Wednesday, May 29, 2013

Pembabaran Mengenai Kamma Secara Garis Besar - Kamma Sutta

चूळकम्मविभङ्गसुत्तं
Cūḷa kamma vibhanga Sutta
Pembabaran Singkat tentang Perbuatan



1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.
Pada suatu ketika Sang Bhagavā
sedang menetap di Sāvatthī, Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

2. Kemudian seorang brahmana muda bernama Subha,
putera brahmana Todeyya, mendatangi Sang Bhagavā.
Setelah itu, ia duduk di satu sisi dan bertanya kepada Sang Bhagavā:

3. “Guru Gotama, apakah sebab dan kondisi mengapa manusia terlihat hina dan mulia?
  1. Orang-orang ada yang berumur pendek dan berumur panjang;
  2. berpenyakit dan sehat;
  3. cantik dan buruk rupa;
  4. berpengaruh dan tidak berpengaruh;
  5. miskin dan kaya;
  6. lahir dikeluarga kelas rendah dan berkelahiran di anggota keluarga yang mulia [noble birth];
  7. bodoh dan bijaksana.
Oh Gotama yang mulia, Apakah alasannya,
apa yang menjadi penyebab diantara manusia bisa menjadi hina dan mulia?”

4. “anak muda, makhluk-makhluk adalah pemilik perbuatan mereka, pewaris perbuatan mereka, mereka berasal-mula dari perbuatan mereka, terhubung dengan perbuatan mereka, perbuatan merekalah sebagai perlindungan mereka. perbuatanlah yang membedakan makhluk-makhluk menjadi hina dan mulia.”

Note:
माणव [māṇava] =
[Young man; this word [māṇava]
is used when one call upon the Son of Brahmin [Young Brahmin]]
Anak muda; kata “Anak Muda” adalah panggilan untuk Putra Brahmana [Brahmana muda]
Dibeberapa teks terjemahan, tertulis Student atau murid,
Seharusnya tertulis Anak Muda, yang dalam bhs Pali disebut माणव.
Karena saat itu Subha datang ke vihara, karena ingin meminta penjelasan dari Bhante? Awalnya bukan dengan cara yang bersahabat, Tapi karena Buddha Maha Pengasih, maka kemarahan Subha mereda, tapi Subha saat itu BELUM menjadi orang yang memiliki saddha kepada Buddha Dhamma Sangha.

“Aku tidak memahami secara terperinci makna dari penyataan Anda oh Bhagava, yang diucapkan secara ringkas tanpa menjelaskan lebih lanjut lagi. Alangkah baiknya jika Guru Gotama sudi mengajarkan Dhamma kepadaku agar aku dapat memahami secara terperinci makna dari pernyataan Guru Gotama.”

Note:
भोतो bhoto = Venerable Sir 【師尊】

“Kalau begitu, Brahmana muda, dengarkan dan perhatikanlah
akan apa yang akan Aku katakan.”
“Baiklah, Oh Yang Agung,” brahmana muda Subha menjawab.
Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

5. “Di sini, anak muda, Di sini seorang laki-laki atau perempuan membunuh makhluk-makhluk hidup dan ia adalah pembunuh, bertangan darah, terbiasa memukul dan bertindak dengan kekerasan, tanpa belas kasihan pada makhluk-makhluk hidup. Demikianlah ia telah melakukan dan telah menjalankan perbuatan-perbuatan itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. Tetapi jika ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia tidak muncul kembali dalam kondisi menderita, bukan di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, tidak dalam kesengsaraan, tidak di neraka, melainkan kembali ke alam manusia, maka di manapun ia terlahir kembali ia akan berumur pendek. Demikianlah, brahmana, hal yang dapat membuat seseorang mengarah pada umur yang pendek, yaitu ia yang membunuh makluk hidup, pemutus kehidupan, yang tangannya berlumuran darah, gemar melukai dan bertindak dengan kekerasan, [hatinya] tanpa belas kasihan kepada makluk makluk hidup.

Note:
  1. evaṃ = thus [demikian]; in this way [dengan cara ini]
  2. kammena = have done [telah dilakukan]
  3. Samattena = have already accomplished [telah selesai dilaksanakan]
  4. Samādinnena = have already undertaken [telah diusahakan – telah dikerjakan]

6. “Tetapi di sini, anak muda, seorang laki-laki atau perempuan, [ia] tidak lagi membunuh makhluk-makhluk hidup, menjauhi diri dari tindakan membunuh makhluk-makhluk hidup; dengan tongkat dan senjata yang telah disingkirkannya. pikirannya terarah didalam kasih sayang, ia berdiam dalam welas kasih terhadap semua makhluk hidup. Demikianlah ia telah melakukan dan telah terlaksanakan perbuatan-perbuatan itu, maka ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia terlahir di alam bahagia, terlahir kembali di alam surga. Tetapi jika ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia tidak muncul kembali di alam surga, melainkan kembali ke alam manusia, maka di manapun ia terlahir kembali ia akan berumur panjang. Demikianlah, anak muda, hal itu mengarah pada umur yang panjang, yaitu, dengan meninggalkan pembunuhan makhluk-makhluk hidup, [204] ia menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup; dengan tongkat dan senjata yang disingkirkan, pikirannya terarah didalam kasih sayang, ia berdiam dalam welas kasih terhadap semua makhluk hidup.

Note:
  1. lajjī : feeling shame1 [of bad things]; modest and carefully2.
  2. Dayāpanno: so humane [benevolent], compassionate.
  3. sabbapāṇabhūtahitānukampī viharati:
    dwelling with a heart free of ill-temper he is filled with compassion and welfare towards all living beings


7. “Di sini, anak muda, seorang laki-laki atau perempuan yang memiliki kebiasaan bertabiat mengganggu dan mengacaukan, gemar melukai yang lain baik dengan tongkat ataupun bongkahan tanah [batu], dengan alat pemukul ataupun dengan belati. Demikianlah ia telah melakukan dan telah terlaksanakannya perbuatan-perbuatan demikian. ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … Tetapi jika sebaliknya ia kembali ke alam manusia, maka di manapun ia terlahir kembali ia akan berpenyakit. Demikianlah, putra brahmana, hal itu mengarah pada penyakit, yaitu, seseorang yang terbiasa melukai makhluk-makhluk dengan tangan, dengan bongkahan tanah, dengan tongkat, atau dengan pisau.

Note:
  1. viheṭhaka = messing; harrass [mengacaukan; mengusik]
  2. jātiko = habits [kebiasaan]
  3. hoti = behave [prilaku dan kelakuan]
  4. pāṇinā = living being [kehidupan]
  5. leḍḍu = The throwing of clods [or stones]
    is a standing item in the infliction of punishments,
    where it is grouped with daṇḍa [stick] and sattha [sword] =
    “leḍḍu-daṇḍ’ādi”
    [melempari sesuatu sebagai hukuman kepada objek,
    alat yang biasa digunakan adl batu dan tongkat/pentungan]
  6. daṇḍena = with stick, club [dengan pentungan, tongkat pemukul]
  7. vā = or [atau]
  8. satthena = with swords or knife. [dengan belati]


8. “Tetapi di sini, anak muda, seorang laki-laki atau perempuan yang tidak memiliki kebiasaan mengganggu dan mengacaukan**, [juga] tidak gemar melukai yang lain baik dengan tongkat ataupun batu, dengan alat pemukul ataupun dengan pisau.
Demikianlah ia telah melakukan dan telah terlaksanakannya perbuatan-perbuatan demikian, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia … Tetapi jika sebaliknya ia kembali ke alam manusia, maka di manapun ia terlahir kembali ia akan sehat. Demikianlah, anak muda, hal itu mengarah pada kesehatan, yaitu, seseorang yang tidak terbiasa melukai makhluk-makhluk dengan tangan, dengan bongkahan tanah, dengan tongkat, atau dengan pisau.

Note:
** mengganggu dan mengacaukan = viheṭhaka


9. “Di sini, anak muda, seorang laki-laki atau perempuan memiliki karakter pemarah dan mudah tersinggung; bahkan jika dikritik sedikit, ia menjadi tersinggung, menjadi marah, bermusuhan, dan membenci, dan menunjukkan kemarahan, kebencian, dan dendam. Demikianlah ia telah melakukan dan telah terlaksanakannya perbuatan-perbuatan demikian, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … Tetapi jika sebaliknya ia kembali ke alam manusia, maka di manapun ia terlahir kembali ia akan memiliki rupa yang buruk. Demikianlah, Putra Brahmana, hal itu mengarah pada rupa yang buruk, yaitu, seseorang yang memiliki karakter pemarah … dan menunjukkan kemarahan, kebencian, dan dendam.

10. “Tetapi di sini, anak muda, seorang laki-laki atau perempuan tidak memiliki karakter pemarah dan tidak mudah tersinggung; bahkan jika banyak dikritik, ia tidak menjadi tersinggung, tidak menjadi marah, tidak bermusuhan, dan tidak membenci, dan tidak menunjukkan kemarahan, kebencian, dan dendam. Demikianlah ia telah melakukan dan telah terlaksanakannya perbuatan-perbuatan demikian, … ia muncul kembali di alam bahagia … Tetapi jika sebaliknya ia kembali ke alam manusia, maka di manapun ia terlahir kembali ia akan memiliki rupa yang cantik. Demikianlah, putra brahmana, hal itu mengarah pada rupa yang cantik, yaitu, seseorang yang tidak memiliki karakter pemarah … dan tidak menunjukkan kemarahan, kebencian, dan dendam.

11. “Di sini, anak muda, seorang laki-laki atau perempuan bersifat iri, seorang yang iri-hati, sakit hati, dan iri akan perolehan, pujian, penghargaan, penghormatan, salam, dan pemujaan yang diterima oleh orang lain. Demikianlah ia telah melakukan dan telah terlaksanakannya perbuatan-perbuatan demikian … ia muncul kembali dalam kondisi menderita … Tetapi jika sebaliknya ia kembali ke alam manusia, maka di manapun ia terlahir kembali ia tidak akan memiliki pengaruh. Demikianlah, putra brahmana, hal itu mengarah pada ketiadaan pengaruh, yaitu, seseorang yang bersifat iri … terhadap perolehan, pujian, penghargaan, penghormatan, salam, dan pemujaan yang diterima oleh orang lain. [205]

12. “Tetapi di sini, anak muda, seorang laki-laki atau perempuan tidak bersifat iri, seorang yang tidak iri-hati, tidak sakit hati, dan tidak iri akan perolehan, pujian, penghargaan, penghormatan, salam, dan pemujaan yang diterima oleh orang lain. Demikianlah ia telah melakukan dan telah terlaksanakannya perbuatan-perbuatan demikian … ia muncul kembali di alam bahagia … Tetapi jika sebaliknya ia kembali ke alam manusia, maka di manapun ia terlahir kembali ia akan memiliki pengaruh. Demikianlah, putra brahmana, hal itu mengarah pada kepemilikan pengaruh, yaitu, seseorang yang tidak bersifat iri … terhadap perolehan, pujian, penghargaan, penghormatan, salam, dan pemujaan yang diterima oleh orang lain.

13. “Di sini, anak muda, seorang laki-laki atau perempuan tidak memberikan makanan, minuman, pakaian, kereta, kalung bunga, wangi-wangian, salep, tempat tidur, tempat tinggal, dan pelita kepada para petapa atau para brahmana. Demikianlah ia telah melakukan dan telah terlaksanakannya perbuatan-perbuatan demikian … ia muncul kembali dalam kondisi menderita … Tetapi jika sebaliknya ia kembali ke alam manusia, maka di manapun ia terlahir kembali ia akan menjadi miskin. Demikianlah, putra brahmana, hal itu mengarah pada kemiskinan, yaitu, seseorang tidak memberikan makanan … dan pelita kepada para petapa atau para brahmana.

14. “Tetapi di sini, anak muda, seorang laki-laki atau perempuan memberikan makanan … dan pelita kepada para petapa atau para brahmana. Demikianlah ia telah melakukan dan telah terlaksanakannya perbuatan-perbuatan demikian … ia muncul kembali di alam bahagia … Tetapi jika sebaliknya ia kembali ke alam manusia, maka di manapun ia terlahir kembali ia akan menjadi kaya. Demikianlah, putra brahmana, hal itu mengarah pada kekayaan, yaitu, seseorang memberikan makanan … dan pelita kepada para petapa atau para brahmana.

15. “Di sini, anak muda, seorang laki-laki atau perempuan keras kepala dan sombong; ia tidak memberi hormat kepada seorang yang selayaknya menerima penghormatan, tidak bangkit berdiri untuk seseorang yang karena kehadirannya seharusnya ia bangkit berdiri, tidak memberikan tempat duduk kepada ia yang layak menerima tempat duduk, tidak memberi jalan untuk seseorang yang seharusnya ia beri jalan, dan tidak memghormati, menghargai, memuja, dan memuliakan seseorang yang seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan. Demikianlah ia telah melakukan dan telah terlaksanakannya perbuatan-perbuatan demikian … ia muncul kembali dalam kondisi menderita … Tetapi jika sebaliknya ia kembali ke alam manusia, maka di manapun ia terlahir kembali ia akan berkelahiran rendah. Demikianlah, putra brahmana, hal itu mengarah pada kelahiran rendah, yaitu, sifat keras kepala dan sombong … dan tidak memghormati, menghargai, memuja, dan memuliakan seseorang yang seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan.

16. “Tetapi di sini, anak muda, seorang laki-laki atau perempuan tidak keras kepala dan tidak sombong; ia memberi hormat kepada seorang yang selayaknya menerima penghormatan, bangkit berdiri untuk seseorang yang karena kehadirannya seharusnya ia bangkit berdiri, memberikan tempat duduk kepada ia yang layak menerima tempat duduk, memberi jalan untuk seseorang yang seharusnya ia beri jalan, dan memghormati, menghargai, memuja, dan memuliakan seseorang yang seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan. Demikianlah ia telah melakukan dan telah terlaksanakannya perbuatan-perbuatan demikian … ia muncul kembali di alam bahagia … Tetapi jika sebaliknya ia kembali ke alam manusia, maka di manapun ia terlahir kembali ia akan berkelahiran tinggi. Demikianlah, putra brahmana, hal itu mengarah pada kelahiran tinggi, yaitu, sifat tidak keras kepala dan tidak sombong … dan memghormati, menghargai, memuja, dan memuliakan seseorang yang seharusnya dihormati, dihargai, dipuja, dan dimuliakan.

17. “Di sini, anak muda, seorang laki-laki atau perempuan tidak mengunjungi seorang petapa atau seorang brahmana dan bertanya: ‘Yang Mulia, apakah yang baik dan bermanfaat? Apakah yang tidak baik dan tidak bermanfaat? Apakah yang tercela? Apakah yang tidak tercela? Apakah yang harus dilatih? Apakah yang tidak boleh dilatih? Perbuatan apakah yang mengarah pada kerugian dan penderitaanku untuk waktu yang lama? Perbuatan apakah yang mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaanku untuk waktu yang lama? Demikianlah ia telah melakukan dan telah terlaksanakannya perbuatan-perbuatan demikian … ia muncul kembali dalam kondisi menderita … Tetapi jika sebaliknya ia kembali ke alam manusia, maka di manapun ia terlahir kembali ia akan menjadi bodoh. Demikianlah, putra brahmana, hal itu mengarah pada kebodohan, yaitu, seseorang tidak mengunjungi seorang petapa atau seorang brahmana dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan demikian. [206]

18. “Tetapi di sini, anak muda, seorang laki-laki atau perempuan mengunjungi seorang petapa atau seorang brahmana dan bertanya: ‘Yang Mulia, apakah yang bermanfaat? … Perbuatan apakah yang mengarah pada kesejahteraan dan kebahagiaanku untuk waktu yang lama? Demikianlah ia telah melakukan dan telah terlaksanakannya perbuatan-perbuatan demikian … ia muncul kembali di alam bahagia … Tetapi jika sebaliknya ia kembali ke alam manusia, maka di manapun ia terlahir kembali ia akan menjadi bijaksana. Demikianlah, putra brahmana, hal itu mengarah pada kebijaksanaan, yaitu, seseorang mengunjungi seorang petapa atau seorang brahmana dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan demikian.

19. “Demikianlah, jalan yang mengarah pada umur yang pendek menyebabkan orang-orang menjadi berumur pendek, jalan yang mengarah pada umur yang panjang menyebabkan orang-orang menjadi berumur panjang; jalan yang mengarah pada penyakit menyebabkan orang-orang menjadi berpenyakit, jalan yang mengarah pada kesehatan menyebabkan orang-orang menjadi sehat; jalan yang mengarah pada rupa yang buruk menyebabkan orang-orang menjadi buruk rupa, jalan yang mengarah pada rupa yang cantik menyebabkan orang-orang menjadi cantik; jalan yang mengarah pada ketiadaan pengaruh menyebabkan orang-orang menjadi tidak berpengaruh, jalan yang mengarah pada kepemilikan pengaruh menyebabkan orang-orang menjadi berpengaruh; jalan yang mengarah pada kemiskinan menyebabkan orang-orang menjadi miskin, jalan yang mengarah pada kekayaan menyebabkan orang-orang menjadi menjadi kaya; jalan yang mengarah pada kelahiran rendah menyebabkan orang-orang menjadi berkelahiran rendah, jalan yang mengarah pada kelahiran tinggi menyebabkan orang-orang menjadi menjadi berkelahiran tinggi; jalan yang mengarah pada kebodohan menyebabkan orang-orang menjadi bodoh, jalan yang mengarah pada kebijaksanaan menyebabkan orang-orang menjadi menjadi bijaksana.

20. “Makhluk-makhluk adalah pemilik perbuatan mereka, pewaris perbuatan mereka, mereka berasal-mula dari perbuatan mereka, terhubung dengan perbuatan mereka, memiliki perbuatan mereka sebagai perlindungan mereka. Adalah perbuatan yang membedakan makhluk-makhluk sebagai hina dan mulia.”

21. Ketika hal ini dikatakan, brahmana muda Subha, putera Todeyya, berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sangha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”


Source 【來源】:
तिपिटक – सुत्तपिटक – मज्झिमनिकाय – उपरिपण्णास – विभङ्गवग्गो - चूळकम्मविभङ्गसुत्तं [सुभसुत्तन्तिपि वुच्चति]
Tipiṭaka - Suttapiṭaka – Majjhimanikāya - Uparipaṇṇāsa - Vibhaṅgavaggo - Cūḷakammavibhaṅgasuttaṃ [subhasuttantipi vuccati].
三藏經 – 藏經文 – 中尼迦耶 – 後五十經編 – 分別品 – 小業分別經。
大藏经 – 藏经 – 中阿含经 【中藏经】 - 后五十经编 – 分别品 – 小业分别经。





Pali 【巴利文】, cilck here.
Englih Translation, click here.
中文正體字,請按這裡
下載中文正體字的PDF,請按這裡
参观小业分别经的中文翻译【简化字】,请按这儿




Setelah mengerti belajar mengenai ini,
mari kita lihat bimbingan kebahagiaan seorang siswa awam:
klik disini