Tuesday, March 6, 2012

Ada Banyak Dewa Bodoh Yang Mengakui Dirinya Sebagai Buddha.

"Didalam upacara tertentu, terdapat God yang merasuki tubuh manusia, yang mengaku bahwa ia adalah Buddha"
Sudahkah anda mengenal siapakah Lord Buddha?

Hal hal seperti Rasukan pada upacara tertentu adalah hal yang sudah lumrah bagi suatu kalangan. Terdapat pemimpin upacara tersebut yang mengalami kerasukan
makluk tertentu [yang bagi kita pada umumnya gak jelas asal usulnya karena kita gak sanggup untuk mengetahui siapa yang merasuki] mulai mengaku ngaku dirinya sebagai Buddha.

Hal ini tentu saja perlu banyak pengkajian didalam diri kita juga yang mendengar atau melihat langsung peristiwa tersebut. Kita perlu mengerti bahwa seorang yang mencapai Samma sambuddha bukanlah terlahir dialam Surga dan atau menjadi sejenis dewa atau malaikat, tapi ia adalah manusia, seseorang yang menjadi Buddha hanyalah seorang MANUSIA.

Peristiwa atau kasus ngasal mengukuhkan diri ini, biasanya dilaksanakan oleh tradisi tertentu
Tapi mungkin kita perlu mempertimbangkan beberapa hal berikut ini:

1.) suatu kali Buddha pernah berkata bahwa ia berbahasa segala makluk, anda bisa test, apakah yang kesurupan itu bisa berbahasa Inggris, Indonesia atau thailand? sejak dia mengaku kalau dirinya adalah Buddha, persilakan Dewa / God yang mengaku dirinya sebagai Buddha tersebut untuk berbicara dalam bahasa anda atau bahasa yang lainnya.

2.) Kita juga harus mempertimbangkan kata makluk yang merasuki tubuh manusia tersebut, Perhatikan dari ucapannya kepada anda. Buddha tidaklah perna mengutuk orang atau mengatakan "kalian manusia telah berdosa?...." heheheh begitu datang langsung tiba tiba bilang berdosa. Gaya bicara seorang Buddha tidaklah demikian.

Buddha adalah seorang manusia, pencapaian nirvana bukanlah setelah meninggal dunia,tapi pada saat masih hidup itu juga lah manusia mencapai pencerahan. Dan setelah tubuh seorang Buddha terurai, berarti beliau TELAH PARINIRVANA atau nirvana total.
[tiada lagi unsur kehidupan duniawi pun surgawi yang tersisah, Beliau bukan terlahir di Nirvana tapi telah mencapai Nirvana penuh / total, karena sudah tidak ada lagi kekotoran batin, batinnya bersih tak bernoda.]

berbeda dengan Dewa memang, karena Dewa yang biasa kita sebut sebagai Tuhan [dari kata Tuan, Yang Mulia], Hyang, Bapa atau apapun istilah yang anda gunakan untuk menyebut sosok ini adalah makluk yang masih kotor batinnya, seperti yang beberapa tulisan dibuku kuno tertentu ungkapkan bahwa dewa atau tuhannya berkata
"Do not worship other Gods, because I'm the jelous God"
[Jangan menyembah dewa dewa yang lain, karena aku adalah Dewa pencemburu”

batinnya masih kotor, sampai sampai God, god / Dewa atau tuhan nya bersabda
“Apabila saudaramu laki-laki, anak ibumu, atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau isterimu sendiri atau sahabat karibmu membujuk engkau diam-diam, katanya:
Marilah kita berbakti kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu, salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu,baik yang dekat kepadamu maupun yang jauh darimu, dari ujung bumi ke ujung bumi, maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi kesalahannya, TETAPI BUNUHLAH DIA! Pertama-tama tanganmu sendirilah yang bergerak untuk membunuh dia, kemudian seluruh rakyat!”.

Demikianlah batinnya masih memiliki noda hitam kelam: otoriter, paksaan, napsu ingin menguasai dan mengalahkan masih mencengkram dibatinnya, berbahagia kemenangan diatas penderitaan yang lain, yang dari lubuknya bersumber dengki, iri hati, dendam, ingin membalas, memukul, melukai, membunuh yang tidak mengikuti perintahnya, kekotoran batinnya mengalahkan sisi baiknya, bahkan tak segan segan memprovokasi umat manusia untuk membunuh, menyakiti, melukai yang lain hanya demi sebuah pujaan, sembah sekaligus bakti [untuk sesosok yang batinnya masih ternodai ini]. Batin yang seperti inilah yang mesti kita kikis dan buang jangan lagi mencengkram dan menguasai batin kita.

Maka itu dikatakan bahwa Buddha adalah:
"Yang Maha Suci [bersih batinnya, tanpa noda seperti itu. sudah tidak ada lagi Klesa]
yang telah mencapai penerangan sempurna [Beliau telah melihat fenomena kehidupan]
sempurna pengetahuan [Ia yang telah melihat segala hal dengan benar]
serta perilakunya [Fikiran, ucapan dan perbuatannya telah bebas dari cengkraman klesa]
Ia yang telah sempurna mencapai pembebasan [Yang telah berhasil mencapai Nirvana]
pengenal alam semesta [Beliau-lah yang telah melihat alam2 di semesta ini, termasuk angkasa. 2500 tahun yang lalu Beliau telah bersabda dialam semesta ini banyak sekali mata hari dengan bumi bumi nya [planet], dsb. dimana pada jaman itu, belum ada scientis yang mengetahui hal ini, dan tidak ada kitab lain yang bersabda mengenai hal ini. Maka itu Albert Einstein yang telah membaca kitab Tipitaka takjub dengan kemahatahuan Guru Agung]
pembimbing manusia yang tiada taranya,
Guru para makluk surgawi dan manusia,
demikianlah Sang Buddha, Hyang Bhagava."

Silakan anda melihat seluruh peristiwa dalam kehidupan Buddha Gotama,
tidak pernah sedikitpun Beliau melukai [baik terhadap manusia, bahkan kepada makluk hewan kecil seperti semut sekalipun tidak pernah berpikir yang tidak baik. Batinnya penuh kasih sayang]. Buddha tidak pernah berucap seperti ungkapan dari Guru tertentu yang pernah memasukkan setan kedalam tubuh babi sehingga membuat makluk hidup tersebut celaka dan mati karena masuk kedalam sungai, atau mengutuk pohon jadi kering [mati], demikian ia berkata:

"Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku."

Maka itu, Jikalau anda bertemu dengan orang kesurupan, yang katanya Dewa nya itu mengaku dirinya adalah Buddha, mungkin kita perlu bersenda gurau bertanya padanya di pohon manakah anda tinggal? mungkin dalam hati nya ia akan berkata "wah ketauan juga!" hehehe.

3.) Seperti yang diatas tuliskan, bahwa Buddha penuh kasih sayang, tidak pernah kita diajarkan untuk melakukan pembunuhan makluk hidup dalam upacara kita.
hati kita dibimbing terus didalam kasih sayang. jika dalam upacara Dewa yang mengaku ngaku sebagai Buddha tersebut masih melibatkan kegiatan kurban atau memerlukan darah untuk menebus kesalahan atau dosa seseorang, maka upacara itu jelas bukanlah Dhamma, bukanlah ajaran kasih sayang.
Sesungguhnya, Ia hanya ingin mendapatkan Nama baik saja melalui nama Buddha.

Dan juga, didalam kehidupan umat beragama Buddha, Lord tidak pernah setuju akan hal hal yang berhubungan dengan taruhan serta judi.
Jika dewa, Dewa, Tuhan atau apapun yang anda sebut mengenai makluk yang merasuki badan orang itu mendukung akan suatu kegiatan judi, taruhan, termasuk nomor undian, togel [樂透] dan pertandingan judi lainnya. Maka sudah jelas jawabannya makluk yang merasuki tubuh manusia itu bukanlah Buddha.

kalian perlu sedarkan diri, mengerti dengan jelas fenomena pun kejadian yang benar, seperti Dewa yang mengaku-ngaku dirinya sebagai Buddha tersebut.

Buddha tidak pernah mendukung tindakan "taruhan", "perjudian" apapun bentuknya, apalagi mendukung tindakan kekerasan seperti kurban yang menumpahkan darah. Karena Beliau maha pengasih dan tidak tergoyahkan oleh kehendak duniawi yang tidak mulia dan kejam. Bahkan sebelum menjadi buddha, beliau adalah seorang pangeran, putra Raja yang memiliki segalanya. tapi segala emas dan harta tidak bisa menarik hati Bodhisatta, semua itu Beliau tinggalkan demi mencapai penerangan batin yang membebaskannya dari segala kekotoran batin beserta kebodohan dan kekejian lainnya yang awam terus praktekkan sampai hari ini, yang mana orang awam memutar balikkan fakta dengan menganggap bahwa pengejaran kenikmatan dan hal hal yang mengukuhkan napsu dan ego manusia adalah jalan kemengangan, kebajikan serta jalan pembebasan. Lupa bahwa suatu hari yang jaya pun tidak selamanya stabil dan hancur, yang muda dan segar pun bisa jadi tua dan tidak enak dipandang, yang kuat dan gagah suatu hari bisa loyo. Lupa fenomena alam sampai bertindak menghalalkan kefasikan dan culas, demi mendapatkan dan mencapai keinginannya, bahkan tak sedikit orang yang sampai tak segan segan untuk merampas kebebasan yang lainnya secara tidak adil, dengan cara yang tidak sehat, seperti persekongkolan, perkumpulan [karena merasa cocok, hobi yang sama, terlihat penuh senyuman manis, pandai bicara sehingga didalam kelompok merasa oh ya kau adalah sohib ku, pasti kita bantu apapun] - nepotism, korup dsb. kemenangan itu! kesenangan dan kegembiraan yang diperoleh dengan cara yang demikian adalah semu! manis seperti madu, namun mengandung venom [beracun] yang akan berbalik meracuni dirinya sendiri kelak.

Pembebasan sejati, pencerahan batin, pencapaian kebahagiaan yang tertinggi tidaklah dicapai dengan kurban atau dengan mengutamakan pengejaran kesenangan2 indria yang hanya mengutamakan si AKU. karena apa? kesenangan indria membuat manusia terus haus! dan demi memuaskan diri atau ingin menggapai apa yang dari rasa haus itu demand [pinta/permohonan terhadap diri sendiri] bak orang yang telah terbuai didalam kesenangan terhadap obat obatan terlarang. Manusia tak segan segan membabi buta, menghalalkan segala cara bahkan sampai melukai hati dan fisik yang lainnya demi memenuhi keinginannya [tanha], bak seorang yang sedang ketagihan obat, tak segan segan mencuri uang orang tuanya sendiri atau melukai yang lain demi memuaskan keinginan dirinya se-orang. Demikian pula pertumpahan darah tidak bisa membersihkan hati kita dari kekejian dan kebodohan yang tertanam kuat didalam diri walau dengan menggunakan darah seember sekalipun, tetaplah tidak bisa menghapus kebencian, kedengkian, keirihatian, kecemburuan, prejudice [rasa curiga yang tidak beralasan] serta segala kekotoran batin yang ada didalam diri, kelakuan yang persis bernoda [tidak suci] seperti Dewa atau tuhan tersebut.

Hanya harus dimulai dengan introspeksi diri sendiri, perenungan yang seksama, pikiran yang diliputi friendliness [metta] dan adanya tindakan penyelesaian [good karma] maka masalah bisa terselesaikan. Maka itu Buddha bukanlah makluk yang menjadi suci karena bersungut sungut berdoa sampai berpeluh ataupun karena bisikan makluk surgawi, atau karena percaya dan yakin serta menyembah makluk tertentu. Akan tetapi karena Beliau menelusuri langsung kedalam sumber problem permasalahan yang berpusat didalam, bukan diluar [dengan mengerti jelas segala faktor kekotoran batin / penghalang batin menuju pencerahan seperti ketidak-tahuan [avijja], kebencian[dosa], keserakahan[lobha], serakah akan harta, pujian, serakah akan sujud dan nama, pendengki / iri hati [irsia], pengobar birahi dan segala kondisi kekotoran batin yang ada pada semua makluk] sehingga Beliau mengerti segala fenomena kehidupan, mengapa adanya orang seperti ini? oh ternyata karena adanya itu, dan lain lainnya. demikianlah Beliau, Sang Bodhisatta memahami hakikat sejati dari fenomena kehidupan, Tercapailah Pencerahan Batin: "Buddha".


Para Dewa atau God masih belum sebanding dengan Buddha yang batinnya bersih dari kilesa [kekotoran batin], semoga saja Dewa atau God tersebut bisa sadar dan tidak mengulangi kesalahannya kembali. semoga muncul pengertian kepadanya, dan muncul kasih sayang, agar kelak, Dewa atau God tersebut hanya menebarkan kebenaran, kebaikan dan pada saat yang sama menebarkan kasih sayang kepada semua makluk. mari kita semua mendoakannya, agar dewa / Dewa / God / Tuhan itu menyadari bahwa mengaku dirinya sebagai Buddha padahal bukanlah Buddha itu bukanlah suatu kebenaran. Dan mari kita maafkan God itu.

Sebenarnya untuk saudara Buddhis kita yang berada di asia timur sana, budaya Buddhisme telah terjadi pergeseran,
praktisi seperti bakar kertas [uang uangan] pun terus dipraktekkan oleh mereka, seperti yang kita tahu bahwa Buddhisme tidak pernah mengajarkan hal itu. apalagi hingga terjadi di Indonesia, [bagi yang dari MEDAN mungkin tahu upacara besar yang dilaksanakan untuk memperingati leluhur] yang pada saat itu ada vihara, yang melayani umat yang ingin berdoa memperingati orang tua, dengan bakar kertas, dan upacara upacara lainnya, alhasil si pimpinan vihara berkata total biaya 30 juta!!!!

ini sungguh menyedihkan sekali, orang yang mendengar itu kaget, dan hal ini menyimpang dari Ajaran [Dhamma]. Didalam agama Buddha tidak perlu berdoa sampai mengeluarkan uang sedemikian banyaknya, karena berdoa, merenung, pun bermeditasi bisa ditempat apapun yang tenang dan bersih, pun kami tidak perlu melakukan bakar kertas dan dupa, bahkan TANPA PATUNG SEKALIPUN TIDAK APA, KARENA DIDALAM KITAB AGAMA BUDDHA TIPITAKA YANG MANA BERBAHASA INDIA [AGAMA BUDDHA BERASAL DARI INDIA DAN BUDDHA BERBAHASA PALI, yang belakangan diterjemahkan kembali ke bahasa SANSEKERTA.], TIDAK PERNAH BUDDHA MENGATAKAN BAHWA UMAT BUDDHA HARUS MEMBUAT PATUNG DAN MEMINTA MINTA [MEMBERHALAKAN]!

umat agama lainpun tidak diajarkan untuk memberhalakan, seperti yang ditulis diagama lain dari israel diceritakan bahwa budaya rakyat Israel pada jaman itu membuatkan patung BENTUK MANUSIA TAPI KEPALA SAPI! DAN MEREKA MEMINTA MINTA DISANA, ini yang dianggap berhala didalam kaum penganut ajaran mereka, karena menganggap patunglah yang mengabulkan doa! memang benar patung tidak bisa mengabulkan doa, karena patung benda mati, tidak memiliki batin untuk merasakan, tidak memiliki telinga untuk mendengar, tidak memiliki mata untuk melihat, karena ia cuma sebuah bantuk yang diukir ataupun sesuatu yang dibentuk oleh manusia juga.

Cuma bagaimanakah jika umat Buddha melakukan hal itu? silakan! siapa yang melarang? itu bukan dosa [kesalahan]! YANG MENGATAKAN DOSA ADALAH AJARAN DEWA PENDENGKI DAN KOTOR HATINYA YANG NGIRI KARENA ADA ORANG YANG MUJA DEWA LAIN SELAIN DIRINYA.
Sedangkan yang salah atau dosa, SESUNGGUHNYA bukan apa yang masuk dari mulut, tapi apa yang keluar dari mulut: penyulut keributan, penyebab perpecahan manusia manusia yang berbudi, penghancuran persatuan dan kedamaian dari orang orang yang baik, serta penganiayaan makluk [baik manusia ataupun binatang sekalipun] inilah yang nista dan HARAM BAGI UMAT BUDDHA!

Nengenai masalah Budaya dan tradisi, kamu mau meminta minta didepan patung itu tidak masalah! selama tidak terkandung kekejian dan kepicikan dari ajaran ajaran Dewa atau Tuhan yang picik dan pendengki [yang mengajarkan untuk lemparkan batu kepada orang yang tidak menyembahnya dan sebaliknya nyembah dewa lain], itu tidak masalah, yang penting jangan ada kandungan kekejian atau penganiayaan atau melukai yang lain.

Karena banyak orang yang menunjuk dengan jarinya kepada orang lain sambil mencela: "hei berhala!" tapi gak sadar jari jari dari tangannya sedang menunjuk kearah dirinya sendiri sembari berkata "apakah kau lebih mulia atau menjadi beraklhak luhur hanya karena mengatai orang lain berhala? yang ternyata adalah cuma seorang penggunjing, penyuka keributan, yang hatinya picik dan culas, serta tidak jujur dan sewenang wenang, seorang yang cuma menganggap aku saya yang paling benar, akulah yang harus kau dengar." karena telah terbawa oleh ajaran dewa nya yang pendengki suka murka.


Padahal, banyak mereka yang memberhalakan manusia [to idolize people] para artis, bintang film, penyanyi dan sebagainya, termasuk orang yang dicintainya, walaupun picik dan bejat tetap dibela mati matian, dibilang baik dan terpuji. weleh weleh ini dia orang berhala sesungguhnya, tapi apakah dengan ia membela si bejat kemudian sibejat jadi mulia? weleh weleh nanti dulu, ORANG TIDAK SEBODOH ITU SEKARANG, sayangnya udah pada pinter dan bisa menelaah yang mana yang benar dan tidak benar.

Bahkan sekarang si penyulut yang sering berteriak teriak "hey berhala" ! ternyata memberhalakan uang! yang juga ukiran atau buatan manusia kotor. serasa lucu atau menggelikan hal ini. Saking terlalu BERHALANYA IA TERHADAP UANG, maka ia sampai tega menomor dua kan yang miskin dan tidak bersalah, kemudian mengutamakan yang "BERHALANYA DIA" [UANG] NYA BANYAK, mengutamakan yang banyak duit dulu. LUCU BUKAN? ia sering berteriak "Hey Berhala! Pendosa!" namun sesungguhnya, pada kenyataannya, ia sendiri pemberhala banyak hal, mulai dari MEMBERHALAKAN logam dan kertas sampai MEMBERHALAKAN MANUSIA.

Sedangkan umat Buddha diajarkan didalam Dhamma untuk tidak menitik beratkan pada hal puja memuja
[Buddha bersabda: Aku tidak berurusan dengan puja memuja]. Silakan dengar apa yang Bhikshu dari Taiwan ini katakan dalam ceramahnya divihara, click disini.

Suatu hari Buddha bersabda kepada seorang Brahmana [pendeta agama lain pada jaman itu]. Pendeta ini sedang membicarakan mengenai orang berdoa [menaikkan ayahnya ke surga].

Buddha menjawab:
"oh pendeta, seandainya terdapat seseorang yang melemparkan batu kedalam sungai, dan ia juga melemparkan minyak kedalam sungai tersebut. kemudian orang itu MENGUNDANG SELURUH PENDETA YANG IA KENAL sebagai pendeta pendeta yang hebat dan doanya manjur, ia meminta kepada para pendeta tersebut untuk berdoa seyakin yakinnya agar membuat batu yang tenggelam tersebut mengambang kepermukaan air sungai, dan berdoa sekhusyuk kusyuknya agar minyak yang mengapung diatas permukaan air itu tenggelam kedalam dasar sungai. Bagaimanakah menurutmu mengenai hal ini, oh pendeta? akankah sifat alam batu tersebut akan berubah menjadi mengapung secara alami? dan sifat alam unsur minyak tersebut akan tenggelam kedasar sungai?"

Pendeta:
"tentu saja tidak, oh Yang Bijaksana. Karena sifat batu yang padat ia tenggelam, sedangkan minyak yang tidak bersatu dengan air akan mengapung. ini sudah secara alami demikian. tidak bisa dibalikkan secara hukum alamnya."

Tatagatha bersabda:
"Demikian pula, oh pendeta, walau dengan doa sehebat apapun, yang dilakukan dengan seyakin yakinnya sekalipun tidak akan bisa membuat seseorang naik kesurga jika ia yang hatinya tidak bersih, bersekutu dengan kekejian dan senang didalam penganiayaan makluk hidup, memiliki niat yang jahat dan ketidakbaikkan [baik melalui ucapan, perbuatan ataupun dipemikirannya].
Demikianpula, seseorang tidak akan bisa membuat orang yang hatinya bebas dari kejahatan dan niat jahat, teguh didalam keluhuran batin nan bijaksana, untuk turun dari surga dan masuk ke neraka walaupun dilakukan doa doa yang diungkapkan dengan seyakin yakinnya sekalipun.

karena bagi yang teguh didalam kebajikan lagi bijaksana, akan dengan sendirinya naik kesurga,
demikian pula bagi yang pemikiran, ucapan dan perbuatannya yang kotor [tidak baik, culas, picik, keji]  ia akan secara alami tenggelam kedalam neraka."


Demikianlah Dhamma yang diajarkan oleh Buddha kepada umat manusia mengenai kualitas batin seseorang mengungguli doa yang bahkan dilakukan seyakin yakinnya sekalipun! karena tidak ada secuil harga sedikitpun walau anda rajin berdoa tiap hari dengan khusyuknya melantunkan lagu puji pujian, namun hati masih dengki, masih picik dan culas; senang didalam ketidak jujuran bahkan didalam kesaksian anda sekalipun, bahkan mengurus ibunda sendiri yang telah tua renta serasa acuh tak acuh, karena lebih memberhalakan dewa [God] atau tuhan nya yang utama! Jadi, segala rupang [patung] dan segala upacara bakar kertas, itu bukan bagian dari AGAMA BUDDHA yang berlandaskan kitab TIPITAKA, hanya terkait dengan budaya dan tradisi setempat. kalaupun sampe terjadinya kejadian seperti yang terjadi diatas [upacara sembayang sampai 30 juta] itu dilakukan oleh oknum tertentu, yang berbuat tidak berdasarkan kitab suci dan hanya berlandaskan kepada KEPENTINGAN DAN PEMIKIRAN PRIBADI ATAU GOLONGAN tertentu, tapi bukan apa yang disabdakan di dalam Dhamma. wong tanpa patung pun umat Buddha berdoa dimana saja. karena doanya cuma melatih kualitas kasih sayang dan kebijaksanaan dari masing masing individual personal umat Buddha itu sendiri.

Demikianpula kemiringan dalam seni lukis yang terjadi di negara asia, dengan lukisan atau penggambaran Buddha telah menjadi sesuatu yang berbeda dari kitab. seperti yang kita tahu bahwa agama Buddha adalah berasal dari India, Beliau, Yang Telah Tercerahkan Batinnya, bukanlah seorang dari Asia timur, tapi adalah seorang dari ras Arya.

Selain itu pelukisan figur Buddha yang termanipulasi dengan budaya setempat yang memanjangkan telinga dari Figur Buddha, selain itu mereka juga menggambarkan Buddha dengan lukisan mata dengan warna coklat, yang semestinya adalah berwarna biru.Selain itu orang Asia Timur melukiskan Buddha dengan merubah dan menjadikan matanya berbentuk sipit. hehehe, cukup menarik memang untuk karya seni, tapi hal ini belum berdasarkan apa yang disebutkan oleh para sesepuh yang hidup sejak jaman Sang Buddha yang pernah melihat langsung Guru Agung seperti apa?

Tapi baiklah, biarlah kita mulai hari ini mengetahuinya dengan jelas seperti yang tertera dibawah ini, bahwa Buddha memiliki 32 tanda Mahapurisa, dijelaskan bahwa mata seorang Buddha berwarna Biru

=====

"Berjudi membuat kehidupan rumah tangga anda terombang ambing."

Sang Buddha suatu kali bersabda:
”Perumah tangga, ada 4 hal yang membuat keruntuhan didalam hidup berumah tangga,
ke4 hal itu adalah

1. Berjudi [dengan semakin berjudi, maka semakin bertambahlah hutang]
2. Tidak Berkepuasan hati [dengan menyeleweng seseorang memisahkan dirinya, memecahbelah keluarganya sendiri pun orang lain jadi ikut terlibat]
3. Bergaul atau akrab dengan teman teman yang tidak baik
[Teman yang mengoyok oyok, menyemangati mu saat kau bergunjing, berkelahi, minum2an, menghebat hebatimu saat kau berjudi, bernafsu sex dengan orang, dan memakai obat obatan terlarang, pernah mengalami ini? Saat inilah anda perlu mengerti siapakah teman yang sejati dan siapa teman yang ingin anda terjerumus didalam penderitaan yang tiada habisnya.]
4. Ketergantungan pada Obat obatan terlarang dan minum2an keras ataupun zat yang membuat kita ketagihan dan ketergantungan.
(Anguttara Nikaya IV, 283]

Ajaran Sang Buddha kepada upasaka upasika

"...Berjudi dan bertaruh [taruhan apapun bentuknya], minum-minuman keras, rutin mengunjungi wanita wanita gampangan... Peminum-minuman keras, hidup dengan boros [pada minuman, sex dsb], sehingga jadi melarat. Haus sewaktu minum [tak henti2nya minum minuman keras],pengunjung kedai minuman. [hidup yang demikianlah ia yang]Bagaikan batu, tenggelam di dalam hutang-hutang. Cepat sekali ia membawa nista pada keluarganya.

Barang siapa mempunyai kebiasaan tidur bermalas malasan disiang hari, memandang malam sebagai waktu untuk bangun. Orang yg lalai didalm tanggung-jawabnya thd keluarga [Tanggung jawab ia terhadap terutama IBU, kemudian ayah, adik kakaknya dan istri anaknya] serta terlena dlm minuman ber-arak / anggur adl seorang PRIA YANG TIDAK PANTAS MENJADI KEPALA KELUARGA.

Terlalu dingin, terlalu panas, terlalu siang, demikian keluhan (yang diucapkan). Demikian orang yang kabur / menghindar dari pekerjaan yang menunggu. [akhirnya] kesempatan baik lewat untuk selama-lamannya..."

Marilah kita mulai dari sekarang mengenal dengan baik siapakah Sang Buddha, banyak banyaklah belajar Dhamma, agar kita mengerti dan bisa menelaah dengan benar apa yang baik dan tidak baik? sehingga kita mengerti mana yang benar dan mana yang tidak benar, saat menghadapi kasus seperti Dewa yang mengaku sebagai Buddha.

Mari kita mulai sekarang merenungkan kedalam diri kita, sudah seberapa besar kasih sayang yang tumbuh didalam batin kita? Sudahkah kita menjadi orang yang sabar? Mari kita kembangkan dan pelihara, jika egois sudah memudar dan kasih sayang atau cinta kasih sudah berkembang baik dan tak tergoyahkan. Disanalah saatnya anda berjalan didalam Buddha, Dhamma dan Sangha.

Karena batin Sang Buddha tiada kecemburuan, dan segala kekotoran batin, sehingga saat kita ingin menjadi siswa Beliau, kita harus benahi diri dari rasa ego dan kesewenang wenangan, menumbuhkan akar kasih sayang dan cinta kasih yang kuat tak tergoyahkan, jujur, mengakui kekurangan sendiri serta mampu mengalahkan keangkuhan diri dengan rendah hati[humble], sambil menyirami akar kasih sayang dalam diri dengan merenungkan keindahan dari kebajikan, pun sekaligus belajar Dhamma. Maka perlindungan [tisarana] telah rampung dilaksanakan, dan kita menjadi siswa Buddha yang sesuai dengan tujuan dari anda berlindung kepada Buddha Dhamma dan Arya Sangha.

Tapi orang yang mengatakan dirinya sebagai umat Buddha, namun hatinya masih dengki, mencibir saat melihat orang lain sukses dan bahagia; rasa nafsu akan hal akulah yang benar dan lebih hebat; berbahagia diatas penderitaan atau kesukaran yang lainnya; suka membicarakan keburukan orang lain; malas tapi banyak meminta; angkuh serta kikir. maka orang itu belum bisa dikatakan sebagai siswa/siswi Buddha.

Jadi, Kasus kasus seperti Dewa yang menyaruh dengan berkata bahwa dirinya adalah Buddha,
Bagi umat Buddha sudah bisa dihalau dan dimengerti akan hakikat sebenarnya dari peristiwa yang demikian, karena kita telah mengerti siapakah Yang maha pengasih itu, Guru agung kita, Sang Buddha. Tiadalagi keraguan, batin kita sudah tidak bisa terkecoh dengan kasus kasus kebohongan yang dilakukan dalam upacara kerasukan yang mengaku dirinya adalah Buddha!


Mari kita simak bersama sama beberapa tanda atau ciri ciri utama dari Fisik seorang Buddha:

1) Telapak kaki rata (suppatitthita-pado).
Ini merupakan satu lakkhana dari Maha Purisa.
2) Pada telapak kakinya terdapat cakra dengan seribu ruji,
lingkaran dan pusat dalam bentuk sempurna.
3) Jari-jari yang berukuran panjang (digha-anguli).
5) kulit Tangan dan kaki yang tidak kasar (mudu¬taluna) .
6) Garis garis di telapak Tangan & kaki yang halus berbentuk kotak (jala-hattha-pado).
7) Kulitnya berwarna terang / keemasan (suvanna¬vanna )
8) Rambut yang tumbuh pada pori-pori berwarna biru-kehitaman, dan berbentuk ikal.
9) Tubuh yang tegap, agung seperti Brahma
Brahma adalah Makluk surgawi yang agung nan bercahaya (brahmuiu-gatta).
10) Tujuh cembungan pada tubuh (sattussado),
yaitu pada kedua tangan, kedua kaki, kedua bahu dan badan.
11) Bidang tubuh pun dada yang kokoh kuat
diibaratkan seperti singa (sihapubbaddha kayo).
12) Memiliki Dada yang bidang nya sama rata (samavattakkhandho).
13) Indera perasa yang kuat dan jelas (rasaggasaggi).
14) Rahang kuat yang diibaratkan seperti rahang singa (siha-banu).
15) Empat puluh buah gigi (cattarisa-danto).
16) Gigi-geligi rata (sama-danto),
17) Suara bagaikan suara-brahma
[Brahma = Makluk Surgawi yang agung nan bercahaya di surga.].
18) Mata yang berwarna biru bagaikan batu permata sapphire (abhinila neue).

==========***==========