Wednesday, March 26, 2014

Arti Dari Paritta

परित्ता
Parittā


Secara Harafiah, Paritta atau parittā terbagi menjadi dua penggalan kata:
pari+trā
  1. Pari = sempurna, bulat, penuh [rounded, full, accomplished] 圓滿,完整 【無殘缺】
  2. Trā = bantuan, dukungan atau pertolongan [aid or support, assist, help] 援助,護衛,保佑
yang boleh diterjemahkan sebagai "Bantuan sepenuhnya"

sedangkan khalayak menterjemahkannya sebagai "perlindungan"

namun didalam makna yang terkandung 【含義】, kata paritta sering dikaitkan didalam pengertian bahasa pali dengan manto+parittaṁ+vaḍḍhiṁ
  1. Manto = mantra [ajian. ajian dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kata kata keramat yang berharga], sacred text [teks suci] 聖言,聖文。
  2. Parittaṁ = defence, safeguard [penjagaan] 保佑,保護。
  3. Vaḍḍhiṁ = good fortune, walfare or happiness [rezeki, keberuntungan atau kebahagiaan] 福氣。
yang mengandung makna "Rasa aman 【rakkhā】" "penjagaan" dan "berkat"
kata berkat dalam bahasa Indonesia [seperti yang tertulis didalam kamus besar bahasa Indonesia, kata berkat berarti "pengaruh baik, yang mendatangkan keselamatan dan kebahagiaan" atau "mendatangkan kebaikan; bermanfaat; berkah"]

seperti contoh pada kata:
1. Mora Paritta [penjagaan terhadap Burung merak] - guard against peacock
2. Paritta vālikā [jimat pasir yang ditaruh dikepala] - sand worn on the head as an amulet
3. Paritta suttaka [benang yang diikatkan dikepala sebagai jimat] - a thread worn round the head as a charm

Umat Buddha
Kata "Paritta" mengacu pada pembacaan ayat-ayat [short verses] atau wacana kitab suci tertentu untuk menangkal getaran tidak baik atau "atmosphere" negatif yang tersaring didalam Keyakinan kepada Yang tanpa noda tanpa benci tanpa napsu keinginan : suci murni, terarah hanya kepada kebaikan dan kasih sayang.

Praktek membaca sutta paritta [ayat ayat yang dianggap sebagai berkat atau perlindungan] maupun mendengarkan sutta paritta sudah dimulai sejak periode awal dalam sejarah perkembangan Buddhisme, yang pada masa itu dikhususkan untuk para samanera yang baru memasuki Sangha, salah satu gaya pendidikan yang digunakan untuk menghafal pada masa itu, bukanlah untuk hal hal lainnya.

Sesunggunya bagiand dari ayat ayat tertentu memang dianjurkan oleh Buddha untuk diingat, direnungkan serta diimplikasikan dalam kehidupan nyata [seperti contohnya: paritta karaniya metta sutta - sutta mengenai kasih sayang yang tiada taranya], bukan cuma sekedar baca bak mengulang kaset recorder.

Mengapa harus dimengerti, diresapi dalam batin dan diimplikasikan kedalam tindakan nyata?
karena Buddha tahu, dengan demikian, pembacaan ayat ayat suci tersebut tidaklah sia sia, dan dapat memberikan manfaat yang besar buat semua, karena Ajaran Buddha yang terutama mengajarkan kita bukan untuk dilayani, tapi untuk melayani. Demikianpula didalam kebajikan, bukan dengan niat yang masih kotor atau ego, dengan berpikir agar memperoleh keuntungan pahala buat dirinya semata, namun dari segala kebajikan yang dilakukan, kasih sayang yang utama, yang merupakan ungkapan sukacita, karena kasih sayang itu yang siap mengulurkan tangannya bagi orang yang membutuhkan [para fakir, miskin, cacat - sakit, orang tua, yang sedang dalam bahaya, dsb], Kasih sayang adalah mengerti, melepas kesalahan lampau - memaafkan [baik diri sendiri maupun orang lain], Kasih sayang adalah memberi tanpa meminta kembali "bagai sang surya menyinari dunia". inilah salah satu kekuatan dari sebuah paritta, yang membimbing siapapun juga yang membacakannya sekaligus yang mendengarkan pembacaan kitab tersebut akan mengarahkan kita kepada kasih sayang ini, dan membawa kedamaian dihati. Inilah dikatakan bahwa pembacaan paritta memberikan perlindungan [penjagaan] dari bahaya.

Pengulangan paritta yang umat Buddha sering lakukan sesungguhnya merupakan sebuah tuntunan atau bimbingan batin, sekaligus sebagai pengingat kepada umat yang membacanya agar selalu didalam kasih sayang, kewaskitaan [ke-eling-an] agar jangan lengah terhadap yang jahat, agar lebih melepas apa yang khalayak pegang erat erat [dendam, ego "aku lah yang paling ...", dengki / sirik], Mengenang serta merenungkan keluhuran Buddha, Dhamma dan Arya Sangha, bukan hanya untuk tumbuh kepercayaan namun terlebih lagi agar kita bisa berrefleksi terhadap diri sendiri agar juga mencontoh Guru Junjungan [disanalah saddha atau keyakinan yang tidak dibuat buat baru bisa muncul secara alami], sekaligus orang yang membaca paritta guna memohon perlindungan baik itu kepada makluk surgawi ataupun Buddha [Mora Paritta, Ratana sutta, Saccakiriya gattha, Ettavata, dsb].


Kebaikan dahulu atau Meditasi dahulu yang dilakukan?

"Meditasi tanpa introspeksi
adalah bagaikan seorang pasien
yang mendapatkan resep obat
tanpa melalui diagnosa terlebih dahulu"

Orang yang cuma berpikir [semoga ... berbahagia] namun masih juga tidak menghormati orang tuanya,
Orang yang cuma berpikir [semoga ... berbahagia] namun masih juga tidak akur dengan saudara saudarinya,
Orang yang cuma berpikir [semoga ... berbahagia] namun masih juga memandang sebelah mata terhadap orang tertentu,
Orang yang cuma berpikir [semoga ... berbahagia] namun masih juga tidak mengerti kepada siapa ia harus menghaturkan rasa hormat,
kepada pertapa luhur ia tidak menghormat, namun kepada pertapa palsu ia junjung tinggi.

semua pikirannya itu [semoga ... berbahagia] bak khayalan [fantasi] belaka,
apa yang keluar dari ucapannya berbeda dihati, apa yang ada dihatinya berbeda dengan ucapannya.

Kebaikan menuntun orang didalam kasih sayang,
Kebaikan bukanlah melemparkan uang kedalam kotak sumbangan semata, namun siap dengan kedua tangannya sendiri menghaturkan persembahan makanan, kebutuhan yang diperlukan kepada orang orang yang tertimpa bencana alam, kelaparan, miskin hingga tak sanggup membiayai pengobatan dan biaya sekolah, kepada orang yang tertimpa kemalangan dan bahaya, memberikan makanan kepada pertapa sejati yang dalam kehidupannya berjuang didalam mencapai pencerahan, kepada para Arya, kepada pertapa atau brahmana yang hidup bersih [Pabajja]. Semua ini harus diawali dari orang tua seperti yang Buddha sabdakan. Dan yang terpenting dari ini, dari dalam kebaikan yang kita lakukan, kita belajar banyak untuk mengerti kehidupan manusia dan mengerti arti kata hidup susah, sehingga memunculkan inspirasi yang meneguhkan kita pada kebaikan, kasih sayang yang mendalam, pengetahuan, kewaspadaan, pengertian, dsb.

Dengan kebajikan ini yang Buddha katakan sebagai membawa berkat [kekuatan baik atau positif], ini pun dijelaskan kembali di barat sebagai contoh orang yang harmonis, penuh kasih sayang didalam keluarga, suka turut berpartisipasi didalam bakti sosial memberikan sebuah kekuatan penyembuhan didalam dirinya [healing].

Basik atau fondasi dari meditasi adalah batin kita telah meresapi kebaikan. Pada saat ini solemn atau ketenangan batin akan mengukuhkan batin seseorang pada Sang Jalan. Ia bebas dari segala belenggu atau ikatan batin dari pada hal hal keritualan semata, formalitas [baca paritta cuma mengulang tanpa mengimplikasikan, cuma sampai di pikiran saja tanpa berbuat apa apa], karena batinnya diliputi kasih sayang, semua kebajikan yang Buddha ajarkan, fondasinya harus mengerti kasih sayang, dan untuk mengerti kasih sayang orang harus melalui pengalaman sendiri mengerti sakit [paint] dan penderitaan [suffering] manusia atau makluk lain.

Sedangkan meditasi pada tahap awal, umat Buddha dianjurkan untuk melatih meditasi pernafasan, yang harus dibimbing oleh seorang guru yang berpengalaman dibidang ini. Untungnya sekarang banyak meditation center yang dibimbing oleh para bhikkhu sangha di Indonesia, sehingga para umat bisa dibimbing dengan lebih benar didalam pelaksanaan meditasi berdasarkan apa yang diajarkan oleh Buddha.


Rasanya tulisan ini juga bisa menambah wawasan kita
Makna Paritta