Wednesday, November 6, 2013

Pattakamma Sutta : Menjaga Kesejahteraan Yang Kau Miliki

पत्तकम्मसुत्तं
有益行為經

Perbuatan yang bermanfaat dan layak dilakukan
Bagi para perumah tangga.


Perumah tangga Anathapindika mendekati Sang Buddha …
Sang Buddha berkata kepadanya:41
“Perumah tangga, ada empat hal yang diinginkan, dicintai dan disukai tetapi jarang diperoleh di dunia ini. Apakah yang empat itu?

“Orang berpikir: ‘Semoga kekayaan datang kepadaku dengan cara yang benar!’ Inilah hal pertama di dunia yang diinginkan … tetapi jarang diperoleh.

“Setelah memperoleh kekayaan dengan cara yang benar, dia berpikir: ‘Semoga kemashyuran menyebar tentang diriku dan sanak-saudara serta guruku!’ Inilah hal kedua … jarang diperoleh.

“Setelah memperoleh kekayaan dan kemashyuran, dia berpikir: ‘Semoga aku hidup lama dan mencapai usia yang panjang!’ Inilah hal ketiga … jarang diperoleh.

“Setelah memperoleh kekayaan, kemashyuran dan umur panjang, dia berpikir: ‘Ketika tubuhku hancur, setelah kematian, semoga aku terlahir kembali di tempat yang baik, di alam surgawi!’ Inilah hal keempat … jarang diperoleh.

“Inilah empat hal yang diinginkan, dicintai dan disukai tetapi jarang diperoleh di dunia ini.

“Perumah tangga, ada empat hal lain yang membawa pada perolehan empat hal ini. Apakah yang empat itu? Kemantapan dalam keyakinan, kemantapan dalam moralitas, kemantapan dalam kedermawanan dan kemantapan dalam kebijaksanaan.

Perumah tangga, apakah kemantapan dalam keyakinan itu? Di sini seorang siswa yang luhur memiliki keyakinan; dia menempatkan keyakinannya pada pencerahan Sang Tathagata demikian: 'Bhagava, yang maha suci, yang telah mencapai penerangan sempurna,
sempurna kebijaksanaan serta keluhuranNya, Yang telah merealisasikan nirvana, Yang mengenal dan memahami semesta alam, pelatih [pembimbing] makluk yang tiada bandingnya, Guru pada makhluk surgawi berserta manusia,Ia-lah Yang Tercerahkan [Buddha], Yang Agung nan Luhur.' Ini disebut kemantapan dalam keyakinan. [...]

Dan apakah kemantapan dalam moralitas itu? Di sini, seorang siswa yang luhur menjauhkan diri dari membunuh makhluk lain, dari mencuri, dari perilaku seksual yang salah, dari berbicara salah dan dari minuman anggur, minuman keras serta zat yang meracuni yang merupakan landasan kelalaian. Ini disebut kemantapan dalam moralitas.

Dan apakah kemantapan dalam kedermawanan itu? Di sini seorang siswa yang luhur berdiam di rumah dengan pikiran yang bebas dari noda kekikiran, dermawan secara bebas, tangannya terbuka, bergembira dalam melepas, dia tekun mempraktekkan kedermawanan, bergembira dalam memberi dan berbagi. Ini disebut kemantapan dalam kedermawanan.

Dan apakah kemantapan dalam kebijaksanaan itu? Orang yang berdiam dengan hati yang dipenuhi ketamakan dan keserakahan yang tidak benar, dengan niat jahat, dengan kemalasan dan kelambanan, dengan kegelisahan dan kecemasan, dan dengan keraguan melakukan apa yang seharusnya dia hindari dan mengabaikan tugasnya; sebagai akibatnya kemashyuran dan kebahagiaannya menurun. Ketika seorang siswa yang luhur memahami bahwa sifat-sifat ini merupakan kekotoran pikiran, dia meninggalkannya. Setelah dia meninggalkannya, dia disebut siswa luhur dengan kebijaksanaan yang besar, kebijaksanaan yang luas, orang yang melihat rangkaian pandangan, orang yang mantap dalam kebijaksanaan. Ini disebut kemantapan dalam kebijaksaan.

“Perumah tangga, inilah empat hal yang menuju pada pencapaian empat hal lain yang diinginkan, dicintai dan disukai tetapi jarang diperoleh di dunia ini.

“Dengan kekayaan yang telah diperoleh lewat usaha yang penuh semangat, dikumpulkan dengan kekuatan tangannya, didapatkan dengan keringat di dahinya, kekayaan benar yang telah diperoleh secara benar, siswa yang luhur mengambil empat tindakan yang pantas. Apakah yang empat itu?

“Dengan kekayaan yang diperoleh demikian itu, dia membuat dirinya sendiri bahagia dan senang, dan secara benar dia mempertahankan kebahagiaannya sendiri; dia membuat orangtuanya bahagia dan senang dan secara benar dia mempertahankan kebahagiaan mereka; dia membuat istri dan anak-anaknya, budaknya, pekerja dan pembantunya bahagia dan senang, dan secara benar dia mempertahankan kebahagiaan mereka; dia membuat teman dan koleganya bahagia dan senang, dan secara benar dia mempertahankan kebahagiaan mereka. Inilah kasus pertama tentang kekayaan yang digunakan untuk hal-hal baik, yang diterapkan dengan penuh manfaat dan dipakai untuk tujuan yang luhur.

“Selanjutnya, perumah tangga, dengan kekayaan yang diperoleh demikian itu siswa yang luhur berjaga-jaga terhadap kerugian yang mungkin muncul karena api dan banjir, raja dan bandit dan ahli-waris yang tidak diinginkan. Dia membuat dirinya aman terhadap mereka. Inilah kasus kedua tentang kekayaan yang digunakan untuk hal-hal yang baik …


“Selanjutnya, perumah tangga, dengan kekayaan yang diperoleh demikian itu siswa yang luhur melakukan lima jenis persembahan: kepada para sanak keluarga, tamu, leluhur, raja dan para dewa. Inilah kasus ketiga tentang kekayaan yang digunakan untuk hal-hal yang baik …

“Selanjutnya, perumah tangga, dengan kekayaan yang diperoleh demikian itu siswa yang luhur melakukan persembahan yang lebih tinggi kepada para petapa dan brahmana yang menjauhkan diri dari kecongkakan dan kelalaian, yang mantap dalam kesabaran dan kelembutan, yang membaktikan diri untuk menjinakkan diri sendiri, menenangkan diri sendiri, dan mencapai Nibbana – suatu persembahan yang bersifat surgawi, yang menghasilkan kebahagiaan dan menopang untuk ke surga. Inilah kasus keempat tentang kekayaan yang digunakan untuk hal-hal yang baik, yang diterapkan dengan penuh manfaat dan dipakai untuk tujuan yang luhur.

“Perumah tangga, inilah empat tindakan berharga yang dijalankan oleh siswa yang luhur dengan kekayaan yang telah diperoleh lewat usaha yang penuh semangat, dikumpulkan dengan kekuatan tangannya, didapatkan dengan keringat di dahinya, kekayaan benar yang telah diperoleh secara benar.

“Siapa pun yang kekayaannya dipakai untuk hal-hal selain empat tindakan berharga ini, kekayaan itu dikatakan tersia-sia, dihambur-hamburkan dan digunakan secara sembarangan. Tetapi siapa pun yang kekayaannya dipakai untuk empat tindakan berharga ini, kekayaan itu dikatakan telah digunakan untuk hal-hal yang baik, diterapkan dengan penuh manfaat dan dipakai untuk tujuan yang luhur.”




Tipitaka source 【經源】:
तिपिटक - सुत्तपिटक - अङ्गुत्तरनिकाय - चतुक्कनिपात - पत्तकम्मवग्गो - १. पत्तकम्मसुत्तं
Tipiṭaka - Suttapiṭaka - Aṅguttaranikāya – Catukkanipāta – Pattakammavaggo - Pattakammasuttaṃ
三藏經 – 藏經 - 增一尼迦耶 – 第四集 - 有益之行品 - 巴陀伽摩經
大藏经 – 藏经 - 增支部 【阿含经】 – 第四集 - 适切业品 - 适切业经


Pali Text, please click here.
English translation, Please click here.
中文翻譯,請按這裏


Jangan ketinggalan untuk merenungkan
kisah Bagaimana seorang yang batinnya telah bersih,
menghadapi sesuatu yang diluar dari dugaan.