Tuesday, March 11, 2014

Sakkapañha Sutta

सक्कपञ्हसुत्तं
Pertanyaan Raja Sakka

"Raja surgawi Bertanya Kepada Sang Buddha", Diterjemahkan dari bahasa Pāḷi ke bahasa Inggris oleh
Maurice O'Connell Walshe
©2009 • Terjemahan alternatif: Pāḷi; DN 21 PTS: D ii 276


Sakka, raja dari Tiga-Puluh-Tiga Dewa, mendekati Sang Buddha dengan bantuan Pañcasikha, yang menyanyikan lagu-pujian untuk Beliau guna menarik perhatian Beliau. Sakka mengajukan berbagai pertanyaan tentang hidup suci kepada Sang Buddha. Kita juga membaca kisah bhikkhuni Gopikā yang menjadi seorang laki-laki, dan mencela tiga orang bhikkhu yang terlahir kembali di alam surga terendah, mendesak mereka agar berusaha lebih keras dan mencapai lebih tinggi, yang mana dua di antaranya berhasil melakukannya. Sakka sendiri berhasil menjalani jalan yang benar dan menghadiahkan Pañcasikha (yang tidak begitu maju) gadis gandhabba yang ia cintai.


[263] 1.1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.[1] Suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di Magadha, di timur Rājagaha, di dekat desa Brāhmaṇa bernama Ambasaṇḍa, di utara desa itu di Gunung Vediya, di Gua Indasāla.[2] Dan pada saat itu, Sakka, raja para dewa,[3] merasakan keinginan kuat untuk bertemu dengan Sang Bhagavā. Dan Sakka berpikir: ‘Di manakah Sang Bhagavā, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna, sekarang berada?’ Kemudian, setelah melihat di mana Sang Bhagavā berada, Sakka berkata kepada Tiga-Puluh-Tiga Dewa: ‘Tuan-tuan, Sang Bhagavā sedang menetap di Magadha ... di Gua Indasāla. Bagaimana jika kita pergi dan mengunjungi Sang Bhagavā?’ ‘Baiklah, Tuanku, dan semoga nasib baik menyertaimu,’ jawab Tiga-Puluh-Tiga Dewa.

1.2. Kemudian Sakka berkata kepada Gandhabba Pañcasikha: [264] ‘Sang Bhagavā sedang menetap di Magadha ... di Gua Indasāla. Aku mengusulkan untuk pergi mengunjungi Beliau.’ ‘Baiklah, Tuanku,’ jawab Pañcasikha dan, membawa kecapi-beluva kuning miliknya,[4] ia mengikuti sebagai pelayan Sakka. Dan, bagaikan seorang kuat merentangkan tangannya yang terlipat, atau melipatnya lagi, Sakka, dikelilingi oleh Tiga-Puluh-Tiga Dewa dan disertai oleh Pañcasikha, lenyap dari alam surga Tiga-Puluh-Tiga dan muncul di Magadha ... di Gunung Vediya.

1.3. Kemudian cahaya yang luar biasa bersinar di seluruh Gunung Vediya, menerangi seluruh Desa Ambasaṇḍa – betapa dahsyat kekuatan para dewa – sehingga di pedesaan di sekeliling mereka mengatakan: ‘Lihat, Gunung Vediya terbakar hari ini – terbakar – dilahap api! Ada apakah, Gunung Vediya dan Ambasaṇḍa menyala seperti ini?’ dan mereka begitu ketakutan sampai merinding.

1.4. Kemudian Sakka berkata: ‘Pañcasikha, [265] sulit bagi kami untuk mendekati Para Tathāgata ketika Mereka sedang menikmati kebahagiaan meditasi,[5] dan karenanya hanya memerhatikan ke dalam. Tetapi jika engkau, Pañcasikha, terlebih dulu menarik perhatian[6] dari telinga Sang Bhagavā, maka setelahnya kami akan dapat mendekati dan menghadap Sang Bhagavā, Buddha yang Mencapai Penerangan Sempurna.’ ‘Baiklah, Tuanku,’ jawab Pañcasikha dan, membawa kecapi-beluva kuning miliknya, ia mendekati Gua Indasāla. Ia berpikir: ‘Selama tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat pada Sang Bhagavā, dan Beliau akan mendengar suaraku.’ Ia berdiri di satu sisi. Kemudian, dengan iringan kecapinya, ia menyanyikan syair-syair berikut yang memuji Buddha, Dhamma, para Arahant, dan cinta kasih:[7]

1.5. ‘Nona, ayahmu Timbaru menyapa,

Oh, cahaya matahari[8] indah, aku menghormatinya dengan semestinya,
Yang darinya gadis secantik engkau dilahirkan,
Siapakah yang menyebabkan semua kegembiraan hatiku.

Menyenangkan bagaikan angin sejuk bagi ia yang berkeringat,
Bagaikan mata air sejuk bagi ia yang kehausan,
Aku sangat menyukai kecantikanmu yang memancar,
Bagaikan Dhamma bagi para Arahant. [266]

Bagaikan obat bagi ia yang sakit,
Atau Makanan bagi ia yang kelaparan,
Berikan aku, Nona agung, obat mujarab
Dengan air sejuk untuk api yang membakar.

Gajah, yang kepanasan oleh musim panas,[9]
Mencari kolam teratai yang di sana terdapat
Kelopak dan tepung sari dari bunga itu,
Demikian pula aku akan melompat ke dalam pelukanmu.

Bagaikan seekor gajah, dikendalikan oleh tongkat kendali,
Tidak memedulikan tusukan tombak dan anak panah,
Demikian pula aku, tidak peduli, tidak mengetahui apa yang kulakukan,
Mabuk oleh rupamu yang cantik.

Padamu hatiku terikat erat dalam belenggu,
Semua pikiranku berubah, dan aku
Tidak lagi mampu menemukan jalanku yang sebelumnya,
Aku seperti seekor ikan yang tertangkap di mata kail.

Mari, peluklah aku, Nona berkaki indah,[10]
Tangkap dan peluklah aku dengan mata indahmu,
Peluklah aku, hanya itu yang kuminta!
Keinginanku sedikit, pada mulanya, O, Nona,
Bagai gelombang rambut perempuan, tetapi tumbuh dengan cepat,
Bagaikan tumbuhnya persembahan yang diterima para Arahant.

Jasa apa pun yang kuterima dengan memberi
Kepada Para Mulia, semoga buah yang kuterima
Saat telah matang, adalah cintamu, yang tercantik! [267]

Bagaikan Putra Sakya dalam kenikmatan jhāna
Tekun dan penuh perhatian, mencari tujuan keabadian,
Demikianlah aku mencari cintamu, Matahariku!

Bagaikan Sang Bijaksana yang bergembira, saat ia
Mencapai Penerangan Sempurna,
Demikian pula aku bergembira berkumpul denganmu.[11]

Jika Sakka, Raja dari Tiga-Puluh-Tiga Dewa
Seandainya ingin memberikan anugerah kepadaku,
Engkaulah yang kuinginkan, cintaku kepadamu sangatlah kuat.

Ayahmu, Nona, sungguh bijaksana, Aku menghormatinya
Bagaikan pohon-sāl yang mekar indah,
Agar keturunannya, manis dan indah.’

1.6. Ketika mendengarkan ini, Sang Bhagavā berkata: ‘Pañcasikha, suara kecapimu mengiringi lagumu dengan indah, dan lagumu mengiringi kecapimu dengan indah, sehingga tidak ada yang menutupi yang lain.[12] Kapankah engkau menggubah syair-syair ini tentang Buddha, Dhamma, para Arahant, dan cinta?’ ‘Bhagavā, ketika Sang Bhagavā sedang berada di tepi Sungai Nerañjarā, di bawah pohon banyan penggembala [268] sebelum mencapai Penerangan Sempurna. Pada waktu itu, aku jatuh cinta kepada Nona Bhaddā, cerah bagai matahari, putri dari Raja Timbarū dari para gandhabba. Tetapi nona itu jatuh cinta kepada orang lain. Yaitu Sikhaddi, putra Mātali si kusir, yang lebih ia sukai. Dan ketika aku mengetahui bahwa aku tidak dapat memenangkan nona itu dengan cara apa pun, aku mengambil kecapi kayu-beluva kuning milikku dan pergi ke rumah Raja Timbarū dari para gandhabba, dan di sana aku menyanyikan syair-syair ini:’

1.7. (Syair-syair seperti 1.5). ‘Dan Bhagavā, setelah mendengar syair ini, Nona Bhadda Suriyavaccasā berkata kepadaku: “Tuan, aku belum pernah melihat Sang Bhagavā secara pribadi, meskipun aku telah mendengar-Nya saat aku pergi ke Aula Sudhamma Tiga-Puluh-Tiga Dewa untuk menari. Dan karena, Tuan, engkau memuji Sang Bhagavā begitu tinggi, marilah kita bertemu hari ini.” [269] Dan demikianlah, Bhagavā. Aku bertemu nona itu, bukan saat itu, tapi setelah itu.’

1.8. Kemudian Sakka berpikir: ‘Pañcasikha dan Sang Bhagavā sedang dalam pembicaraan bersahabat,’ maka ia memanggil Pañcasikha: ‘Anakku, Pañcasikha, sampaikan hormat kepada Sang Bhagavā dariku, dan katakan: “Bhagavā, Sakka, raja para dewa, bersama para menteri dan pengikutnya, memberi hormat di kaki Bhagavā.”’ ‘Baiklah, Tuanku,’ jawab Pañcasikha, dan melakukan apa yang diperintahkan.

‘Pañcasikha, semoga Sakka, raja para dewa, para menteri, dan pengikutnya berbahagia, demi kebahagiaan mereka semua: dewa, manusia, [[Asura|asura], nāga, gandhabba, dan kelompok makhluk apa pun juga!’ Karena demikianlah cara Sang Tathāgata menyapa makhluk-makhluk agung seperti mereka. Setelah menyapa, Sakka memasuki Gua Indasāla, memberi hormat kepada Sang Bhagavā, dan berdiri di satu sisi, dan Tiga-Puluh-Tiga Dewa, beserta Pañcasikha, melakukan hal yang sama.

1.9. Kemudian, di dalam Gua Indasāla, jalan yang kasar menjadi halus, bagian yang sempit menjadi luas, dan gua yang gelap gulita menjadi terang benderang, berkat [270] kekuatan para dewa. Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Sakka: ‘Sungguh menarik, sungguh menakjubkan bahwa Yang Mulia Kosiya,[13] yang memiliki begitu banyak kesibukan sudi datang ke sini!’ ‘Bhagavā, sejak lama aku memiliki keinginan untuk mengunjungi Bhagavā, tetapi aku selalu sibuk mewakili Tiga-Puluh-Tiga sehingga aku tidak bisa datang. Suatu ketika, Bhagavā sedang berada di Sāvatthi di gubuk Sahaḷa, dan aku pergi ke sana untuk menemui Bhagavā.’

1.10. ‘Pada saat itu, Sang Bhagavā sedang duduk bermeditasi, dan istri Raja Vessavaṇa melayani Beliau, setelah memberi hormat dengan merangkapkan tangan. Aku berkata kepadanya: “Nyonya, mohon sampaikan hormatku kepada Sang Bhagavā, dan katakan: ‘Sakka, raja para dewa, bersama para menteri dan pengikutnya, memberi hormat di kaki Bhagavā.’” Tetapi ia berkata: “Tuan, ini bukan saat yang tepat untuk menemui Sang Bhagavā, Beliau sedang bermeditasi.” [271] “Baiklah kalau begitu, Nyonya, ketika Sang Bhagavā keluar dari meditasi-Nya, sampaikanlah kepada-Nya apa yang kukatakan.” Bhagavā, apakah nyonya itu menyampaikan hormatku, dan apakah Bhagavā ingat apa yang ia katakan?’ ‘Ia menyampaikan hormatmu kepada-Ku, Raja Para Dewa, dan Aku ingat apa yang ia katakan. Aku juga ingat bahwa karena suara roda keretamulah, Aku bangun dari meditasi-Ku.’[14]

1.11. ‘Bhagavā, para dewa yang muncul di alam surga Tiga-Puluh-Tiga sebelum aku telah mengatakan kepadaku dan memastikan bahwa ketika seorang Tathāgata, Buddha Arahant yang telah mencapai Penerangan Sempurna muncul di dunia, peringkat para dewa meningkat, dan para asura menurun dalam hal jumlah. Sesungguhnya aku telah menyaksikannya sendiri. Ada, Bhagavā, di sini di Kapilavatthu, seorang gadis Sakya bernama Gopikā yang berkeyakinan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha, dan yang melaksanakan peraturan sīla dengan saksama. Ia menolak statusnya sebagai seorang perempuan dan mengembangkan pikiran untuk menjadi seorang laki-laki. Kemudian, setelah kematiannya, saat hancurnya jasmani, ia terlahir kembali di alam bahagia, di alam surga di antara Tiga-Puluh-Tiga Dewa, sebagai salah satu dari putra kami, dan dikenal dengan nama Gopaka, putra para dewa.[15]

Juga, ada tiga bhikkhu yang, setelah menjalani kehidupan suci di bawah Bhagavā, terlahir kembali di alam yang lebih rendah di antara para gandhabba. Mereka menikmati kenikmatan lima indria, sebagai pelayan atau pembantu kami. Mengetahui ini, Gopaka [272] memarahi mereka dengan mengatakan:

Ada apa dengan kalian, Tuan-tuan, kalian tidak mendengarkan ajaran Sang Bhagavā? Aku adalah seorang perempuan yang berkeyakinan di dalam Buddha ... aku menolak status sebagai seorang perempuan ... dan terlahir kembali di antara Tiga-Puluh-Tiga Dewa dan sekarang dikenal sebagai Gopaka, putra para dewa. Tetapi kalian, setelah menjalani kehidupan suci di bawah Sang Bhagavā, telah terlahir kembali dalam kondisi rendah di antara para gandhabba! Suatu pemandangan yang menyedihkan melihat teman dalam Dhamma kami terlahir kembali dalam kondisi rendah di antara para gandhabba!”

Dan karena ditegur demikian, dua di antara dewa itu seketika mengembangkan perhatian,[16] dan segera mencapai Alam Pengikut Brahmā.[17] Tetapi satu dari mereka tetap menyukai kenikmatan-indria.’

1.12. [Gopaka berkata:]

‘“Siswa dari Ia-Yang-Melihat,
Namaku saat itu adalah Gopikā.
Berkeyakinan kuat di dalam Buddha, Dhamma
Dengan gembira aku melayani Sangha.
Berkat pengabdian setia kepada-Nya
Lihatlah aku sekarang, seorang putra-Sakka,
Berkuasa, di tiga alam surga,[18]
Gilang-gemilang, Gopaka namaku.

Aku melihat, yang dulunya adalah para bhikkhu,
Mencapai tidak lebih dari peringkat gandhabba,
Yang sebelumnya terlahir sebagai manusia
Dan menjalani kehidupan yang diajarkan Sang Buddha.

Kami mempersembahkan makanan dan minuman untuk mereka
Dan melayani mereka di rumah-rumah kami.[19] [273]
Mereka tidak menggunakan telinga, yang mereka miliki,
Masih tidak dapat menangkap ajaran Buddha?

Masing-masing harus memahami untuk dirinya sendiri
Dhamma yang diajarkan oleh Ia-Yang-Melihat,
Dan telah dibabarkan dengan sempurna.
Aku, melayani kalian, Mendengarkan kata-kata baik dari Para Mulia,
Dan karenanya, aku terlahir menjadi seorang putra Sakka
Berkuasa, di tiga alam surga, Dan gilang-gemilang, sedangkan kalian,
Walaupun kalian melayani Pangeran Manusia Dan menjalani kehidupan tanpa tandingan
yang Beliau ajarkan, Telah muncul dalam kondisi rendah,
Dan tidak mencapai peringkat yang seharusnya,
Pemandangan menyedihkan untuk dilihat
Teman-teman dalam Dhamma tenggelam begitu rendah
Menjadi, para gandhabba,

kalian datang untuk melayani para dewa,
Sedangkan aku – aku berubah!
Dari kehidupan rumah tangga, dan seorang perempuan,
aku, sekarang terlahir kembali sebagai laki-laki, dewa,
Bergembira dalam kebahagiaan surgawi!”

Ketika dikecam demikian oleh Gopaka,
Siswa sejati Gotama,
Dengan sedih mereka menjawab:
“Aduh, marilah kita pergi, dan berusaha keras,
Dan jangan lagi menjadi budak yang lain!”

Dan dari tiga itu, dua berusaha keras,
Dan mengingat-ingat kata-kata Sang Guru.
Mereka memurnikan hati mereka dari nafsu,
Melihat bahaya dalam keinginan,
Dan bagaikan gajah yang mengamuk
Semua belenggu yang mengikat, mereka patahkan
Belenggu dan ikatan nafsu,
Belenggu-belenggu jahat itu
Begitu sulit diatasi – dan demikianlah
Para dewa, Tiga-Puluh-Tiga,
Dengan Indra dan Pajāpati,
Yang duduk di singgasana dalam Aula Pertemuan,
Kedua pahlawan ini, dengan nafsu tersingkirkan,
Melampaui, dan meninggalkan mereka jauh di belakang.



Melihat hal ini, Vasavā,[20] terkejut,
Pemimpin di tengah-tengah kerumunan para dewa,
Berteriak: “Lihat bagaimana mereka yang rendah ini
Melampaui para dewa, Tiga-Puluh-Tiga Dewa!”
Kemudian mendengar ketakutan pemimpinnya,
Gopaka berkata kepada Vasava:

“Tuan Indra, di alam manusia
Seorang Buddha, yang disebut Sang Bijaksana Sakya,[21]
Telah menguasai nafsu
Dan para siswa ini, yang telah gagal
Dalam perhatian, ketika meninggal dunia,
Sekarang telah mendapatkannya kembali dengan bantuanku. [275]
Walaupun satu dari mereka tertinggal di belakang
Dan masih bersama para gandhabba,
Dua ini, dengan mengerahkan kebijaksanaan tertinggi,
Dalam pencerapan mendalam menolak alam dewa!
Jangan ada siswa yang ragu
Bahwa kebenaran dapat dicapai
Oleh mereka yang berada di alam ini.[22]
Bagi ia yang menyeberangi banjir dan
mengakhiri keraguan, hormat yang selayaknya kepada,
Sang Buddha, Pemenang, Bhagavā, kita persembahkan.”

Bahkan di sini, mereka mencapai kebenaran, dan dengan demikian

Telah melewati melampaui kemuliaan yang lebih tinggi.
Dua itu telah mencapai alam yang lebih tinggi daripada yang ini,
Alam Pengikut Brahmā. Dan kita
Telah datang, dan, Jika Tuan mengizinkan kami pergi,
Untuk mengajukan pertanyaan kepada Sang Bhagavā.’

1.13. Kemudian Sang Bhagavā berpikir: ‘Sakka telah menjalani kehidupan murni sejak waktu yang lama. Pertanyaan apa pun yang ia tanyakan pasti langsung pada intinya dan bukan basa-basi, dan ia akan cepat memahami jawaban-Ku.’ Maka Sang Bhagavā menjawab Sakka dalam syair ini:

‘Tanyakanlah, Sakka, semua yang engkau inginkan! Dan pada setiap pertanyaanmu, Aku akan menenangkan pikiranmu.’

[Akhir dari bagian pembacaan pertama] [276]

2.1. Setelah diundang demikian, Sakka, raja para dewa, mengajukan pertanyaan pertama kepada Sang Bhagavā:
‘Dengan belenggu apakah, Yang Mulia,[23] makhluk-makhluk terikat
– dewa, manusia, asura, nāga, gandhabba, dan jenis apa pun yang ada –
yang mana, walaupun mereka ingin hidup tanpa kebencian, menyakiti satu sama lain,
bermusuhan, dan memfitnah, dan dalam kedamaian
,

tetapi mereka masih tetap hidup dalam kebencian, menyakiti satu sama lain,
bermusuhan dan memfitnah
?’ Ini adalah pertanyaan pertama Sakka kepada Sang Bhagavā,
dan Sang Bhagavā menjawab:

‘Raja para Dewa, adalah belenggu kecemburuan dan ketamakan[24] yang membelenggu makhluk-makhluk sehingga, walaupun mereka ingin hidup tanpa kebencian ... tetapi mereka masih tetap hidup dalam kebencian, menyakiti satu sama lain, bermusuhan dan memfitnah.’ Ini adalah jawaban Sang Bhagavā, dan Sakka gembira, berseru: ‘Jadi, demikian, Bhagavā. Jadi, demikian, Yang Sempurna menempuh Sang Jalan! Melalui jawaban Bhagavā, aku telah mengatasi keraguanku dan melenyapkan keraguanku!’

2.2. Kemudian Sakka, setelah [277] mengungkapkan penghargaannya, menanyakan pertanyaan selanjutnya: ‘Tetapi, Yang Mulia, apakah yang memunculkan kecemburuan dan ketamakan, apakah asal-mulanya, bagaimanakah hal itu muncul? Karena adanya apakah, hal-hal tersebut muncul, karena tidak adanya apakah, hal-hal tersebut tidak muncul?

‘Kecemburuan dan ketamakan, Raja para Dewa,
muncul dari rasa suka dan tidak suka,[25]
ini adalah asal-mula, inilah bagaimana hal-hal tersebut muncul,
ketika suka dan tidak suka ini muncul, maka muncullah kecemburuan dan ketamakan,
ketika suka dan tidak suka tidak ada, maka kecemburuan dan ketamakan tidak muncul.’

‘Tetapi, Yang Mulia, apakah yang menimbulkan suka dan tidak suka? ...
karena adanya apakah, hal-hal tersebut muncul,
karena tidak adanya apakah, hal-hal tersebut tidak muncul?’

‘Hal-hal tersebut muncul, Raja para Dewa, dari keinginan[26] ...
karena ada keinginan, maka hal-hal tersebut muncul,
karena tidak adanya keinginan, maka hal-hal tersebut tidak muncul.’

‘Tetapi, Yang Mulia, apakah yang menimbulkan keinginan? ....’
‘Keinginan, Raja para Dewa, muncul dari pemikiran[27] ...

ketika pikiran memikirkan sesuatu, maka keinginan muncul;
ketika pikiran tidak memikirkan apa-apa, maka keinginan tidak muncul.’

‘Tetapi, Yang Mulia, apakah yang menimbulkan pemikiran? ....’
‘Pemikiran, Raja para Dewa, muncul dari kecenderungan untuk mendapatkan lebih banyak[28] ...
ketika kecenderungan ini ada, maka pemikiran muncul,
ketika kecenderungan ini tidak ada, maka pemikiran tidak muncul.’

2.3. ‘Jadi, Yang Mulia, praktik apakah yang telah dijalankan oleh bhikkhu itu,[29] yang telah mencapai jalan benar yang diperlukan yang menuju kepada lenyapnya kecenderungan untuk mendapatkan lebih banyak?’ [278]

‘Raja para Dewa, Aku menyatakan ada dua jenis kebahagiaan:[30]
jenis yang harus dikejar, dan jenis yang harus dihindari.
Hal yang sama berlaku bagi ketidakbahagiaan[31] dan keseimbangan.[32]
Mengapakah Aku menyatakan hal ini sehubungan dengan kebahagiaan?


Beginilah Aku memahami kebahagiaan: Ketika Aku mengamati bahwa dalam mengejar kebahagiaan demikian, faktor-faktor tidak baik meningkat dan faktor-faktor yang baik berkurang, maka kebahagiaan demikian harus dihindari. Dan ketika Aku mengamati bahwa dalam mengejar kebahagiaan demikian, faktor-faktor tidak baik berkurang dan faktor-faktor yang baik meningkat, maka kebahagiaan demikian harus dikejar.


Sekarang, kebahagiaan demikian yang disertai awal-pikiran dan kelangsungan-pikiran,[33] dan yang tidak disertai awal-pikiran dan kelangsungan-pikiran, yang ke dua adalah lebih luhur. Hal yang sama berlaku bagi ketidakbahagiaan dan [279] keseimbangan. Dan ini, Raja para Dewa, adalah praktik yang dijalankan oleh bhikkhu itu yang telah mencapai jalan benar ... menuju kepada lenyapnya kecenderungan untuk mendapatkan lebih banyak.’ Dan Sakka mengungkapkan kegembiraannya atas jawaban Sang Bhagavā.

2.4. Kemudian Sakka, setelah mengungkapkan penghargaannya, menanyakan pertanyaan selanjutnya: ‘Yang Mulia, praktik apakah yang telah dijalankan oleh bhikkhu itu, yang telah mencapai pengendalian yang diharuskan oleh peraturan?’[34]

‘Raja para Dewa, Aku menyatakan ada dua jenis perbuatan jasmani: jenis yang harus dikejar, dan jenis yang harus dihindari. Hal yang sama berlaku bagi ucapan dan dalam mengejar tujuan. [280] Mengapakah Aku menyatakan hal ini sehubungan dengan perbuatan jasmani? Beginilah Aku memahami perbuatan jasmani: Ketika Aku mengamati bahwa dengan melakukan suatu perbuatan tertentu, faktor-faktor tidak baik meningkat dan faktor-faktor yang baik berkurang, maka perbuatan jasmani demikian harus dihindari. Dan ketika Aku mengamati bahwa dengan melakukan suatu perbuatan tertentu, faktor-faktor tidak baik berkurang dan faktor-faktor yang baik meningkat, maka perbuatan jasmani demikian harus diikuti. Itulah sebabnya, Aku membuat perbedaan ini. Hal yang sama berlaku untuk ucapan dan dalam mengejar tujuan. [281] Dan ini, Raja para Dewa, adalah praktik yang telah dijalankan oleh bhikkhu itu, yang telah mencapai pengendalian yang diharuskan oleh peraturan.’ Dan Sakka mengungkapkan kegembiraannya atas jawaban Sang Bhagavā.

2.5. Kemudian Sakka mengajukan pertanyaan selanjutnya: ‘Yang Mulia, praktik apakah yang telah dijalankan oleh bhikkhu itu, yang telah mencapai pengendalian atas indria-indrianya?’

‘Raja para Dewa, Aku menyatakan hal-hal yang terlihat oleh mata ada dua jenis: jenis yang harus dikejar, dan jenis yang harus dihindari. Hal yang sama berlaku untuk hal-hal yang dikenali oleh telinga, hidung, lidah, badan, dan pikiran.’ Sampai di sini, Sakka berkata: ‘Bhagavā, aku mengerti makna selengkapnya dari apa yang Bhagavā sampaikan secara singkat. Bhagavā, objek apa pun yang dilihat oleh mata, jika pengejaran ini mengarah pada meningkatnya faktor-faktor tidak baik dan berkurangnya faktor-faktor baik, maka ini sebaiknya tidak dikejar; jika pengejaran ini mengarah pada berkurangnya faktor-faktor tidak baik dan meningkatnya faktor-faktor baik, maka objek ini [282] sebaiknya dikejar. Hal yang sama berlaku untuk hal-hal yang dikenali oleh telinga, hidung, lidah, badan, dan pikiran. Demikianlah aku mengerti makna selengkapnya dari apa yang Bhagavā sampaikan secara singkat, dan dengan demikian melalui jawaban Bhagavā, aku telah mengatasi keragu-raguanku dan menyingkirkan keraguanku.’

2.6. Kemudian Sakka mengajukan pertanyaan selanjutnya: ‘Yang Mulia, apakah semua petapa dan Brāhmaṇa mengajarkan ajaran yang sama, mempraktikkan disiplin yang sama? Menginginkan hal yang sama[35] dan mengejar tujuan yang sama?’ ‘Tidak, Raja para Dewa.’ ‘Tetapi, mengapakah, Yang Mulia, mereka tidak melakukan hal yang sama?’ ‘Dunia ini, Raja para Dewa, terdiri dari banyak unsur. Karena itu, makhluk-makhluk melekat pada satu atau lainnya dari berbagai unsur ini, dan apa pun yang mereka lekati, mereka menjadi sangat menyukainya, dan menyatakan: ‘Ini adalah kebenaran, semua yang lain adalah salah!’ Oleh karena itu, tidak semuanya mereka mengajarkan ajaran yang sama, mempraktikkan disiplin yang sama, menginginkan hal yang sama, dan mengejar tujuan yang sama.’

‘Yang Mulia, apakah semua Petapa dan Brāhmaṇa yang memiliki keterampilan [283] sempurna, terbebas dari belenggu, sempurna dalam hidup suci, sudahkah mereka dengan sempurna mencapai tujuan?’ ‘Tidak, Raja para Dewa.’ ‘Mengapakah, Yang Mulia?’ ‘Hanya mereka, Raja para Dewa, yang terbebas melalui hancurnya keinginan, yang memiliki keterampilan sempurna, terbebas dari belenggu, sempurna dalam hidup suci, dan telah dengan sempurna mencapai tujuan.’ Dan Sakka bergembira mendengar jawaban ini seperti sebelumnya.

2.7. Kemudian Sakka berkata: ‘Nafsu,[36] Yang Mulia, adalah penyakit, borok, anak panah.
Nafsu merayu seseorang, menariknya ke dalam kondisi kelahiran ini atau itu, sehingga ia terlahir kembali dalam alam tinggi atau rendah. Sementara para petapa dan Brāhmaṇa lain yang berpandangan berbeda tidak memberi kesempatan kepadaku untuk menanyakan hal-hal ini, Bhagavā menjelaskan secara terperinci, dan dengan demikian mencabut anak panah keragu-raguan dari diriku.’ [284] ‘Raja para Dewa, apakah engkau mengakui telah menanyakan pertanyaan yang sama ini kepada para petapa dan Brāhmaṇa lain?’ ‘Ya, Bhagavā.’ ‘Jika engkau tidak keberatan, mohon katakan kepada-Ku apa yang mereka katakan.’ ‘Aku tidak keberatan mengatakan kepada Bhagavā.’[37] ‘Kalau begitu, katakanlah, Raja para Dewa.’

Bhagavā, aku mendatangi mereka yang kuanggap petapa dan Brāhmaṇa karena mereka mengasingkan diri di dalam hutan, dan aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini kepada mereka. Tetapi bukannya memberikan jawaban yang benar kepadaku,[38] mereka malah bertanya kepadaku: “Siapakah engkau, Yang Mulia?” Aku menjawab bahwa aku adalah Sakka, raja para dewa, dan mereka bertanya kepadaku apa yang telah membawaku ke sana. Kemudian aku mengajarkan kepada mereka Dhamma sejauh yang pernah kudengar dan kupraktikkan.

Tetapi mereka menjadi lebih gembira lagi, dan mereka berkata: “Kami telah melihat Sakka, raja para dewa dan ia telah menjawab pertanyaan yang kami ajukan kepadanya!” dan mereka menjadi pengikutku dan bukannya aku menjadi murid mereka.

Tetapi aku, Bhagavā, adalah seorang siswa Sang Bhagavā, seorang Pemenang-Arus, 
tidak akan terlahir kembali di alam sengsara, kokoh dan pasti mencapai Pencerahan.’[39] 

‘Raja dari para dewa, apakah engkau mengakui pernah sebelumnya mengalami kegembiraan dan kebahagiaan seperti yang engkau alami saat ini?’ [285] ‘Ya, Bhagavā.’ ‘Dan karena apakah itu?’ ‘Di masa lalu, Bhagavā, pecah perang antara para dewa dan para asura, dan para dewa mengalahkan asura. Dan setelah perang selesai, sebagai pemenang, aku berpikir: “Apa pun yang menjadi makanan para dewa sekarang,[40] dan apa pun makanan para asura sekarang, mulai sekarang kami akan menikmati semuanya.” Tetapi, Bhagavā, kebahagiaan dan kepuasan demikian, yang disebabkan oleh pukulan, luka-luka, tidak mengarah pada kebosanan, kekecewaan, pelenyapan, kedamaian, pengetahuan yang lebih tinggi, pencerahan, Nibbāna. Tetapi kebahagiaan dan kepuasan yang diperoleh dari mendengarkan Dhamma dari Bhagavā, yang bukan disebabkan oleh pukulan dan luka-luka, mengarah pada kebosanan, kekecewaan, pelenyapan, kedamaian, pengetahuan yang lebih tinggi, pencerahan, Nibbāna.’

2.8. ‘Dan, Raja para Dewa, hal-hal apakah yang muncul dalam pikiranmu ketika engkau mengalami kepuasan dan kebahagiaan seperti ini?’ ‘Bhagavā, pada saat ini, enam hal muncul dalam pikiranku yang membuatku gembira:

“Aku yang hanyalah dewa, telah memperoleh
Kesempatan, karena kamma, kehidupan duniawi selanjutnya.”[41]

Itu, Bhagavā, adalah hal pertama yang muncul dalam pikiranku. [286]

“Meninggalkan alam bukan manusia, alam dewa di belakang,
Tanpa kebingunan, aku akan mencari rahim yang ingin kudapatkan.”

Itu, Bhagavā, adalah hal ke dua yang muncul dalam pikiranku.

“Persoalanku terpecahkan, aku akan dengan gembira hidup dalam Ajaran Buddha
Terkendali dan penuh perhatian, dan dipenuhi kesadaran jernih.”

Itu, Bhagavā, adalah hal ke tiga yang muncul dalam pikiranku.

“Dan jika karenanya pencerahan muncul dalam diriku,
Sebagai seorang-yang-mengetahui, aku akan berdiam, dan di sana menunggu akhirku.”

Itu, Bhagavā, adalah hal ke empat yang muncul dalam pikiranku.

“Kemudian ketika aku meninggalkan alam manusia lagi, aku akan
melebihi dewa, dan seorang dengan peringkat tertinggi.”

Itu, Bhagavā, adalah hal ke lima yang muncul dalam pikiranku.

“Lebih agung daripada dewa adalah para Dewa yang tanpa tandingan,[42]
Berdiam di antara mereka, aku akan membuat rumah terakhirku.” [287]

Itu, Bhagavā, adalah hal ke enam yang muncul dalam pikiranku.

Itu, Bhagavā, adalah enam hal yang muncul dalam pikiranku, dan ini adalah enam hal yang membuatku gembira.’

2.9. ‘Lama aku mengembara, belum memenuhi, dalam keraguan,
Dalam mencari Sang Tathāgata, aku berpikir
Para petapa yang hidup menyendiri dan keras
Pasti telah tercerahkan: aku akan mencari mereka.
“Apa yang harus kulakukan untuk memperoleh keberhasilan, dan jalan apakah yang menuju kegagalan?” – Tetapi, ditanya demikian,
Mereka tidak dapat memberitahukan kepadaku bagaimana menapak jalan.
Sebaliknya, ketika mereka mengetahui bahwa aku adalah raja para dewa, mereka bertanya mengapa aku mendatangi mereka,
Dan mengajarkan kepada mereka apa yang kuketahui
Tentang Dhamma, dan mendengar itu, dengan gembira mereka
Berteriak: “Ini adalah Vāsava, Sang Raja, kami telah melihatnya!”
Tetapi sekarang – aku telah melihat Buddha, dan keraguanku
Semuanya tersingkirkan, ketakutanku ditenangkan,
Dan sekarang, kepada Yang Tercerahkan aku memberikan

Penghormatan selayaknya, pada-Nya yang telah mencabut anak panah
Keinginan, Sang Buddha, Raja yang tanpa tandingan,
Pahlawan besar, sanak saudara matahari![43] [288]
Bagaikan para Brahmā disembah oleh para dewa,
Demikian pula hari ini kami menyembah Engkau,
Yang Tercerahkan, dan Guru yang tidak terlampaui,
Yang tidak seorang pun dapat menandingi di alam manusia,
Atau di alam surga, tempat kediaman para dewa!’

2.10. Kemudian Sakka, raja para dewa, berkata kepada Pañcasikha si gandhabba: ‘Anakku Pañcasikha, engkau telah memberikan bantuan besar kepadaku untuk mendapatkan telinga Sang Bhagavā. Karena engkau berhasil mendapatkan telinga-Nya, maka kami diperkenankan menghadap Sang Bhagavā, Sang Arahant, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna. Aku akan menjadi ayah bagimu, engkau akan menjadi raja para gandhabba, dan aku akan memberikan kepadamu Bhaddā Suriyavaccasā yang engkau inginkan.’

Dan kemudian Sakka, raja para dewa, menyentuh tanah dengan tangannya dan mengucapkan tiga kali:

‘Terpujilah Sang Bhagavā, Sang Arahant, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna!’
‘Terpujilah Sang Bhagavā, Sang Arahant, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna!’
‘Terpujilah Sang Bhagavā, Sang Arahant, Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna!’

Dan sewaktu ia sedang berbicara dalam percakapan ini,[44] Mata-Dhamma yang murni dan tanpa-noda muncul dalam diri Sakka, raja para dewa, dan ia mengetahui: ‘Segala sesuatu yang berasal-mula, pasti akan lenyap.’ Dan hal yang sama terjadi pada delapan puluh [289] ribu dewa juga.

Demikianlah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan[45] oleh Sakka, raja para dewa, dan yang dijawab oleh Sang Bhagavā. Oleh karena itu, khotbah ini disebut ‘Pertanyaan Sakka’.




[terjemahan]:
DhammaCitta Pedia [DC pedia]
Sumber: Khotbah-Khotbah Panjang Sang Buddha,
Dīgha Nikāya. ©2009 DhammaCitta Press.
untuk note yang dilampirkan dalam terjemahan ini
silakan lihat di web Dhamma Citta Pedia langsung:
klik disini




Tipitaka Source 【經源】:
Tipiṭaka - Suttapiṭaka - Dīghanikāya - Mahāvagga - Sakkapañhasuttaṃ
तिपिटक - सुत्तपिटक - दीघनिकाय - महावग्ग - सक्कपञ्हसुत्तं
三藏經 - 經藏 - 長尼伽耶 - 大品 - 帝釋所問經
大藏经 - 经藏 - 长阿含经 - 大品 - 玉皇大帝所问经



Pali Text, click here.
English Translation, click here.
中文翻譯請安這裡