Monday, June 4, 2012

DĪGHITIKOSALA-JĀTAKA [127]

“Anda sekarang berada dalam kekuasaanku,” dan seterusnya.
Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana,
tentang beberapa bhikkhu dari Kosambī yang suka bertengkar.




Ketika mereka datang ke Jetavana, Sang Guru menyapa mereka di saat mereka sedang akur, dan berkata, “Para Bhikkhu, kalian adalah anak-anakku dalam Dhamma, dengarkanlah kata-kata yang keluar dari mulutku. Seorang anak tidak boleh melanggar nasihat yang diberikan oleh ayahnya, sedangkan kalian tidak mematuhi nasihatku. Orang bijak di masa lampau tidak membunuh orang yang telah merampas kerajaan dan membunuh orang tuanya meskipun telah jatuh di tangannya sewaktu berada di dalam hutan. Walaupun mereka adalah orangorang yang benar-benar jahat, tetapi ia berkata, ‘Saya tidak akan melanggar nasihat yang telah diberikan oleh orang tuaku.”

Dan berikut ini Beliau menghubungkannya dengan kisah masa lampau.

Di dalam kisah kelahiran ini,
baik cerita pembuka maupun isi ceritanya
akan dikemukakan secara lengkap
di dalam Saṅghabhedaka-Jātaka.

____________________

Kala itu, Pangeran Dīghāvu (Dighavu) menemukan Raja Benares sedang berbaring di dalam hutan, kemudian ia menjambak rambutnya seraya berkata, “Sekarang saya akan memotongmu menjadi empat belas bagian, perampok yang membunuh ayah dan ibuku.”

Saat mengayunkan pedangnya, ia teringat akan nasihat yang diberikan oleh orang tuanya dan berpikir, “Walaupun harus mengorbankan nyawa, saya tidak akan melanggar nasihat mereka. Saya akan membalasnya dengan membuatnya takut.”

Dan ia mengucapkan bait pertama berikut:

Anda sekarang berada dalam kekuasaanku,
wahai raja, dengan terbaring di sini:
Cara apa yang Anda gunakan,
untuk tidak merasa takut?

Kemudian raja mengucapkan bait kedua berikut:

Saya berbaring di dalam kekuasaanmu,
temanku, dengan tidak berdaya di tanah,
Saya tidak tahu cara apa pun untuk
bebas dari ketakutan.

[212] Kemudian Bodhisatta mengucapkan sisa bait-bait berikutnya:

Perbuatan benar (kebajikan) dan ucapan benar,
bukanlah kekayaan [duniawi, tapi], wahai raja,
yang dapat membawakan ketenangan
sewaktu menghadapi kematian.

128 “Ia menghinaku, ia memukulku,
ia mengalahkanku, ia merampas milikku.”
Mereka yang memelihara pikiran-pikiran seperti itu
tidak akan dapat melenyapkan kebencian.

“Ia menghinaku, ia memukulku,
ia mengalahkanku, ia merampas milikku.”
Mereka yang tidak memelihara pikiran-pikiran seperti itu
akan dapat melenyapkan kebencian.

Kebencian tidak pernah dapat dilenyapkan dengan kebencian,
kebencian hanya dapat dilenyapkan dengan cinta kasih.
Ini adalah kebenaran abadi.

Setelah kata-kata itu diucapkan, Bodhisatta berkata, “Saya tidak akan melukaimu, Paduka. Bunuhlah saya.” Dan ia meletakkan pedangnya di tangan raja itu.

Raja juga berkata, “Saya juga tidak akan melukaimu.” Dan raja mengucapkan sebuah sumpah, kemudian pergi bersama dengannya kembali ke kota dan menghadapkannya kepada para pejabat istananya dan berkata, “Tuan-tuan sekalian, ini adalah Pangeran Dighavu, putra dari Raja Kosala. Ia telah mengampuni nyawaku. [213] Saya tidak boleh melukainya.”

Dan setelah berkata demikian, ia menikahkan putrinya dengan pangeran itu dan mengembalikan kepadanya kerajaan yang dulunya adalah kepunyaan ayahnya.

Sejak saat itu, kedua raja itu memimpin kerajaan mereka bersama dengan bahagia dan harmonis.


____________________

Setelah menyampaikan uraian-Nya, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka: “Sang ayah dan ibu pada masa itu adalah anggota keluarga kerajaan pada masa ini, dan Pangeran Dīghāvu (Dighavu) adalah saya sendiri.”




Catatan kaki :
  1. 127 Bandingkan No. 428, di bawah. Juga lihat Dhammapada, Kitab Komentar hal. 104, dan Mahāvagga, X. 2.
  2. 128 Dhammapada, syair ke-3, 4 dan 5.





Sumber :
Indonesia Tipitaka Center
Samaggi phala website