhuran batin.
2. Yang ditolong sudah sepantasnya berterima kasih pada si penolong, dan tidak menjadi congkak atau pongah karena ia telah bisa, "aku bisa karena diriku".

Tidak ada istilah hutang piutang dalam kebajikan terhadap yang menolong kita atau yang biasa dikenal dengan istilah "balas budi", memangnya uang? ada ukuran satuannya! yang ada adalah si pembuat kebajikan turut bergembira karena yang ditolong sudah sesuai harapannya tanpa ada embel embel meminta tumbal, dan si pembuat kebajikan tugasnya adalah sebagai penerusan kebajikan. Jangan berharap harap setelah berbuat kebajikan, "noh... dia dulu pernah gua bantu tapi sekarang malah gak inget aku" yah memang tugas orang baik cukup sampai kebajikannya terlaksana ya sudah, jangan berharap terlalu tinggi, sakit jatuhnya.

Namun pertemuan dengan orang yang baik, yang tulus serta rendah hati, akan menimbulkan persahabatan dan inspirasi dari kebajikannya, supaya ingat kalau suatu hari kita melihat atau bertemu dengan orang yang sedang dalam kesusahan dan kemalangan, kita harus ingat bahwa kita pernah ditolong juga saat kita susah, maka sifat mulia dalam kebajikan ini kita teruskan ke yang lain, tatkala kita mendapatkan keuntungan atau yang bahasa umum bilang mendapatkan berkat [keuntungan], jangan lupa kepada yang hidup berkekurangan dijalan [tukang sapu, dsb], dan lain sebagainya.


Mari kita telaah kembali Pembabaran mengenai
"pertanda baik yang membawa ke Jalan Luhur"
[Mangala Sutta - bait 9; samaggi phala website mencatat pada bait 8]:
‘‘गारवो च निवातो च, सन्तुट्ठि च कतञ्ञुता।
कालेन धम्मस्सवनं, एतं मङ्गलमुत्तमं॥
Gāravo ca nivāto ca,
santuṭṭhi ca kataññutā;
Kālena dhammassavanaṃ,
etaṃ maṅgalamuttamaṃ.

Memiliki rasa hormat terhadap yang lain, rendah hati dan tidak mengumbar keahlian,
merasa puas dengan apa yang diterima tanpa adanya rasa kedengkian, senantiasa berterima kasih kepada orang yang membantu kita, dan mendengarkan Dhamma pada waktu yang sesuai;
Demikianlah [Makluk] yang memiliki keberuntungan yang terluhur.

Word bank:
  1. gāravo = respect 【尊重】menghargai orang lain, hormat
  2. ca = and then 【便,然後】kemudian, dan
  3. nivāto = humility, humble, not showing off the superiority 【謙虛心及不炫耀】rendah hati, tidak memegahkan kehebatan diri sendiri.
  4. santuṭṭhi = contentment, satisfaction and in peace - not jealous 【知足而且心安樂-無嫉妒】 berpuas hati akan apa yang diterima - tidak dengki kalau ada teman atau orang lain yang mendapatkan lebih dari kita.
  5. Kataññutā = gratitude 【知恩】tahu berterima kasih
  6. Kālena = at the right moment 【及時;適時】tepat waktu
  7. Dhamma = Nature Law 【自然規律】pembicaraan kebenaran akan hukum alamiah
  8. Savanna = [noun] the ear; [verb] listen 【名字:耳朵;動字:聽聞】telinga; mendengarkan
  9. etaṃ = thus 【如此】demikianlah
  10. maṅgala = auspicious, good omen, deeds bring happiness【吉祥】pertanda baik, yang membahagiakan, segala perjuangan yang membawa kebahagiaan.
  11. Uttama = noble, highest, best, excellent 【最高貴;最優佳】 yang mulia - terluhur, utama - tertinggi, yang terbaik.

Yang berbuat baik janganlah melambung didalam kesombongan atas kebajikannya,
sedangkan yang ditolong sampai berhasil, janganlah congkak atas keberhasilannya.
Keduanya selayaknya merendah diri. sipembuat kebajikan harus bergembira didalam keberhasilan orang lain, dan yang berhasil harus memiliki rasa hormat dan terima kasih kepada yang lainnya. Karena orang yang luhur batinnya, semakin ia berhasil semakin ia merendah, tidak melambung didalam kecongkakan seperti yang banyak dari kita selama ini masih ada yang demikian congkak, orang luhur [ariya pugala] senang didalam kejujuran dan ketulusan, mengalah, kerendahan hati, kebaikan dan damai.

Note:
congkak - merasa diri sendiri tinggi [angkuh] serta bertindak dng memperlihatkan diri sangat mulia (pandai, ningrat, dsb)
sombong - menghargai diri dengan tinggi [tinggi hati] seolah olah lebih mulia dan luhur dari yang lain.

"Setinggi tingginya langit,
Ia tidak pernah berteriak mengukuhkan diri kalau ia tinggi,
demikian pula ia tidak pernah meminta dari kalian
agar mengukuhkan bahwa ia tinggi.
sebab dengan atau tanpa orang bilang tinggi,
langit memang sudah tinggi,
pengakuan kita tidak berarti apa apa,
sama seperti Matahari,
dengan atau tanpa kita mengukuhkan bahwa matahari itu terang,
memang Matahari selalu memancarkan cahaya."

[Untuk kasus manusia dan makluk lain] Romo Cornelius Wowor pernah bercerita mengenai
keterkaitan kita dengan makluk lain, demikian:
"...bahwa yang turut menyaksikan segala tindak tanduk kita dialam ini banyak",
"...yah jangan diusir, kok tega nian! yah kalau ketemu [makluk halus itu]
bilang aja sudah lama tinggal disini?... yah bersahaja saja...selama keluarga kita baik baik, kenapa harus diusir
", "...dan bisa saja ada orang yang tidak hoki melulu karena ada makluk yang jahil, seperti kejadian seorang devi yang menghuni rumah Anattapindika...".
bahwa memang benar bisa saja ada makluk lain yang menolong.

Namun dalam hal persembahan [kue, bunga, dsb], kalau memang tradisi dari klan tertentu seperti Sunda, Jawa, Chinese, dsb mengharuskan, silakan dijalankan, tapi didalam Tipitaka kita juga pernah diceritakan mengenai Makluk surgawi Agung - Brahma mengatakan bahwa "...persembahan mu itu tidaklah bisa dimanfaatkan untuk kami yang disurga"
Namun jika tradisi anda menginginkan hal itu, Buddha tidak melarang, yang penting sejauh tidak menyebabkan penganiayaan, atau melukai, atau menghabisi hidup suatu makluk hidup dan tidak mengarah kepada kekejian dan tidak demi keuntungan sendiri atau golongannya kemudian mencelakai yang lain, sebuah upacara boleh dilaksanakan. Dan Buddha pun mendorong dan jika ada umat yang melakukan persembahan kepada makluk surgawi 【baca: अङ्गुत्तरनिकाय Aṅguttaranikāya - पत्तकम्मसुत्तं Pattakammasuttaṃ】 jika memang perlu dilakukan, karena terdapat rasa bakti, ke-rendah-an hati anda saat dengan penuh hormat mempersembahkan yang merupakan suatu penilaian alamiah yang tertanam didalam diri. Sama seperti benar bahwa umat Buddha tidak boleh memberhalakan orang, apalagi orang jahat! [idol / memberhalakan - mengidolakan: blind faith; meng-elu elukan manusia sampai segala keburukannya pun disulap seolah olah jadi baik, biasa ini terjadi didalam kelompok, komunitas atau grup, yang kita sering dengar istilah nepotisme] Namun orang yang rendah hati, jujur dan berbudi luhur tetap saja pantas dipuji atau dihormati serta dijamu dengan rasa kekeluargaan, apalagi makluk surgawi yang bijaksana. [karena tak sedikit para sotapana, sakadagami serta anagami yang juga berada dialam sana].

*kata DEWATA, berasal dari bahasa Pali dan Sansekerta: Deva [देव] artinya makluk surgawi, penghuni surga, yang bahasa umum kita juga sering mendengar kata "malaikat" dari agama lain, ini cuma perbedaan bahasa saja namun maknanya mirip.

"Didalam hal memberikan pemberian - offering [dāna]"

Memberikan sedekah atau offering juga merupakan suatu kegiatan relijius,
ini berlaku kepada semua agamawan.
“Seandainya, apabila seseorang melemparkan bilasan sisah makanan yang ada di piring kedalam kolam desa, dengan harapan bahwa makhluk-makhluk hidup yang ada dikolam bisa memperoleh makanan dari itu – bahkan perbuatan ini pun akan menjadi sumber perbuatan jasa, apalagi memberikan sesuatu kepada manusia”
Vacchagotta Sutta वच्छगोत्तसुत्तं

Setelah seseorang mengumpulkan bekal [nafkah] melalui jalan yang bersih melalui perjuangan dan usahanya sendiri,
serta bebas dari pertentangan hukum negara, seorang siswa yang luhur selayaknya berbagi, memberikan sedekah atau melakukan pemberian [offering] terutama kepada ibu dan ayah, sanak famili-nya, para tetamu, leluhur dan para dewa:
“Dengan kekayaan yang telah diperoleh lewat usaha yang penuh semangat, dikumpulkan dengan kekuatan tangannya, didapatkan dengan keringat di dahinya, kekayaan yang telah diperoleh secara bersih [bebas dari penganiayaan dan bebas dari pelanggaran hukum negara], siswa yang luhur mengambil empat tindakan yang pantas. Apakah yang empat itu?

“Dengan kekayaan yang diperoleh demikian itu, dia membuat dirinya sendiri bahagia dan senang, dan secara benar dia mempertahankan kebahagiaannya sendiri; dia membuat orangtuanya bahagia dan senang dan secara benar dia mempertahankan kebahagiaan mereka; dia membuat istri dan anak-anaknya, budaknya, pekerja dan pembantunya bahagia dan senang, dan secara benar dia mempertahankan kebahagiaan mereka; dia membuat teman dan koleganya bahagia dan senang, dan secara benar dia mempertahankan kebahagiaan mereka. Inilah kasus pertama tentang kekayaan yang digunakan untuk hal-hal baik, yang diterapkan dengan penuh manfaat dan dipakai untuk tujuan yang luhur."

“Selanjutnya, perumah tangga, dengan kekayaan yang diperoleh demikian itu siswa yang luhur melakukan lima jenis persembahan: kepada para sanak keluarga, tamu, leluhur, raja dan para dewa. Inilah kasus ketiga tentang kekayaan yang digunakan untuk hal-hal yang baik"
【अङ्गुत्तरनिकाय Aṅguttaranikāya - पत्तकम्मसुत्तं Pattakammasuttaṃ】


Mata pencaharian yang bersih
  • bebas dari keterlibatan pekerjaan atau bisnis penjualan senjata,
  • bebas dari keterlibatan pekerjaan atau bisnis penjualan makluk hidup,
  • berbisnis yang menghindari penganiayaan makluk hidup atau mendapat keuntungan diatas penderitaan yang lain,
  • bebas dari keterlibatan pekerjaan atau bisnis penjualan segala jenis racun
  • bebas dari keterlibatan pekerjaan atau bisnis penjualan obat obatan dan zat cair yang membuat kelalaian atau lemahnya kewaspadaan kita
  • beserta pantang judi

Dan bagi orang orang yang bercita cita menjadi kaya, perlu diperhatikan hal hal berikut agar janganlah mensalah-pahami Dhamma ataupun mengarahkan batin kepada pemikiran yang salah dan tahayul.

Kita seringkali mendengar dikalangan umat Buddha sendiri bahwa melalui berdema-lah orang baru bisa menjadi kaya raya! Ini pernyataan yang kurang tepat! yang Buddha maksudkan menjadi kaya karena berdana yaitu apabila seseorang memiliki keluhuran batin [sīla] dan gemar berbagi, seandainya ada kehendak untuk DILAHIRKAN dikeluarga kaya maka hal itu memungkinkan orang yang berbudi luhur [sīla] tersebut SETELAH KEMATIANNYA apabila terlahir sebagai manusia bisa dilahirkan dikeluarga kaya ataupun bangsawan, dan apabila terlahir dialam surga, maka ia memiliki keunggulan dan kebahagiaan tertentu dialam tersebut.

Berderma adalah urusan spiritual, yangmana seringkali romo Wowor sebutkan makna dari berdana adalah sebagai "melepas" , jadi bagaimana mungkin yang jelas jelas tujuannya melepas, malah dibalik tindakan berderma tersebut anda menanam benih pengeratan atau dipegang erat erat ambisi menjadi kaya? umat Buddha konyol juga terkadang! urusan spiritual [kasih, berbagi, melepas] akan cacat dengan "Kehendak" atau "pemikiran" yang didasari oleh rasa atau keinginan memiliki atau kepemilikan. Kata kemelekatan [attachment] bahasa sederhananya adalah "keinginan untuk menguasai atau menjajah suatu benda ataupun orang", jadi jika anda bingung apakah ini kemelekatan atau bukan, segera merenung apakah niat anda mengandung unsur menguasai suatu benda atau orang? atau ada keinginan untuk menjajah*** atau tidak? jika didalam kebajikan yang kita lakukan demi memperoleh suatu penguasaan uang [jadi kaya] maka tujuan berdana anda menjadi cacat. Dan biasanya orang orang yang berharap harap ataupun rindu akan halusinasinya biasa akan mengalami kekecewaan berulang kali, batinnya jadi rapuh, orang itu sesungguhnya telah meninggalkan Sang Jalan [Dhamma], sebab Dhamma hanya dimiliki oleh orang yang tidak banyak keinginan, bukan sebaliknya memupuk tebal keinginannya didalam kebajikan. Walau anda mengaku sebagai umat Buddha dan bernamaskara di vihara, namun batin penuh kemelekatan [memiliki niat untuk menguasai atau menjajah] didalam kebajikan, tetap saja tak akan luput dari kekecewaan itu.

[***menjajah adalah gerak gerik pikiran yang didasari oleh keinginan untuk mengatur-atur suatu benda, situasi ataupun orang. Masyarakat umum sering sebut sebut sebagai fantasi, suatu gambaran dipikiran yang tidak real - tidak berdasarkan kenyataan, juga tidak berdasarkan kemampuan atau basic keahliannya, kita juga mengenal istilah ilusi, halusinasi ataupun delusi.]

Ini juga berlaku bagi umat yang melakukan tindakan spiritual seperti berdana ataupun meditasi, namun tertanam fondasi yang kekar atau kuat demi untuk tujuan egoisme maupun ketertarikan dengan kepemilikan harta duniawi akan seringkali menghadapi kekecewaan dan kebingungan sendiri nantinya! tidak sesuai pengharapan!. Itu dikarenakan kedegilan batinnya sendiri yang berangan angan menjadi kaya, namun memiliki gaya hidup yang boros atau suka belanja yang bukan kebutuhan penting, sertamerta tanpa adanya pengasahan diri untuk memperoleh keahlian, metode ataupun plan yang tepat. Orang yang ingin sukses harus memiliki dasar "Pandai bergaul" [eloquence ~ tahu bagaimana berbahasa yang baik dan jujur, enak didengar, adanya rasa persahabatan dan tepat waktu], disiplin [bangun pagi] dan rajin, serta tak segan untuk mengkaji ulang ide ide cemerlang yang muncul, apakah applicable [bisa dipakai] atau tidak? serta tak takut gagal dan tak lembek mentalnya saat ditolak calon pelanggan. Orang orang yang pandai bergaul dengan semua kalangan, yang disiplin, rajin, yang bersabar serta ucapannya elok [eloquence], kuat mental [tidak goyah saat di-umpat, dijelek jeleki atau dimarahi atasan atau teman kerja yang sirik, tapi batinnya teguh dengan tanpa memihak dan menjawab dengan yang benar dengan nada tidak tinggi tapi gak lebai, biasa saja; gak takut ditolak tapi dengan sabar menjelaskan value atau keunggulan dari produk perusahaan kita] dan tahan banting [gak takut cape], tak kenal lelah untuk belajar hal hal yang terbaru mengikuti jaman. Dengan persiapan yang seperti ini, baru anda bisa menjadi orang kaya, pengejaran istilah "kaya" kemungkinan besar bisa diraih. Dan kekuatan kebajikan lampau [kamma phala] yang kita tanam kemungkinan berbuah dengan cara membantu kita dengan bertemu dengan orang orang yang tepat dan sesuai dengan keinginan. Tapi seandainya jika kamma baik berbuah, namun anda tidak berlatih dikehidupan sekarang, mempersiapkan diri seperti yang disebutkan diatas, maka walaupun anda bertemu dengan bos yang baik, akhirnya akan sia sia saja, karena tidak cukup matang mental kita dan keahlian kita, sehingga kesempatan mengumpulkan uang berlalu begitu saja.

Maka itu banyak umat Buddha yang melangkah dijalan yang salah didalam hal perjuangannya didalam mengumpulkan bekal hidup [materi / uang] yang karena kurangnya kejernihan batin didalam mencerna Dhamma [baca kembali manggala sutta: memiliki pengetahuan serta keterampilan, penyabar, giat, dsb] yang berakhir dengan penyesalan dimasa tua, seperti yang Buddha katakan
"bagaikan bangau tua dikolam yang dangkal, karena tidak mengumpulkan bekal dimasa muda."
Buddha dengan jelas mengatakan dalam bait tersebut, dengan kisah sepasang suami istri anak orang kaya yang tidak pandai dan tidak dilatih untuk memiliki keahlian menjadi pengusaha ataupun mengelola bisnis, namun hanya bisa menggunakan uang tanpa bisa mengatur untuk peroleha [pemasukan - income]n.

"jika orang orang tersebut mampu mengelola bisnis orang tua mereka,
maka mereka bisa menjadi orang terkaya dikota,
namun karena... Jika mereka melepas keduniawian,
maka mereka akan mencapai pencapaian pencerahan batin "pemasuk arus"."
Demikianlah yang Buddha katakan
.

Jadi, baik umat awam ataupun orang orang yang menjalani hidup spiritualisme juga harus dibekali dengan rasa tanggung jawab dan kesungguhan. Bukan-lah meninggalkan keduniawian, dan kemudian bersantai santai, tidur tiduran ditempat ibadah! tidak demikian adanya! semuanya harus didasari kesungguhan didalam melaksanakannya, tidak setengah setengah. Apapun jalan hidup yang kita pilih, duniawi ataupun kehidupan suci sebagai pertapa, semuanya memiliki kesulitan dan rintangannya sendiri yang seyogyanya akan dilalui oleh kita, namun orang orang yang berhasil, senantiasa damai dan fokus terhadap tujuan atau cita citanya. demikianlah ia akan berhasil atau sukses.

Ingat pesan Buddha saat sebelum Maha Parinibbana:
"Para bhikkhu, perhatikanlah nasehat ini :
‘Segala sesuatu adalah tidak langgeng, bisa berubah [tidak kekal]. Berjuanglah dengan keteguhan hati [sungguh-sungguh].’ "

Umat awam yang bercita cita atau berkehendak untuk menjadi kaya tentu saja modal utama yang harus dimiliki adalah melatih diri hingga memiliki mental yang matang dan supel, memperluas pengetahuan dan keahlian selagi masa muda atau remaja, selain itu modal utama lainnya adalah rajin dan disiplin:
1. Bangun pagi dan kerja dengan giat [bukan malas malasan dan mudah putus asa kala menghadapi kesulitan ataupun ditolak oleh klien].
2. Tidak menyia-siakan kesempatan atau peluang kerja yang tidak bertentangan dengan hukum negara dan agama.
3. bertanggung jawab dan dapat memanfaatkan waktu dengan baik demi menunjang karirnya.
4. inovatif [mampu berkreativitas dan memiliki ide ide yang tepat guna sesuai bidangnya].
5. Mengatur pengeluaran dan pemasukan secara balance [Buddha menganjurkan 40% untuk ditabung selebihnya untuk kebutuhan keluarga dan keseharian, namun tentu saja anda bisa sesuaikan sejalan dengan kebutuhan anda]

Dan didalam kitab Tipitaka tercatat jika anda adalah seorang pengusaha yang mempekerjakan karyawan, maka disebutkan bahwa pengusaha harus membuat bahagia karyawan, dsb. sedangkan sebagai pekerja, anda menabung dan memenuhi kebutuhan keluarga adalah hal utama, agar supaya merapihi kondisi yang sekarang agar kelak bisa cukup mengumpulkan bekal. Setelah anda berhasil ataupun sukses mengumpulkan harta, anda baru benar benar matang menjadi manusia, anda baru benar benar tahu mana yang salah mana yang benar setelah melalui perenungan Dhamma, pada saat itu anda tidak berucap omong kosong [yang cuma dengar dengar atau yang diceritakan oleh orang lain]. Dan setelah sukses dan berhasil atau berkelimpahan, pada saat itulah anda baru bisa berbuat sesuatu yang besar bagi keluarga, agama, masyarakat dan negara; Janganlah terbalik wawasan mengenai ini. Pada saat anda berhasil, orang tua pun akan turut berbahagia atas kesuksesan anaknya, keluargapun akan turut berbahagia, selain itu anda bisa membantu mengembangkan agama dan membantu masyarakat didalam memberikan penyuluhan atau pendidikan agar juga bisa sukses dan membangkitkan semangat dan wawasan untuk membentuk kepribadian negarawan yang beradab dan baik, negara baru bisa maju. Anda barulah pada saat itu benar benar berbuat kebajikan besar. Kisah dalam Tipitaka, Anatapindika pun demikian, Ia berdagang dengan sukses yang menitik beratkan jalan lurus dalam hal menghindari kecurangan termasuk dalam hal timbangan barang jualanannya, dan menjadi salah satu orang terkaya di Jambudvipa pada saat itu.

Cita cita manusia awam Tidak harus selalu menjadi pengusaha, kalau memang kebutuhannya telah tercukupi sebagai pegawai. Jadi untuk menjadi kaya, bukan selalu membagikan uang atau harus spend money, tapi harus giat dan semangat bekerja, bertanggung jawab terhadap tugas bersih yang diembannya. Namun, untuk tujuan mulia [spiritual], maka berbagi atau berderma adalah bagian dalam jalan hidupnya. Yang tentu saja membawa kebahagiaan bagi orang orang yang bijaksana, bukan yang mengejar keduniawian maupun materialistik atau harta yang notabene "fana", cuma sebentar dibandingkan kebahagiaan diatas duniawi yang jauh lebih lama usianya.

Maka itu bagi yang bercita cita menjadi kaya, janganlah menjadikan berdana [praktek spiritual] untuk tujuan materialistik atau duniawi, namun Harus giat bekerja, pandai melihat peluang, dan plan yang matang serta mental yang kuat dan supel. Janganlah dalam pemikiran, kita menggunakan tameng dengan label "spiritual-melepas" [khususnya mengenai offering] padahal dibalik itu, cita cita yang kita kejar dalam hidup ini adalah uang atau materialistis. Mulai sekarang ganti pemikiran berdana bukan untuk kaya dan penjaminan pengejaran materialistik ataupun harta, namun kita lakukan pemberian demi mengembangkan kasih sayang dan keseimbangan batin, demi kemurnian batin ini, didalam kerelaan, keiklasan dan didalam kesigapan batin kita didalam menolong orang yang benar benar butuh [urgent] dan didalam menepis pemikiran jahat, rasa kebencian, kecemburuan batin [issa] dan keculasan.

"Kekuatan Kasih Sayang Dan Kebajikan Menyebar Luas"

Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia tinggalkan adalah saya pernah datang dan saya sangat penurut.
Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya.
Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah.
Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, "saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan". Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.

Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.

Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.

Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia.

Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculanbintik- bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. "Papa saya ingin mati". Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, "Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati". "Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini."

Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: "Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah melihat foto ini". Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamakannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu Negara bahkan sampai keseluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini". Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.

Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan.

Ada seorang teman di-email bahkan menulis: "Yu Yuan anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta."

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perempuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, "Anak yang baik". Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: "Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut.Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati". Yu Yuan kemudia berkata : "Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati". Wartawan itupun menjawab, "Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik". Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. "Tante ini adalah surat wasiat saya."

Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,..... .. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang-orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. "Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakana ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh". Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.

Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula-mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis. Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air. Sungguh telah pergi kedunia lain.

Dikecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan "Dik, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah." demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Didepan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu nisannya tertulis, "Aku pernah datang dan aku sangat patuh" (30 nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. "Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata "Aku pernah datang dan aku sangat patuh".

"Kebajikan adalah kasih sayang, Kasih sayang adalah pengorbanan, uluran tangan, bantuan & dukungan baik, ketulusan dan usaha keras."

“Tiracchāna & Manussa”
अहिंसा
Abhaya-dāna
protection of life,safe and secure
also known as abhayadānaṃ,
is the supreme sacrifice that a person can effort.

Hal yang dipujikan oleh para Bijaksana, selain daripada ke-eling-an maupun kebijaksanaan, adalah Kasih sayang [Karuna].
[Ke-eling-an atau kebijaksanaan merujuk pada makna: kecerdasan batin didalam MENYADARI bahwa segala aktivitas pemikiran yang jahat dan tidak luhur akan menggiring sipelaku berjalan dijalan maut dan kehancuran]

Kasih sayang tidak terbatas kepada manusia saja, seyogyanya tidak terbatas juga kepada makluk lain. Mana kala rasa belas kasihan muncul didalam sanubari manusia, hati ini tergugah untuk memberikan perlindungan dan membebaskan yang lain dari pada rasa takut. Pemaafan,memberikan rasa aman, tidak mengancam dan tidak mencelakakan, serta tanpa kekerasan itu sendiri, adalah abhayadāna, dan semua abhayadāna adalah karuna [belas kasihan].

Kita melihat bahwa kelakuan manusia yang walaupun dinyatakan secara konvensional atau pada umumnya sebagai makluk yang berAKAL [memiliki daya pikir atau kemampuan untuk melihat dan memahami lingkungan ataupun situasi] dan BUDI [menimbang baik dan buruk, yang kemudian mengarahkan kepada kebaikan] ternyata tidak tepat, pada kenyataannya sudah dibuktikan bahwa binatang walaupun kita memandangnya atau tak sedikit orang yang mencibir saat orang memberi makan kepada kucing “hmm, ngapain kasih makan kucing, mending kasih manusia” namun sesungguhnya, ada hal hal tertentu secara inteligen maupun naluri, mereka lebih unggul dibandingkan manusia. Dan tidak benar jika dikatakan bahwa hewan tidak memiliki pemikiran [akal] dan budi! Anjing yang dipelihara oleh seorang pelari tangguh, pemenang lari marathon [The four-time Pikes Peak Marathon winner,], Danelle Ballengee [world champion adventure racer]. Saat ia training dimusim dingin, berlari di daerah Utah, terjatuh dari tebing ketinggian 60 kaki [sekitar 18 meter, 28 cm] menjelang magrib [sekitar sore jam 4 lewat], yang menyebabkan pinggulnya patah [broken pelvis].

Anjingnya yang ikut bersamanya, berlari mencari majikan yang tiba tiba hilang, yang kemudian terlihat olehnya dari atas tebing bahwa Danelle terjatuh ditas pasir gurun tersebut, si anjing kemudian mencari Jalan, berlari sekuatnya untuk mendekati Danelle, ketika tiba didepan Danelle,Danelle yang sedang kesakitan dan ketakutan [karena hari menjelang malam akan tiba], ia dengan memohon kepada anjingnya agar meminta bantuan “please get help”. Tak disangka sangka, anjing itu berlari ke jalanan utama yang cukup jauh, sampai bertemu dengan orang, ia barking [menggonggong] kepada orang asing tersebut seolah olah sedang memanggil meminta pertolongan dengan postur tubuh yang minta agar orang asing ikut dengannya, orang asing tersebut berpikir, gonggonggannya ini bukan kegalakan, pasti ada sesuatu disana, dan kemudian orang asing yang membawa mobil tersebut menjalankan mobilnya, si anjing mengerti bahwa orang asing tersebut sudah memahami permintaannya untuk ikut. Kemudian ia berlari kearah Danelle yang diikuti orang asing tersebut, begitu sampai ditempat kejadian, orang asing itu segera meminta bantuan dan Danelle selamat. Sungguh luar biasa! Yang mana website http://www.runnersworld.com mencatat kejadian ini. Mengapa luar biasa? Karena anjing saja memiliki daya berpikir dan terlebih lagi tahu balas budi dan memiliki kasih sayang yang melindungi dan bisa menolong majikannya, namun sayang, banyak manusia yang lebih hina dari anjing tersebut yang tidak memiliki budi malah berdaya pikir untuk “memakan” teman yang pernah menolongnya ataupun mencelakai keluarga dan orang yang baik kepadanya.

Orang kuno dan kepercayaan tahayul atau mistis tidak percaya bahwa hewan pun memiliki akal dan budi, namun Buddhism sudah mengetahui bahwa mereka pun mirip seperti kita memiliki raga dan batin. Dan umat Buddha diwejangkan untuk memancarkan kasih sayang, rasa persahabatan [mettā] tak berbatas kepada manusia saja, namun kepada yang non human.

“…Manusia kalau lapar, ketika ditanya ‘sudah makan belum?’, ia masih bisa menjawab ‘sudah’, [tadi pagi, sambil membisik kecil]. Tapi hewan jika lapar dan melihat makanan, ia akan segera makan [tanpa perlu berdusta karena rasa gengsi], mereka makan karena memang lapar, tapi manusia? Tak sedikit yang demi napsu goyang lidah dan kenikmatan indera pengecap, sampai tega untuk melenyapkan hidup mereka dengan berbagai alasan yang mengukuhkan dan membenarkan napsunya agar terpuaskan. Manusia yang diclaim oleh khalayak ramai sebagai makluk yang dikatakan diatas tadi, berakal budi ternyata memupuk batinnya dengan kemunafikan: deceitful or evasive / cunning [penuh tipu daya dan culas: licik], kurangnya keberanian [coward = pengecut] didalam menghadapi kenyataan dan menutupinya didalam keculasan atau tipu daya dan kemunafikan.”

Kita melihat dari lingkungan kita sendiri, bahwa banyak yang demi meraup uang, orang tak segan segan melukai, mencelakai serta merampas kehidupan makluk lain yang tidak berdaya; demikian pula dengan napsu keinginan lidah ini, demi memuaskan lidah manusia hendak memaksakan makluk lain dikorbankan hidupnya, alias membunuh. Namun ia tak sadar, bagian kesadaran kita tidak berhenti saat kematian fisik berlangsung, dan hidup kita ini terkadang diatas terkadang dibawah, kadang beruntung kadang tertimpa kemalangan, demikian pula dengan kelahiran, setelah meninggal, kesadaran yang sering bernapsu keinginan [attachment] terhadap perilaku membunuh hewan demi napsu lidah ataupun memenuhi perutnya tersebut bisa saja malah ia yang jadi makluk yang sering ia bunuh. Siapkah anda dikorbankan? Siapkah anda untuk dijadikan seperti yang anda claim bahwa mereka memang dilahirkan untuk dimakan manusia? Semuanya tinggal tunggu waktunya dan anda sendirilah yang akan mengalami, tak peduli apakah anda siap atau tidak. Siklus alam tidak bekerja untuk memenuhi keinginan kita karena anda lari setelah berbuat keji ataupun jahat.

Namun tatkala kita memiliki kasih sayang untuk membebaskan makluk makluk kecil yang malang  dan tak berdaya dari marabahaya atau pisau jagal, yang dibully oleh manusia yang jauh lebih berkekuatan dan licik, disanalah kesempatan anda semua berbuat jasa kebajikan yang besar, disinilah rasa belas kasih manusia bisa diuji juga. “janganlah jemu jemu berbuat kebajikan, sebab bila sudah saatnya tiba, ia akan dikuatkan” ingatlah pepatah ini dalam hidup kita.

Kata "Belas Kasih" yang didalam bahasa Pali ataupun didalam Sansekerta disebut "Karuna" JANGANLAH DIARTIKAN DENGAN "MENGASIANI ATAU KESIAN" TERHADAP YANG LAIN. Perasaan meringis sedih atau meratap untuk mengasihani kemalangan yang lain bukanlah yang diajarkan didalam Dhamma dalam hal KARUNA. Namun karuna adalah "to take responsible to overcome other's sufferness", turut berkontribusi didalam mengatasi penderitaan yang dialami masyarakat. To take responsible adalah berkontribusi, yang diajarkan didalam Dhamma BUKANLAH MERASA KESIAN ATAU PITY ON SOMEONE! Tapi BER-AKSI! Melakukan sesuatu untuk membantu menyelesaikan derita orang lain

Dan sebelum kita melaksanakan kebajikan itu, kita harus sudah siap berkorban waktu, tenaga dan bisa jadi harta. Karena memang kasih sayang itu adalah pengorbanan sejati. Pengorbanan tulus yang tanpa pamrih, bukan untuk mengharapkan balasan, dan kasih sayang tidak terdapat unsur pemaksaan hak atau keinginan pribadi agar yang lain tunduk pada kelaliman atau kekejian kita demi kepentingan diri sendiri, keluarga ataupun golongan. Selain pengorbanan waktu, tenaga dan harta kita, kitapun harus dipenuhi dengan pengetahuan mengenai alam atau habitat makluk yang akan ditolong, harus sesuai dengan alamnya sehingga mereka bisa hidup tenang dan bahagia, termasuk apakah ada pepohonan dan air sebagai unsur kehidupan yang paling dasar. Jika yang ditolong jenis makluk air,kita harus tahu ia hidup diair jenis apa? Asin, tawar, atau payau? Terlebih lagi apakah ditempat itu banyak orang orang yang tidak berakal dan budi? Ini pertimbangannya, jadi jika ingin benar benar menolong harus diperhatikan hal hal tersebut. Jika belum sanggup lebih baik berkonsultasi terlebih dahulu kepada yang berpengalaman, agar mendapatkan info yang benar. Bukan dari yang asal fang sheng.

Fang sheng memang tidak diajarkan secara khusus didalam Buddhisme, atau minimal, kami tidak pernah melihat tulisan di kitab Tipitaka mengenai hal ini. Namun ia yang memahami Buddha Dhamma, akan melaksanakan ini atas dasar kasih sayang dan pengorbanan berharga. Bukan dengan kurban pertumpahan darah atau menggunakan senjata atau belati demi penghormatan kepada dewa atau makluk surga pujaan yang dilakukan manusia sejak jaman dahulu kala. Dewata tidak memerlukan darah. Ia tidak perlu pujian pujian dijadikan sebagai pelindung orang toady [toady / 拍馬屁 = a person who behaves obsequiously to someone important ~ penjilat], ia juga tidak memerlukan doa tangisan karena kebejatan sendiri untuk mengukuhkan keegoismeannya agar ia dinyatakan tidak bersalah! Dewata agung lebih tergugah akan kejujuran dan kasih sayang, daripada mengotori surga dengan kiriman darah atau bau hangus bakaran bangkai hewan ke surga. seperti yang diajaran sesat penyembah Dewa tuliskan, dikatakan bahwa dewanya yang pendengki dan pencemburu itu senang akan aroma bakaran hewan kurbannya ataupun sembelihan.

Entahlah Dewa apaan yang dipuja mereka? dewa atau kebalikan dari dewa [wade = mungkin jin asura dan sejenisnya maksudnya mungkin]? Kalau diagama Buddha, sifat pendengki atau pecemburu [Pali: issā] adalah sifat dasar yang kuat daripada makluk asura [असुर - evil being], yang menyukai peperangan, pembinasaan - kematian, perebutan kuasa, penjajahan teritori kuasa di-alam tersebut, senang dipuja dan diutamakan, kalau misalnya ada yang lebih memuja yang lainnya ia akan geram dan murka, kekasaran [violence] adalah sifat yang menguasai atau lebih dominan dari makluk makluk dialam tersebut.

Note:
असुर
Asura
makluk surga yang dilahirkan dialam ini karena ia memiliki karakter pemurka, harga diri yang tinggi [angkuh], pendengki, tidak tulus didalam kebajikannya, penuh tipu daya / culas, menyombongkan diri, dan suka panasan atau perang. [wrath, pride, envy, insincerity, falseness, boasting, and bellicosity.], sehingga mereka harus terlahir sebagai A + Sura, yang artinya bukan lagi penghuni surga, seolah olah terusir dari surga. ia-lah kebalikan dari pada sura. [Sura artinya makluk surgawi, sedangkan A maksudnya bukan.]

Insting Manusia Pengecut Persis Seperti Insting Hewani
Sesungguhnya Manusia memiliki insting yang sama sekali tidak berbeda dengan Hewan, ini hanyalah untuk sebuah refleksi sekaligus introspeksi yang diambil dari kisah sesungguhnya dari pada animal behavior seperti contoh kehidupan kelompok singa yang dikatakan pemberani, hal itu tidak demikian adanya, mereka bergerombolan pada kesehariannya, termasuk saat makan ataupun pada saat membunuh mangsa. mereka dengan gagah beraninya menghantam leher kerbau liar Africa [African Buffalo] saat mengepung satu kerbau liar tersebut, namun begitu dihadapi satu lawan satu, nyalinya langsung ciut, coba lihat disini. Atau misalnya kalau grup buffalo tersebut berbalik mengejar singa, maka singa pun langsung hilang selera makannya sertamerta kehilangan nyali, satu satunya hal yang ingin dikerjakannya adalah "KABUR" coba klik disini. Manusia memiliki kelicikan yang sama didalam perkumpulan untuk membuat plot kejahatan, persis seperti binatang Singa ini, yang berburu hanya hewan hewan yang lebih lemah dibandingkannya, atau yang out of numbers [1 berbanding lebih dari satu], ke-pengecutan manusia pada khalayak ramai pun sama dengan binatang pengecut ini, manusia manusia tersebut cuma berani melawan atau menzolimi orang orang yang sudah diperhitungkannya dibawah standard dirinya [badannya lebih lemah - minimal didalam perhitungannya dirinya lebih tangguh dibandingkan lawan; atau mungkin teknik keahlian perkelahian dirinya lebih tangguh dibandingkan lawan; atau karena otot dirinya yang lebih kekar dari lawan], namun jika lawan ternyata diluar dari pada perhitungannya, mulailah nyalinya menciut, dan mengalihkan perhatian dengan kelicikan otaknya atau menjadikan orang yang ingin dizolimi dan dikira lemah tersebut sebagai teman sebagai teman, agar kenapa? agar supaya dirinya tidak berbalik dizolimi oleh tandingan yang ternyata lebih kuat dari dirinya. Namun jika ternyata tandingan lebih lemah, langsung ia sergap. ini manusia manusia kecut yang batin atau insting nya persis seperti binatang yang disebut diatas. Termasuk binatang binatang lainnya: ular, ayam, dan sejenisnya.
Pertanyaannya adalah apakah anda juga salah satu diantara manusia pengecut jenis ini? berkacalah apakah insting anda sama dengan insting binatang? Apakah diri anda dikuasai dengan kecurangan dan kelicikan tanpa ada nyali untuk berani bertindak dengan jujur dan didalam keadilan? atau anda memilih menjadikan diri anda seperti binatang pengecut tersebut?

Hukum Karma
Karma atau Kamma 【कर्म】 adalah kehendak atau niat 【Nibbedhika Sutta; Anguttara Nikaya 6.63】 yang mencetuskan suatu ucapan ataupun terjadinya suatu tindakan. Jadi yang dinilai adalah niatnya yang memegang peranan penting. Namun bukan seperti sistem algojo ataupun sistem dagang. karena kita semua pasti yakin bahwa kita hidup bukan untuk dihukum, namun kita semua hidup untuk belajar menjadi matang, menjadi makluk yang lebih cerdas atau bijaksana, suatu hari makluk pun akan sampai pada tujuan akhir itu sendiri. pelajaran dari karma mengajarkan seseorang untuk melihat awal, akar atau asal muasal terjadinya sesuatu, sama seperti mobil yang mogok, mengapa bisa mogok? oh karena kehabisan bensin, atau karena tidak pernah dirawat sehingga bisa rusak saat dipakai atau karena faktor usianya yang telah tua hingga banyak bagian mobil yang tidak berfungsi dengan baik. Demikian pula manusia, saat seseorang terkena serangan jantung, itu bukanlah terjadi sejak saat kejadian berlangsung, tiba tiba ia terserang jantung! Namun serangan jantung terjadi pada saat daya tahan jantung itu sendiri sudah tidak bisa menanggung beban yang berarti telah memiliki kerusakan sejak waktu yang lama sebelum kejadian terserang penyakit jantung, jadi bukanlah sesuatu yang tiba tiba atau accidentally 【偶然】 atau apa yang orang bilang "kebetulan". Namun dalam setiap insiden atau kejadian, ternyata terdapat akar permasalahannya yang terkadang kita tidak sadari.

Dan dari segala tindak tanduk kita, semuanya dinilai dari niat masing masing individu. Bahkan kita manusia-biasa pun memiliki kemungkinan untuk bisa mengerti siapa yang benar benar tulus membantu orang, siapa yang cuma pencitraan atau untuk membuat perhitungan didalam kebajikannya supaya nanti dibalikkin sama orang yang menerima kebajikan kita?

ada dua contoh yang bisa kita lihat dalam kehidupan kita ini, yang perlu kita telaah:
1. ada orang yang berkecukupan, namun kikir sekali, ia rela memberi hadiah hadiah, perlakuan yang khusus kepada anda [biar kata disuruh ngejilat yah ngejilat deh, pokoknya kita bae baein dia, dia senang], tapi dalam hatinya sudah memperhitungkan, saya akan memperoleh keuntungan materi [rezeki] dengan melakukan ini, jadi yah tenang saja, uang ilang dikit, nanti masuknya banyak.
2. ada satu lagi, bukan karena melihat kekuasaan [power] atau pengaruhnya di lingkungan kerja atau tempat tertentu, dan juga bukan karena melihat jumlah kekayaan yang dimiliki, namun karena melihat orang yang tertimpa bencana kemalangan, si A sampai rela memberikan sebagian yang dimiliki tanpa memikirkan untung atau rugi apalagi berpikir untuk meminta imbalan, yang penting orang yang menderita tersebut mendapatkan bantuan dan pertolongan.
Atau karena melihat orang lain yang tidak supel, kaku, sering sakit sakitan, pokoknya banyak yang menjauhinya karena mungkin gaya bicaranya, atau mungkin juga karena bentuk wajahnya yang bagaimana, dan kuper, tapi orang ini hatinya ternyata tidak seburuk rupa atau gaya bicaranya, giat dan anak yang berbakti. yang kemudian A merangkul orang ini, memberikan dukungan moril, encouragement, dorongan untuk jangan malu dan terus berjalan dijalan yang jujur dan baik, tanpa pernah mengecilkan hatinya apalagi mengucilkannya.

coba kita renungkan kembali, niat dari yang contoh pertama sudah jelas, memang mengharapkan timbal balik, dan ini gak murni kebajikan. Boleh dikatakan pencitraan, penjilatan, dan orang yang seperti itu bukanlah orang yang cocok untuk menjadi sahabat anda. Namun orang yang dicontoh kedua, adalah orang orang tulus. jadi nilai dari semua adalah niatnya. dan dari niat diteruskan menjadi perkataan ataupun perbuatan. Dan dari apa yang kita pikirkan, ucapkan dan perbuat semuanya memiliki akibatnya yang sesuai dengan niat yang diarahkan dari dalam pikiran kita.

Manusia saat memiliki suatu kuasa tertentu atau berada di"atas" diantara teman temannya, akan dengan berkata semau-seenaknya atau lalim atau sewenang wenang. Namun apabila tiba saatnya, orang yang pernah dilukai ternyata sekarang memiliki kuasa atau berada di"atas" memperlakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya, maka ia akan menggerutu, sedih dan kecewa atau marah. Mengapa pada saat diperlakukan buruk seperti itu ia tidak mengingat perbuatannya di tahun tahun yang lalu itu? sama seperti "Orang pengecut" si pandai bersilat lidah [kamuflase] yang digambarkan pada bab sebelumnya ditulisan ini, adalah sebuah penggambaran seorang yang "Tidak tahu malu" yang sama, dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa karena perbuatan kitalah segala perlakuan buruk akan berbalik menghantam kita, bukan karena makluk lainnya.

maka itu Buddha bersadba:

‘‘यादिसं वपते बीजं, तादिसं हरते फलं।
कल्याणकारी कल्याणं, पापकारी च पापकं।
पवुत्तं तात ते बीजं, फलं पच्चनुभोस्ससी’’ति॥
‘‘Yādisaṃ vapate bījaṃ, tādisaṃ harate phalaṃ;
Kalyāṇakārī kalyāṇaṃ, pāpakārī ca pāpakaṃ;
Pavuttaṃ tāta te bījaṃ, phalaṃ paccanubhossasī’’ti.

Whatever seed that is sown,
that is the fruit reaped therefrom;
Auspicious one comes to the good doer;
Unwholesome states for those performing unwholesome deeds;
Sown is the seed by you. Thus you will enjoy the fruit thereof.
Samuddaka Sutta; Samyutta Nikaya 11.10

"Benih apapun yang kau tanam,
demikianlah buah yang kau tuai kemudian.
yang membahagiakan datang dari kebajikan,
kemalangan datang dari ketidakluhuran!
oleh engkaulah, benih tersebut ditanam, demikianlah engkau sendiri yang akan mengecapi hasil daripada-nya."

Word Bank:
Kalyāṇa = berbudi luhur, tindak tanduknya positif dan mulia. [helpful, full of virtue]
kārī = perlakuan, prilaku [doer]

Segala perjuangan yang kita kerahkan dalam kehidupan ini, dibutuhkan keteguhan hati dan semangat sebagai alat meraih cita cita yang baik dan luhur. Namun segala rintangan atau sebaliknya "kemulusan jalan" menuju kesuksesan itu merupakan hasil dari apa yang pernah kita tanam sebelumnya [baik dalam kehidupan ini juga ataupun merupakan kelanjutan dari yang lampau].

Sebuah struktur plan ataupun jalan menuju kesuksesan telah dibuat secara sistematis sedemikian rupa baik bagi para marketing ataupun sales, namun tidak semua bisa sampai pada sasaran yang tepat. Pertama karena manusia terlalu mudah patah semangat, hatinya luluh begitu saja tanpa berpikir jalan keluar. Selain itu, kurangnya kita berusaha untuk mencari, mencoba menemukan cara melalui apa yang telah dipelajari [tidak berusaha mengembangkan]. dan masalah internal, sebegitu terikatnya batin pada kebodohan nya sendiri, yang merepetisi didalam batin akan kenangan pahit, keputus asaan, ketakutan, prejudice atau prasangka buruk dan segala negativitas yang dipegang erat erat dalam batinnya, tanpa pernah mau belajar dengan semangat untuk merelakan, memaafkan kekurangan yang ada, mengikhlaskan yang telah berlalu. [Segala macam hal atau masalah psikologis atau gangguan mental demikian, sesungguhnya diawali dari "bisikan" atau "sugesti" yang terus berulang membisiki sedari usia awal, yang diawali dengan berpikir, sampai akhirnya mendarah daging atau melekat didalam batin seseorang dan berkembang dengan subur, seperti misalnya: "jangan, aku tidak pandai bicara!" "Jangan, aku tidak bisa" "jangan aku malu"]

Jikalau mau berubah perlu banyak waktu untuk meng-alter "bisikan" dalam batin tersebut, dan ini bukanlah masalah yang mudah bak membalikkan telapak tangan anda. Rasa malu, Tidak pandai bicara, Bentuk bentuk pikiran, karakteristik, ke-wibawa-an, pengambilan keputusan yang tepat atau sebaliknya, semua nilai atau kualitas ini merupakan suatu kelanjutan, yang bukan karena anda dimandi mandikan di tempat ibadah atau didoa doa kan sehingga anda jadi begitu, tapi merupakan sebuah karma [sikap/tindak tanduk/perilaku] yang sudah ditanam [cultivate/dikembangkan] sejak sebelum anda lahir disini, yang berarti bahwa anda bisa mengkultivasikannya sekarang juga dengan resikonya masing masing. Jika anda memilih jalan licik, yang mengatasnamakan "kewajaran" [yang penting untung atau posisinya berada diatas orang lain] tetap ada resiko atau akibatnya kelak, jika anda ingin jadi "jujur dan adil" sebagai pedoman hidup anda pun tetap memiliki resikonya. tidak ada yang tanpa akibat, entah itu baik ataupun kejahatan. Kita sendiri akan melihat dari apa yang terpancar di hati orang, tak peduli agamanya apa, status sosialnya apa, selama orang tersebut hidup dan bekerja didalam "kejujuran dan keadilan" yang menjunjung tinggi hak setiap orang akan selalu mendapatkan resiko yang positif dan penuh kharisma, sebaliknya orang yang penuh "Negativity" [prejudice, jealousy, crafty atau cunning / licik] yang didalam keseharian nampaknya terlihat biasa biasa atau normal, serta penuh persahabatan tapi hidup dan bekerja didalam cara yang tidak jujur atau tidak lurus [not upright], memiliki maksud yang terselubung demi memuaskan keinginannya sendiri didalam memperoleh keuntungan, baik dengan mengatasnamakan keluarganya atau sekelopok orang, maka ia pun akan dikelilingi oleh orang orang yang serupa [dulce enemigo - sweet enemy], dan mungkin kita tidak bisa melihat langsung apa yang dipikirkan oleh orang lain, namun ketidakjujuran dan cara cara yang cunning [licik atau tidak jujur] akan membuat dirinya sendiri terkesan tidak sedap dipandang. Manusia yang demikian setelah fisik ini tidak bertahan lagi, termakan oleh usia, maka batin yang telah dikembangan [cultivated] sedemikian rupa, akan membentuk sebuah "rupa" yang terpancar atau membentuk melalui karakter dan cara berpikir-nya tersebut. persis seperti sebuah refleksi atau pencerminan penampakan wajah tersebut dikaca.

Buddha menjelaskan bahwa apa yang kita dapati [outcome/result] dari perjuangan kita sekarang ini merupakan hasil yang kita dapatkan dari perbuatan kita, namun bukanlah sebagai hukuman, itu cuma efek atau garapan yang kita cangkul dari apa yang disemai dalam batin selama perjalanan hidup.

Buddha cuma menyatakan dari apa yang disabdakan seperti apa hasil dari suatu sikap yang demikian terhadap yang lain, dsb. Dan hidup kita selalu terkait atau berhubungan selalu dengan yang lain. Segala rintangan, baik internal ataupun dari external, merupakan sebuah beban yang harus kita lewati atau berdamai dengan batin kita sendiri sampai kekuatannya melemah dan habis, baru tercapai. Maka itu kita lihat, ada orang yang mencari nafkah, ambil perumpamaan, katakanlah, mereka adalah sama sama seorang salesman yang melalui perjuangan dan kerja keras mereka didalam menyelesaikan tugas, ternyata salesman A dalam tiga tahun, telah berturut turut berhasil melebihi target yang diberikan perusahaan pada tiap tahunnya Namun sebaliknya salesman B tidak mencapai target, bahkan cuma mencapai 65% dari target yang diberikan oleh perusahaan, ia mengalami berbagai rintangan didalam mengerjakan tugas tugasnya, tidak semulus daripada apa yang dilakukan oleh salesman A.

Ternyata semua ini bukan hanya dari apa yang fisik mampu laksanakan yang bermasalah, namun personalitas dan karakteristik seseorang yang juga ikut ambil andil didalam sebuah kesuksesan. Dan karakteristik ini tidak dapat berubah langsung sesuai si keinginan berkata, seperti kasus orang orang yang mengalami "shyness disorder atau diffidence", "autism", "Social anxiety disorder", "social phobia", dan mental disorder lainnya, baik yang mengalami kerusakan ringan ataupun menengah, juga merupakan faktor penghalang yang seringkali orang abaikan, terutama rekan kerja yang memandang orang yang mengalami mental disorder [gangguan yang terjadi pada mentalitas atau personalitas atau karakteristik seseorang] ini dengan "sebelah mata" dan mensepelekan, ditambah dengan tekanan lainnya.

Beruntunglah mereka yang selama ini mengembangkan atau mengarahkan batin selalu kepada kejujuran 【सच्चा sacca】, menaklukan sisi jahat dalam batin 【दमा Damā】, rasa persahabatan 【मेत्ता mettā】 dan penyabar 【खन्ती Khantī】 dan telah mantab didalam pengembangan batin ini, sehingga kapanpun dan dimanapun ia telah membentuk sebuah dasar yang kokoh kuat untuk hidup bahagia。

Dan pertanyaan atau permasalahan hidup yang harus kita mengerti adalah, apakah ada makluk lain atau penguasa surgawi yang menghukum? Bukanlah hukuman, cuma bagaikan sebuah refleksi atau timbal balik dari apa yang terpancar dari peneladanan dan pentekatan [cultivation and determination] kita diwaktu sebelumnya yang terus berkembang sampai sekarang.

Maka itu segala aktivitas [kamma] yang didasari oleh tekad atau niat atau maksud yang kuat demikianlah yang tumbuh subur 【Nibbedhika Sutta; Anguttara Nikaya 6.63】. Maka itu sekarang ini, segala hal yang tidak diinginkan, kita merasa seperti dikenakan hukuman atas perlakuan orang lain terhadap kita. yang semestinya diterjemahkan dan dimengerti bukan sebagai hukuman, tapi resiko atau akibat [effect] dari pada sebab atau awal [cause] yang kita mulai atau buat dan kembangkan.

Segala tekad dan niat yang tertanam didalam kesadaran lampau membentuk fisik dan karakter anda yang sekarang, bentuk fisik anda, wajah anda, apakah berpotensi gemuk, pengamuk, rakus, dengki, degil itu semua kelanjutan yang bisa menjadi semakin matang dan menjadi jadi pada kehidupan ini, sehingga orang tertentu dalam kehidupan ini lebih tidak disukai orang. Hal ini bisa terjadi demikian jika tidak tertanamnya tekad baik yang besar yang dilakukan dikelahiran lampau [karma = tekad ataupun niat yang mendasari suatu perbuatan]. Jika anda belajar dan juga mempraktekkan Dhamma Buddha maka berarti kematangan sifat sifat negatif ini menyusut seiring penyerapan dari pembelajaran Dhamma yang menguras nafsu jahat dan negatif, dan sekaligus Dhamma menyirami batin kita dengan hal hal yang positif dan luhur.[Didalam proses filter Dhamma dalam batin ini, orang orang yang negatif atau banyak keinginan, tak jarang yang merasa berontak dan tidak bisa menerima bimbingan Dhamma. Namun jika itikad atau tekadnya teguh didalam Dhamma, ia akan berhasil menyaring semua sisi jahat nya], dan Dhamma membimbing batin kita kearah keluar dari pada kedengkian, kebengisan, kejahatan, keculasan [kepalsuan dan kelicikan] dan lain lain agar tidak berat sebelah.

Demikianpula sebaliknya, orang yang ucapannya tulus - enak didengar serta menjaga perasaan orang yang mendengarnya, berjiwa besar, pemikirannya yang bijak, tepa seliro, lapang dada, orang yang berkorban - tidak suka bergunjing dan keributan, yang tangannya terbuka bagi yang tertimpa bencana dan kemalangan, mudah sekali menerima dan mengerti nasihat baik, karena karma[perbuatan yang didasari niat baik] inilah membuat ia terlahir dengan fisk dan watak yang baik. Jadi orang disekitar kita yang nampak berkharisma serta sungguh dapat dipegang kata katanya, ramah, disiplin, itu semua adalah kelanjutan dari sikap yang dibina, ingat lho ini semua karena dibina atau diarahkan, bukan dikasih atau jatuh dari langit, seperti yang diajarkan dalam ajaran sesat penyembah dewa yang berasal dari negri Timur Dekat yang mengajarkan sulap menyulap atau miracle [keajaiban - ke-ghoib-an] bagi yang berada dibawah jajahan dewa pujaannya yang pendengki tersebut. Mengapa dikatakan ajaran tersebut sesat? karena sifat sifat positif itu dibina oleh seseorang didalam tekadnya sendiri, yang ia penuhi, jalankan dan dibina sejak sebelum kesadarannya membentuk kelahiran yang sekarang. Dan karma [action] hampir selalu terkait dengan niat kuat terhadap suatu pencapaian ataupun terkait dengan makluk atau orang lain. Bukan didalam jajahan suatu makluk yang batinnya masih kotor dengan kemurkaan, balas dendam, menghukum karena bukan dibawah jajahannya atau enggan bertekuk lutut untuk dewa ini, yang mana hatinya dikotori dengan kedengkian ataupun pencemburu.

Maka itu umat Buddha yang telah belajar mengenai karma seharusnya menepis segala kepercayaan tahayul dan mistis, kemudian belajarlah untuk mengerti bagaimana menjalin hubungan antar sesama dan semua makluk, sering berintrospeksi diri, karena dari tindakan, ucapan terlebih lagi niat atau itikad kita seringkali berhubungan erat terkait dengan yang diluar daripada diri kita, maka itu terdapat prinsip prinsip yang mesti kita pegang agar kita mengerti bahwa selama kita:
  1. tidak mengganggu yang lainnya,
  2. tidak menyebarkan berita yang menyulut api keributan dan perpecahan, yang seringkali senang berbicara mengenai kekurangan serta kesalahan diri sendiri, padahal terdapat banyak sekali "borok" [kekurangan dan kesalahan] didalam dirinya sendiri,
  3. tidak merampas hak kebahagiaan orang lain atau dengki dengan prestasi atau jabatan yang lain,
  4. hidup disiplin pandai menabung; bermatapencaharian yang benar dan bersih, mengerjakan tugas tugasnya tersebut dengan baik,
  5. ucapan yang menjaga perasaan serta tidak menyakiti yang lain [nada tidak tinggi & rendah hati, kalimat atau kata yang digunakan tidak menyinggung perasaan], serta tidak memihak saat dimintai kesaksian,
  6. tidak menjilat atasan atau orang berpengaruh demi kepentingan dan perolehan kekuasaan baik demi dirinya sendiri ataupun kelompoknya,
  7. berjuang untuk membahagiakan kedua orang tua dan keluarga,
  8. tidak kikir atau perhitungan terhadap sahabat sahabat yang baik dan luhur serta tangan terbuka untuk para fakir dan orang yang tertimpa bencana serta kemalangan.

Biar orang lain berperilaku bagaimanapun juga terhadap kita, janganlah goyah 八風不動「Wén fēng bú dòng 紋風不動 Tak goyah walau diterpa badai」, pada tahap perkembangan batin kelanjutannya, suatu hari manusia akan berpikir siapa yang berjalan dijalan yang benar dan siapa yang hatinya tidak lurus? Karena memang bahkan untuk menjadi orang baik pun tidaklah semudah membalikkan tangan, perlunya perjuangan dan tekad yang kuat dari ucapan ucapan miring disekitar kita. wong terkadang orang lagi bersedekahan saja bisa ada ungkapan yang tidak baik. namun tetap kita harus terus kukuh didalam tekad dan maksud baik kita.

Tapi, janganlah kita berpikir atau berharap untuk membeli surga didalam kebajikan anda, itu noda didalam kebaikan anda. Ia tidak mengerti arti dari kebajikan atau kasih sayang, karena niat daripada kebajikannya itu dititik tolakkan DEMI keegoannya, bukan untuk kebajikan serta kasih sayang itu sendiri, yang tanpa aku, tiada ego didalam setiap kebaikannya, apalagi merasa lebih berkuasa, lebih hebat karena sering melakukan kebajikan.

Masih teringat dhamma sasana oleh Bhante Panna beberapa tahun yang lalu [sekitar tahun 2010] di Vihara Dhammacakka - sunter:
"Melakukan kebajikan, jangan lah berharap dari kebajikan itu [janganlah menghendaki pengharapan dari kebajikan]. karena kebajikan itu sifatnya seperti air, ia mengalir dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah dan mengisi bagian bagian yang kosong. Lakukanlah kebajikan karena didasari murni kebajikan [karena kasih sayang; karena mengerti dan melihat dengan jelas orang yang tertimpa bencana dan kemalangan itu membutuhkan bantuan kita, lalu kita berbuat kebajikan atas dasar kasih sayang itu], merupakan suatu kebodohan jika orang yang berbuat baik berharap harap hasil dari kebaikannya itu"

Pertanyaan berikut ini merupakan suatu pertanyaan yang terkadang muncul didalam pikiran kita:
"Apakah ada raja neraka 【羅閻王 Luó yán wáng - 冥王 míng wáng】?"
[baca kembali kitab: Majjhimanikāya - Uparipaṇṇāsa - Suññatavaggo - Devadūtasuttaṃ. Dikitab itu diceritakan bagaimana orang yang telah meninggal sebelum masuk neraka di ingatkan oleh Raja Yama mengapa ia bisa sampai dialam menyedihkan tersebut, tempat yang mana suhunya diluar daya tahan manusia, panas sampai panas sekali, dingn sampai dingin sekali dan banyak siksaan disana]

=============

"Nafsu"
Kita sering mendengar kata Tanha, yang artinya Nafsu. Khalayak awam saat mendengarkata nafsu ini lebih condong kearah "birahi". Namun sesungguhnya birahi merupakan salah satu bagian dari Tanha, tidak bisa mewakili keseluruhan dari arti Tanha. seperti juga kata saṃsara dalam bahasa pali, tidaklah benar jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sebagai "Sengsara" atau "penderitaan", karena kita harus melihat akar katanya:
  • saṃ artinya sebuah gabungan, mengumpulkan, kumpulan, berakumulasi;
  • sara diambil dari kata "sari": berlangsung terus menerus, tanpa hentinya.
yang mana dari kata saṃsara ini berarti terus berputar dari satu kondisi ke kondisi yang lain kemudian suatu hari akan balik kembali seperti kondisi yang awal, jadi segala perasaan senang-sedih, bertemu-berpisah, sakit atau lemah- sehat atau kuat, dihianati-setia, ketakutan-berani, bimbang-teguh, putus asa-percaya diri, sukses-gagal, mendapatkan-kehilangan, kaya-miskin, dihina-dipuja, dan fenomena kehidupan yang lainnya ini silih berganti terus menyelimuti batin tiap makluk yang masih masuk dalam proses saṃsara ini serta tidak memahami ataupun menyadari kealamiahan sifat alam ini akan terombang ambing batinnya, ia akan terlarut pada suatu kondisi tertentu, tak peduli di alam manusia, alam hewan, alam apaya maupun alam surga akan diliputi dengan ketidak kekalan-ketidakpuasan-bukanmilikku. ini digambarkan sebagai roda pedati, kadang diatas kadang dibawah.

Sedangkan Tanha arti sebenarnya adalah keinginan yang tertanam kuat dibatin [craving] yang didalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai "Nafsu" "hawa nafsu", Buddha bersabda:

"What,o monks,is the origin of saṃsara [which bring along the suffering]? It is that craving [taṇhā] which gives rise to ever-fresh rebirth and,bound up with pleasure and lust,now here,now there,finds ever fresh delight.It is the sensual craving (kāma-taṇhā),the craving for existence (bhava-taṇhā),the craving for non-existence (vibhava-taṇhā)"

"Oh para bhikkhu, apakah sumber daripada perputaran tak henti hentinya ini [yang membawa penderitaan didalamnya]? tak lain adalah keinginan yang tertanam kuat didalam batin [taṇhā] yang membangkitkan kembali proses kelahiran, yang berhubungan erat dengan kenikmatan dan nafsu, diberbagai tempat terus mencari kesenangan kesenangan: keinginan kuat akan kesenangan seksual [kāma-taṇhā], keinginan kuat unutk terlahir dialam tertentu (bhava-taṇhā), keinginan kuat untuk pemusnahan diri (vibhava-taṇhā).

vibhava adalah paham pemusnahan diri, salah satunya suicide.

Penguraian Buddha mengenai Nafsu, terdapat ketertarikan batin seseorang yang kuat terhadap lima hal:
  1. Rūpa taṇhā : memiliki keinginan yang kuat [ketertarikan yang kuat - nafsu] terhadap bentuk tertentu.
  2. Sadda taṇhā : memiliki keinginan yang kuat [ketertarikan yang kuat - nafsu] terhadap jenis suara tertentu.
  3. Gandha taṇhā : memiliki keinginan yang kuat [ketertarikan yang kuat - nafsu] terhadap jenis wangi wangian tertentu.
  4. Rasa taṇhā : memiliki keinginan yang kuat [ketertarikan yang kuat - nafsu] terhadap . jenis cita rasa pengecapan [taste] tertentu.
  5. Phoṭṭhabba taṇhā : memiliki keinginan yang kuat [ketertarikan yang kuat - nafsu] terhadap jenis sentuhan tertentu.
  6. Dhammā taṇhā: memiliki keinginan yang kuat [ketertarikan yang kuat - nafsu] terhadap kesan – kesan pikiran tertentu.

Kata Dhammā pada Dhammā taṇhā bukanlah Dhamma [yang artinya "fenomena atau hukum alam" 自然規律] tapi kandungan arti kata dari Dhammā pada Dhammā taṇhā adalah dhammāyatana. Apakah itu dhammāyatana? dhammāyatana artinya objek dari batin.
sedangkan pikiran adalah satu unsur didalam batin ini.

jadi makna dari Dhammā taṇhā adalah kesan kesan batin atau bentuk bentuk pikiran [baik itu benar pada kenyataannya pernah mengalami sendiri atau sekedar fantasi atau imajinasi - dibuat buat sendiri]
1.mengenai kenangan masa lampau atau kejadian yang terjadi pada waktu yang telah berlalu, atau
2.keinginan yang kuat terhadap kesan kesan yang diterimanya sekarang [aku harus terus happy seperti ini, namun hati tidak bisa berbohong, keadaan selalu berubah - anicca, tidak memuaskan - dukkha, dan bukan milikku - anatta], atau
3.bentuk bentuk pikiran yang membuat mengenai apa yang belum terjadi berdasarkan kemelekatan kesan-kesan batin [akan kesenangan terhadap sesuatu] ataupun sekedar imaginary [khayalan].

Fantasi atau imaginary berbeda dengan plan, plan sudah mempersiapkan segalanya dengan baik [keahlian, pengetahuan, materi keperluan sudah ada, sistem telah disusun, dsb]

Jadi keinginan yang kuat terhadap segala sesuatu disebut taṇhā, yang di Indonesia diterjemahkan sebagai NAFSU. Jadi apakah membalas makian orang juga taṇhā? demikian adanya. dipukul bales memukul, dihina balas menghina; ditendang balas menendang, dicaci balas mencaci. Selain itu, hukum diIndonesia, dengan memukul atau mengancam itu bagian dari pidana, yang diatur dalam kitab undang undang hukum pidana [kuhp] dalam Pasal 351 dan pasal Pasal 310 KUHP, Pasal 170 KUHP [mengganggu kedamaian orang], Pasal 406 KUHP [merusak barang]. Mari kita sama sama merenungkan akibat dari kejahatan yang berdasarkan napsu ini berbalik menghajar sipelaku. Mengapa kita tidak memilih jalan kasih sayang? Mengapa kita dengki sama kesuksesan orang lain? Mengapa harus dendam terhadap orang yang tidak mendekati, memuji atau menjauhi kita? Mari teman, kita hindari segala napsu atau taṇhā dari yang umum apalagi sampai ke tindakan kriminal, termasuk merampas kebahagiaan orang lain karena kita terlampau napsu untuk mensejahterakan atau membahagiakan diri sendiri atau keluarga atau kelompok dan golongan kita sendiri.

Orang lain mau mengejek "penakut - loser" ataupun "lemah"? sudahlah, biarkan saja. karena sesunguhnya yang loser atau lemah adalah orang orang yang terpancing didalam napsu [kejahatan] nya sendiri. bukan sebaliknya si penggaduh [pembuat keributan], tukang rusuh, penyebab keributan, perpecahan didalam persahabatan dan fitnah.
Orang yang tangannya bersih dan tak ada cacat sedikitpun tidak akan ternodai oleh racun.
Selama kita upright [lurus hatinya dan jujur], rendah hati dan penyabar, yang terkendali pikiran-ucapan-perbuatannya, penuh rasa persahabatan [mettā].

yang terkendali pikiran-ucapan-perbuatannya, mengendalikan diri, sebenarnya pikiran jahat yang keluar melalui ucapan tak jarang menyebabkan peperangan diantara kita. ada orang yang menyindir, merendahkan, menghina, menyinggung perasaan orang, walau ia sering ketempat ibadahpun, tetap saja ia cacat secara moralitas.
Saat orang menghakimi yang lain apalagi menuduh yang lain tanpa bukti, Ia lupa bahwa ia sendiri mungkin sama kotornya dengan orang yang dianggapnya jahat, atau mungkin bahkan ia sendiri lebih kotor dibandingkan korban tak bersalah yang dituduhnya.

Mari kita merenungkan baik baik pesan Bijak dari Tiongkok pada masa silam,
guru besar Konfusius:
“見賢思齊焉,見不賢而內自省也”
Saat bertemu dengan orang yang baik dan bersih tindak tanduknya,
kita dengan sungguh sungguh belajar untuk bertindak mulia seperti dia.
saat bertemu dengan orang yang tidak baik dan kotor tindak tanduknya,
Segera-lah menelaah apakah saya juga sama kotor-nya seperti dia?

"Hati Hati Dengan Perasaan"
Kita seringkali terombang abing oleh batin ini, kita seringkali menjadi orang yang terkalahkan,
orang yang tertaklukkan, yang tunduk dibawah kegalauan batin [defilement], seperti:
  • suka memegahkan diri [menyombongkan / mengumbar kelebihan diri sendiri] dihadapan yang lain
  • merasa lebih hebat dan kuat, lebih berkuasa [karena punya uang dan kenal orang berpengaruh, ATAU MEMILIKI TENAGA FISIK YANG KUAT SEKALI sehingga dengan enteng sekali menindas yang lemah] atau merasa "lebih bisa" dibandingkan yang lain [congkak]
  • mudah sedih ataupun putus asa oleh ucapan orang lain
  • merasa dengki atau sirik dengan prestasi dan segala keberhasilan / kesuksesan orang lain, maupun penghargaan atau kehormatan yang diterima orang lain
  • suka membicarakan tindak tanduk orang lain [menjudge yang lain], mengadudomba dengan mengarang kisah yang tidak pernah terjadi ataupun menyebarkan berita yang sebenarnya tidak disaksikan oleh dirinya sendiri [bergunjing menyebabkan keributan; penyulut api pertengkaran]
  • Bertindak berbagai cara untuk mencapai tujuannya [menghalalkan segala cara], bahkan dengan cara menipu atau menindas yang lain
  • keinginan kuat ingin menyakiti orang lain saat batin ini disentuh dengan hal hal yang tidak sesuai dengan keinginan pribadinya 
ini semua menandakan bahwa kita masih lemah, kualitas batin kita hanya sampai disitu saja, yaitu sebagai orang yang terkalahkan dalam hidup ini [loser].

Perasaan sedih atau mudah putus asa bagaikan racun yang menghitamkan hati kita, demikianpula dengan dengki atau sirik sama kelamnya membutakan akal sehat kita, sumber kehancuran hidup seseorang dari ini semua! namun satu hal yang perlu kita ingat, sebagaimanapun kita kehilangan segalanya [pekerjaan, uang dsb] namun dalam hidup ini kita selalu memiliki kesempatan untuk bangkit [kapanpun itu], seberapapun orang berhasil atau sukses, jangan pernah lupa jerih payah - perjuangannya selama ini hingga ia jadi sukses! orang tidak dilahirkan sukses, semuanya sama merata, namun jerihpayah tiap orang-lah yang membedakan [Jerih payah - disiplin, semangat kerja, cara berpikir yang bijak, plan kerja yang baik serta giat / industrious].

Demikian pula saat kita tahu bahwa kita adalah orang yang lemah, orang yang tertaklukkan, memiliki kelemahan batin, namun kita [tak peduli usia anda berapa, tak peduli kesalahan anda seberat apapun juga] tetap selalu memiliki kesempatan untuk berbalik jalur yang lurus, menjadi manusia yang lebih baik lagi: untuk menjadi manusia yang lebih rendah hati 【隨時謙卑 = kata kata yang ramah dan rendah hati】, penuh rasa persahabatan dan pengertian - metta 【瞭解自己和體諒別人的過錯 = memahami apa yang salah dalam diri sendiri serta memaklumi kesalahan orang lain】, serta menjadi orang yang kata katanya jujur dan tulus serta tidak menjudge orang lain.

"menaklukkan ribuan orang tidaklah dapat disebut sebagai pemenang, namun orang yang dapat menaklukkan diri sendiri [dari segala kecurangan, ingkar dan kepicikannya sendiri],
dialah penakluk gemilang. kebaikan orang seyogyanya dibalas dengan kebaikan, kejahatan janganlah dibalas dengan kejahatan."

pepatah orang tionghua berkata:
“罵不還口,打不還手"
umpatan [memarahi] tidak dibalas dengan umpatan,
pukulan tidaklah dibalas dengan pukulan.

Hanya jalan Ariya lah yang benar benar menjadi manusia yang mengalah menghindari keributan dan peperangan, orang yang benar benar baik adalah orang orang yang penyabar, mengalah untuk kebaikan dan keluhuran batin, serta ia yang berucap jujur.

Karena sesungguhnya, jika orang yang selalu rendah hati, rela berkorban, baik hati dan jujur, orang kalau mau celakai kita terkadang mereka akan berpikir ulang 【mempertimbangkan】. orang yang tindak tanduknya baik, jujur, sabar dan rendah hati selalu dianjurkan oleh para bijaksana, serta tak jarang dilindungi 【吉人天相】.
"Orang baik walaupun rezeki belum sampai, namun bencana sudah menjauhi.
tapi orang yang suka didalam ketidakluhuran, walau bencana belum datang, namun rezeki telah pergi meninggalkan dirinya."

“Milikilah kepribadian yang teguh”

Didalam bermasyarakat, komunikasi adalah hal utama yang perlu dibina oleh tiap individu. Komunikasi bukan hanya dari ucapan atau komunikasi verbal, namun juga ada komunikasi nonverbal. Komunikasi non-verbal seperti tatapan dan gerakan tubuh juga merupakan hal penting yang tidak boleh diabaikan oleh kita. Dari fisik ini kita bisa mencoreng batin kita dengan tipu daya dan keculasan, dan dari fisik ini pula kita bisa melakukan kebajikan.

Sejak usia awal kita sudah harus membangun karakter kepribadian yang kuat, agar kelak ketika terjun ke masyarakat kita bisa menghilangkan rintangan rintangan batin yang tidak jarang merugikan serta menghalangi kesuksesan seseorang. Janganlah tahayul bahwa rezeki atau keberuntungan bisa tiba tiba jatuh dari langit, karena tanpa karakter yang kokoh, walau kesempatan didepan mata sekalipun, ia tidak bisa menghandle atau me-manage kesempatan / pekerjaan / peluang yang ada, karena adanya mental blocked atau halangan perintang batin yang selama ini mengecam dan menguasai individu tersebut. Halangan batin tersebut adalah rasa sakit hati yang terus dibina dalam hati, kemarahan, kebencian, putus asa, sampai ketakutan yang tidak beralasan yang membuat dirinya berucap tidak sebagaimana mestinya, dengan pandangan mata yang aneh dan bertingkah memalukan dihadapan umum. Ini semua terjadi dimasyarakat kita karena kekurangan, ketidak tahuan, ketololan ataupun kedegilan [degil= gak mau menerima, meresap dan menjalankan nasihat baik], terlalu mencampuri urusan orang lain atau suka gosip, kepo, cepat marah [tidak suka humor].

Bagaimana mengetahui kepribadian dan mental yang kuat?
Kepribadian dan mental kita teruji saat kita mengemban tugas kita!

- saat nya kita sebagai pelajar, maka prestasi disekolah adalah sebagai focus utama, ia akan berjuang, giat belajar agar mendapatkan hasil yang memuaskan. Tahu manfaat dari belajar? Hasilnya adalah membentuk karakter pribadi yang percaya diri. Orang yang berhasil atau keluar sebagai pemenang selalu bertambah pula kekuatan mentalnya. Namun orang yang biasa gagal lebih sering putus asa saat baru melangkah. Ingat bahwa prestasi anda disekolah merupakan modal dasar sebagai suatu standard ukuran bagi kuat atau tidaknya karakteristik seseorang.

- Dari belajar bela diri kita belajar untuk bertanggung jawab terhadap keselamatan kita dari orang orang yang berusaha mencelakakan kita. Bela diri diajarkan oleh setiap guru untuk semakin kita mahir semakin kita low profile, rendah hati, dan bertanggung jawab terhadap keselamatan diri. Demikianpula orang orang hebat [great people] semakin ia hebat keahliannya ia semakin merendahkan hati. Sama seperti seorang professor yang mahir dan bijak saat melihat seorang mahasiswa yang baru duduk di semester satu tapi banyak bicara mengatur dan mendikte. Ia Cuma akan tertawa saja dengan diktean calon sarjana muda yang masih ijo tersebut!

- Dari ucapan yang tap-te, berganti ganti statement ataupun janji, biasanya akan labil dalam mengambil keputusan. Tapi orang yang pikirannya memang matang sejak usia awal, ia akan dengan tegas mengatakan ya pada saat ia ingin, tidak saat ia memang tidak menginkannya. Ini salah satu tolak ukur untuk berrefleksi terhadap diri sendiri apakah ucapan saya sudah teguh? Orang orang yang teguh ini berarti tahu kemana ia ingin melangkah dalam hidupnya.

- Pengumpulan harta bukan hanya bermanfaat secara materi, namun juga secara mental. Orang yang sejak usia awal [dimulai dari sd] sering menabung, tak pernah menggunakan uang tabungannya sampai ia kuliah sekalipun, akan memiliki kepuasan dan kepercayaan diri yang lebih, sedangkan yang suka boros boros sejak kecil, suka berfoya foya, membeli beli barang elektronik ataupun make up dan segala hal yang sesungguhnya kurang urgent, kelak cuma melongo melihat betapa banyaknya uang yang dikumpulkan oleh orang orang yang tidak boros dan ngirit tersebut. I a hanya akan meratap, sedih dan tak sedikit yang muncul kedengkian dan keirihatian atas keberhasilannya.

- Jangan mudah putus asa, sedih dan marah, jangan biasakan diri didalam keculasan dan kesekongkolan. Orang harus pandai pandai membuang racun batin seperti kesedihan, putus asa, keculasan [tipu daya] dan niat jahat dalam persekongkolan [vicious schemes], sakit hati dan marah. Sesungguhnya mereka mereka ini adalah orang orang sensitive! Banyak orang yang mukanya sanger, badannya tegap dan gagah, tapi ternyata mentalnya mental tahu rotten [busuk], lembek sekali dan begitu di tekan pakai jari sedikit saja sudah bonyok. Janganlah jadikan mental anda seperti tahu busuk ini.

- Buang sifat kemanjaan, bergantung kepada keluarga atau kepada orang lain, selama kaki masih bisa berdiri dan masih sadar, kerjakan tugas sendiri. Selama hidup pantang meminjam uang baik kepada teman ataupun kepada keluarga sendiri. Manage lah dengan baik keuangan, pemasukan dan pengeluaran yang balance. Sifat sifat manja alias menyusahkan dan menggelayut atau bersandar kepada orang serta bergantung kepada keluarga atau kepada orang lain sungguh sangat tidak disukai orang lain.

- Selagi masih sejak usia awal harus belajar pandai bergaul, pandai bersahabat dengan berbagai kalangan, didalam pergaulan hanya hal hal berikut yang disukai: low profile [rendah hati], selera humor yang tinggi, hati yang lapang dan bicara dengan nada yang rendah, pengetahuan akan berita sekarang sangat uptodate, memiliki hobi olah raga [soccer, basket, renang, skate, material art] dan seni [kerajinan tangan, pantomime, dance]. [Karaniya mettā sutta, manggalla sutta, anguttara nikaya menjelaskan hal hal diatas ini]

hal hal yang pantang dilakukan:
Mengeluh ; Jika bicara atau memberitahukan info selalu saja panjang lebar ngomongnya, bikin orang bosan dan jenuh atau malas mendengarkannya; walau seseorang memiliki ilmu pengetahuan – science janganlah bicara banyak mengenai ini bak dosen lagi mendikte; Pantang menyampaikan ucapan orang lain yang didengar kepada orang tertentu, karena dapat menimbulkan kesalahpahaman serta perseteruan antara yang satu dengan yang lainnya, anda akan dicap sebagai orang yang tidak cocok ditemani; Pantang berbicara dengan nada tinggi dan isi pembicaraannya memegahkan diri sendiri atau pujaannya; dan paling pantang adalah MEMBICARAKAN KEJELEKAN ORANG LAIN [termasuk mengungkapkan kedengkian kita terhadap orang tertentu: wah si “A” enak nih sekarang sudah begini begitu] apalagi orang itu ada dilingkungan kita, termasuk pantang terbawa atau ikut ikutan membenci musuh teman kita, karena apabila suatu hari jika teman kita dengan musuhnya baikkan, akan sangat tolol sekali kita yang tidak ada sejarahnya dengan orang itu tiba tiba membenci dia? Ini banyak sekali orang orang dungu yang ikut ikutan sentimen ataupun menjauhi orang yang jelas jelas tidak bersalah terhadap orang orang dungu tersebut, namun tiba tiba gara gara teman sidungu ini musuhan kita jadi ikut ikutan menjauhi ataupun mencibir dan pikiran kita dicuci otak oleh teman kita yang provokasi, Jangan pernah melakukan hal ini. Karena didalam kitab Buddha sudah banyak menjelaskan masalah masalah ini.

Dari komunikasi, baik verbal atau non-verbal, nampaklah kepribadian masing masing individu. Ada orang yang ceria, ramah, dan low profile, orang senang berdekatan dengan dia sebagai sahabatnya. Dan pria paling gak suka curhat. Tapi ada orang yang cuek cuek aja, ngelihat saja nga sudi, ya wes kita harus hargai keputusan orang, “Ingat bahwa tidak semua orang bisa suka sama kita” ini berulangkali dijelaskan kepada umat, oleh Romo Cornelius Wowor didalam bimbingan wejangan Dhamma di kelasnya. Agar kita teguh dan tidak terpengaruh oleh kondisi fenomena alamiah kehidupan. Kita harus banyak belajar memahami fenomena ini. Dan banyak banyak tengok kedalam, belajar mengerti kehidupan kita sendiri.

Jangan terlalu sedih didalam kondisi yang tidak menyenangkan dimana orang tidak suka sama kita atau saat kita diperlakukan tidak adil, jika tidak bisa menguasai kondisi ini, belajarlah meditasi, namun jika tidak bisa, segeralah merendahkan hati bernamaskara divihara katakanlah "Kepada para Ariya pugala, jika saya ada salah ataupun kekurangan kekurangan, mohon kesalahan kesalahan saya diampuni dan hendaknya saya dikuatkan agar jadi orang yang lurus hati [teguh didalam kejujuran], menjadi orang yang penyabar dan rendah hati saat diperlakukan tidak adil, difitnah atau dirugikan."

Dari berdoa demikian, banyak hal yang bisa kita petik hikmahnya, pertama menundukkan keangkuhan batin, kedua segala keresahan yang memenatkan batin mereda. Kemudian, Setelah kondisi batin telah tenang, banyak banyaklah "menengok kedalam", menelaah serta merenungkan sikap mental kita sendiri, apakah saya memiliki suatu kekurangan sehingga saya diberlakukan seperti itu? apakah selama ini gaya bicara saya-lah yang tinggi? Angkuh? Sok tahu? dsb.

Dengan belajar banyak mengenai diri sendiri, menengok kedalam, merenungkan segala tindak tanduk kita, introspeksi, maka lahirlah manusia manusia beradab yang lebih baik dan lebih bijaksana [cerdas batin]. Jangan kabur dari permaslaahan, justru sebaliknya hadapi masalah yang dihadapkan keanda dengan perenungan yang demikian. [ini juga dibahas di Anguttara Nikaya] Jadilah manusia yang lebih baik!Janganlah jadi manusia yang takut menerima kemalangan dan kesedihan!


"Hanya manusia manusia bermental bubur basi, bermentalkan lemah tak tahan kesusahan dan kemalangan yang banyak mengeluh. Orang yang mentalnya kuat jalan terus, pendiriannya kuat didalam melaksanakan apa yang lurus. Mereka para pemental bubur basi atau tahu rusak yang begitu dipencet langsung hancur ini, adalah tak sedikit dari segelintir orang yang dimanja semasa usia awal hingga masa remaja nya, hidup dengan segala kenyamanan yang berlebih dan tidak dibekali dengan keahlian dan pengetahuan yang matang. Sedangkan "teman" atau "seperguruan"nya adalah pendengki. para pendengki adalah orang orang sakit mental yang merupakan kurban daripada sebuah pengukuhan dari dalam keegoismean, yang merupakan korban akibat fantasi fantasi atau khayalan-nya sendiri akan kemewahan hidup, yang memanjakan diri didalam memuaskan napsu keinginannya dan khayalannya tersebut.

Orang tak jarang yang muluk muluk atau bercita cita ingin jadi ini dan itu, namun seringkali LUPA DIRI [ATAU LEBIH TEPATNYA "TIDAK TAHU DIRI"] bahwa pencapaian cita cita harus dengan plan yang mantab serta usaha keras didalam menggapainya, tidak ada didunia ini yang ingin sukses menjadi pemenang hanya dengan berkhayal atau tanpa menimbang daya mental dan tingkat kemampuan berusaha atau berjuang dari diri sendiri apakah sudah sesuai dengan pengharapan atau cita citanya? Mereka mereka orang yang bermental bubur basi dan pesakit jiwa : "pendengki" harus belajar banyak dari kehidupan asri dan alam dari warga pedalaman - perhutanan di Flores. Belajar kembali ke tingkat dasar, belajar bagaimana menyederhanakan batin, bukan sebaliknya meninggikan keinginan keinginan dan mencongkakkan diri."

Kita sebagai umat Buddha harus kokoh dan tangguh didalam hidup ini, kita harus belajar untuk menjadi kuat menghadapi kesulitan yang bagaimanapun juga! dengan mengasah diri didalam yang luhur sejak hari ini! Sebab dari melalui kesulitan kesulitan itulah kita menjadi manusia yang matang mentalnya! Kita harus lalui semua masalah dan kesulitan kesulitan itu, bahkan saat maut kematian datang menjemputpun jangan pernah ditolak atau ditakuti, jalankan saja! Katakan pada diri sendiri setiapkali badai kemalangan menghampar hidup kita “memang sudah saatnya hal ini tiba! Kalau satu masalah dan kesulitan ini bisa saya telaah dan lalui dengan pengertian dan kepandaian batin didalam menanganinya, maka berarti saya berhasil mengatasi problem ini. Saya telah lewat menuju level batin selanjutnya” Kalau misalkan gagal: takut, ingin kabur atau lari dari permasalahan, kagok, tidak menguasai situasi, bingung, tidak tahu, ketololan sikap muncul, putus asa muncul, yah tidak apa, berarti problem ini masih akan menagih kembali dimasa mendatang, apabila kemalangan datang lagi, latih kembali batin ini, jika gagal lagi, latih lagi, karena suatu saat kita pasti akan sanggup mengatasinya jika kita membuka diri, mau menelaah kesalahan didalam mengatasi masalah atau kemalangan yang datang, nanti kita akan menjadi pandai serta bijak saat menghadapi kemalangan.

Kemudian katakan didalam batin:
“Aku berlindung kepada Tiratana!
Namo Buddhassa! Namo Dhammassa! Namo Sanghassa!
Semoga semua makluk hidup bergembira batinnya,
bebas dari segala marabahaya, serta aman sentosa”.

Bila ada kesempatan ikutilah program meditasi vipassana, anda akan belajar banyak disana. Vipassana ini artinya bukanlah “pandangan terang”, namun arti sesungguhnya berarti “menelaah pergerakan - perubahan dari kondisi batin”.

Jadi meditasi Vipassana artinya bukanlah meditasi pandangan terang, namun “merenung dan menelaah kondisi batin”, yang hasil akhirnya tentu saja pandangan terang, tapi tidak semua nya mencapai pandangan terang. Cuma segelintir saja dari jutaan yang bermeditasi penelaahan batin ini. Karena yang licik yah tetaplah licik, yang culas dan tukang tipu yah tetap saja akan berulang lagi tipu dayanya, masih tetap fasik. Belum mencapai pandangan terang. Namun ada banyak hikmahnya dari mengikuti program meditasi ini, tidak bisa dilukiskan dengan kata kata namun batin anda sendiri yang akan mengerti indahnya meditasi ini yang menghantarkan kepada perkembangan batin dan mental anda.

Peperangan semua muncul karena keakuan atau keegoismean.
ke-Aku-an adalah Pendiktean – Penjajahan – Pemaksaan kehendak pribadi agar orang lain jadi seperti apa yang kita angan angankan dalam pikiran. Kita harus belajar untuk diam baik secara verbal maupun secara komunikasi intrapersonal [didalam pikiran yang banyak sekali pembicaraan, didalam kegalauan dan napsu keinginan dalam pikiran berupa kata kata, stop itu, belajar diam! Kukuhkan dengan merendah didalam batin]. Jangan sebaliknya menantang! Orang orang yang angkuh, lancang dan tinggi hati beranggapan dirinya hebat, namun sesungguhnya ia telah berbelok kepada Jalan kehancuran untuk masa depannya sendiri.

"Jadi Apakah Definisi daripada Sabar?"

Sebenarnya kata sabar adalah keteguhan hati agar batin ini tetap kukuh kuat tidak terkalahkan didalam menghadapi serangan dari hal hal yang tidak baik atau yang jahat, karena ia tahu makna dari kasih sayang, dan didalam kasih sayang terdapat banyak sekali pengorbanan kesenangan pribadi didalam meredakan situasi bencana, peperangan dan dalam situasi genting maupun kesusahan.

Kamus besar bahasa Indonesia menterjemahkan
Sabar:
1.tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa,
tidak lekas patah hati); tabah: ia menerima nasibnya dng --; hidup ini dihadapinya dng --;
2 tenang; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu
*COBAAN: sesuatu yg dipakai untuk menguji (ketabahan, iman, dsb)
KESABARAN : ketenangan hati dl menghadapi cobaan; sifat tenang (sabar).

現代漢語詞典KAMUS BESAR BAHASA MANDARIN
耐心 : 心裡不急躁,不厭煩; 耐心說服。只要耐心地學,甚麼技術都能學會。

Note:
心 = heart or mind [batin - pikiran]
裡 = inside [dalam]
不 = not [tidak]
急躁 = irritable; irascible; peevish; impetuous; rash; impatient [gampang terganggu – goyah – mudah terusik – berang – kesal – ruam – tidak sabaran]

kesabaran adalah Kondisi batin tenang dan damai yang tidak terganggu dan tidak tergoyahkan.

Kamus besar LONGMAN ADVANCED AMERICAN DICTIONARY mencatat
Patience :
1. the ability to wait calmly, accept delay, or continue doing something difficult or a long time, without becoming angry or anxious.
2. the ability to accept trouble and other people’s annoying behavior without complaining or becoming angry

Patient :
Able to wait calmly for a long time or to accept difficulties, people’s annoying behavior etc. without becoming angry or anxious.

KESABARAN
"Apabila engkau berdiam diri bagaikan sebuah gong pecah,
berarti engkau telah mencapai nibbana,
sebab keinginan membalas dendam tak terdapat lagi dalam dirimu."
Dhammapada

Raja Surga Sakka berkata:
“’demikianlah pandanganku
dalam menghadapi yang dungu:
Ketika mengetahui bahwa musuh marah
Maka ia harus dengan penuh perhatian mempertahankan kedamaian.[kesabaran]’

“’Biarkanlah hal apa pun yang ia pikirkan:
“Ia bersabar dikarenakan rasa takut,” atau tidak pikirkan.
Namun [Aku – Raja Surga berkata] di antara tujuan yang tertinggi
dalam kebahagiaan seseorang,
Tidak ada ditemukan yang lebih baik daripada kesabaran.

“’Mereka menyebut kesabaran sebagai sesuatu yang lemah—
atau sebagai kedunguan—
Namun Aku katakan
tidak ada seorang pun yang dapat mencela seseorang
Yang kuat dan teguh didalam kesabaran,
karena ia yang penyabar selalu dijaga oleh Dhamma.

“’Seseorang yang membalas kemarahan orang lain dengan kemarahan
demikianlah ia membuat dirinya sendiri lebih terpuruk.
Dengan tidak membalas kemarahan orang lain dengan kemarahan,
IA MEMENANGKAN PERTEMPURAN YANG SULIT DIMENANGKAN.’

“’Ia yang melatih dirinya sendiri
demi kesejahteraan kedua belah pihak,
Kesejahteraannya dan orang lain,
Ketika, mengetahui bahwa musuhnya marah,
Ia dengan penuh perhatian mempertahankan kedamaiannya.

“‘Ketika ia menjadi penyembuh bagi kedua belah pihak,
Orang-orang yang menganggapnya dungu
pada kenyataannya hanyalah
orang orang yang tidak arif
serta tidak memahami Dhamma.’

Ubhinnaṃ tikicchantānaṃ, attano ca parassa ca;
Janā maññanti bāloti, ye dhammassa akovidā’’ti

akovidā - akovida = not wise and able,
not well trained or knowledgeable on something,
not recognizing or well educated intimately on something.【
對於一個教導或大事不熟知以及不賢明】

Kemudian Guru Agung nan Luhur, Bhagava, bersabda:

‘‘सो हि नाम, भिक्खवे, सक्को देवानमिन्दो सकं पुञ्ञफलं उपजीवमानो देवानं तावतिंसानं इस्सरियाधिपच्चं रज्जं कारेन्तो उट्ठानवीरियस्स वण्णवादी भविस्सति। इध खो तं, भिक्खवे, सोभेथ, यं तुम्हे एवं स्वाक्खाते धम्मविनये पब्बजिता समाना उट्ठहेय्याथ घटेय्याथ वायमेय्याथ अप्पत्तस्स पत्तिया अनधिगतस्स अधिगमाय, असच्छिकतस्स सच्छिकिरियाया’’ति।

‘‘So hi nāma, bhikkhave, sakko devānamindo sakaṃ puññaphalaṃ upajīvamāno devānaṃ tāvatiṃsānaṃ issariyādhipaccaṃ rajjaṃ kārento uṭṭhānavīriyassa vaṇṇavādī bhavissati. Idha kho taṃ, bhikkhave, sobhetha, yaṃ tumhe evaṃ svākkhāte dhammavinaye pabbajitā samānā uṭṭhaheyyātha ghaṭeyyātha vāyameyyātha appattassa pattiyā anadhigatassa adhigamāya, asacchikatassa sacchikiriyāyā’’ti.

“Demikianlah, Oh Para bhikkhu, Raja surgawi Sakka, hidup dengan keluhurannya itu, menjalankan kekuasaan dan pemerintahan tertinggi atas para makluk surgawi di Tāvatiṃsa, ia makluk surgawi yang menjunjung tinggi kesabaran dan kelembutan, maka seberapa layaknya hal ini bagi kalian yang telah meninggalkan keduniawian dan hidup dalam Dhamma dan Disiplin yang telah dibabarkan sedemikian baik, untuk menjadi siswa yang penyabar dan lembut?”


Tipitaka Source:
तिपिटक (मूल) - सुत्तपिटक - संयुत्तनिकाय - सगाथावग्ग - ११. सक्कसंयुत्तं - सुवीरसुत्तं
Tipiṭaka (Mūla) - Suttapiṭaka - Saṃyuttanikāya – Sagāthāvagga - 11. Sakkasaṃyuttaṃ - Suvīrasuttaṃ

Jadi sabar atau kesabaran dalam Dharma bukanlah menekan atau menahan, ia yang sepenuhnya mengerti sifat atau fenomena alam, kamma dan punabhava, yang menyebabkan seseorang menjadi tenang batinnya dan menjaga kewaspadaannya agar tidak khilaf dan takabur saat menghadapi situasi sulit, perkara, kegentingan ataupun segala petaka dan bencana yang datang.

Umat Buddha seringkali bingung bagaimana dan apakah caranya supaya menjadi sabar? apa menahan dan diam saja? yang mengartikan kesabaran atau khanti dengan menahan [menampung] tanpa menyaring dalam dhamma sesungguhnya tidak benar, karena dengan menahan berarti suatu hari ada saatnya akan meledak keluar.
Misalnya saat anda diejek, pikiran anda langsung mengatakan "harga diri KU" di-peloroti!? gengsi anda dijatuhi! Umat Buddha harus lugas dan cepat cara berpikirnya, balikkan dengan kebenaran segala fitnah atau niat jahat yang terselubung berupa ejekan tersebut dengan kebenaran, sebagai penegasan. Janganlah sampai mulut berapi berlari mendahului keteguhan hati dan kedamaian.

misalnya anda ditanya entah itu dengan nada diejek atau tidak,
"bodoh lah kamu kerjain ini saja nda beres?"
Jelaskan bahwa anda telah menyelesaikannya jika memang telah menyelesaikannya tanpa perlu marah marah,
kemudian buktikan kalau anda orang yang bertanggung jawab dan telah merapihkan tugas.
"Kok sampai sekarang belum mempunyai momongan?"
nda ada salahnya juga bilang: kami suami istri nda masalah kalau memang belum saatnya.
yah memang bukan keinginan kami hal ini terjadi.
"sampai sekarang belum mempunyai pacar?"
toh tidak ada salahnya menjawab "Masalah pribadi orang lain nda perlu anda yang peduli.
Bapa ibu saya saja tidak mempertanyakan apa saya mau menikah atau tidak?"
Satu hal yang perlu kita tanamkan dalam diri, jangan menanamkan keterikatan atau kesandaran apapun terhadap yang lain, kala serius dan menjawab untuk affirmasi, lakukanlah sebagaimana apa adanya, singkat dan jelas. Karena banyak orang yang suka "peduli berlebihan" yang sesungguhnya bukan urusannya. yang tidak perlu kita gubris.

Ada salah satu bintang dari Venezuela yang cukup terkenal Carolina Herrera, saat diwawancarai untuk hal hal yang sensitif dan pribadi [privaate] ia cuma menjawab kepada wartawan
"There are thousand questions like this asked to me, however of course there would be just a thousand silent of answers for them."
Terdapat ribuan pertanyaan yang seperti ini ditanyakan kesaya, namun tentu saja terdapat ribuan jawaban terdiam untuk mereka.
Jadi bukan memendam, mereka lapang dan terbuka apa adanya, bukan pula melawan, karena memendam atau melawan pun bukanlah cara yang sehat didalam berkomunikasi, senjata kita cuma kebenaran saja dan tanpa niat jahat.

Di dalam Dhamma, baik seorang siswa luhur [Arahat] sampai Samma Sambuddha tidaklah pernah menekan batin sendiri, itu sama dengan penyiksaan batin, JANGANLAH PERNAH MENCOBA UNTUK MERUBAH KENYATAAN SEINDAH KEINGINAN PIKIRAN ATAU FANTASI KITA. Namun sebaliknya, DIKALA SESEORANG MENGALAMI KEMALANGAN HIDUP, kehilangan kerjaan, berkurangnya pemasukkan, dan segala ketidakberuntungan hidup lainnya, Ia yang bijaksana mengambil kesempatan ini untuk melatih kualitas batinnya, karena pada saat itulah kita bisa sadar seberapa luhur dan indahnya batin seseorang?

Dari situ ia bisa mengambil hikmah akan pengertian yang hakiki daripada fenomena alam [perubahan yang bisa terjadi kapan saja yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan], dan dari peristiwa kemalangan hidup yang kita alami pula kita mendalami arti sebuah keluhuran batin [kekuatan batin dan mental], mengerti kamma dan punarbhava [oh jadi beginilah rasanya saat menerima vipaka dari kamma buruk], sehingga yang muncul adalah pengertian dan kebijaksanaan, demikian ia menyadari kenyataan hidup. Kalau pada saat kita hidup berkecukupan atau berkelimpahan, hidup dalam zona nyaman, yah kalau ada ungkapan ungkapan yang kelihatannya baik itu kan hanya baru sampai pada taraf sebuah kata kata saja, belum teruji apakah ia benar baik atau tidak?

Setelah mengalami kemudian menyadari [oh jadi demikian kesulitan], kemudian ia memaklumi dan ia observasi bagaimana mengatasi masalah ini?

Para Buddha ataupun Arahat adalah orang yang bijaksana dan penuh kasih sayang, saat mengahdapi permasalahan mereka dengan tenang dan didasari kebijaksanaan mengobservasi, apa dan bagaimana mereka harus berbuat? kebalikan dari kita yang tiap kali ada permasalahan datang, kita serang dahulu batin kita dengan ketakutan, kemarahan, keruwetan [pemikiran yang negative muncul dan memegang kendali seperti prejudice atau prasangka atau pemikiran buruk], kekhawatiran dsj.

Dan walaupun saat sesungguhnya batin ini mulai berpikir negatif serta memiliki kehendak mencelakai atau merusak yang lain ia mengerti kalau kita sedang berada diarah yang salah, Namun sayangnya seringkali yang muncul ke permukaan ataupun kenegativitasan yang menguasai didalam batin selalu membenarkan kesalahan dan keegoan kita. Ego disini maksudnya adalah selalu melakukan pembenaran diri sendiri padahal tahu kalau kitapun ada melakukan kesalahan dan telah merugikan orang lain; Tahu bahwa mencuri, berbuat curang atau dengki itu salah dan bisa melukai orang lain, tapi ia berdalih bahwa kalau tidak begitu AKU kapan bisa kaya nya? pokoknya serba aku yang benar dan tidak boleh dilukai. terlalu tinggi harga diri [aku], namun hati hati, saat ketinggian sampe ke awan, jatuhnya sungguh sangat menyakitkan. 【作用力反作用力】

Orang yang sabar sesungguhnya adalah seseorang yang tahu arti kasih sayang dan pengorbanan, bukan berdiam diri dengan tidak membuat permasalahan jadi jelas, lalu mengambil kesempatan dalam kesempitan dari berdiam diri yang kemudian agar supaya orang memihak dan mengambil keuntungan dari situasi karena ia terlihat diam dan terlihat tidak bersalah. Sebaliknya orang yang sabar, atas dasar "tanpa kekerasan" [ahimsa] dan "rasa persahabatan" [mettā] membuat masalah clear, menguraikan kesalahpahaman yang bukan demi keuntungan pribadi, keluarga atau golongannya. Janganlah menyaruhkan korup, suap [bribe], dan segala niat kotor dianggap sebagai kemuliaan, ada yang sampai misalnya mengatas namakan golongannya sebagai karuna atau metta, namun ternyata mereka melakukannya atas dasar untuk menutupi borok [korup pajak dan korup atau tipu muslihat lainnya yang kita tidak lihat dipermukaan].

Biasanya orang dihantui oleh rasa takut: takut rugi, takut disakiti, takut kehilangan uang dan kesenangan pribadi, takut kehilangan keuntungan ataupun kekuasaan, tidaklah pernah jadi orang yang sabar. ia jadi gentar dan rusak keteguhan batinnya [hilang ketenangannya] didalam ketidaksabarannya. Namun orang yang egois, walaupun rajin rajin vipassana, tetap mengukuhkan pemikirannya walaupun ia tahu kalau apa yang ia pelajari selama ini belumlah secara keseluruhan, cuma sebagian kecil daripada kejadian maupun pengetahuan tentang kehidupan yang luas dan rumit ini, karena ia terpaku pada buku yang ia percayai, sedangkan Ajahn Chah saja mengatakan Dhamma tidak ada dibuku.

Kata takut ini jangan disalah artikan seperti yang khalayak umum ujarkan kepada teman yang tidak mau ikut ikutan dalam mabuk mabukan, judi, melacur, penggunaan Narkoba, tauran, perang atau berantam, dsj. Namun bisanya manusia sesungguhnya kecut atau takut untuk mengakui kesalahannya kepada orang yang disakiti atau dicelakai.


Mari kita lihat terjemahan kata Khanti sebagai berikut
Khanti,& Khantī [Sk.kṣānti]
【खन्ती】
Patience,forbearance,forgiveness.
Def.at Dhs.1341:
khantī khamanatā adhivāsanatā acaṇḍikkaṁ anasuropo attamanatā cittassa
Kesabaran, damai dan sifat toleransi, sanggup menerima dengan damai, tidak murka atau berangasan, menghindari kekerasan atau kekasaran, keterbukaan [pandai menghibur diri dalam kesusahan].

kata Khanti lebih sering disamakan dengan rasa persahabatan mettā [amiable, hospitable]
avihiṁsā,mettatā,anudayatā,S.V,169
Khuddakanikāya - Sāriputtasuttaniddesavaṇṇanā
rasa kepedulian, "tidak menyiksa, tidak melukai, tidak mencelakakan, tidak membunuh" adalah metta [amiable ; hospitable].

titikkhā (Forgivenss, forbearance, tolerance):
khantī paramaṁ tapo titikkhā nibbānaṁ paramaṁ vadanti Buddhā
kesabaran adalah praktek bertapa yang paling tinggi ...
Dh.184=D.II,49=Vism.295;

cp.DhA.III,237:titikkhā-saṅkhātā khantī;
Yang disebut Kesabaran adalah Pemaafan [menerima kesalahan yang lain].
khantī avihiṁsā, avihimsā ca sacceyyañ ca
Kesabaran adalah tidak menyiksa, tidak melukai, tidak mencelakakan, tidak membunuh, tapi ia adalah orang yang toleran dan pengertian, ia memberikan pengertian melalui pendekatan.

Khanti akodhana (forbearing,gentle) lembut dan tenang perangainya.
Khanti soraccaṁ (docility,tractableness) mudah dinasehati dan patuh.
Khanti sovaccassatā (kind speech) ucapan yang tidak kasar.

Jadi yang disebut kesabaran [Khanti] yaitu sebuah kondisi batin atau memiliki perangai yang tenang dan damai dalam segala situasi, yang mana ia orang yang pengertian, tidak mencelakai, tidak melukai, tidak menyiksa atau membuat yang lainnya tertimpa ketakutan apalagi menyebabkan kematian; bebas dari kebencian dan sentimen [memusuhi], sebaliknya ia pemaaf dan mengalah [toleransi], pembawa damai, menghindari pertikaian, keributan dan peperangan. Maka itu dalam masa sejarah Indonesia, terdapat berbagai pertapa yang bersih hatinya dan hidup bertapa meninggalkan segala tradisi dan kubu kubu keagamaan atau malah tidak mengenal agama sama sekali pergi meninggalkan kehidupan duniawi, namun malah banyak yang telah menjalankan apa yang tertera didalam Dhamma, seperti ajaran khanti ini [kesabaran, pemaafan, kasih sayang], melepas ikatan batin dan tentu saja meditasi, yang memang ternyata pangeran Siddhatta sendiri pun bukan beragama Buddha, ini yang tidak disadari oleh banyak umat Buddha sendiri. Namun tak sedikit bagi umat Buddha sekarang yang malah sibuk berdebat dengan yang lain demi mengurusi kubu kubu keagamaan-nya, tidak mengutamakan membersihkan batin yang Buddha sendiri junjung tinggi "silakan tanyakan kepada pertapa lagi, apakah ada yang lebih hebat daripada kejujuran, pengendalian diri, kedermawanan dan kesabaran"


Siapkah kita untuk berbelas kasih [Karunā] dan membebaskan pikiran dari keculasan – kepicikan – kedengkian, menggantikannya dengan “rasa persahabatan – amiable – pikiran baik atau luhur, yang tidak memihak” [mettā]?



“…Tinggalkanlah keangkuhan,
dan Aku jamin engkau akan mencapai tingkat kesucian Anagami.
Makhluk yang melambung dengan kepongahan-nya
Akan terlahir lagi dalam alam yang buruk.
Tetapi setelah memahami apa itu tinggi hati,
Mereka yang bijaksana meninggalkannya.
Dengan meninggalkan rasa congkak,
Mereka tak lagi kembali ke dunia ini.”
[Ekanipata - Itivuttaka]

Jadi jangan takut untuk menjadi pemenang, menjadi orang yang baik, yang memberi jalan, yang penuh kasih sayang, serta menjadi orang yang mengertikan - memaafkan [pemaaf], jangan takut untuk bangkit dikala kita terjatuh.

“天網恢恢疏而不漏”。
Tiān wǎng huī huī shū ér bú lòu
【baca: Thien wang huei huei, shu er pu lou】
Seberapapun orang jahat berusaha untuk lari dan bersembunyi daripada kejahatannya,
ia tetap tidak akan dapat lolos dari akibat perbuatannya

“Wahai para bhikkhu, janganlah takut melakukan perbuatan baik. [karena] perbuatan baik adalah sebuah ungkapan rasa bahagia, hal yang pantas dikerjakan dan diharapkan, berharga, serta menyenangkan. Para bhikkhu, karena saya mengetahui sepenuhnya untuk kurun waktu yang lama saya telah menikmati akibat dari perbuatan baik berupa hal hal yang diidamkan, diinginkan, berharga, serta menyenangkan karena sering melakukan perbuatan jasa kebajikan."

Sebagai akhiran - penutup, mari kita renungkan pesan terakhir dari Buddha
sebagaimana diwejangkan sebelum Maha Parinibbana, Tatagatha berkata
「Vaya dhamma sankhara, appamadena sampadetha」
yang mana dikitab penjelasan [explication atau commentaries] dijelaskan,
yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi:
"Segala bentukan materi mengalami proses perubahan, senantiasa agar berhati hati"
yang terkadang diberitahukan oleh penceramah di Indonesia.
Kata kata hati hati ini,jangan disalah-artikan sebagai was was - khawatir gak karuan, hidup menjadi tidak tenang, seperti banyak dikalangan umat Buddha sendiri pada kenyataannya adakalanya menjadi momen KETEGANGAN bercampur ketakutan, kebingungan dan kecemasan! karena tidak memahami Dhamma.

namun kata terjemahan "hati hati" diatas sesungguhnya berarti "be always aware atau mindful", yaitu "sadar"; Sadar akan apa? bersadar diri manakala segala tindak tanduk kita diluar jalur sīla「शील」, kembali-lah mengarahkan diri dengan sepenuh hati kearah yang luhur, bukan berfokus dari luar, karena kita tidak berdaya sepenuhnya untuk merubah atau mengatur dunia, tapi kita memiliki daya upaya untuk memperbaiki apa yang telah rusak dari dalam, dengan mengenal, mengetahui, menyadari gerak gerik pikiran, tindak tanduk dan ucapan kita seraya merenung dan berintrospeksi:
"apakah jalan pikiran saya akan mengantarkan saya pada jalan kebinasaan atau maut dimasa mendatang?
apakah perbuatan saya akan membawa celaka bagi semuanya?
apakah ucapan saya menyakiti yang lain?"

"Sebagaimana apa yang ditanamnya,
demikianlah buah yang dipetik.
ditaburlah benih benih tersebut,
dan ia-lah yang akan mencicipi rasa daripada buah yang akan matang tersebut."



----------

Setelah ia bermata pencaharian benar, hidup lurus, jujur dan bersih dari segala kepicikan & keculasan, Upāsikā atau upāsikā yang baik dan rendah hati ini, pengikut Sang Buddha, pelestari Dhamma, serta menjunjung tinggi Arya Saṃgha, sudah selayaknya datang dan merenung [kontemplasi] didalam Buddha Dhamma[terutama pada Pūrṇimā siddhi]:



“Yassa-nussaranenapi, antalikkhepi panino;
patiṭṭhaṃ adhigacchanti, bhūmiyaṃ viyā sabbathā.
Sabbupaddavā jalaṃ ha, yakkhā coradisambhava;
gaṇanā na ca muttānaṃ. Parittaṃ taṃ bhaṇāma he.”

“Iti pi so bhagava: araham, sammasambuddho,
vijjācaraṇa sampanno, sugato, lokavidū,
anuttaro purisadammasarathi,
sattha devamanussanam, buddho, bhagava’ti.

Namo tassa Sammasambuddhassa,
Ye ca buddha atita ca—ye ca buddha anagata
Paccuppanna ca ye buddha—aham vandami sabbada.
Natthi me saranam aññam—buddho me saranam varam
Etena saccavajjena—hotu me jayamangalam.
Uttamangena vande’ham—pada-pamsu varuttamam,
Buddhe yo khalito doso—buddho khamatu tam mamam.
Buddham jivitapariyantam saranam gacchami.”

Yamhi saccañca dhammo ca, ahiṃsā saṃyamo damo; Sa ve vantamalo dhīro, so theroti pavuccati.
Sabbe tasanti daṇḍassa, sabbe bhāyanti maccuno;Attānaṃ upamaṃ katvā, na haneyya na ghātaye.
Sabbe tasanti daṇḍassa, sabbesaṃ jīvitaṃ piyaṃ; Attānaṃ upamaṃ katvā, na haneyya na ghātaye.
Sukhakāmāni bhūtāni, yo daṇḍena vihiṃsati; Attano sukhamesāno, pecca so na labhate sukhaṃ.

Yo daṇḍena adaṇḍesu, appaduṭṭhesu dussati; Dasannamaññataraṃ ṭhānaṃ, khippameva nigacchati.
Vedanaṃ pharusaṃ jāniṃ, sarīrassa ca bhedanaṃ; Garukaṃ vāpi ābādhaṃ, cittakkhepañca pāpuṇe.
Rājato vā upasaggaṃ, abbhakkhānañca dāruṇaṃ; Parikkhayañca ñātīnaṃ, bhogānañca pabhaṅguraṃ.
Atha vāssa agārāni, aggi ḍahati pāvako; Kāyassa bhedā duppañño, nirayaṃ sopapajjati.

[Lihat selengkapnya disini]




Diakhir tulisan ini, tidak ada salahnya jika kita semua, turut merenung dan ber-refleksi melalui sabda berikut ini:
न वाक्करणमत्तेन, वण्णपोक्खरताय वा।
साधुरूपो नरो होति,इस्सुकी मच्छरी सठो॥
Na vākkaraṇamattena, vaṇṇapokkharatāya vā;
Sādhurūpo naro hoti, issukī maccharī saṭho.
...











"Akhir Kata"
Dengan pañña [kebijaksanaan] sebagai fondasinya yang membangun pilar kokoh daripada sīla शील [keluhuran batin] yang menghantarkan kita pada samadhi [ketenangan - keseimbangan batin]. Salam Mettā kepada para Upāsaka dan Upāsikā sekalian, jika terdapat kesalahan atau ungkapan yang tidak berkenan dihati didalam tulisan ini, kiranya dimaafkan dan dicerna didalam pengertian positif dan bijaksana. Mengingat masih terdapatnya dikalangan umat Buddhis sendiri dengan segala kekurangan, ketidaktahuan, kepicikan dan segala hal yang tidak sesuai dengan apa yang Guru Agung - Buddha ajarkan, maka renungan ini dibuat sebagai kabar baik dan auspicious kepada sodara sodari se-Dhamma sekalian. Biarlah tulisan ini menjadi sebuah refleksi, sebuah perenungan untuk mengkaji sendiri batin masing masing umat, maupun kalangan Buddhis secara keseluruhan, agar renungan ini bisa menghancurkan segala keegoisan, keculasan, kepicikan yang masih berkecimpung didalam hati. Sekali lagi jika ada kata kata yang kurang berkenan mohon dimaafkan. kiranya pembaca mengambil hikmah serta menelaahnya langsung kedalam diri sendiri secara positif.

"Janganlah bergaul dengan orang orang yang picik,
culas [penuh tipu muslihat],dan yang juga ternyata penghasut,
yang membicarakan kejelekan orang lain tapi tidak sadar dirinya juga kotor.
Ucapannya terdengar manis ditelinga seolah olah ia baik dan tidak bersalah,
sikapnya seolah olah menunjukkan kebaikan [pencitraan]
namun pemikirannya kotor.
Menganggap kebajikan dan baktisosialnya
hanya untuk menutupi kesalahannya didalam penipuan, keculasan atau kecurangannya.
orang orang korup yang ingin sewenang wenang dan menghalalkan segala cara
untuk menggapai napsu keinginannya pribadi.
Kita harus aware [berhati hati] terhadap orang seperti ini,
orang orang yang gak pantas dihormati atau dijadikan teman."

नमो तस्सा भगवतो अरहतो सम्मा समबुद्धस्सा
"Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa".
Svati hotu







Jangan lupa untuk meneruskan baca terjemahan Metta sutta
dengan kamus terjemahan pali - English - Bahasa Indonesia nya.
yang kemungkinan akan berbeda dari terjemahan di paritta anda
yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris semata tanpa referensi langsung dari bahasa Pali.
Karaniya metta sutta
dan
Bala Sutta - Perbincangan [sutta] mengenai Kekuatan