Sunday, March 2, 2014

Kisah Sang Merak

मोरजातकं
MORA-JĀTAKA


“Di sanalah dia bangkit, raja dari semua penglihatan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal. Bhikkhu ini dibimbing oleh beberapa yang lain ke hadapan Sang Guru, yang kemudian bertanya, “Benarkah, Bhikkhu, seperti yang Aku dengar, bahwa Anda menyesal?” “Ya, Bhante.” “Apa yang membuatmu berbuat demikian?” “Seorang wanita yang mengenakan pakaian yang bagus sekali.” Kemudian kata Sang Guru, “Tidaklah mengherankan jika wanita membawa masalah bagi orang seperti dirimu! Bahkan orang bijak, yang selama tujuh ratus tahun tidak melakukan perbuatan buruk (sehubungan dengan nafsu/kilesa), dengan hanya mendengar suara wanita membuat dirinya melakukan pelanggaran dengan segera; bahkan seorang yang suci menjadi tidak suci; bahkan mereka yang telah mencapai kehormatan tertinggi kemudian mendapat aib—apalagi orang biasa!” dan Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.



Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir ke dunia ini sebagai seekor merak. Cangkang telur tempat dia berada, memiliki kulit yang berwarna kuning seperti kuncup kaṇikāra26; dan ketika telurnya pecah, dia menjadi seekor merak emas, cantik dan indah, dengan garis-garis indah berwarna merah di bawah sayapnya.

Dalam kehidupannya sehari-hari, dia melewati tiga barisan perbukitan, dan pada bukit keempat dia berdiam, di dataran tinggi sebuah bukit emas di Gunung Daṇḍaka. Ketika hari mulai subuh, saat dia duduk di bukit, sambil memandang terbitnya matahari, dia melafalkan doa brahma untuk melindungi dirinya agar selamat dari yang jahat, di tempat ia mencari makanan;

『 Di sanalah bangkit,
Raja semesta yang maha melihat
yang membuat segala sesuatunya terang berkilauan dengan sinar emasnya.
Engkau yang ku puja, makhluk agung nan mulia,
yang menerangi dunia dengan sinar cahaya keemasan-Mu.
Kumohon Lindungilah daku didalam keselamatan,
didalam melewati hari dalam hidupku.

Setelah menghaturkan penghormatan dan doa dengan cara seperti ini kepada yang maha kuasa,
ia kemudian melanjutkan doanya yang tertuju kepada para Buddha beserta kemuliaan mereka:

『Semua orang suci, yang berbudi luhur nan bijaksana
yang mengerti segala kebenaran dan fenomena alam [pengetahuan tertinggi],
Dengan segenap jiwa daku menjunjung tinggi Engkau, para Brahmana Agung nan Luhur,
Dengan segenap hati daku memohon perlindungan dari Engkau.
segala puja kuhaturkan kepada para Bijaksana yang luhur 【Buddha】,
daku menjunjung tinggi Ia yang telah mencapai Pencerahan dan Kebijaksanaan yang luhur,
Segala puja kuhaturkan kepada Engkau yang telah terbebas [mencapai Nirvana],
daku menjunjung tinggi Ia yang telah berhasil melepaskan segala ikatan belenggu napsu.』



=======================================================================
Pali 【पाळि】
Udetayaṃ cakkhumā ekarājā, harissavaṇṇo pathavippabhāsyā
Taṃ taṃ namassāmi harissavaṇṇaṃ pathavippabhāsaṃ, tayājja guttā viharemu divasaṃ.
Ye brāhmaṇā vedagū sabbadhamme, te me namo te ca maṃ pālayantu;
Namatthu buddhānaṃ namatthu bodhiyā, namo vimuttānaṃ, namo vimuttiyā;
Imaṃ so parittaṃ katvā, moro carati esanā.

【English】
"There he rises, king of all-seeing,
Making all things bright with his golden light.
Thee I worship, glorious being,
Making all things bright with thy golden light,
Keep me safe, I pray,
Through the coming day."

Worshipping the Almighty on this wise by the verse here recited,
he repeats another in worship of the Buddhas who have passed away, and all their virtues:

"All saints, the righteous, wise in holy lore,
These do I honour, and their aid implore:
All honour to the wise, to wisdom honour be,
To freedom, and to all that freedom has made free."

Uttering this charm to keep himself from harm, the Peacock went a-feeding

Mandarin 【中文翻譯】

我此有眼唯一王,金色升照世界者,
我礼金色照世界,依汝守护渡一日。
菩萨以此偈礼拜太阳,又唱第二之偈,
礼拜过去入于涅槃诸佛及其佛德:
通一切法诸梵志,归命汝等请护我,
我拜诸佛拜菩提,拜解脱与得脱者。

=======================================================================



Setelah memanjatkan doa perlindungan ini, sang merak pun pergi makan.

Kemudian setelah terbang selama seharian penuh, dia kembali pulang di saat senja dan duduk di atas bukit untuk melihat terbenamnya matahari; kemudian sambil bermeditasi, dia mengucapkan doa lain untuk perlindungan dan menjauhkannya dari yang jahat:



『 Di sanalah dia berada,
Raja semesta yang maha mengetahui,
yang membuat segala sesuatunya terang benderang dengan cahaya sinar keemasan-nya.
Engkau yang ku puja, makhluk agung nan mulia,
yang menerangi dunia dengan sinar emasmu.
Mohon Lindungilah daku didalam keselamatan pada malam ini,
seperti saat melewati siang hari.

『Semua Brahmana, yang berbudi luhur nan bijaksana
yang mengerti segala kebenaran dan fenomena alam [pengetahuan tertinggi],
Dengan segenap jiwa daku menjunjung tinggi Engkau, para Brahmana Agung nan Luhur,
Dengan segenap hati daku memohon perlindungan dari Engkau.
segala puja kuhaturkan kepada para Bijaksana yang luhur 【Buddha】,
daku menjunjung tinggi Ia yang telah mencapai Pencerahan dan Kebijaksanaan yang luhur,
Segala puja kuhaturkan kepada Engkau yang telah terbebas [mencapai Nirvana],
daku menjunjung tinggi Ia yang telah berhasil melepaskan segala ikatan belenggu napsu.』

Setelah memanjatkan doa perlindungan ini, sang merak pun jatuh tertidur.


=======================================================================
Pali 【पाळि】
Apetayaṃ cakkhumā ekarājā, harissavaṇṇo pathavippabhāso;
Taṃ taṃ nammassāmi harissavaṇṇaṃ pathavippabhāsaṃ, tayājja guttā viharemu rattiṃ.
Ye brāhmaṇā vedagū sabbadhamme, te me namo te ca maṃ pālayantu;
Namatthu buddhānaṃ namatthu bodhiyā, namo vimuttānaṃ namo vimuttiyā;
Imaṃ so parittaṃ katvā, moro vāsamakappayīti.

【English】

So after flying about all day,
he came back at even and sat or the he hilltop to see the sun go down;
then as he meditated, he uttered another spell to preserve himself
and keep off evil, the one beginning "There he sets":--

"There he sets, the king all-seeing,
He that makes all bright with his golden light.
Thee I worship, glorious being,
Making all things bright with thy golden light.
Through the night, as through the day,
Keep me safe, I pray.

"All saints, the righteous, wise in holy lore,
These do I honour and their aid implore:
All honour to the wise, to wisdom honour be,
To freedom, and to all that freedom has made free."

Uttering this charm to keep himself from harm,
the Peacock fell a-sleeping


Mandarin 【中文翻譯】

如此日间出往各处,
黄昏立于山顶观日之西沈,思念佛德,
为保护所栖之家,再唱梵咒如次曰:
我此有眼唯一王,金色照没世界者,
我礼金色照世界,依汝守护过一夜;
通一切法诸梵志,归命汝等请护我,
我拜诸佛拜菩提,拜解脱与得脱者。
彼孔雀如此坚固守身于栖所。

=======================================================================


Story 【故事】

Kala itu, seorang pemburu jahat tinggal di sebuah desa pemburu liar dekat Benares.
Di saat mengembara di sekitar Himalaya, dia melihat Bodhisatta bertengger di bukit emas Gunung Daṇḍaka, dan memberitahukannya kepada putranya.

Secara kebetulan, pada suatu hari, salah satu istri Raja Benares, yang bernama Khemā (Khema), melihat dalam sebuah mimpi seekor merak emas sedang memberikan wejangan. Hal ini diberitahukannya kepada raja, mengatakan bahwa dia ingin sekali untuk mendengarkan wejangan dari merak emas.

Sang raja bertanya kepada anggota istananya tentang ini; dan anggota istananya berkata, “Para brahmana pasti mengetahui tentang ini.” Para brahmana berkata: “Ya, ada merak emas.” Ketika ditanya di manakah mereka berada, mereka menjawab, “Para pemburu pasti mengetahuinya.” Raja memanggil para pemburu dan menanyakannya kepada mereka. Kemudian pemburu ini menjawab, “Oh Paduka, ada sebuah bukit emas di Daṇḍaka; dan ada seekor merak emas hidup di sana.” “Kalau begitu, bawalah dia ke sini–jangan dibunuh, bawalah dia dalam keadaan hidup.”

Pemburu itu mulai memasang perangkap di lahan makanan sang merak. Tetapi bahkan ketika sang merak berpijak di sana, perangkapnya tidak mau menutup. Pemburu ini mencoba untuk tujuh tahun lamanya, tetapi dia tidak sanggup menangkapnya sendirian; dan di sanalah dia meninggal. Ratu Khema pun meninggal tanpa mendapatkan impiannnya.

Raja sangat gusar karena ratunya mati karena seekor merak. Dia memerintahkan agar sebuah pesan ditulis di atas papan emas: “Di antara pegunungan Himalaya terdapat sebuah bukit emas di Gunung Daṇḍaka. Di sana hidup seekor merak emas; dan barang siapa yang memakan dagingnya akan menjadi awet muda dan abadi.” Ini diletakkannya di dalam sebuah peti.

Setelah dia meninggal, raja berikutnya membaca papan ini; dan berpikir, “Saya akan menjadi awet muda dan abadi;” kemudian dia mengutus pemburu yang lain. Seperti yang pertama, pemburu ini gagal untuk menangkap sang merak, dan meninggal dalam pencariannya. Dengan cara yang sama, kerajaan tersebut mengalami kejadian yang sama oleh enam raja-raja penerusnya.

Kemudian yang ketujuh pun bangkit, dia juga mengirim seorang pemburu. Sang pemburu mengamati bahwa ketika sang merak emas datang ke perangkap, perangkap tidak tertutup, dan juga dia mengucapkan doa sebelum keluar mencari makanan. Kemudian dia pergi, dan menangkap seekor merak betina, yang dilatih untuk menari ketika dia menepuk tangannya dan dengan jentikan jarinya dia membuatnya bersuara. Kemudian, dia membawanya bersamanya, menyiapkan perangkap, meletakkan dengan benar di tanah, saat pagi-paginya, sebelum sang merak mengucapkan doanya. Kemudian dia membuat merak betina untuk bersuara. Suara yang tidak diinginkan ini—suara (merak) betina—menimbulkan hasrat di dalam hati sang merak; meninggalkan doa tanpa terucap, dia datang menuju merak betina; dan tertangkap di dalam perangkap. Kemudian sang pemburu membawanya dan menyerahkannya kepada Raja Benares.

Sang Raja sangat senang dengan keindahan sang merak; dan memerintahkan untuk meletakkan sebuah kursi untuk sang merak. Duduk di atas kursi yang telah disediakan, Bodhisatta bertanya, “Mengapa Anda menangkapku, Paduka?”

“Karena mereka berkata bahwa yang memakan dirimu akan menjadi awet muda dan abadi. Maka dari itu, saya berharap untuk menjadi awet muda dan abadi dengan memakan dirimu,” kata raja.

“Kalau begitu — katakanlah benar semua yang memakanku akan menjadi awet muda dan abadi. Tetapi di satu sisi yang lain, saya harus mati!”

“Tentu saja,” jawab raja
“Baiklah—dan jika saya mati, bagaimana bisa dagingku memberikan keabadian bagi yang memakannya?”
“Warnamu adalah emas; Maka dari itu konon mereka yang memakan dagingmu akan menjadi muda dan hidup selama-lamanya27.”

“Paduka,” balas sang burung, “ada alasan yang sangat bagus untuk warna emasku. Dahulu kala, saya mempunyai kekuasaan di seluruh dunia, memerintah tepat di kota ini sebagai seorang Cakkavati28; Saya menjalankan lima latihan moralitas, dan membuat semua orang untuk melakukan yang sama. Untuk itu saya terlahirkan kembali, setelah kematian, di Alam Tāvatiṁsā; di sana saya hidup, tetapi di kelahiran berikutnya saya menjadi seekor merak sebagai hasil dari perbuatan buruk; walaupun demikian, saya berwarna emas karena sebelumnya saya telah menjalankan latihan-latihan moralitas tersebut.”

“Apa? Sangat menakjubkan! Anda adalah seorang raja dunia, yang menjalankan latihan moralitas, dan terlahirkan dengan warna emas sebagai hasilnya! Silakan buktikan!”

“Saya punya satu, Paduka.”
“Apakah itu?”
“Baiklah, Paduka, ketika saya memerintah, saya selalu berjalan di udara dengan kendaraan yang berhiaskan permata, yang sekarang terkubur di bumi, di bawah air danau kerajaan. Galilah dari dasar danau, dan itu akan menjadi bukti.”

Raja menyetujui rencananya; dia memerintahkan untuk mengeringkan danaunya dan menggali keluar kereta kerajaannya, dan kemudian memercayai Bodhisatta. Kemudian Bodhisatta berkata demikian kepadanya: “Paduka, selain nibbana yang abadi, semua benda lain, yang sifatnya merupakan hasil uraian, adalah tidak kekal, semuanya akan selalu berubah, dan akan hidup dan mati.”

Sambil menguraikan tentang pembahasan ini, dia membuat raja menjadi kukuh di dalam latihan moralitas. Kedamaian menyelimuti hati sang raja, dia melimpahkan kerajaannya kepada Bodhisatta, dan menunjukkan penghormatan tertingginya. Bodhisatta mengembalikan pemberiannya dan setelah persinggahannya selama beberapa hari, kemudian dia terbang ke udara dan kembali ke bukit emas di Gunung Daṇḍaka, dengan nasihat perpisahan–“Oh Paduka, selalu waspada!“ Dan raja menuruti nasihat dari Bodhisatta; dan setelah mempraktikkan perbuatan memberikan derma dan berbuat kebajikan lainnya, dia meninggal untuk menuai hasil sesuai dengan perbuatannya.

『Uraian ini berakhir, Sang Guru memaparkan Kebenarankebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenarannya, bhikkhu yang (tadinya) menyesal itu menjadi mencapai tingkat kesucian Arahat:—“Pada masa itu, Ānanda adalah raja, dan diri-Ku sendiri adalah sang merak emas.”』


Word Bank

Udetayaṃ = udeti:[u + i + a]
rises; comes out; increases.【升起、上升】
Apetayaṃ = apeta
has gone, disappear: go down / set 【離去了;落: 日落】
cakkhumā = Having eyes or sight,seeing;
having wisdom views 【看透了一切,具有智慧】
ekarājā = A universal king 【諸王之王】
harissavaṇṇo = harissavaṇṇa:[adj.]
having a golden hue.【擁有金黃的顏色】
pathavippabhāsyā = [pathavi+pabhāsa]
pathavī,puthavī,puthuvī,puṭhuvī refer to Earth 【世界】
pabhāsa:[m.] beautiful light; splendour; with beauty / beautifully 【美麗地發光】
Taṃ = tvaṃ:[nom.sin.of tumha] thou.【爾,祢】
namassāmi = which I respect deeply 【我最尊敬的;我崇拜的】
namassā:Reverence,veneration,worship 【崇敬;衷心尊敬】
tayājja = Taya + ajja
Taya = tvaṃ:[nom.sin.of tumha] thou.【爾,祢】
ajja divasa = the present day 【當今;太陽出來之時】
guttā = gutta:[pp.of gopeti]
guarded; protected; watchful.【保佑;保守/看守保護】
viharemu divasaṃ = viharemu divā° passing the time of day 【過日、過午】
viharemu divasaṃ = passing night time【過夜晚】
rattiṃ = at night time period 【夜晚之時】
Ye = who, what, which 【一些[人];他們】
brāhmaṇā = wise and noble heart;ascetic 【菠蘿門;修行者】
vedagū = [m.] one who has attained the highest knowledge.【明智者;心覺醒了;覺悟了】
sabbadhamme = all the truth and phenomena; the Dhamma 【所有真理與現象】
te = You 【祢;您】
me = I 【吾;我】
namo = homage and pray 【崇敬、衷心祈禱】
ca = ever,whoever,what-ever,etc.
maṃ = myself 【我】
pālayantu = pālaka,pāletu = guard, protect 【守護;保佑】
Namatthu = [namo + atthu] be homage 【崇敬】
buddhānaṃ = the enlightened being 【佛陀;覺悟之人】
bodhiyā = he who attain the enlightenment【開明者】,
vimuttānaṃ= Vimutta [pp.of vimuñcati]
freed,released,intellectually emancipated。
【解脫,釋放,智力解放】
vimuttiyā = he who is in the highest sense,is that kind of concentration (samādhi) which is bound up with the path of Arahatship 【阿羅漢】
Deliverance of mind 【心裡的解脫】
Imaṃ so = he who is 【祂】
parittaṃ = find protection 【得到保佑;獲得守護】
katvā = made, do 【做了】
moro = peacock 【孔雀】
carati = to move about, set out, to live and move: to travel 【行動;出去】
esanā = for food [for live] 【為了獲得生活必要的;為了食物】
vāsamakappayīti=
vāsaṁ kappeti to live (at a place) 【安樂的過...】



terjemahan [translation 翻譯]:
  1. Indonesia Tipitaka Center [edited]
  2. Pali dictionary 
  3. 雅安市蘆山縣佛圖寺
  4. Sacred texts


Source:
तिपिटक (मूल) - सुत्तपिटक - खुद्दकनिकाय - जातक १ - दुकनिपातो - मोरजातकं (२-१-९)
Tipiṭaka - Suttapiṭaka - Khuddakanikāya - Jātaka 1 - Dukanipāto - Morajātakaṃ (2-1-9)
三藏經 - 經臟 - 小部經典 【法語百科】 - 本生經 第一集 - 第二卷 - 孔雀:佛本生譚
大藏经 - 经藏 - 小部经典 【德语百科】 - 往世经 第一集 - 第二卷 - 孔雀:佛本生谭


“見人善,即思齊; 縱去遠,以漸躋。見人惡,即內省; 有則改,無加警”
“Seeing others being good, think of equaling them. Seeing bad deeds, introspect oneself to avoid it.”