Tuesday, April 24, 2012

Perenungan Bodhisatta Dalam Kesempurnaan Tindakan Memberi

Seorang Boddhisatta didalam
melaksanakan kesempurnaan tingkat lanjut,

merenung dan melatih perhatiannya didalam memberi,
sebagai berikut:





“harta pribadi seperti tanah, emas, perak, dsb
membawa penderitaan bagi pemiliknya
yang menyebabkan keterikatan batin dengannya.

Karena harta tersebut merupakan sasaran objek dari kesenangan
[indria – pleasure sense], yang diidamkan oleh banyak orang,
[akan tetapi] bisa terhancurkan atau diambil oleh lima musuh
yaitu banjir, kebakaran, raja, maling dan pewaris yang tidak disukai.

harta harta tersebut
bisa menimbulkan pertengkaran dan perselisihan,
harta harta tersebut tidak memiliki inti,

Memiliki dan menjaga mereka
bisa menimbulkan atau terjadinya kerugian bagi pihak lain,
Kehilangan dan kehancurannya
membawa penderitaan dan kesedihan,
Dan hal hal lainnya.

Karena kemelekatan terhadap benda benda ini,
Mereka yang kikir [macchariya] akan terlahir kembali
di alam yang penuh penderitaan.

Dengan demikian,
kepemilikan ini membawa banyak penderitaan
bagi pemiliknya dalam beragam cara.
Memberikan mereka, mengabaikan mereka,
melepaskan mereka adalah
jalan satu satunya untuk mencapai kebahagiaan [sejati]”




Perenungan Batin Terhadap Memberi




jika seorang pemohon datang kepadaNya untuk meminta sesuatu,
ia akan merenung:

倘若有人來到菩薩面前要求祂一些幫助,
菩薩將一定會思想:

“ia adalah teman baikku,
karena dengan memberi kesempatan bagiku
untuk melakukan perbuatan dana ini,
ia membantuku mencapai tingkat pencapaian
yang tinggi dan sulit, pencapaian landasan Buddhabhumi.”


“他是我的好友,
好機會做慈善【布施】已在我面前,
其實他幫了我達到更難更高一步的修養道,
實現了佛道之基礎。”


“orang ini telah membantuku dengan memberikan
kesempatan melakukan perbuatan mulia,
aku harus menggunakan kesempatan ini dengan sebaik baiknya.”

“由於這位把機會做善事交給了我
就等於他已幫助不少我了,
我必須趁這機會向他做最好的善事”

“meskipun tindakan memberi terlihat menguntungkan si penerima,
namun sesungguhnya pemberilah yang beruntung dibandingkan penerima”

“雖然做慈善【布施】瞧起來給接受者很大的利益與幸福,
但實際上送禮者還比接受者更有利益與幸福”

“Bagaikan seekor serangga [kitaka],
meloncat kembali kepada ia yang melepaskannya tanpa merasa takut,
akibat baik akan kembali kepada
orang yang melakukan dana dengan murah hati
tanpa adanya harapan akan imbalan”

“就如一隻毫無恐懼地
跳回釋放之處的昆蟲,
做善事的報果將會回向
那個慷慨解囊而且無何許願
做慈善的人”

Seorang Bodhisatta menghindari pemberian Adhamma Dana.
Apakah Adhamma Dana?
Adhamma Dana yaitu pemberian berupa
1. Minuman keras, karena dapat melemahkan perkembangan batin ataupun konsentrasi [kewaskitaan],
2. Senjata dan Racun, karena dapat membahayakan dan melukai makluk hidup seperti pedang, alat perang, dll, termasuk pancingan.
3. Memberikan hewan kepada yang lain, yang mendorong sipenerima melakukan kekejian ataupun pembunuhan terhadap hidup makluk tersebut.
4. serta hal hal yang menurunkan kualitas moral dan ke-susila-an seseorang.


Seorang Bodhisatta
mengerti Noda yang menghalangi kesempurnaan didalam berdana:

“berpikir untuk membeda bedakan antara benda benda
yang didanakan dan antara penerima penerima dana
adalah penyebab kotornya kesempurnaan kedermawanan.”

Bodhisatta yang hendak memenuhi kesempurnaan kedermawanan
harus memberikan dengan tanpa diskriminasi
terhadap apa pun yang ia miliki dan
siapapun yang akan menerimanya.

Ia tidak memikirkan kualitas dari benda benda
yang akan didanakan tersebut dengan berpikir
“ini terlalu jelek untuk diberikan,
ini terlalu bagus untuk disumbangkan”

Atau bahkan berpikir mengenai si penerima
“orang ini adalah orang yang tidak bermoral,
aku tidak akan memberikan kepadanya”

Pikiran yang membeda bedakan ini
menyebabkan kesempurnaan kedermawanan tersebut
menjadi tidak murni,
karena pikiran pikiran yang
membedabedakan benda benda yang akan didanakan
beserta para penerimanya

adalah noda bagi kesempurnaan kedermawanan itu sendiri.

kesempurnaan[parami] disebut Murni
jika tidak dinodai oleh kekotoran batin.

kekotoran batin tersebut adalah
1. kemelekatan,
2. keangkuhan,
3. pandangan salah [tidak yakin akan akibat perbuatan baik]
4. memiliki pikiran yang mendiskriminasi
atas benda benda yang didanakan beserta para penerimanya


sehingga membuat seseorang tidak sanggup melihat
segala sesuatunya dengan perasaan netral
sewaktu bertemu dengan objek yang disukai dan yang tidak disukai,
sehingga mengakibatkan batin seseorang
guncang atau goyah kemantapan dari kebajikannya.




==================



“kemelekatan terhadap objek
yang akan diberikan adalah lobha,
berupa ketidak relaan ataupun ketidak ikhlasan;

Merasa tidak senang terhadap
si penerima atau calon penerima adalah dosa.
sehingga ia memberi kepada
orang tertentu dan tidak memberi kepada yang lainnya;

Bingung akan mengapa ia melakukan kedermawanan,
tidak mengetahui apakah manfaat dari pada
perbuatan baik memberi?
Ia tidak mengerti nilai kemuliaan dari memberi
inilah yang disebut moha”





See Also